Tetap Beriman Ketika Tuhan Diam (Belajar Beriman Dari Matius 15:21-28)

I believe in the sun, even when it is not shining

 I believe in love, even when I cannot feel it

 I believe in God, even when He is silent

“Aku percaya kepada matahari, sekalipun ketika ia tidak bersinar

  Aku percaya kepada kasih, sekalipun ketika aku tidak dapat merasakannya

  Aku percaya kepada Allah, sekalipun ketika Ia diam”

         Itulah tulisan yang tergurat di sebuah dinding bekas gudang penyimpanan anggur di kota Cologne, di mana orang-orang Yahudi tertawan oleh penguasa lalim pemerintah Nazi Jerman di masa Perang Dunia II.  Coretan di atas boleh disebut sebagai sejenis confession of faith (pernyataan iman) yang singkat, namun tentu saja sama sekali tidak mudah untuk dijalani, khususnya pada saat menuliskannya, di mana pada masa itu kaum Yahudi tidak menemukan jalan keluar, tidak tahu tentang kemungkinan kelepasan, dan tidak tahu sama sekali mengenai hari depan.  Sangat mungkin orang yang menyalin kalimat-kalimat di atas—sampai akhir hayatnya ketika maut menjemput—ia terus menerus mengalami kenyataan bahwa Tuhan membungkam.  Masihkah ia kuat beriman di tengah segala penderitaan dan kebuntuan itu?

         Buat kita yang hidup di abad 21 dan dalam situasi pandemi yang belum berkesudahan, mungkinkah ada di antara kita yang sedang mengerang kesakitan atau sedang merawat anggota keluarga dengan penderitaan tak berakhir, juga mulai mengalami ujian atas iman kita?  Selama hari-hari belakangan ini saya menerima begitu banyak pesan, laporan, kesaksian, keluhan, dan permohonan doa, terutama berkaitan dengan begitu masifnya orang yang terinfeksi pada masa pandemi ini dan begitu banyaknya keluarga yang kehilangan orang yang dikasihi, bahkan sebagian tidak sempat berpamitan serta tidak mendapatkan ibadah dan tata cara pemakaman yang selayaknya.

        Tentu bila sedang terbaring tak berdaya di rumah sakit, atau bila ada kerabat kita yang sedang terinfeksi dan sedang sakit parah, bisa saja terbersit pada kita pertanyaan-pertanyaan: Apakah Tuhan itu ada?  Benarkah Ia maha kuasa?  Di manakah Tuhan di kala negeri ini dilanda virus mematikan dan membuat jutaan orang menderita?  Mengapa Tuhan berdiam diri seakan tidak peduli?  Pertanyaan yang dialamatkan kepada Tuhan juga sangat mungkin tercetus dari orang Kristen atau pelayan Tuhan yang sedang mengalami guncangan iman menghadapi kesusahan yang besar sehubungan dengan infeksi virus corona dengan varian ini-itu yang bukan main ganasnya.

         Situasi sulit yang sama dialami seorang perempuan sewaktu ia berjumpa dengan Tuhan Yesus.  Perhatikan: perempuan ini adalah warga asing dari wilayah Siro-Fenisia (Mrk. 7:26).  Bagi masyarakat Yahudi waktu itu, wilayah yang dilintasi Yesus itu boleh dibilang kafir, apalagi versi Matius langsung mencatat bahwa sang ibu adalah orang Kanaan; ini bisa dikatakan double kekafirannya: sudah daerahnya dianggap barbar, dari Kanaan pula (lih. catatan kurang enak tentang penduduk Kanaan; Ul. 7:2).  Artinya, perempuan ini bukan hanya orang non-Yahudi, tetapi warga gentiles (bangsa luaran yang umumnya kurang dianggap atau biasanya dimarjinalkan).  Sudah begitu, ia bertemu dengan Yesus di daerah luar teritori umat Yahudi, yaitu di Tirus dan Sidon, di mana komunitas di sana terbiasa menyembah patung Baal, Asyera, Dagon, dan dewa-dewa koleksi orang Kanaan lainnya.  Maka komplitlah label kekafiran yang melekat pada dirinya.

         Kepentingan sang ibu ketika datang kepada Yesus sebenarnya cuma satu: ia membawa sebuah beban dan permohonan buat anaknya yang sedang kerasukan roh jahat: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita” (ay. 22).  Yang menarik adalah ia menyapa Yesus dengan panggilan “Tuhan” (Lord, Yun. Kurios), yang menunjukkan bahwa ia sedikit banyak mengetahui identitas atau natur keilahian Kristus.  Kemudian ia juga menyebut Yesus dengan predikat “Anak Daud,” sebuah istilah yang ada konotasinya dengan pengertian orang Yahudi tentang sang Mesias atau Kristus.  Intinya, penyebutan gelar atau titel semacam itu di awal pelayanan Yesus adalah sesuatu yang langka, bahkan juga di antara murid-murid dan orang Yahudi pada waktu itu.  Hal ini menandakan perempuan itu tahu (“[ia] mendengar tentang Dia”; Mrk. 7:25) bahwa Yesus bukan manusia biasa dan Ia adalah Mesias yang mampu menolong kebutuhan kelepasan bagi putrinya.  Namun demikian, respons Yesus pada awalnya sama sekali mengejutkan dan di luar dugaan.

TUHAN MEMBISU

         Ya benar: ia berhadapan dengan Yesus yang membisu: “Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya” (ay. 23a).  Dalam teks bahasa Gerika, ada ungkapan yang lebih jelas: “ho de ouk apekrithē autē logon,” yang dapat diterjemahkan: “Tetapi Ia tidak menjawabnya satu patah kata pun” (“But he did not answer her a word”; ESV).  Jadi, tidak ada satu pun logos (kata) yang keluar dari mulut Yesus.  Bukankah ini adalah situasi yang berat untuk dihadapi?  Coba kalau saudara dan saya ada di posisi sang ibu; masihkah kita mau berdoa atau memohonkan sesuatu pada saat kita tahu Tuhan bungkam?  Masihkah kita kokoh berdiri pada confession of faith kita, padahal realitas yang dihadapi pahit dan getir?

         Ketika Tuhan membisu, itu adalah ujian terbesar bagi iman saudara dan saya.  Ketika Tuhan seakan “bersembunyi,” terutama pada saat-saat kita membutuhkan pertolongan-Nya (misalnya, sewaktu terkapar tidak berdaya di ruang ICU rumah sakit), itu akan mendatangkan pertanyaan besar, atau sangat mungkin kekecewaan, yaitu sewaktu doa permohonan kita seolah-olah mentok di langit plafon kamar opname di mana kita tidak mendapatkan respons apa-apa dari Tuhan.  Sangat mungkin pada momen saudara dan saya sedang bergumul dengan penderitaan yang riil, kita akan sulit mengerti mengapa ini harus terjadi, dan mengapa Tuhan seakan malah menjauh dan tidak peduli dengan penderitaan yang kita sedang alami.

         Saya khawatir situasi tidak-ada-jalan-keluar yang dialami banyak orang akhir-akhir ini mengakibatkan lahirnya Christian atheism, yaitu orang-orang yang mengaku Kristen namun perlahan-lahan atau secara diam-diam mulai meragukan eksistensi Tuhan di tengah kehidupan yang konkrit namun pahit.  Apalagi, sebagian orang sudah terlanjur mengembangkan pola pemikiran: Tuhan seharusnya melakukan ini dan itu (misalnya, mencegah bahaya atau musibah); Tuhan seharusnya menolong (bila ada yang menderita atau hampir meninggal); Tuhan seharusnya memberi jalan keluar (ketika ada yang usahanya macet atau nyaris bangkrut); Tuhan seharusnya memberikan kelepasan (misalnya kalau ada yang sedang sekarat, tiba-tiba dipulihkan kembali); Tuhan seharusnya memberikan perlindungan (sepanjang jalan kehidupan orang percaya); atau—dan ini yang selalu diharapkan terjadi oleh semua orang—Tuhan seharusnya mengadakan mukjizat (terutama ketika berhadapan dengan situasi sekarat dan tidak ada jalan keluar).  Karena sudah terbiasa berpikir seperti itu, begitu terjadi kenyataan yang berbeda dari yang diharapkan, mulailah timbul kekecewaan, kepahitan, kemarahan, dan akhirnya keputusan untuk meninggalkan Tuhan, gereja, atau pelayanan.

         Apalagi, bila ada pendeta atau denominasi gereja yang selama bertahun-tahun sudah terbiasa “mengindoktrinasi” jemaatnya dengan rumusan pengajaran bahwa hidup sebagai orang beriman akan selalu lancar, makmur, mulus, berhasil, jauh dari musibah, dan hidup sehari-harinya akan seperti domba yang senantiasa berada “di padang yang berumput hijau.”  Lalu terbentuklah jenis orang Kristen yang tiba-tiba merasa terkejut ketika terjadi musibah, sakit penyakit, dan yang paling ditakutkan, kematian yang mendadak akibat wabah virus corona.  Artinya, doktrin pengajaran yang sudah terlanjur “nancep” di benaknya adalah jalan hidupnya akan selalu lancar dan sentosa tanpa kesusahan dan persoalan yang besar, apalagi mati muda atau mati mendadak.

TUHAN MENOLAK

         Berat memang situasi yang harus dihadapi perempuan Kanaan itu: Setelah Yesus berdiam diri, sang ibu kemudian malah berhadapan dengan Tuhan yang menolak permintaannya.  Bukan satu kali, tetapi dua kali Yesus menampik permohonannya, dan kalau mau ditambah dengan penolakan murid-murid Yesus (ay. 23a), berarti ia diabaikan keperluannya sebanyak tiga kali.

         Apa maksud Tuhan dengan penolakan tersebut?  Dalam bahasa to the point, sebetulnya Yesus hendak menekankan bahwa prioritas misi kedatangan-Nya untuk Israel belum tuntas dan permohonan perempuan itu tidak termasuk dalam prioritas di awal pelayanan-Nya.  Lalu keluarlah perkataan yang tajam dari Yesus: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” (ay. 26).  Kira-kira yang hendak Ia katakan adalah: “Tidak patut memberikan berkat yang sedianya diperuntukkan bagi umat Israel, lalu dialihkan kepada bangsa lain.”

         Memang di kalangan orang Yahudi terdapat ungkapan superioritas nasionalistis yang terlalu meninggikan keyahudian dan pada saat yang sama merendahkan (baca: menghina) bangsa-bangsa lain dengan sebutan “anjing.”  Namun jangan terlalu cepat berprasangka Yesus ikut-ikutan terbawa chauvinisme yang beredar waktu itu, sebab Ia tidak memakai istilah “anjing [liar]” (kuōn, anjing kotor; lih. Mat. 7:6; Flp. 3:2) sebagaimana yang dipakai masyarakat saat itu untuk menjuluki bangsa-bangsa non-Yahudi yang dianggap “unspiritual people” (yang mereka setarakan dengan “unclean animals”).  Istilah yang Ia pakai adalah “kunariois,” yang dapat diterjemahkan “small pet dogs,” yaitu anjing-anjing kecil yang biasa dipelihara di rumah, yang umumnya jauh berbeda dengan ungkapan kasar di atas.

         Apa artinya?  Artinya, Tuhan Yesus sama sekali tidak sedang merendahkan sang ibu, melainkan Ia sedang menguji imannya dengan sikap diam dan bereskalasi pada sikap penolakan-Nya.  Perempuan Kanaan itu “menangkap” perkataan Yesus yang tidak bermaksud merendahkan dirinya, dan itulah sebabnya ia berseru: “Benar Tuhan, namun anjing itu [kunaria; anjing-anjing rumahan] makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya” (ay. 27).  Tampak di sini perempuan Kanaan ini adalah jenis orang yang tidak mudah menyerah atau menjadi kecewa.  Ia tetap bertahan, menghampiri Tuhan, berseru, dan dengan gigih berteriak kepada-Nya dengan persistensi yang konsisten.  Sebelumnya ia malah lebih dari itu sujud menyembah (ay. 25) pada Yesus dengan postur berlutut layaknya seseorang yang sedang beribadah.  Bukankah semua bentuk iman dan doa permohonan yang sejati (genuine) harus dimulai dengan langkah semacam ini?

         Ketika situasi atau jalan hidup kita sedang mengalami kebuntuan dan kelihatannya tidak ada pertolongan yang muncul memberikan solusi dan jalan keluar, ke mana atau kepada siapa saudara akan tetap berseru dengan persistensi yang konsisten dalam beriman?  Sewaktu doa dan permohonan kita untuk kesembuhan diri kita atau kesembuhan bagi anggota keluarga kita belum dijawab atau bahkan seakan ditolak Tuhan, berlanjutkah iman dan pengharapan kita kepada Tuhan?  Kita perlu menyadari bahwa perseverance of the saints (daya tahan orang kudus/orang percaya) benar-benar pada masa pandemi sekarang mengalami pengujian pada dua poin ini: faith (iman) dan hope (pengharapan).  Masih adakah dua unsur penting itu dalam perjalanan kehidupan kita di masa yang sulit ini?

TUHAN MENJAWAB

         Pada puncak perjumpaan perempuan Kanaan itu dengan Yesus, ia pada akhirnya secara tidak disangka-sangka justru berhadapan dengan Tuhan yang memuji imannya, karena Yesus tiba-tiba berkata: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (ay. 28; “O woman, great is your faith!  Be it done for you as you desire”; ESV).  Tampak jelas Tuhan Yesus takjub pada kedalaman iman sang ibu.  Meskipun ia mengalami ujian yang tidak mudah ketika Tuhan membisu dan ketika Tuhan menolak, ia tetap bertahan dan tidak menyerah.  Iman yang diperlihatkan sang ibu sungguh melampaui semua orang yang pernah Yesus jumpai pada masa itu, termasuk murid-murid, atau apalagi kalangan orang beragama, seperti orang Farisi atau ahli Taurat.

        Perhatikan: Tuhan Yesus tidak pernah mengucapkan kalimat pujian semacam itu (“Besar imanmu”) kepada murid-murid-Nya (misalnya, kepada Petrus, Yakobus, Yohanes, Andreas, atau Natanael).  Malahan, pada kesempatan lain, Ia justru mempertanyakan dan mengecam kurangnya iman pada mereka (“Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”; “You of little faith, why did you doubt?”; Mat. 14:31 [NRSV]; bdk. Mat. 8:26), atau tiadanya iman pada mereka (“Di manakah kepercayaanmu [imanmu]?”; “Where is your faith?”; Luk. 8:25 [NIV]; bdk. Mrk. 4:40: “Mengapa kamu tidak percaya?”).

         Hal ini menunjukkan bahwa di hadirat Tuhan yang maha tahu, iman sang ibu dinilai sebagai iman yang sangat berkualitas dan sekaligus iman yang tahan uji, sebab—tidak seperti kebanyakan orang—ia tidak gampang menyerah dan putus asa.  Coba kita periksa diri masing-masing: pada saat mengalami kesusahan, musibah, sakit penyakit, kedukaan, atau situasi buntu lainnya, kita lebih sering khawatir, tidak percaya, kecewa kepada Tuhan, ataukah sebaliknya, kita mampu bertahan, tidak menyerah, teristimewa mengedepankan iman yang kokoh di tengah kerapuhan hidup ini?  Berbahagialah kita bila kita mampu meneladani perempuan Kanaan ini, oleh karena ia menampilkan iman (faith) yang bergandengan dengan pengharapan (hope), yang akhirnya berbuah pada penggenapan pertolongan Tuhan.

         Tetapi, ngomong-ngomong, siapa perempuan Kanaan ini?  Yang jelas dapat dipastikan adalah: ia bukan salah seorang dari murid Yesus, bukan orang saleh, bukan tokoh pendoa, bukan orang yang datang dari kalangan bangsawan/istana, bukan orang kaya, bukan pemuka yang berasal dari kalangan terdidik (seperti orang Farisi atau ahli Taurat).  Namanya saja tidak disebutkan.  Maka sangat mungkin ia berasal dari kalangan orang biasa, dari lingkungan marjinal dan kafir, serta berasal dari masyarakat miskin yang tidak memberikan kontribusi apa-apa bagi komunitas dan sejarah bangsanya.

        Namun camkan satu fakta ini: Tuhan Yesus bukan hanya memuji imannya, Ia juga mengabulkan permohonannya sehingga anaknya seketika itu disembuhkan.  Apa sebetulnya yang telah ia lakukan?  Perempuan itu cuma datang menghampiri Yesus, mengulurkan tangannya kepada-Nya, dan teristimewa, ia tidak menyerah ketika Tuhan membisu dan pada awalnya menolak.  Sungguh jenis iman semacam inilah yang perlu saudara dan saya miliki di masa yang sulit hari-hari belakangan ini!

            Dalam situasi di Indonesia dan dunia yang tidak menentu dan sedang berhadapan dengan pandemi yang semakin mengganas sekarang ini, saudara dan saya sebagai pengikut Kristus bisa saja berhadapan dengan kesusahan, kesesakan, sakit penyakit, penderitaan, dan yang paling berat, kematian di sekitar rumah tangga, anggota famili, jemaat gereja, tetangga, rekan, atau sahabat kita.  Kepada siapa kita akan berseru dan berserah?  Apa reaksi saudara, bila Tuhan—melalui sejangka waktu—berdiam diri atau tidak mengabulkan permohonan doa kita?  Masih kuatkah kita berdiri pada pijakan iman (faith) dan pengharapan (hope) kita?  Mampukah kita bertahan dan tidak menyerah dalam perseverance sebagai orang percaya lewat ungkapan doa dan permohonan kita meskipun belum tersedia solusi atau jalan keluar?

         Marilah kita tetap beriman dan berharap, sambil terus berseru: “Kyrie, eleēson” (“Lord, have mercy”; “Tuhan, berbelas kasihanlah”; “Tuhan, kasihanilah [aku]”; ay. 22).  Kita harus tetap beriman meskipun kita hanya dapat meraih “remah-remah yang jatuh dari meja tuan [kita]” (ay. 27).  Perempuan Kanaan itu sama sekali tidak meminta seketul roti besar yang ada di atas meja; ia cuma mengharapkan remah-remah roti yang terjatuh di lantai.  Baginya, sedikit remah-remah masih jauh lebih baik dari pada tidak ada sama sekali, sebab remah-remah itu justru ditransformasikan dan diubah oleh Tuhan Yesus yang penuh dengan belas kasihan itu menjadi sebuah iman yang besar di hadirat-Nya.  Berapa banyak di antara kita yang memiliki iman seperti itu?