Kehadiran Tuhan Di Tengah Kegalauan (Belajar Beriman Dari Kejadian 28:10-18)

Pendahuluan

Puluhan tahun yang lalu, sebuah perusahaan sepatu ingin meluaskan pemasaran produknya ke penduduk asli di Australia.  Untuk maksud melakukan survei, manager regional mengutus dua orang salesman pergi ke dua wilayah berbeda di pedalaman guna menjajaki kemungkinan melakukan penjualan, khususnya di antara suku Aborigin yang masih amat sederhana pola kehidupannya.

           Setelah pergi mengamati selama satu minggu, salesman pertama mengirimkan berita kepada managernya demikian: “Boss, batalkan saja rencana penjualan sepatu di wilayah ini, sebab orang-orang Aborigin di sini tidak ada yang memakai sepatu.”

           Besoknya, salesman kedua dari kawasan lain menyampaikan kabar kepada atasan itu; isi message-nya begini: “Boss, siapkan rencana penjualan sepatu besar-besaran, sebab orang-orang Aborigin di sini tidak ada yang memakai sepatu.”

           Perhatikan frasa yang persis sama yang dipakai kedua salesman itu: “sebab orang-orang Aborigin di sini tidak ada yang memakai sepatu.”  Apa artinya?  Artinya, kedua orang itu sebetulnya mengamati dan menghadapi satu situasi yang sama, namun yang berbeda adalah cara mereka bereaksi dan menyikapinya: yang satu memandangnya sebagai sebuah hambatan atau problem yang harus dihindari; yang satu lagi melihatnya sebagai sebuah tantangan atau kesempatan yang besar.  Dengan perkataan lain, persepsi orang pertama terlalu terpaku pada persoalan hingga mengabaikan kesempatan, sedangkan persepsi orang kedua langsung mencerna persoalan menjadi kesempatan.

           Pelajaran apa yang bisa dipetik dari cerita di atas?  Intinya, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan mengenai sebuah situasi, sebab persepsi atau perspektif kita dalam melihat sesuatu atau sebuah keadaan dapat keliru.  Bahasa to the point-nya: kita sering salah lihat dan salah membuat praduga.  Karena itulah, ada orang yang akhirnya yakin sekali mengenai sesuatu atau seseorang, tetapi semua proses melihatnya, pengumpulan datanya, dan cara membuat asumsinya sama sekali keliru.

           Selama 35 tahun melayani Tuhan penuh waktu dan 45 tahun menjadi orang Kristen, saya sudah sering melihat, mendengar, dan mengalami sendiri ada orang yang mengaku kecewa, bahkan marah kepada Tuhan sehubungan dengan adanya problema, hambatan, kesusahan, kebangkrutan, masalah keluarga, sakit parah, dan terutama kematian anggota keluarga yang dikasihi (apalagi kalau matinya “kurang enak,” seperti misalnya kecelakaan, mati mendadak di usia muda, dan sejenisnya).  Lebih dari itu, ada yang sampai meninggalkan gereja atau pelayanan, dan sebagian lagi kandas imannya.

           Mengapa bisa seperti itu?  Jawabnya adalah karena mereka terlalu cepat mengambil kesimpulan ketika melihat sebuah situasi yang mandek, tidak ada jalan keluar, dan teristimewa yang dirasakannya sebagai “mestinya tidak begitu” atau “mestinya begini.”  Maksudnya, kalau betul Tuhan ada dan hadir, mestinya Ia langsung bertindak bila ada orang percaya yang dalam persoalan atau kesusahan.  Tuhan mestinya segera turun tangan menolong, jikalau orang Kristen sedang sakit parah dan banyak orang yang mendoakannya.  Idealnya, Tuhan mestinya mencegah supaya setiap orang gereja jangan ada yang sakit, susah, bangkrut, stroke, pian sui (lumpuh), menderita, apalagi mati.  Cara melihat, berpikir, dan mengambil kesimpulan semacam ini rupanya sangat umum dijumpai di antara orang yang mengaku Kristen, atau (bisa juga) hamba Tuhan atau aliran gereja tertentu.

            Sekarang coba simak peristiwa yang terjadi dalam Kejadian 28:10-18: Dengan persepsi apa kita memandang situasi yang dihadapi tokoh Yakub?  Bila dilihat dengan teliti, termasuk bagian sebelum dan sesudahnya, kita akan tahu dengan jelas: tokoh Yakub dalam kisah ini sedang menghadapi sebuah persoalan besar.  Singkatnya, ia sedang kabur dari rumah orangtuanya di Bersyeba menuju kediaman familinya di Haran yang jaraknya sekitar 800 kilometer (Haran letaknya di sebelah selatan negara Turki sekarang dan jarak tersebut hampir sama antara Jakarta-Surabaya).  Kenapa kabur?  Karena ia sedang diburu Esau, saudaranya sendiri yang sedang marah besar dan mengancam akan membunuhnya.

            Esau murka lantaran paling sedikit sudah dua kali adiknya menipu dia.  Yang pertama adalah Yakub merebut hak kesulungannya dengan cara licik, dan yang kedua adalah menipu bapaknya sendiri, Ishak, sehingga Ishak terlanjur “men-download” berkat (blessing) yang sebenarnya dipersiapkan untuk dan menjadi haknya Esau.  Karuan saja ia marah, sebab selain Ishak yang sudah uzur itu tertipu, Esau pun merasa “dikerjain” dan dizolimi oleh adik kembarnya.  “Sakitnya tuh di sini,” begitu kira-kira keluhan Esau sambil menunjuk dadanya.  Dengan demikian, dalam perjalanan pelarian tersebut, keadaan Yakub sedang berada dalam situasi yang galau bukan main: sendirian, kesepian, jauh dari rumah, ketakutan, kebingungan, dan kalau mau diperluas, hari depannya tidak menentu, serta si penipu itu hidupnya sedang di ambang kegagalan.

            Di tengah persoalan besar dan masa depan yang tidak jelas itulah, Tuhan membuka perspektif pada diri Yakub melalui peristiwa yang terjadi dalam Kejadian 28:10-18, sebab apa yang terjadi malam hari itu merupakan titik balik perubahan yang luar biasa yang membuat pribadi dan hari depan Yakub berbeda sama sekali.  Walaupun setelah peristiwa itu situasi dan kesusahan Yakub tetap sama, namun yang berbeda sesudah itu adalah Yakub memiliki persepsi yang jelas, yaitu ia mampu melihat segala persoalan dan hambatan bukan untuk dihindari, melainkan untuk dihadapi sebagai sebuah kesempatan untuk maju dan bertumbuh bersama Tuhan.

Kehadiran Allah Dinyatakan Di Tengah Persoalan

            Bayangkan kalau saudara adalah Yakub: sewaktu tiba di sebuah tempat yang bernama Lus (jaraknya sekitar 100 km dari rumahnya), ia tidak berani masuk ke kota kecil itu demi keamanan dirinya (menurut sejarawan Yahudi, Flavius Josephus, hal ini disebabkan Yakub takut dijahati oleh orang-orang Kanaan, penghuni kota itu).  Lalu ia memilih bermalam di udara terbuka, dan tidur dengan beralaskan sebongkah batu sebagai bantalnya.  Tentu saja tidur pakai batu beneran (rock) beda jauh sekali dengan tidur di Hard Rock Hotel.  Tiba-tiba di tengah malam itulah ia terbangun dan berkata: “Alangkah dahsyatnya tempat ini.  Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga” (ay. 17).  Lho, apa yang sebenarnya terjadi?

           Kalau kita bertanya kepada Yakub: “Apa yang kau alami sehingga menyebut tempat yang sunyi, batu yang dijadikan alas kepala, dan suasana gelap gulita yang jauh dari kenikmatan dan kenyamanan itu sebagai rumah Allah?”  Ia akan menjawab: “Malam itu saya bermimpi, saya melihat tangga; tangga yang menuju ke langit.  Saya melihat malaikat-malaikat naik-turun di tangga itu.  Lebih dari itu, saya melihat Tuhan dan Ia bersabda kepada saya dan berjanji mengenai hari depan saya.”

            Bila demikian, apa sebenarnya makna dari tangga, malaikat-malaikat dan Tuhan?  Apakah itu gambaran tentang doa?  Saya rasa bukan, sebab nyatanya Yakub sama sekali tidak sedang berdoa; ia sedang tertidur pulas.  Tidak jelas juga apakah malam hari itu ia berdoa sebelum tidur, dan kalaupun ia berdoa di dalam kesunyian malam hari itu, barangkali doanya penuh dengan keluhan dan curahan hatinya yang mengalami kesulitan yang bertubi-tubi.  Kalau begitu, apa artinya tangga, malaikat-malaikat dan Tuhan?  Saya kira semua itu merupakan tanda atau simbol bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan Yakub, meskipun ia telah meninggalkan rumahnya sendiri.  Di dalam kesendirian dan kegagalannya, Tuhan ada di sana, bahkan di sampingnya.

            Lebih jauh dari itu, Yohanes Calvin secara khusus memberikan tafsiran mengenai tangga yang menurutnya ada kaitannya dengan Yesus Kristus sebagai Pengantara, dan bahkan tangga itu sudah digenapi di dalam Kristus (“ . . . the ladder is a figure of Christ . . . the Mediator, through whom ministering angels, righteousness and life, with all the graces of the Holy Spirit, descend to us step by step”; https://www.studylight.org/commentaries/eng/cal/genesis-28.html).  Hal ini tidak mengherankan, sebab Kejadian 28:12 dijadikan referensi dalam Yohanes 1:51 di mana Tuhan Yesus sendiri berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”  Jadi, pernyataan Calvin tepat sekali: Tangga itu sudah digenapi oleh sang Anak Manusia, yaitu Yesus Kristus.  Ketika Yesus Kristus disalibkan, Ia menjembatani dan menjadi tangga antara sorga dan dunia bagi orang percaya.

            Tafsiran di atas lebih dipertajam oleh Martin Luther yang berani menafsirkan bahwa tempat di mana Yakub tertidur itu ada hubungannya dengan tempat di mana Kristus disalibkan: “What Luther wants to believe (although he admits he cannot prove it) is that Jacob slept on Calvary, where Christ later was crucified.  Luther identifies Calvary with Mount Moriah . . . where Abraham offered Isaac as a sacrifice to God; it may even be the place where the tree of the knowledge of good and evil stood in paradise.  Thus Christ slept in a stone sepulcher at the place where Jacob slept on a stone pillow.  If this interpretation is not true, Luther cheerfully concedes, it is at least harmless” (dikutip dari David C. Steinmetz, “Luther and the Ascent of Jacob’s Ladder,” Church History 55/2 [June 1986] 187).  Bila interpretasi ini benar adanya, maka pernyataan Yakub sewaktu terbangun dari mimpinya amat sangat relevan secara kristologis: “Alangkah dahsyatnya tempat ini.  Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga” (Kej. 28:17).

            Namun perhatikan situasi malam hari itu: Yakub sama sekali tidak sedang mencari Tuhan, oleh karena kondisi keadaannya berada dalam kesusahan besar dan sangat mungkin ia sedang stress berat.  Tidak ada sedikit pun indikasi bahwa ia sedang mencari Tuhan, atau sedang berseru kepada-Nya dengan berdoa.  Tuhan Allah-lah yang melakukan prakarsa menyapanya dengan anugerah-Nya.  Hal ini berarti tangga yang dilihat Yakub bukan disediakan agar ia bisa naik ke gerbang sorga, melainkan tangga itu ada di sana supaya Tuhan turun menjumpainya dalam kesendiriannya.  Ini sebenarnya adalah injil, yaitu cara Tuhan yang secara ajaib dan tak disangka-sangka menghampiri manusia melalui kehadiran dan anugerah-Nya.  Itulah sebabnya Yakub terkejut bukan main ketika Tuhan tiba-tiba hadir dan berfirman kepadanya di tempat yang sunyi itu.

            Ada tiga hal yang Tuhan nyatakan melalui firman kepada Yakub: pemberian mengenai tanah perjanjian (ay. 13), janji berkat melalui keturunannya (ay. 14), dan words of assurance, yaitu kata-kata kepastian atau jaminan mengenai penyertaan dan pemeliharaan Tuhan di masa depan.  Waktu membaca ayat 13-15 saya jadi heran sekali: Tuhan sama sekali tidak menyebut atau menegor Yakub mengenai masa lalunya (bukankah dia ini penipu ulung?), dan Tuhan tidak memberikan perintah kepada Yakub untuk mengubah karakternya atau untuk menaati segala firman-Nya seperti yang telah dicontohkan oleh Abraham dan Ishak, ayahnya sendiri.

            Sekali lagi, yang Tuhan firmankan kepada Yakub, atau nama lainnya, Israel, adalah kata-kata yang berhubungan dengan promise and assurance (janji dan kepastian).  Artinya, pada waktu Yakub berada dalam keadaan tidak memiliki apa-apa—ia sedang mengembara tanpa property, keluarga, dan tanpa masa depan—Tuhan justru bersabda kepadanya dengan janji (akan diberikan tanah perjanjian dan keturunan yang banyak), serta diberikan kepastian tentang providensia (pemeliharaan dan penyertaan) Allah untuk hari depannya.  Kesemuanya itu memperlihatkan kepastian (assurance) kehadiran Tuhan di tengah kegalauan hidup Yakub saat itu.

            Situasi seperti apa yang saudara sedang hadapi sekarang ini?  Apakah ada di antara kita yang mengalami kegalauan yang mirip dengan Yakub: kesendirian, kebingungan, kekhawatiran, dan ketidakpastian?  Bukankah dalam situasi dunia yang tidak menentu dan sedang dilanda pandemi sekarang ini, cukup banyak orang bisa saja berhadapan dengan kesulitan, kesesakan, ketakutan, sakit penyakit, bahkan kematian?  Dengan belum selesainya wabah virus corona beserta dengan varian-varian baru yang mencemaskan, semua penduduk dunia berhadapan dengan sebuah suasana yang belum pernah terpikirkan sebelumnya: ternyata penderitaan dan kematian itu begitu dekat dan sekaligus begitu menakutkan.  Mari belajar melangkah dengan iman seperti Yakub: ada kehadiran dan penyertaan Tuhan yang tidak kelihatan namun nyata, malah lebih dari itu Tuhan menjamin masa depan ketika kita masih ada di masa kini.  Percayakah saudara akan hal ini?

Kesadaran Akan Kehadiran Allah Mengubah  Perjalanan Hidup Seseorang

            Yang menarik dalam kisah ini adalah Yakub tidak pernah berusaha menemukan Tuhan, dan pada saat ia sedang terbaring dengan batu sebagai alas kepala pun, waktu itu ia juga tidak dicatat sedang memohonkan jalan keluar atau kekuatan dari Tuhan di tengah kesusahannya.  Demikian pula Tuhan di pasal-pasal sebelumnya tidak pernah berbicara langsung kepada Yakub (sekalipun Ia berfirman kepada kakek dan ayahnya, yaitu Abraham dan Ishak).

            Tetapi sungguh luar biasa kemurahan Tuhan: Ia berinisiatif menjumpai dan menyapa Yakub justru ketika Yakub tidak sedang berusaha menemukan Tuhan dan situasinya sedang mengarah pada kepahitan dan kegagalan.  Sangat besar anugerah Tuhan yang tak terkatakan itu melalui kehadiran, kepedulian, dan melalui mukjizat tangga-malaikat-penampakan Tuhan.  (Bukankah kita atau kebanyakan orang amat mirip dengan Yakub: kalau sedang lancar dan tidak ada persoalan, boro-boro ingat Tuhan, mencari Tuhan pun tidak?  Sewaktu ada problem kehidupan pun, sebagian orang tetap tidak sudi untuk berdoa.  Ketika sudah terpuruk sampai mentok dalam keadaan kehilangan pekerjaan, anak yang dikasihi sakit keras, atau kita sendiri terkapar di rumah sakit kena penyakit mematikan atau terinfeksi virus corona, barulah ada sebagian yang mulai mau berdoa dan berusaha menemukan Tuhan.)

            Kalau dikatakan peristiwa ini adalah sebuah mukjizat, di mana letak unsur mukjizatnya?  Saya rasa David B. Calhoun benar ketika ia berkata: “The miracle of Genesis 28 is that Jacob could see it.  God gave him a glimpse of what is always true.  A glimpse of what is always there” (“‘What Is the Name of That Place?’: A Sermon Based on Genesis 28:10-19,” Presbyterion 18/1 [1992] 6).  Maksudnya, mukjizat pada kisah ini bukan terletak pada tangga itu, pada malaikat-malaikat yang turun naik, atau bahkan pada penampakan Tuhan; mukjizat dalam perikop ini terjadi ketika Yakub dapat melihatnya.

            Secara teologis, bagi orang Kristen, kenyataannya adalah tangga, malaikat-malaikat, dan kehadiran Tuhan selalu ada di sana.  Walaupun kita tidak dapat melihatnya dengan mata jasmani, dengan iman kita percaya realitas itu selalu hadir di sana menopang kita.  Hal ini berarti sejauh kita masih bernapas, beraktivitas, dan menjalani pengalaman demi pengalaman sesungguhnya ada tangga, malaikat, dan Tuhan yang hadir dan memelihara kita dalam providensia-Nya.  Demikian pula sewaktu kita mengalami masa-masa yang sulit dan penuh kegalauan dalam hidup ini (teristimewa misalnya ketika sedang terbaring di-opname dengan sakit berat), kita harus tetap percaya bahwa tangga-malaikat-Tuhan senantiasa ada beserta kita.

           Oleh sebab itulah pada waktu Yakub terbangun dari tidurnya malam itu, ia berkata: “Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya” (ay. 16).  Istilah “di tempat ini” menunjuk pada tempat yang sama, yakni tempat yang sunyi dan berbantalkan batu, sama persis seperti sebelum ia tertidur.  Artinya, keadaan dan persoalan yang dihadapi Yakub tetap sama dan belum ada perubahan apa-apa, namun sekalipun demikian ia menamakan tempat itu Betel (rumah Allah), dan malah “pintu gerbang sorga.”

           Terjemahan NIV untuk ayat itu berbunyi: “Surely the Lord is in this place, and I was not aware of it.”  Kalau dibalik terjemahannya: “Saya semalam tidak menyadari [dalam bentuk masa lampau: was], padahal sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, baik semalam, sekarang ini, maupun besok [bentuk kekinian: is].”  Ini menunjukkan bahwa Yakub sadar ia terikat oleh ruang dan waktu, sedangkan TUHAN senantiasa ada dan hadir, tidak pernah tidak hadir, serta tidak terikat pada ruang dan waktu sebagaimana halnya pada manusia.  Maka, setelah peristiwa itu berlalu, ia tetap meyakini bahwa the Lord is in this place, dalam arti TUHAN tetap hadir, sekalipun mimpi atau penampakan itu sudah berlalu dan sirna.

           Jadi, pelajaran yang dapat kita petik di sini: Yakub-sebelum-Betel dengan Yakub-sesudah-Betel amat sangat berbeda, sebab Yakub-sesudah-Betel adalah pribadi yang sudah tahu dengan jelas bahwa Tuhan menyertai dia.  Suasana kehidupan dan problema yang sedang dihadapinya tetap sama dan sama sekali belum berubah, tetapi ia memasuki hari-hari selanjutnya selama kurang lebih 20 tahun kemudian ia jalani dengan penuh confidenceJadi, Yakub-sesudah-Betel adalah pribadi yang memiliki perspektif yang mampu melihat segala persoalan dan hambatan bukan untuk dihindari (atau apalagi sampai melarikan diri dari realitas), melainkan untuk dihadapi sebagai sebuah perjalanan hidup dalam kesusahan atau kelancaran.

           Tetapi, ngomong-ngomong, mampukah kita melihat dengan mata iman bahwa Tuhan ada di tengah atau di samping kita?  Sebenarnya jikalau sampai hari ini kita boleh lancar menjalani kehidupan ini, kita harus tahu satu hal dan cepat-cepat menyadarinya bahwa itu adalah penyertaan Tuhan yang ajaib melalui karya mukjizat-Nya.  Meskipun dengan mata jasmani, kita tidak melihat-Nya, tetapi dengan iman kita harus percaya Allah ada di tempat di mana kita berada, dan lebih dari itu, di tengah-tengah kesusahan dan kesesakan kita.

           Lebih dari itu, kita semua perlu belajar dari pengalaman Yakub-sesudah-Betel, yaitu bahwa perjalanan hidup kita belum tentu selalu lancar, sebab terkadang ada kesulitan, penderitaan, sakit penyakit, musibah, dan juga yang lebih berat lagi, kematian dari orang yang kita kasihi.  Mari belajar hidup menjalani iman kita dengan berani memikul kesulitan apa pun yang ada di depan kita.  Saya kira ini juga yang Tuhan ingin ajarkan kepada saudara dan saya: Bahwa ketika menjalani hidup dalam dunia yang tidak menentu belakangan ini, sekalipun suasananya tetap sama, yaitu di dalam kesulitan, kesepian, kesesakan, sakit penyakit, musibah, pandemi yang belum berakhir, dan yang paling menakutkan, kematian, kita tetap harus percaya ada Tuhan di samping kita dan Tuhan ingin kita menatap Dia dengan penuh confidence memasuki hari depan kita.

Akhir Kata

            Filsuf Romawi yang bernama Seneca (4 BC-65 CE) pernah bilang begini: When a person does not know what harbor he is heading for, no wind is the right wind” (“Bila seseorang tidak tahu pelabuhan mana yang ia tuju, tidak ada angin yang bisa dikatakan sebagai angin yang tepat”).  Salesman pertama yang ada di awal tulisan ini bisa mewakili tipe orang yang dikatakan oleh Seneca, yaitu orang yang melewatkan kesempatan, karena ia tidak mengantisipasi penjualan banyak sepatu dan tidak mampu melihat peluang yang terbuka di hadapannya.  Artinya, seseorang yang menjalani hidupnya tanpa tujuan yang jelas tidak akan melihat peluang dan kesempatan.

            Yakub-sesudah-Betel adalah seseorang yang mampu melihat “pelabuhan” yang jelas sebagai tujuannya, sebab Tuhan yang membukakan peluang dan kesempatan yang besar baginya melalui penyataan kehadiran-Nya.  Lalu sejak malam hari itu, komitmen Yakub mengarungi “lautan” kehidupan yang pasang-surut itu semakin diperkokoh oleh providensia Tuhan yang mengiringi setiap langkah-langkahnya.  Ini semua adalah karya anugerah Tuhan yang mengubah segalanya, termasuk mengubah “a place became a shrine, a stone became an altar, and a fugitive became a pilgrim” (“[mengubah] sebuah tempat [biasa] menjadi tempat kudus, sebuah batu menjadi meja penyembahan, dan seorang pelarian menjadi seorang musafir”; Allen P. Ross, “Studies in the Life of Jacob, Part 1: Jacob’s Vision: the Founding of Bethel,” Bibliotheca Sacra 142/567 [July-September 1985] 225-226).

           Bagaimana dengan perjalanan kehidupan kita sekarang ini?  Situasi seperti apa yang sedang kita hadapi di tengah pandemi yang berkepanjangan ini: ketakutan, kesesakan, kekhawatiran, sakit penyakit, ada kematian dalam rumah tangga kita?  Biarlah di tengah suasana yang tidak menentu dan seakan tidak menyisakan sebuah masa depan yang jelas, kita dapat bersama-sama belajar dari Yakub yang percaya kepada firman Tuhan dan seratus persen bersandar pada janji Tuhan yang meskipun dari segi waktu lama terwujudnya tetapi nyata dan benar.  Lebih dari itu, kita bukan hanya melihat kepada Yakub, tetapi kepada Tuhannya Yakub yang memegang masa depan kita, dan yang mencurahkan berkat bagi semua orang beriman untuk menjalani kehidupan yang tidak menentu hari-hari belakangan ini.  Percayakah kita akan hal ini?