Asal Usul Virus Corona Dan Dosa Melawan Struktur Ciptaan

PENDAHULUAN

Seandainya kepada saudara disuguhi telur ceplok atau telur mata sapi goreng yang penampilannya kelihatan sedap, tetapi telur itu bukan berasal dari ayam yang “beranak,” melainkan telur sintetis atau terbuat dari bahan plastik, apakah saudara mau menyantapnya?  Kalau anda tanya ke saya, saya akan menjawab: “Hell, no!  Not in my life,” yang maknanya saudara bisa tebak sendiri.  Menurut Majalah TIME, telur palsu (fake egg) semacam itu sudah ada dan diproduksi di China sejak pertengahan tahun 1990-an (Patrick Boehler, “Bad Eggs: Another Fake-Food Scandal That Rocks China,”; https://newsfeed.time.com/2012/11/06/how-to-make-a-rotten-egg/).  Susahnya, penampakan, ukuran, dan bentuk telur palsu itu tidak mudah dibedakan dengan telur asli, serta “taste” atau rasanya pun sangat mirip, bahkan—kata yang pernah nyobain—yang palsu lebih gurih dari pada telur ayam beneran.  Gawat dong.

            Intinya, telur “ayam” imitasi tersebut dihasilkan dari bahan kimia berisiko, seperti sodium alginat, campuran resin dan pigmen, serta campuran parafin, serbuk gipsum, dan kalsium karbonat.  Semua material itu secara perlahan-lahan akan merusak tubuh manusia: bahan pengental glucotactone bisa menyebabkan kelainan metabolisme, pengawet asam benzoat bisa mendatangkan penyakit demensia, parafin yang dipakai untuk kulit telur bisa mengakibatkan kerusakan liver, pewarna kuning telur bisa memicu gangguan pencernaan, serta sodium alginat bisa membangkitkan tekanan darah dan kerusakan ginjal.  Secara keseluruhan, menurut seorang peneliti: “ . . . the fake egg which is dishonestly prepared by man is greatly harmful for a man’s health.  The chemical constituents of fake egg are not beneficial to the human health” (S. M. Zahid Hosen, “Artificial and Fake Eggs: Dance of Death,” Advances in Pharmacology and Pharmacy 1/1 [August 2013] 17).

            Tentu saja tujuan utama pembuatan telur imitasi ini adalah semata-mata demi produktivitas, efisiensi, dan satu lagi, profitabilitas.  Konon proses pembuatan fake egg itu sangat cepat (dari pada kelamaan tungguin ayam jongkok bertelur 20 hari), biaya produksinya hanya sepersepuluh dibandingkan dengan usaha peternakan, dan untung yang dapat diraih bisa berjibun-jibun.  Itulah sebabnya di China (dan juga negara-negara lain yang hanya mementingkan pertumbuhan ekonomi namun menghalalkan segala cara demi meraih cuan besar), dapat dijumpai daging palsu, sayuran palsu (misalnya, lettuce palsu), buah-buahan (misalnya, melon palsu), susu ber-melamine, beras palsu/plastik, dan produk-produk lainnya yang tidak perlu disebutkan satu per satu karena saking banyaknya.  Singkatnya, hampir tidak ada barang yang tidak dipalsukan di sana sekarang ini.

           Dengan motif ingin menciptakan yang terbesar (ukurannya), yang terbanyak (hasilnya), dan yang tercepat (pembiakan atau pertumbuhannya), mereka juga dengan metode rekayasa genetik tertentu berhasil menciptakan babi yang terberat dagingnya, ayam yang tercepat produksi telurnya, atau buah-buahan yang terbesar ukurannya (misalnya, wortel atau semangka yang bentuknya jumbo banget).  Sama dengan beberapa negara Barat yang melakukan kloning terhadap hewan (dan bisa jadi juga secara diam-diam, kloning terhadap manusia), di negara yang tidak transparan seperti China boleh jadi eksperimen semacam itu dilakukan, termasuk—kalau bisa—berupaya menciptakan kehidupan (maksudnya: membangkitkan mayat atau memproduksi jiwa/nyawa).

           Dalam tahun-tahun belakangan ini para peneliti China diduga sudah mengembangkan upaya pengeditan gen kepada binatang, termasuk di antaranya memodifikasi gen hewan supaya dapat direkonstruksi menjadi organ mirip manusia untuk kepentingan transplantasi, “memproduksi” hewan berotot (misalnya, anjing sterek/kekar untuk tugas militer/kepolisian), dan merekayasa ulang hewan babi menjadi ukuran mini untuk hewan peliharaan.  Sangat mungkin uji coba ini juga diterapkan pada manusia guna menciptakan tentara super dengan power yang ditingkatkan secara biologis melalui DNA editan mirip dengan imaginasi yang ada di film Hollywood (seumpama Universal Soldier dan Captain America).  Dikatakan “sangat mungkin,” oleh karena—di negara Barat dengan pagar etika dan norma yang ketat saja penyimpangan pada aspek ini kerap terjadi—kebanyakan orang tidak percaya di negara tertutup dan penuh secrecy seperti China tidak ada pengembangan tentara super sejenis ini.

           Belakangan ini bahkan santer diberitakan bahwa pemerintah di sana sedang merakit matahari buatan; ya benar, matahari imitasi yang dapat menghasilkan panas 2 juta derajat celsius, termasuk juga menciptakan alat pengendali cuaca (untuk mengatur langit dan memodifikasi cuaca cerah, salju atau hujan) dengan menggunakan teknologi mutakhir.  Keseluruhan pencapaian tersebut bisa jadi dilakukan dalam rangka membuktikan bahwa manusia bisa menyaingi atau setidak-tidaknya “setara” dengan Tuhan sebagai Pencipta.

           Segala performa atau kemajuan yang terlihat di China atau negara-negara Barat mendatangkan kekaguman dan keterpesonaan pada banyak orang di seantero jagat ini, termasuk juga yang di Indonesia.  Berkali-kali saya mendengar orang berdecak takjub dan memuji prestasi dan kehebatan di bidang ekonomi, industri, antariksa, atau bioteknologi yang dicapai di sana.  Tetapi, sebagai seorang Kristen, seharusnya kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti ini: Apakah segenap kemajuan semacam itu tidak melanggar rambu etika atau moralitas?  Apakah manusia boleh secara bebas dan tanpa batas in the name of science and development melangkahi atau menggagahi struktur ciptaan atau alam ini, apalagi kalau kita percaya “This Is My Father’s World”?  Apakah manusia atau pemerintah boleh melakukan “playing God,” dalam arti secara tanpa batas menganggap dirinya nyaris mahakuasa dan berusaha melakukan penciptaan (atau apalagi, sebaliknya, merusak ciptaan Tuhan yang sudah ada)?

PERSOALAN ASAL USUL VIRUS CORONA

            Penyimpangan teknologi dan riset laboratorium sebetulnya sudah terlihat di beberapa negara Barat, misalnya, pemerintahan Nazi di Jerman (yang waktu itu bercita-cita membuat manusia super), kloning hewan di Inggris, dan rencana kloning manusia di Amerika Serikat.  Namun, yang terjadi di China skala penyimpangannya jauh lebih ekstensif dan intensif.  Itulah sebabnya skala intensifnya dapat terlihat pada berulangnya insiden wabah yang muncul di sana, sehingga bisa dikatakan bahwa China sesungguhnya adalah inkubator (tempat membiaknya) beberapa epidemi yang mengerikan yang sudah tercetus, misalnya Flu Asia (1956), Flu Burung (1997), SARS Epidemic (2002), dan Wuhanvirus (2020).  (Catatan: Penyebutan Wuhanvirus tidak bermaksud merendahkan warga Wuhan atau China; itu sama halnya dengan penamaan secara geografis atau asal lokasi datangnya virus, persis serupa dengan penyebutan “Varian Inggris,” “Varian Brazil,” atau “Varian India”).

           Belum lagi penyakit-penyakit lain yang muncul selama beberapa tahun di pelbagai wilayah di sana: blue ear disease yang menjangkiti babi (2007), anthrax (2016), hepatitis E (2018), rabies (2015-2018), leptospirosis (2007-2018), hantavirus (2020), dan masih banyak lagi.  Sebagian penyakit itu ada hubungannya dengan upaya manusia melampaui struktur alam ini dengan mengabaikan etika/moralitas, dan sebagian lagi ada kaitannya dengan kebiasaan masyarakat yang memakan apa saja yang berkaki empat, atau hewan/serangga yang berkaki banyak.  Tentu saja skala yang paling ekstensif adalah merebaknya virus corona di Wuhan mulai Desember 2019.  Dikatakan ekstensif, karena penyebaran yang begitu cepat dan begitu meluas ke seluruh bumi pada semua negara di dunia ini (sampai sekarang yang terinfeksi mendekati 180 juta dan yang meninggal 3,8 juta lebih).

           Bila ada yang bertanya: Dari mana asal mula merebaknya virus itu?  Apakah virus tersebut “kabur” keluar dari lab di Wuhan Institute of Virology seperti yang belakangan ramai sedang diperbincangkan di media internasional (lih. https://www.wsj.com/articles/intelligence-on-sick-staff-at-wuhan-lab-fuels-debate-on-covid-19-origin-11621796228)?  Ataukah, virus itu muncul secara misterius dan tiba-tiba—sebagaimana versi pemerintah China meyakini dan memberitakannya—dari pasar binatang (Huanan Wet Market), terutama yang dijadikan “tersangka utama”nya adalah kelelawar (bat) dan trenggiling (pangolin)?

           Sebelum saya lanjutkan pembahasan di atas, perkenankan saya sharing sedikit: Jauh-jauh hari sebelum munculnya virus corona di Wuhan, China, saya sudah berkali-kali dalam berbagai kesempatan (kuliah, ceramah, seminar, artikel) pernah mengutarakan bahwa manusia sedang menghancurkan dirinya sendiri melalui penyimpangan melawan struktur ciptaan (against nature), serta melalui eksploitasi keunggulan teknologi dan riset laboratorium yang tidak memiliki etika atau moralitas yang ketat.  Saya katakan ini sehubungan dengan maraknya arus sekularisme dan gejala permisivisme, yaitu mulai kendornya rambu-rambu etika dan moral di dalam dunia Barat dan negara maju di Asia (misalnya, pembiaran dan praktik aborsi, euthanasia, penyimpangan seksualitas, LGBTQI, genetic engineering, stem cell research, kloning, dan seterusnya).  Apa yang saya lakukan adalah berdasarkan pengamatan selaku seorang yang mendalami dan mengajar teologi serta yang berusaha meneropong zaman ini dari sudut prinsip Alkitab sebagai firman Allah.

           Lalu, bagaimana tentang Teori 1 (teori zoonotik; dari binatang; artinya, alam atau nature yang dipersalahkan) dan Teori 2 (teori lab bocor; man-made virus; yaitu ada eksperimen yang gagal atau salah sehingga sumbernya dari manusia)?  Walaupun pemerintah China mati-matian berpegang pada teori zoonotik, namun Teori 1 tampaknya mengandung kelemahan dan banyak pertanyaan di dalamnya.  Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, mengapa pasar basah Huanan yang disebut sebagai pusat penyebaran, padahal dari data yang beredar di pasar itu justru tidak ada yang menjual kelelawar dan tenggiling (di mana kedua jenis hewan ini yang disebut-sebut sebagai tersangka utama sumber virus)?

           Kedua, kenapa pula itu virus hanya muncul di Wuhan dan tidak pernah merebak, misalnya, di kota-kota lain (sebab pasar yang mirip sejenis itu jumlahnya banyak di sana), atau mengapa tidak menyebar di Guangzhou (di selatan China) yang terkenal dengan pasar binatang yang jauh lebih besar dan marak perdagangannya?  Demikian pula epidemi serupa itu tidak pernah dilaporkan terjadi di negara-negara Asia lainnya, seperti Vietnam, Kamboja, Laos, atau Indonesia, padahal di negara-negara tersebut juga banyak penduduk yang makan segala macam yang berkaki empat (kecuali meja), namun tidak pernah tercetus penularan virus ganas semacam itu?

           Ketiga, mengapa pasien-pasien yang pertama terinfeksi virus corona di Wuhan tidak pernah tercatat berkunjung ke pasar binatang Huanan yang dijadikan kambing hitam?  Apa artinya?  Menurut Majalah Newsweek (edisi 27 April 2020), hal itu memberikan indikasi bahwa virus tersebut sudah menyebar sebelumnya dari orang ke orang, dan bukan dari binatang ke orang (Fred Guterl, Naveed Jamali, dan Tom O’Connor, “The Controversial Experiments and Wuhan Lab Suspected of Starting the Coronavirus Pandemic”; https://www.newsweek.com/controversial-wuhan-lab-experiments-that-may-have-started-coronavirus-pandemic-1500503).  Data ini terus menerus diabaikan dan ditutupi oleh pemerintah setempat.

           Keempat, satu bulan setelah wabah di Wuhan berjangkit, Presiden Xi Jinping pada 17 Februari 2020 tiba-tiba berbicara tentang reformasi di bidang biosafety atau biosecurity yang ditujukan pada lab-lab (yang jumlahnya 50 buah) yang tersebar di seluruh wilayah China (Jane Cai and Zhuang Pinghui, “China to Fast-track Biosecurity Law in Coronavirus Aftermath”; https://www.scmp.com/news/china/politics/article/3051045/china-fast-track-biosecurity-law-coronavirus-aftermath).  Bukankah pernyataan itu agak aneh diucapkan, jika—dan hanya jika—memang sumbernya virus corona betul-betul berasal mula dari pasar basah?  Maksudnya, seharusnya yang di-reformasi atau dibenahi adalah seluruh pasar yang begituan yang ada di semua kota dan desa di China.  Sekali lagi, ini memunculkan tanda tanya: mengapa biosafety lab yang perlu diperhatikan, bila semua lab itu berjalan dengan aman dan baik?

            Dari sini tampaklah Teori 2 (lab bocor) memiliki kemungkinan yang lebih layak untuk ditelusuri dan yang lebih mendekati kebenaran yang sesungguhnya terjadi, apalagi terdapat serangkaian fakta yang sulit disangkal atau dihapuskan pemerintah China.  Fakta-fakta yang sudah terpapar adalah sebagai berikut: Pertama, menurut Jasper Becker, penelitian ilmuwan di Wuhan Institute of Virology dilaporkan telah menciptakan lebih dari seribu binatang rekayasa genetika sebelum ada yang mendengar nama COVID-19 (https://www.dailymail.co.uk/news/article-9655357/JASPER-BECKER-No-wonder-experts-say-Covid-DID-leak-Wuhan-research-centre.html).  Di lab itulah hewan-hewan seperti monyet, kelelawar, dan kelinci disuntik dengan virus yang diubah gen-nya, dan beberapa di antaranya mirip dengan SARS-CoV-2 (virus corona).  Dengan demikian, virus itu “diproduksi” manusia (man-made) dan dimanipulasi sebegitu rupa supaya dapat memberikan daya infeksi lebih kuat.

           Di lingkungan penelitian virus, upaya yang mirip-mirip dengan metode “Jurassic Park” ini biasa disebut “gain-of-function research” atau riset peningkatan fungsi, yang sebagian dilakukan dengan cara kerjasama dengan peneliti dari Amerika Serikat.  Artinya, sebagian virologis Amerika (misalnya, Anthony Fauci, Peter Daszak, Ralph Baric) tahu tentang hal ini, ikut mendanai riset ini, serta secara complicit (terlibat) ikut menutupi fakta lab leak di Wuhan.  Mengapa ikut merahasiakan?  Kemungkinan besar bisa saja dikarenakan mereka khawatir dituntut untuk harus ikut bertanggung jawab.  Maka, tidak heran, kita juga mendengar berkali-kali pihak China menuduh ada keterlibatan Amerika Serikat dalam insiden tersebut.  Ini memberikan indikasi bahwa baik pihak China maupun Amerika Serikat sebenarnya ada di posisi “tahu-sama-tahu,” dan mereka saling menutupi, atau bila kepepet, saling menyalahkan atau menuding.  Entah kapan sandiwara ini akan mencapai klimaksnya dan berakhir, kita sulit menebaknya.

           Namun demikian, tanggung jawab utama operasional lab di Wuhan memang ada di tangan pemerintah China, sebab itulah masih menurut Becker: “The fact is that China has a reputation for recklessly encouraging, or at least tolerating, all kinds of experiments that are not permitted elsewhere in the world” (“Faktanya adalah China punya sebuah reputasi secara nekat mendorong, atau paling sedikit membolehkan, segala jenis eksperimen yang tidak mendapat izin di belahan dunia manapun”).  Ini memberi petunjuk bahwa proses penularannya memang berlangsung dari hewan ke manusia.  Maksudnya, para ilmuwan yang ada di lab itu yang kena infeksi duluan dan realitasnya memang disinyalir ada tiga orang peneliti yang dirawat di rumah sakit November 2019 (info ini lagi-lagi dibantah pihak China).

           Maka kemungkinan besar apa yang terjadi di sana adalah sebuah kecelakaan (accident) dan ada kebocoran yang tidak disengaja (unintentional leak).  Namun demikian, virus yang lolos itu jelas bukan muncul mendadak dari alam (nature), melainkan asli buatan manusia (man-made gene-altered viruses), dan lebih jauh dari itu, bisa saja virus tersebut merupakan produk dari program militer yang sangat dirahasiakan (tentu saja poin ini akan lebih sulit lagi dibuktikan).  Tetapi bila ini benar, sekalipun yang terjadi bersifat unintentional, eksperimen itu sendiri merupakan penerabasan rambu moral/etika yang telah dilakukan dengan nekat dan sekaligus fatal!

            Kedua, virus corona jelas pertama kali merebak pada musim dingin atau November/Desember 2019 di Wuhan, lalu menyebar ke seluruh negeri, dan akhirnya ke seantero jagat ini.  Di akhir Desember 2019 ada orang-orang yang pertama kali mendeteksi dan mengabarkan penemuan keanehan penyakit ini (misalnya, dokter Lie Wen Liang, bersama beberapa dokter dan wartawan).  Mereka yang ngasi tau dan melaporkan ke otoritas setempat tentang bahaya penularan ini malah diinterogasi, ditahan, dan diancam bila mereka masih “bersuara” lebih jauh.  Artinya, mereka yang berniat “speak the truth” justru ditekan dan dibungkam.  Hal ini menimbulkan tanda tanya besar—untuk tidak mengatakan—kecurigaan, yaitu ada sesuatu yang dirahasiakan atau ditutupi.  Bukankah mereka yang pertama kali mengabarkan tentang penyakit ini (dengan tujuan supaya cepat tertangani dan tidak menyebar) seharusnya dihargai sebagai pahlawan-pahlawan, bukan sebaliknya malahan diomeli dan disuruh tutup mulut?

            Ketiga, pemerintah pusat di Beijing mengaku sudah mengetahui tentang Wuhanvirus ini pada 7 Januari 2020.  Tidak jelas apakah mereka baru tahu, atau sebenarnya sudah tahu, tetapi baru mengaku tahu sejak 7 Januari 2020?  Bila pemerintah pusat sudah tahu sejak 7 Januari 2020, mengapa mereka begitu lambat dan baru mengirimkan tim pemeriksa dari Beijing satu minggu kemudian (14 Januari)?  Lebih parah lagi, bila mereka sudah tahu sejak awal Januari, mengapa pula mereka tetap mengizinkan pesta makan 5000 orang yang berlangsung 18 Januari 2020 di kota Wuhan dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek (25 Januari 2020)?  Dari pesta makan ribuan orang inilah semakin banyak orang yang terinfeksi dan akhirnya meninggal.

           Keempat, bila pemerintah pusat dan daerah sudah tahu begitu cepat dan ganasnya virus corona merebak (yang ditandai dengan begitu banyak orang yang terinfeksi, sakit, dan meninggal, rumah-rumah sakit full-housed, serta krematorium dijejali jenazah-jenazah yang antri hendak dimusnahkan), mengapa pula mereka membiarkan lima juta penduduk Wuhan berbondong-bondong travel ke kota-kota lain dan lebih-lebih lagi terbang ke mancanegara pada tanggal 22-23 Januari 2020 (padahal kota itu akan di-lockdown 24 Januari 2020)?

           Bukankah dari sanalah virus corona kemudian dengan lenggang kangkung secara bebas merdeka menyebar ke seluruh dunia lewat pelancong-pelancong dari Wuhan?  Yang mengherankan adalah: pada waktu turis-turis dari China melakukan perjalanan ke pelbagai kota di seluruh dunia, kenapa pula WHO (Badan Kesehatan Dunia) dan negara-negara Barat atau negara-negara lain diam saja (dan menyambut turis-turis yang berdatangan secara membludak)?  Sungguh keteledoran dan kebodohan inilah yang ikut memberikan kontribusi kerusakan terbesar di abad 21 ini!

           Walaupun demikian, harus diakui Teori 2 (lab leak) akan sulit dibuktikan.  Karena apa?  Karena peristiwa itu sudah berlangsung 18 bulan yang lalu, dan pemerintah China diperkirakan sudah melakukan pembersihan (clean-up) lokasi kejadian perkara, pembredelan berita-berita (cover-up), merahasiakan/memusnahkan semua dokumen yang mengarah pada bukti-bukti, menutup mulut para whistleblowers yang coba-coba berani-beranian “speak the truth, the whole truth, and nothing but the truth,” dan mengerahkan pasukan “wolf warriors,” yaitu jurubicara pemerintah yang pandai bersilat lidah, teristimewa untuk memberikan keterangan, denial, atau bantahan yang defensif dalam diplomasi selama pandemi (belum lagi buzzers sewaan mereka yang ada di banyak negara, termasuk di Indonesia, yang selalu ikut membantah info negatif apa saja dan sekaligus menyuarakan hal-hal yang baik-baik atau kehebatan China, sambil pada saat bersamaan “menghantam” segala sesuatu yang berasal dari Barat).

           Sebagai kesimpulan (meskipun China ngotot berpegang pada Teori 1, yakni alam yang dituduh sebagai sumbernya dan memventilasikan semuanya pada hewan), dari semua data dan bukti yang beredar, tampaknya Teori 2 (lab leak) adalah yang lebih konklusif dan meyakinkan, yakni telah timbul kebocoran atau kecelakaan yang tidak disengaja pada BSL-4 (Biosafety Level 4) di Wuhan Institute of Virology.  Namun, kecelakaan atau bukan, untuk negara besar sekaliber China, seharusnya mereka dapat bertindak cepat, me-manage kebocoran itu dengan seksama supaya tidak meluas, bersikap transparan mengumumkan apa yang terjadi, dan melarang travelling dari penduduk Wuhan ke kota-kota lain atau apalagi ke luar negeri.

            Tetapi pemerintah China justru melakukan yang sebaliknya, yaitu sejak awal merahasiakan dan menutupi semua data dan fakta di atas dengan ketat, me-manage dengan lambat pada awal permulaan kebocoran (catatan: saya rasa pada poin ini WHO harus ikut bertanggung jawab, sebab badan dunia ini malah berperilaku yang memalukan, yakni bertindak bagaikan public relations agency atau “jurubicara amatir” bagi pemerintah China), dan melakukan pembiaran, sehingga menyembullah pandemi yang merusak perikehidupan manusia di seluruh dunia.  Maka, mengharapkan pemerintah China mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi dengan transparan dan jujur di kemudian hari (atau, apalagi, mengganti kerugian akibat menyebarnya virus corona kepada semua negara yang terdampak) adalah sebuah hil yang mustahal (baca: sangat-sangat mustahil).

DOSA MELAWAN STRUKTUR CIPTAAN

           Tokoh kemerdekaan India, Mahatma Gandhi (1869-1948), pernah bilang begini: “Earth provides enough to satisfy every man’s needs, but not every man’s greed” (“Bumi menyediakan kecukupan untuk memuaskan setiap kebutuhan manusia, tetapi bukan setiap keserakahan manusia”; Nayyar Pyarelal, Mahatma Gandhi: The Last Phase [Ahmedabad: Navajivan, 1958] 10:552).  Apa yang kita saksikan di abad 21 sekarang ini adalah: selain kemajuan ekonomi, bioteknologi dan sains, dewasa ini dunia juga diwarnai oleh keserakahan melalui cara-cara eksploitasi terhadap bumi dan alam yang adalah ciptaan Tuhan.  Keserakahan dan kebobrokan manusia di negara-negara maju (di Barat atau Timur) justru memperlihatkan sisi perilaku manusia yang semakin berlawanan dengan struktur ciptaan serta berlawanan dengan hukum Allah, atau bisa juga dikatakan: sebenarnya mereka menganggap Allah tidak ada dan hukum Allah tidak berlaku.

            Bila kita melihat ke dalam Alkitab, baik perorangan, sekelompok masyarakat, atau dapat meliputi sebuah bangsa atau pemerintah yang sengaja dan terang-terangan melawan hukum Allah, dapat dikategorikan melakukan “lawless deeds” atau “transgression of the law” yang akar katanya sebetulnya berasal dari kata “anomia” (a=tidak; nomos=hukum).  Melakukan anomia menunjuk pada pendirian, perilaku, atau perbuatan yang melawan hukum Allah atau tidak mengikuti aturan yang Tuhan tetapkan (bdk. 1Yoh. 3:4, “melanggar hukum Allah”; 2Ptr. 2:8, [masyarakat Sodom disebut] lawless men; lih. juga Mat. 7:23; 13:41; 2Tes. 2:8; Tit. 2:14; 1Tim. 1:9, pendurhaka).

           Namun demikian, hal ini tidak berarti orang, penguasa, atau pemerintah yang melanggar anomia tidak memiliki pengetahuan apa-apa tentang hukum Allah, sebaliknya mereka adalah orang-orang tahu banyak tentang Allah dan hukum Allah, namun dengan sengaja melanggar hukum Allah (willful violation of God’s law) dan berusaha hidup seakan-akan hukum Allah tidak ada atau tidak berlaku pada mereka.  Bila ada negara maju (katakanlah, seperti Amerika Serikat yang sekularis, atau China yang ateistis), secara sadar dan dengan mengandalkan daya intelektual semata, melakukan anomia, yaitu menganggap Allah tidak ada dan melakukan hal-hal yang melawan hukum Allah atau struktur ciptaan Allah, mereka pun dapat dikategorikan melakukan pemberontakan terhadap Sang Pencipta, pelanggaran terhadap hukum Allah, serta penyangkalan terhadap struktur ciptaan-Nya.

           Akibat dari pemberontakan dan penyangkalan terhadap struktur ciptaan ini sudah terlihat pada rusaknya moralitas dan kendornya rambu-rambu etika universal di banyak negara di abad 21 ini.  Dapat dikatakan bahwa tercetusnya wabah virus corona sesungguhnya merupakan salah satu “hasil” atau akibat dari penerabasan dan penyangkalan terhadap struktur ciptaan Allah, dengan dampak pada terporak porandanya keselarasan alam, yang terutama mendatangkan kerusakan, penderitaan, dan kematian pada banyak insan di mana-mana di seluruh dunia.  Dengan demikian, pemerintah atau penguasa yang melakukannya (atau paling sedikit, membiarkannya) boleh dikatakan telah berdosa terhadap alam ciptaan, terhadap sesama manusia, dan pada instansi terakhir, telah berdosa terhadap sang Pencipta.

           Ketika sebuah negara atau pemerintah menolak hukum Allah dan mereka secara perlahan dan sistematis berhasil menyingkirkan hukum Allah, pimpinan negara atau pemerintah kemudian merekayasa hukum produk mereka sendiri (misalnya, disahkan lewat Mahkamah Agung negara masing-masing), yaitu hukum atau aturan yang menentukan arah dan program pemerintah mereka ke depan.  Dengan begitu, kalau hukum yang diciptakan sendiri ini bersifat immoral dan unethical, maka arah dan perjalanan bangsa dan rakyatnya akan semakin jauh dari Tuhan dan bahkan bertentangan dengan Tuhan.  Sebagai contoh, dalam sejarah abad 20, sudah mencuat penyimpangan semacam ini pada pemerintahan Nazi Jerman di bawah Adolf Hitler, dan yang akhirnya mencetuskan Perang Dunia Kedua yang memakan korban jiwa tidak kurang dari 75 juta manusia di berbagai negara.

           Contoh negara maju dewasa ini yang semakin jauh dari Tuhan dan semakin jauh dari moralitas dan etika yang benar adalah pemerintah Amerika Serikat.  Negara ini pada mata uangnya ada tulisan “In God We Trust,” namun demikian tampaknya itu hanya slogan yang beranjak menjadi tidak bermakna, apalagi pemerintah sekarang di bawah Partai Demokrat terlihat menuju ke arah yang bertambah sekular dengan melegalisir praktik aborsi, LGBTQI, kebebasan seksual, euthanasia, kloning, dan praktik unethical lainnya.  Malahan belakangan ini presidennya, Joe Biden (yang berasal dari Partai Demokrat), di hari doa nasional (National Day of Prayer) tidak menyebut nama Allah (God) sama sekali di dalam doanya (https://nypost.com/2021/05/07/biden-omits-the-word-god-from-national-prayer-declaration/).  Kalau gitu, itu presiden berdoa kepada siapa ya?  Lucu (yang tidak lucu), bukan?

           Mirip seperti di atas, penyimpangan yang lebih eksplisit menjauh dari Tuhan dan terang-terangan anti-Kristen justru terlihat di China, di tengah segala kepesatan ekonomi yang sedang berlangsung di sana.  Pemerintah China tampaknya berusaha meniadakan iman Kristen secara sistematis.  Selama beberapa tahun di bawah presiden Xi Jinping, ribuan gereja dirobohkan, tanda salib diruntuhkan, orang Kristen dianiaya, Alkitab mau ditulis ulang menurut versi mereka, gambar lukisan Tuhan Yesus di gereja diturunkan dan diganti dengan foto you know who-lah, dan orang atau pendeta yang berani mengkritik atau menentang kebijakan ini sudah tidak terhitung yang ditahan atau dilenyapkan.

           Karena itulah, semakin hari semakin terlihat pemerintah di sana sangat mirip dengan (atau berusaha menjelma menjadi serupa) pemerintah Romawi (31 BC-476 AD) yang menguasai dan mendominasi banyak wilayah (dan tidak mengherankan, China sekarang ini mempunyai relasi yang tegang dan tidak harmonis dengan 20 lebih negara di sekitarnya, lantaran sering mengklaim wilayah atau pulau yang bukan bagiannya).  Bila pemerintah Romawi berhasil mengembangkan pembangunan jalan (road) dan jaringan ekonomi (belt) di masa lampau (yang belakangan menjadi Jalur Sutra), saat ini program tersebut tampaknya sedang diadopsi dan berusaha dihidupkan kembali oleh pemerintah China lewat inisiatif OBOR (One Belt and One Road Initiative).  Ironisnya, baik pemerintah Romawi maupun pemerintah China di masa kejayaannya masing-masing berubah menjadi amat sangat anti terhadap kekristenan!

           Selanjutnya, bila kita meninjaunya dari konteks sejarah umat manusia, pemberontakan manusia yang sengaja melanggar hukum Allah dan berusaha hidup seakan-akan hukum Allah tidak ada atau tidak berlaku pada mereka, sebenarnya pernah tercetus 4200 tahun yang lalu pada peristiwa Menara Babel yang dikisahkan dalam Kejadian 11:1-9.  Pelajaran yang paling penting dari Menara Babel adalah manusia pada waktu itu menghendaki sebuah kehidupan yang independen, yang dirancangkan manusia sendiri, dan tentu saja, yang terlepas dari Tuhan dan hukum Tuhan.  Artinya, manusia terang-terangan memarginalkan Tuhan dari segala prestasi dan progress yang mereka peroleh.  Jadi, bila Menara Babel diaplikasikan pada kehidupan manusia modern sekarang ini, kita dapat terlihatnya pada otokrasi atau penumpukan kekuasaan sedemikian rupa hingga nyaris absolut, di mana ada negara atau manusia sedang membangun kedaulatan dan rencana manusia tanpa peduli akan kedaulatan dan rencana Tuhan sama sekali.  Sekali lagi, inilah dosa melawan struktur ciptaan Allah!

           Dewasa ini, di tengah dunia yang semakin maju, justru semakin banyak manusia modern yang ingin dan sedang hidup independen, terlepas dari Tuhan, baik dilakukan secara diam-diam atau terang-terangan menepikan Tuhan dari segala lingkup pencapaian diri.  Realitas ini sesungguhnya adalah bentuk “playing God yang sangat eksplisit dan dapat dikatakan sebagai refleksi dari manusia zaman Menara Babel yang kuno.  Dengan demikian, berbicara tentang Menara Babel bukan hanya persoalan sebuah bangunan yang pernah ada di masa lampau, tetapi menara itu telah berubah wujud secara transformatif dan saat ini sedang terbangun pada jiwa setiap manusia yang melakukan “playing God” lewat cara meninggikan diri, memandirikan diri, dan mengusahakan diri terlepas dari Allah.

           Maka, dalam scope lebih luas, bila ada negara atau pemerintah yang hendak membangun nama harum bagi dirinya sendiri dengan meniadakan Tuhan, negara atau pemerintah itu sudah bermetamorfosis menjadi sebuah Menara Babel yang melakukan “playing God.”  Bukankah dewasa ini sudah banyak negara-negara maju di Barat atau di Timur yang menjadikan sains, teknologi atau bioteknologi sebagai juruselamat (savior), termasuk di dalamnya “pendewaan” terhadap kemajuan dunia ekonomi, dunia antariksa, dunia kedokteran, dunia bioteknologi, dan tentunya dunia kekuasaan militer?  Bila gereja atau orang Kristen terlalu terpesona dan ikut-ikutan terbuai pada segala produk dunia Barat/Timur yang dianggap mendatangkan salvation, masihkah mereka menganggap Kristus sebagai juruselamat satu-satunya?

           Saya rasa kita perlu memperhatikan perkataan Nigel M. de S. Cameron dan Amy Michelle DeBaets yang cukup panjang namun yang sangat tepat menggambarkan manusia modern yang sangat maju dalam teknologi genetika tetapi tidak ragu melakukan “playing God.”  Manusia modern sekarang inilah yang sebenarnya sedang mempraktikkan prinsip Menara Babel: “The Babel principle is that of technology out of control, intended to enable humans to have power and achievement entirely apart from God. . . .  The Babel principle returns when humankind decides to exploit the God-given gifts of skill and strength and the plentiful resources of God’s world to achieve power through technology.  Every previous opportunity that humankind has faced to employ our skills to challenge the authority of God—from Babel on—has only helped to pave the way for the greatest challenge.  That challenge comes not in the form of killing and destruction. . . .  It is rather the subtler and most sinister challenge of all—the threat to seize the place of God the creator in designing and redesigning human nature itself.  That is the final embodiment of the sinful challenge to God: to use “our” technology to displace him; to make a name for ourselves in this, his world; to let loose the Babel principle in the technology of today” (“Germline Gene Modification and the Human Condition Before God” dalam Design and Destiny: Jewish and Christian Perspectives on Human Germline Modification [ed. Ronald Cole-Turner; Cambridge: MIT Press, 2008] 107).

            Jadi, Menara Babel modern sekarang ini sudah tampak jelas terlihat pada pemerintah atau negara yang melakukan otokrasi atau penumpukan kekuasaan sedemikian rupa sehingga nyaris bersifat absolut, terlepas dari otoritas Tuhan, dan malah melawan struktur ciptaan Tuhan.  Negara atau pemerintah yang sedang membangun kedaulatan dan rencana manusia tanpa peduli akan kedaulatan dan rencana Tuhan pada akhirnya akan berujung pada kekecewaan dan kegagalan (sebagaimana yang sudah tampak begitu kentara pada kerajaan Romawi dan pemerintahan Nazi Jerman).  Seharusnya kita semua mau belajar dari sejarah dunia ini secara makrokosmos!

PENUTUP

           Sebenarnya sudah sekitar setengah tahun saya hendak menuntaskan tulisan ini, namun berkali-kali saya tunda dan pikirkan kembali: Apakah saya harus mempublikasikannya.  Lalu tiba-tiba saya menemukan perkataan singkat dari Martin Luther King Jr. yang diucapkan pada tahun 1963: “The church must be reminded that it is not the master or the servant of the state, but rather the conscience of the state.  It must be the guide and the critic of the state, and never its tool.  If the church does not recapture its prophetic zeal, it will become an irrelevant social club without moral or spiritual authority” (“Gereja harus diingatkan kembali bahwa ia bukan majikan atau pelayan dari negara, melainkan hati nurani dari negara.  Ia harus menjadi pemandu dan pengkritik dari negara, dan jangan menjadi alat [negara].  Jikalau gereja tidak dapat meraih kembali semangat kenabiannya, ia akan menjadi klub sosial yang tidak relevan, tanpa otoritas moral dan spiritual”; dikutip dari J. Brent Walker, Church-State Matters [Macon: Mercer University Press, 2008] 63).

            Maka, tujuan saya menuliskan artikel ini adalah supaya gereja dibangunkan kembali kepekaan hati nuraninya, yang boleh jadi sudah mulai diredupkan oleh kehebatan teknologi super-power negara Barat (namun yang ternyata semakin sekular dan immoral dalam berbagai aspek), atau sebagian lagi dibuat terpukau atau terbuai oleh kecanggihan ekonomi, kehebatan progress, dan peningkatan kemakmuran China (namun yang diam-diam menindas iman Kristen dan tidak ada rasa takut pada Tuhan dalam kepemimpinan di sana).  Saya merasa heran sekali dan sambil meratap dalam jiwa, saya bertanya: Mengapa gereja-gereja “tidak bersuara” ketika saudara-saudara seiman kita dihambat dan ribuan gereja dihancurkan di China selama beberapa tahun belakangan ini?  Sepertinya kita khawatir sekali menyinggung perasaan negara tertentu, tetapi kita seakan-akan tidak khawatir menyinggung hati Tuhan dan tentunya hati nurani kita masing-masing.

            Jangan sampai kita yang bergereja (baik kita yang menjadi ketua sinode, ketua yayasan, ketua majelis, hamba Tuhan, penatua, diaken, pengurus komisi, aktivis, atau jemaat) mengulangi kesalahan fatal yang telah dilakukan Gereja Protestan Jerman yang berkompromi dan terlalu terpesona akan kehebatan diplomasi dan kemajuan yang dibuat oleh pemerintah Nazi di bawah Adolf Hitler hampir satu abad yang lalu.  Oleh karena terlalu terkagum-kagum pada progress yang dibuat Nazi dan warga Jerman berbondong-bondong mendukung pemerintah waktu itu, gereja malahan berdiam diri, bahkan tetap berdiam diri dan bungkam sewaktu Hitler mulai secara perlahan tapi pasti dengan sistematis dan sadis melakukan genosida terhadap enam juta warga Yahudi.  Kemana larinya hati nurani orang-orang Kristen Protestan Jerman waktu itu?

            Sungguh ironis, bila kita yang bergereja di abad 21 menempuh kembali perjalanan sejarah gereja di Jerman dengan pudarnya atau matinya hati nurani kita, yaitu ketika kita menjadi the servants of the state.  Saya pribadi tidak sudi menorehkan sejarah seperti itu, dan saya harap saudara juga memiliki komitmen yang serupa.  Karena itulah, saya mengajak kita yang mencintai bangsa dan negara kita, negara Barat, atau negara China, untuk paling sedikit sering mengambil waktu untuk berdoa atau bersyafaat secara serius buat pemerintah-pemerintah yang ada (lih. 1Tim. 2:1-2), supaya timbul rasa takut kepada Tuhan dalam hati pemimpin-pemimpin di level atas ke bawah, serta agar Tuhan menurunkan dan menegakkan kebenaran, keadilan, kekudusan, kemurnian, dan kejujuran di muka bumi ini.  Hanya melalui cara dan kepedulian inilah, gereja kita akan berfungsi sebagai the conscience of the state!

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *