Orang Kristen Antinomian: “Kesaksian” Yang Ironis Bagi Dunia

Pendahuluan

“Allah sudah mati” (“God is dead”); itulah barangkali perkataan yang paling tajam dari Friedrich Nietzsche (1844-1900), seorang filsuf yang lahir di Rocken, Saxony-Anhalt, Jerman bagian Timur dan pernah menjadi ahli kebudayaan, komposer, penyair, dan ahli bahasa (khususnya Latin dan Yunani).  Sekalipun pernyataannya seringkali bernuansa amat kontroversial, karya tulis Nietzsche ternyata sangat memengaruhi banyak kalangan Barat dan terutama Eropa.  Di tengah kekristenan yang dominan dan menjadi agama mayoritas di abad 19, apa yang dikatakannya terbilang sangat berani, blak-blakan, dan terang-terangan melawan otoritas gereja dan kekristenan yang berkuasa saat itu.

            Apa sebabnya ia mengutarakan kalimat yang begitu keras menyengat?  Sebagai seorang ateis yang meyakini tidak bereksistensinya Allah, Nietzsche sebetulnya menyasar statemennya untuk orang-orang Kristen yang dianggapnya telah memanfaatkan keberadaan Allah guna memuaskan kepentingan diri mereka semata.  Menurutnya, Allah seharusnya tidak dibutuhkan lagi, oleh karena Ia hanya diperalat oleh manusia egois demi pemuasan kedagingan mereka.

            Paling sedikit ada dua jenis kritik sengit yang diutarakannya dengan keras: Pertama, agama Kristen adalah agama yang terlalu menekankan dunia lain (too heavenly-minded) dengan banyak pengajaran tentang Sorga, hidup kudus, dan sebagainya, sambil pada saat yang bersamaan, kekristenan selalu menyerang segala aspek dunia ini (misalnya, mengenai uang, seks, kedudukan, intelektualisme, penalaran yang kritis, dan seterusnya).  Kedua, yang paling utama adalah ia menganggap terlalu banyak orang Kristen yang menjalani hidup menurut cara yang tidak mencerminkan apa yang mereka percayai, dan ini berarti apa yang mereka yakini tidak berjalan selaras dengan apa yang mereka lakukan.  Dengan perkataan lain, orang Kristen “do not do what they preach” (tidak melakukan apa yang mereka khotbahkan).

           Menurutnya, Yesus yang dipercaya orang Kristen jelas memiliki pola hidup yang baik dan penuh anugerah, tetapi orang Kristen sama sekali tidak.  Sebagai catatan: pada waktu itu banyak orang Kristen di Eropa mempunyai kebiasaan bermabuk-mabukan dengan anggur dan alkohol, hidup dalam pesta pora, dan kebiasaan-kebiasaan yang mengumbar nafsu buruk lainnya.  Karena itu Nietzsche pernah berkata begini: “Show me that you are redeemed, and then I will believe in your redeemer” (“Tunjukkan pada saya bahwa kau telah ditebus, dan baru setelah itu saya akan percaya pada penebusmu”; dikutip dari Colin James Isbister, The Body of Christ: A Biblical Perspective of Attitude and Behavior in the Christian Church Today [Maitland: Xulon, 2007] 154).

            Sekalipun mungkin ada orang yang tidak mau menerima kritik Nietzsche, teristimewa ketika ia menyoroti kegagalan dan cacat orang Kristen sebagai dalih argumennya, namun apa yang dikatakannya pada segi ini saya rasa mengandung kebenaran yang perlu dipikirkan dengan serius.  Alasannya, masyarakat dunia barangkali tidak terlalu peduli apakah orang Kristen sudah percaya atau belum, memiliki teologi/ajaran yang baik atau tidak, tetapi orang di luar dinding gereja ingin melihat bukti iman dan dijalaninya ajaran yang baik itu dalam kehidupan yang riil dari setiap orang yang mengaku Kristen.

           Sebab itu ketika membahas tema kesaksian hidup orang percaya secara luar-dalam atau lahir-batin, kita harus mengingat bahwa fokus atau inti dari topik ini berkaitan dengan perilaku hidup orang Kristen yang telah mengaku percaya, atau dengan kata lain, berbicara tentang how we walk, atau how we walk the talk, yaitu untuk membuktikan apakah benar sang Penebus itu hidup di dalam orang percaya dan terus menerus terpancar dalam day-to-day living yang bersangkutan.  Karena itu dalam tulisan ini saya akan menyoroti sebuah gejala yang ekstrem dan yang harus dihindari orang percaya bila benar ia sudah ditebus oleh Kristus, yaitu ekstrem antinomianisme.

Bahaya Antinomianisme: Merasa Diri Bebas Melakukan Apa Saja Setelah Mengaku Percaya

            Pada umumnya semua gereja yang memiliki pengajaran yang alkitabiah percaya bahwa manusia berdosa hanya dapat diselamatkan melalui iman oleh anugerah Allah di dalam Kristus.  Hal ini berarti orang percaya tidak diselamatkan oleh hukum Taurat atau karena melakukan semua isi hukum Taurat.  Walau tidak menyelamatkan, menurut Martin Luther, hukum Taurat berfungsi sebagai cermin untuk melihat dosa sebagai dosa, yaitu untuk menyatakan bobroknya natur manusia, menyatakan tentang murka Allah, dan untuk memperlihatkan bahwa semua perbuatan baik manusia sudah tercemar oleh dosa (lih. David J. Lose, “Martin Luther on Preaching the Law,” Word & World XXI/3 [Summer 2001] 258).  Sebab itu hukum Taurat tetap ada fungsinya, secara khusus untuk mengungkapkan kondisi yang sebenarnya dari umat manusia di hadirat Allah.

           Tetapi, entah bagaimana cara berpikirnya: ada orang yang terlalu berat memberikan penekanan pada karya anugerah Allah di dalam Kristus, sambil pada saat yang bersamaan mengabaikan atau mencampakkan seluruh bagian hukum Taurat, termasuk aspek yang berkaitan dengan hukum moral (terutama Dasa Titah atau Sepuluh Hukum dalam Keluaran 20).  Pendirian semacam ini adalah keliru, oleh karena menerima anugerah tidak berarti meniadakan atau melembekkan (underemphasize) hukum Taurat, lebih-lebih hukum moral.  Tuhan Yesus saja datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat tetapi untuk menggenapinya (Mat. 5:17).

           Apa akibat langsung dari menerima anugerah tetapi mencampakkan hukum Taurat?  Akibat yang langsung terjadi adalah orang yang bersikap seperti itu akan jatuh pada antinomianisme.  Istilah tersebut berasal dari dua kata: “anti” (berlawanan atau menentang) dan “nomos” (hukum), sehingga maknanya menjadi: pendapat kalangan tertentu yang menganggap karena Allah telah mencurahkan anugerah-Nya yang besar maka tidak ada lagi kewajiban untuk menaati hukum Allah, khususnya hukum moral.  Maka kekeliruan yang paling mencolok dari antinomianisme, menurut Sinclair B. Ferguson, adalah faham tersebut “fails to appreciate that the law that condemns us for our sins was given to teach us how not to sin” (“gagal memahami bahwa hukum Taurat yang menghakimi kita atas dosa-dosa kita [justru] diberikan guna mengajarkan kepada kita bagaimana supaya tidak berdosa”; The Whole Christ: Legalism, Antinomianism, and Gospel Assurance [Wheaton: Crossway, 2016] 141).

           Jadi, orang antinomian adalah orang yang merasa ia bebas sebebas-bebasnya dari hukum Allah, dan ia yakin telah menemukan sejenis bentuk kekristenan yang tidak menuntut kewajiban apa-apa.  Alasannya, anugerah Allah yang menyelamatkan bersifat konstan, yaitu sekali selamat selamanya tetap selamat.  Biasanya pemahaman ini diikuti oleh sebuah keyakinan bahwa apa yang ada di dalam Alkitab sebagai perintah untuk melakukan hukum Allah bersifat tidak mengikat bagi orang Kristen, dan ia bebas dari kewajiban terhadap hukum moral (misalnya, larangan berzinah, perselingkuhan, atau penyimpangan seksual lainnya), selama anugerah masih efektif berlaku.

           Bila kita bertanya kepada orang-orang antinomian (terlebih pada yang sudah terpapar dengan teologi kemakmuran): bagaimana caranya menaati perintah Tuhan jikalau bukan dari firman-Nya?  Orang-orang tersebut akan menjawab bahwa ketaatan itu hanya datang secara langsung melalui pimpinan Roh Kudus yang akan menjaga kehidupan mereka dalam anugerah, karena menurut mereka pimpinan Roh Kudus lebih tinggi dan lebih berotoritas daripada otoritas Alkitab.  Artinya, Alkitab dianggap lebih rendah atau lebih sekunder daripada suara Roh Kudus dan karenanya Alkitab jarang digali atau dieksposisi secara mendalam dan benar (lebih sering Alkitab dikutip hanya untuk disesuaikan dengan cerita-cerita tentang pengalaman tertentu, teristimewa dari pemimpin kelompok persekutuan atau gerejanya).  Itulah sebabnya dewasa ini kita kerap kali mendengar ada orang-orang Kristen yang secara lahiriah kedengarannya sangat rohani dan santun sekali dalam bertutur kata (perhatikan: beberapa tokoh, businessmen, atau pedagang yang mengaku Kristen namun korup juga berbicara dengan sangat santun dan rohani), tetapi bila ditelusuri secara lebih mendalam terkuaklah karakter, tabiat dan kehidupan moral yang tidak beres, dan sekaligus tampak jelas merekalah orang-orang yang selalu menomorsatukan Roh Kudus namun yang menomorduakan Alkitab dalam kehidupan dan pelayanan.

            Kebanyakan orang antinomian—bila yang bersangkutan jatuh dalam perbuatan dosa tertentu—ia seringkali dengan enteng menjawab: “Tuhan Allah mengasihi saya; Ia akan mengampuni segala perbuatan saya; Ia tidak akan menghakimi saya, apalagi mencampakkan saya ke dalam neraka kekal.”  Dari sini, bukannya berhenti berdosa dan memeriksa diri, ia malah semakin gencar berbuat dosa, dan tidak terlihat ada niat untuk meninggalkan perbuatan kedagingannya, sebab ia terlanjur yakin di dalam Kristus semua perbuatan dosa akan diampuni (apalagi ibadah hari minggu dalam gereja sering mengutip 1 Yohanes 1:9 pada bagian “Berita Pengampunan Dosa,” namun kurang menjelaskan makna sebenarnya).  Kepada orang-orang seperti ini perlu dipertanyakan mengenai (pengakuan) kelahiran baru dan pertobatannya, apakah sudah terjadi dengan riil, benar, dan alkitabiah.

            Boleh dikata, semua orang yang berpendirian antinomian sedikit banyak mengetahui tentang doktrin-doktrin dasar iman Kristen dan sebagian lagi malah menjadi aktivis atau pengajar di gereja, tetapi dalam menjalani kehidupan yang riil mereka secara praktis melakukannya dengan prinsip yang kendor dan disiplin rohani yang memudar.  Kenyataan demikian mirip dengan pengalaman sebagian jemaat Korintus yang merasa—karena mereka telah dibenarkan melalui iman—maka mereka tidak berada di bawah hukum moral dan mereka merasa itu adalah license to sin (dapat izin untuk berbuat dosa), dan mereka merasa bebas melakukan segala sesuatu yang amoral.  Di jemaat Korintuslah timbul kasus-kasus semacam inses, percabulan, penyembahan berhala, mabuk-mabukan, perselisihan hingga ke pengadilan dunia, dan seterusnya (lih. mis. 1Kor. 5:1-11; 6:9-10), padahal di dalam jemaat inilah dijumpai berbagai karunia yang dikatakan hebat-hebat itu.

           Dalam konteks kehidupan modern sekarang pun ada pikiran dan kenyataan yang mirip dengan jemaat Korintus, di mana terdapat orang yang cenderung berani berbuat dosa dan bersikap permisif, karena merasa Tuhan akan selalu mengampuni dan anugerah untuk itu tetap melimpah.  Sebagai contoh, seorang wanita muda dari denominasi tertentu yang telah bercerai dan menikah kembali ketika ditanya soal perceraiannya, ia menjawab demikian: “Saya tahu bahwa bercerai adalah salah dan menikah kembali juga salah di hadirat Tuhan.  Tetapi setelah saya menikah kedua kalinya, saya memohon pengampunan dari Tuhan dan saya tahu Ia mengampuni saya.”  Ini adalah perkataan orang yang berpendirian antinomianistis di mana anugerah (pengampunan) yang diinginkan hanyalah anugerah yang terlepas dari hukum moral Allah.

           Apabila banyak gereja pada zaman ini melakukan akomodasi terhadap pikiran sekular semacam itu dan membiarkan sekaligus melegalisir kasus-kasus yang menerjang etika Kristen (seperti misalnya: aborsi, perselingkuhan, homoseksualitas, lesbianisme, atau euthanasia), maka orang yang mengaku Kristen tetapi pada saat bersamaan tetap hidup dalam dosa akan amat bergirang dan hati nuraninya merasa teduh sekali, sebab ada lembaga rohani yang diwakili oleh pemimpin berjubah pendeta yang memberikan “garansi” bahwa hal itu dapat selalu diatasi berhubung semakin bertambahnya anugerah Allah pada saat hukum moral dilanggar.  Bukan main berbahaya dan licinnya kekeliruan pengartian anugerah ini!  Itulah alasan mengapa saya kuatir sekali akhir-akhir ini, karena di dalam gereja, sinode, persekutuan atau lembaga Kristen, kita dapat menemukan realita cukup banyaknya kasus yang melibatkan orang yang mengaku sudah percaya (bahkan juga ada yang sudah melayani penuh waktu), tetapi berani sekali berbuat dosa dan melanggar hukum Allah, terutama dengan sengaja menabrak kaidah moralitas yang alkitabiah, seakan-akan hukum itu tidak ada, tidak berlaku, tidak mempan, dan mereka bebas dari hukum Allah secara semaunya (lawless).

Penyimpangan Antinomianisme: Merasa Puas Dengan Bersandar Pada Anugerah Murahan (Cheap Grace)

            Di tengah pergumulan dunia saat ini yang sedang mengalami berbagai krisis, bencana, pandemi, penderitaan, terorisme, ketidakadilan, ketidakpastian, kekerasan, dan konflik, kesaksian hidup seperti apa yang seharusnya ada pada gereja dan orang percaya?  Ketika seorang Kristen harus menghadapi situasi yang genting berhubung dengan maraknya kematian, kejahatan, korupsi, dan merosotnya moralitas masyarakat, bagaimana seharusnya ia hidup dan melayani dalam kondisi yang serba tidak menentu?

            Dalam konteks pergumulan seperti inilah, saya mengajak kita menyimak sejenak pikiran Dietrich Bonhoeffer lewat karya tulisnya yang terkenal, yaitu The Cost of Discipleship (rev. ed.; New York: Macmillan, 1979).  Isi buku ini sebenarnya adalah tafsiran Khotbah di Bukit (Matius 5-7) ditambah dengan penjelasan perikop Matius 9:35-10:42, di mana ia seakan-akan sedang berseru kepada semua orang Kristen untuk menjalankan sebuah panggilan mulia, yaitu untuk menjadi murid dan untuk mentaati Kristus dengan sebuah bukti pengorbanan yang nyata, yaitu bersedia mati bagi Dia.  Di dalam kalimat demi kalimat tulisannya, Bonhoeffer seperti sedang menulis dengan nada emosi yang tinggi dan memuat konten desakan dengan amat sangat serius supaya setiap orang yang membaca karya tulisnya sadar apa artinya menjadi orang Kristen yang sejati.  Mengapa?  Alasannya, terlalu banyak orang Kristen yang tidak bersedia membayar harga dan tidak hidup di dalam anugerah yang mahal (costly grace), tetapi justru hidup di dalam anugerah yang murahan (cheap grace).

            Menurut Mary L. Vanden Berg, “Bonhoeffer seems to be addressing the antinomian ideas of freedom in Christ that he had observed in the church of his day.  This antinomian definition of grace amounted to nothing less than sinning so grace would abound.  The attitude of doing as I please since I am saved by grace is ‘cheap grace’” (“Bonhoeffer Discipleship’s: Theology for the Purpose of Christian Formation,” Calvin Theological Journal 44 [2009] 340).  Artinya, pada waktu itu pun (yaitu menjelang dan selama Perang Dunia Kedua) gereja dan orang Kristen sudah terpapar sikap antinomian, dengan akibat mereka cenderung berperilaku sebebasnya supaya anugerah Allah semakin melambung.  Itulah anugerah kelas kambing yang ternyata diminati oleh banyak orang di sepanjang zaman!

           Selanjutnya Bonhoeffer menegaskan: “Cheap grace is the preaching of forgiveness without requiring repentance, baptism without church discipline, Communion without confession, absolution without personal confession.  Cheap grace is grace without discipleship, grace without the cross, grace without Jesus Christ, living and incarnate” (The Cost of Discipleship 47).  Jadi, yang dimengerti sebagai “orang Kristen cheap grace” adalah orang Kristen “tanpa ini—tanpa itu,” yaitu tanpa pertobatan, tanpa disiplin gerejawi, tanpa pengakuan dosa, tanpa kesediaan menjadi murid, tanpa kerelaan memikul salib, tanpa komitmen dalam mengikut Kristus.  Singkatnya, orang Kristen jenis ini hanya menginginkan easy believism atau simple belief, dan anugerah picisan itulah yang mendatangkan ironi, bahkan kerusakan yang paling parah terhadap kekristenan di mana-mana (h. 59).  Bukankah orang Kristen seperti ini banyak dijumpai di mana-mana pada zaman ini juga?

           Sebaliknya, menurutnya, yang benar adalah costly grace karena “it calls us to follow, and it is grace because it calls us to follow Jesus Christ.  It is costly because it costs a man his life, and it is grace because it gives a man the only true life” (h. 47).  Intinya, costly grace adalah anugerah seperti yang diberitakan dalam injil-injil dan seluruh PB, di mana anugerah jenis ini membutuhkan adanya pertobatan yang nyata yang dibuktikan dengan perubahan orientasi hidup yang ujung-ujungnya mengarah pada kesudian seseorang untuk hidup sebagai murid yang mau setiap hari mengikut Kristus.  Hidup sebagai murid ini berat, oleh karena pilihan itu menuntut hidup seseorang seluruhnya, yaitu penyerahan diri, bahkan penyerahan nyawanya untuk sang Penebus.  Orang seperti ini akan menolak untuk hidup secara sia-sia dalam cheap grace, yaitu hidup secara antinomian dan secara bebas tanpa etika yang ketat mengikut arus dunia ini.

           Sebenarnya penulis kitab Yudas jauh-jauh hari sudah memberikan peringatan: “Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum.  Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka . . .” (Yud. 4; bdk. 2Ptr. 2:19 yang berkata: “Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan.”  Kemerdekaan atau freedom di sini adalah kemerdekaan untuk melakukan hal-hal yang amoral).

           Keadaan semacam ini tidak dapat dibiarkan.  Itu sebabnya, kepada orang-orang yang berpola pikir antinomian, rasul Paulus berkata: “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan?  Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” (Rm. 6:1).  Argumen atau pertanyaan retoris itu jelas jawabannya adalah tidak sama sekali.  Di bagian lain pada surat Galatia 5:13 Paulus mencatat demikian: “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka.  Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”

           Surat Yakobus juga menyinggung tema senada: “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan?  Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” (2:14).  Walaupun konteks selanjutnya Yakobus berbicara tentang perbuatan baik membantu orang yang sedang kesusahan, namun argumen yang dipakai tetap relevan, yaitu apabila seseorang mengaku telah beriman atau menerima anugerah, perilaku dan perbuatannya harus terlihat untuk membuktikan keabsahan anugerah itu.  Inti yang hendak disampaikan adalah kebenaran tentang iman atau anugerah Tuhan bukan merupakan tiket gratis dan bebas untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan firman-Nya.  Sebab itu rasul Yohanes sungguh amat tepat ketika menulis: “Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran” (1Yoh. 1:6; bdk. 2:3-6; 3:7-8; 5:3).

           Sekarang, marilah kita melakukan introspeksi pada diri kita sendiri dan pada gereja kita: Kualitas seperti apa yang kita miliki dalam diri pendeta, majelis, diaken, aktivis, dan anggota gereja pada tempat kita masing-masing: Jemaat yang hidup dalam cheap grace atau costly grace?  Saya khawatir dewasa ini di mana-mana yang cukup banyak dijumpai hanyalah jemaat yang hidup dalam cheap grace, apalagi sebagian gereja terang-terangan menerapkan “pola banting harga” untuk mengejar church growth atau pertambahan attendance dalam ibadahnya.  Belum lagi bila kita perhatikan kehidupan orang Kristen di berbagai tempat atau daerah (khususnya di beberapa daerah yang mayoritasnya adalah penduduk Kristen), sungguh amat menyedihkan, karena terkadang siang hari pun dapat dijumpai orang yang bermabuk-mabukan, apalagi menjelang dan pada saat Natal dan Tahun Baru.  Ironis, bukan, “kesaksian” hidup macam begini?

           Belum lagi di gereja-gereja di kota besar atau kota kecil, juga dapat dijumpai kasus-kasus seperti: pertengkaran, perselingkuhan, perzinahan, penipuan uang, perebutan aset, konflik kepengurusan, narkoba, perceraian, dan sejenisnya, yang agaknya sudah dianggap biasa, tidak didisiplin-gerejawikan, dan pimpinan gereja seolah menutup mata; apalagi jika kasus-kasus di atas melibatkan tokoh, gembala sidang, senior pastor, pimpinan tunggal dari lembaga, pendiri ini-itu, serta celebrity, orang kaya atau orang beken yang banyak nyumbang.  Begitu muncul skandal, masyarakat atau pimpinan gereja sama saja, yaitu memilih diam dan membiarkan saja kasus-kasus tersebut berjalan, lalu sirna perlahan-lahan ditelan waktu.  Sikap antinomian dan cenderung kompromistis semacam ini tampak dengan jelas terjadi di mana-mana.

           Jadi, yang namanya korupsi dalam lingkup moralitas bukan hanya ada di tingkat pemimpin atau pejabat dalam dunia politik, ekonomi, dunia hiburan, dan lingkup sekular lain, tetapi juga ada pada pemimpin atau kehidupan arus bawah jemaat Kristen.  Idealnya, yang seharusnya terlihat adalah orang Kristen menggarami dunia ini, namun terkadang yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu orang Kristen yang menjadi larut dalam dunia yang sedang menuju kepada kebinasaan ini.  Inilah persoalannya: Jikalau orang Kristen atau pemimpinnya hidup dalam moralitas yang bejat, bersikap antinomian, permisif, dan larut dalam dunia, apa daya tarik iman Kristen bagi masyarakat dunia?  Bukankah kenyataan ini membuat dunia semakin menjauhi kekristenan?  Situasi seperti ini perlu kita renungkan dan ratapi bersama, karena ternyata yang lebih berkembang di mana-mana adalah cheap grace dan bukan costly grace.

Penutup

            Puluhan tahun yang lalu, saya baru sadar bahwa Friedrich Nietzsche (yang perkataannya saya kutip di awal tulisan ini) ternyata adalah anak dari Carl Ludwig Nietzsche (1813-1849), seorang pendeta di Gereja Lutheran Jerman.  Pertanyaan yang timbul adalah: Kenapa anak pendeta bisa jadi ateis ya?  Walaupun tidak ada data yang eksplisit tentang kaitan ateismenya dengan perilaku ayahnya (lagipula Carl Ludwig Nietzsche meninggal ketika Friedrich masih berusia lima tahun), tetapi sangat mungkin apa yang ia lihat dan saksikan di dalam kehidupan keluarganya, lingkungan gerejanya, dan situasi budaya di sekitarnya, itulah yang membentuk pemikirannya tentang “God is dead.”

           Ketika menyadari fakta ini puluhan tahun yang lalu, saya mulai khawatir mengenai anak-anak kami: Apa sesungguhnya yang mereka lihat pada diri saya dan istri selaku hamba Tuhan?  Lalu, ketika anak-anak kami masih kecil, saya berusaha hampir setiap hari memeriksa diri di hadapan Tuhan: Apakah saya bersikap antinomian, too heavenly-minded (terlalu menekankan “hal-hal sorgawi” pada anak-anak atau orang lain), namun berperilaku munafik dalam kehidupan sehari-hari?  Maksud saya, apakah saya selaku orang Kristen—dan terutama sebagai hamba Tuhan—menjalani hidup menurut cara yang mencerminkan apa yang saya percayai dan khotbahkan, ataukah sebaliknya, “I do not do what I believe and preach” (saya tidak melakukan apa yang saya percayai dan khotbahkan)?

           Dengan segala kerendahan hati (sambil menyadari kita semua bukan orang yang perfect), saya rasa kita semua perlu melakukan introspeksi pada diri kita masing-masing melalui “cermin” firman Tuhan, teristimewa bila saat ini kita adalah seorang pendeta, guru injil, penatua, majelis, diaken, aktivis, atau usahawan/pedagang/professionals Kristen.  Mari kita mulai dengan sebuah komitmen untuk secara serius “do what I believe and preach,” sambil sungguh-sungguh menerapkan perkataan Titus 2:11-12: “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.  Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.”  Jangan biarkan kehidupan dan pelayanan saudara dan saya secara ironis berjalan seperti ini: dengan satu kaki berpijak pada anugerah Tuhan dan satu kaki lagi bertumpu pada dunia ini!