Kok Bisa Ya Orang Kristen Dan Gereja Jadi Legalis?

PENDAHULUAN

Wang San adalah orang sederhana yang hidup di dusun yang terpencil pada abad 7 Masehi masa kekaisaran Tang di Tiongkok.  Walau terkenal pandir dan ndeso, gitu-gitu juga ia berhasil menikahi seorang wanita cantik dan tidak lama kemudian istrinya sukses mengandung.  Seperti biasa yang dialami para wanita ketika sedang hamil, sang nyonya tiba-tiba ngidam, dan ini aneh, sebab ngidam-nya bukan rujak petis atau Bakmi Ahok, tetapi ia minta dibelikan sebuah sisir (waktu itu sisir adalah benda langka terbuat dari kayu dan bentuknya agak melengkung).  Karena tahu suaminya rada dogol dan khawatir salah beli akibat lupa, sang istri malam harinya memberikan petunjuk lewat penampakan bulan yang waktu itu berbentuk sabit.  “Belanjakan sebuah sisir kayu, namun potongannya mesti persis sama seperti bulan di angkasa itu,” begitu celoteh bininya sambil menunjuk ke arah langit.

            Persoalannya, perjalanan dari dusun ke kota cukup jauh, dan setelah perjalanan berhari-hari, tampilan bulan sudah berganti menjadi bundar ketika ia tiba di sebuah pasar.  Lalu, namanya juga bego, Wang San ingat lagi—tapi cuma sebagian—perkataan istrinya; eh, yang ia beli adalah sebuah produk belum dikenal banyak orang masa itu, yaitu sebentuk cermin bulat (sebab ia melihat bulan sudah purnama), dan langsung dibawa pulang barang belanjaan itu.

            Ketika sang bini memegang cermin itu dan memandangnya, sekonyong-konyong ia menangis dengan berderai dan minggat ke rumah mamanya, sambil mengadu: “Suamiku kawin lagi dengan wanita lain.”  Tidak lama setelah itu ibu mertua yang sudah uzur itu memeriksa cermin bunder itu, lantas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya ia menyeletuk: “Dasar dodol tuh mantu, kalau mau kawin lagi, cari kek cewek yang lebih muda; jangan yang udah peot benyot kayak gini.”

            Singkatnya, urusan pertikaian rumah tangga itu semakin meruncing dan akhirnya dibawa ke ranah hukum yang diawaki seorang hakim (yang berpakaian lengkap mirip Judge Bao).  Sewaktu alat bukti perkara berupa cermin bulat itu disodorkan kepada sang hakim, dan begitu ia menatap benda tersebut, langsung raut mukanya menjelma menjadi murka, lalu dengan melotot ia berujar: “Keterlaluan sampeyan ini; mosok ente yang cekcok tapi pake kostum punya aneNgaco bener kalian!” (disadur dengan bebas dari Wolfram Eberhard, ed., Folktales of China [Chicago: University of Chicago Press, 1965] 179).

            Kisah ini menonjolkan tiga orang (sang nyonya, ibu mertua, dan hakim) yang secara sepintas menyimak pantulan diri mereka sendiri pada cermin tersebut, namun mereka gagal mengenali bahwa pantulan itu sebenarnya adalah diri mereka sendiri.  Artinya, mereka terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa itu adalah sebuah gambar yang menampilkan figur atau orang lain.  Sebenarnya, dilihat dari sisi yang berbeda, cermin tersebut untuk pertama kalinya mengungkapkan keadaan atau potret yang sesungguhnya tentang diri mereka masing-masing, bukan orang lain.

            Dalam konteks inilah saya jadi ingat pada perkataan Martin Luther (1483-1546), sebab ketika membahas mengenai manfaat hukum Taurat, ia menegaskan bahwa hukum Taurat (the law) sejatinya diberikan oleh Tuhan agar ia berfungsi bagaikan cermin.  Tujuannya adalah supaya setiap orang berdosa ketika melihat ke dalam isi hukum Taurat, mereka sedikit banyak mampu melihat pantulan diri serta menyadari keberdosaan mereka, sambil sekaligus merendahkan diri di hadirat Tuhan (lih. John N. Lenker, ed., Sermons of Martin Luther [Electronic Resource; Past Masters; Charlottesville: InteLex, 1995] 6:271-272, 276-277).  Sekalipun tidak bersifat redemptive atau menyelamatkan, hukum Taurat minimal tetap ada fungsinya, yakni secara khusus menyingkapkan keadaan dan kebobrokan yang sesungguhnya dari umat manusia di hadapan Tuhan Allah.

           Namun demikian, sejak Taman Eden ketika manusia pertama jatuh dalam dosa, firman Tuhan dengan jelas memperlihatkan bahwa semua manusia “terinfeksi” dua jenis sindrom atau “penyakit” sebagai berikut: Pertama, manusia tidak mampu melihat diri sendiri, segala keberdosaan, atau memeriksa kebobrokan hatinya.  Jeleknya lagi, manusia cenderung menyangkali kebobrokannya, sambil membela diri atau mencari pembenaran seakan-akan mereka adalah orang yang baik dan tidak bercacat.  Kedua, walau tidak mampu melihat diri sendiri, herannya, manusia justru mampu melihat dengan jelas kesalahan, keberdosaan, atau kebobrokan orang lain.  Parahnya adalah setelah melihat kebobrokan pihak lain, manusia merasa diri jauh lebih baik, lebih saleh, dan lebih dapat diterima Tuhan dari pada orang lain.

            Inilah penyakit sekaligus bahaya legalisme!  Setelah dalam tulisan sebelumnya saya mengajak kita memahami bahaya dari antinomianisme (yang sebenarnya adalah saudara kembar dari legalisme), yaitu orang yang merasa bebas sebebasnya dari hukum Taurat, ternyata legalisme sama buruknya dengan antinomianisme.  Jadi, apa itu legalisme, dan seberapa jauh daya rusaknya terhadap iman Kristen?  Apakah pernah kita menuduh atau dituduh sebagai seorang legalis?  Mari kita ikuti bahasan berikut ini.

BAHAYA LEGALISME: MANUSIA MERASA DIRINYA SEBAGAI PENENTU DARI KESELAMATAN

           Yang dimaksud dengan legalisme bukanlah persoalan adanya seseorang yang pola hidupnya kaku, terlalu berdisiplin, suka mengatur orang, dan sering memberlakukan aturan dan regulasi (rules and regulations).  Legalisme juga bukan adanya persoalan dalam hukum Taurat atau ketaatan pada hukum Taurat.  Legalisme yang dibahas di sini adalah sebuah keyakinan bahwa keselamatan akan diperoleh sepenuhnya melalui usaha atau tambahan perbuatan manusia, dan bukan pemberian cuma-cuma lewat anugerah.

           Tetapi di sinilah letak persoalannya: antitesis terbesar dari anugerah adalah legalisme, karena percaya pada anugerah berarti percaya bahwa hanya Allah-lah yang berperan dan berkarya dalam keselamatan manusia, sebab itu segala kemuliaan dan puji-pujian hanya ditujukan kepada-Nya.  Legalisme adalah keyakinan yang sebaliknya, yaitu percaya bahwa manusialah yang memiliki kualitas, berperan, melakukan sesuatu atau menambahkan kontribusi tertentu (misalnya, kesalehan atau perbuatan baik), sehingga ia dapat menyelamatkan dirinya sendiri.  Oleh karena itulah orang yang berkeyakinan demikian seringkali merasa diri lebih baik dari pada orang lain, serta dalam ketinggian hatinya ia malah membanggakan kualitas, aktivitas dan kapabilitas dirinya, bukan anugerah Allah yang bekerja melalui dirinya.

           Menurut Sinclair B. Ferguson, dosen teologi sistematika di Reformed Theological Seminary, legalisme ternyata memiliki asal-usul sejak Taman Eden (“Legalism is almost as old as Eden itself”; The Whole Christ: Legalism, Antinomianism, and Gospel Assurance [Wheaton: Crossway, 2016] 95).  Maksudnya, ketika Hawa berbicara dengan si ular (sosok yang merepresentasikan Iblis), kalimat permulaan dari si jahat berupaya “membius” Hawa menjadi seorang legalis (“Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”; Kej. 3:1).  Perkataan licik itu berusaha mendistorsikan atau membelokkan konsep tentang Allah yang baik ke arah pengertian yang sebaliknya, yaitu Allah itu keras dan penuh dengan larangan.  Seolah-olah si ular bertutur: “Tidakkah kau lihat bahwa Allah begitu membatasi kamu?”

           Padahal sebetulnya Tuhan tidak melarang seperti itu: bukan semua, tetapi cuma satu pohon yang dilarang.  Kejadian 2:16-17 Tuhan jelas menegaskannya: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”  Lantas si ular malah melakukan inversi (pembalikan) firman Tuhan dengan mengatakan kalimat yang sebaliknya (“Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”).  Perhatikan: Kutipan bernada meragukan itu sengaja dibuat kebalikannya, yakni inversi dari sebuah kebebasan yang Tuhan berikan (tadinya “semua boleh, kecuali satu”) menjadi sebuah larangan universal yang tidak masuk di akal (“semua tidak boleh, kecuali satu”).  Tampak di sini si ular berhasil “menjual” sebuah deklarasi yang palsu, dan celakanya Hawa “membelinya” tanpa menawar sama sekali.  Pada saat itulah Hawa langsung menjelma menjadi seorang antinomian (“saudara kembar”nya legalisme), yaitu ingin bebas sebebas-bebasnya dari ikatan dan perintah Tuhan!

           Di sini terlihat dengan jelas: ketika Hawa “termakan” oleh jebakan pembalikan itu, ia mulai bingung, sebab di dalam kalimat skeptis dengan kutipan berbentuk pertanyaan yang negatif itu secara tersirat mengandung arti menggiring pikiran Hawa untuk mulai (hanya) memperhatikan bahwa larangan itu dibuat oleh Tuhan Allah, karena Ia adalah Allah yang terlalu strict (keras) atau tiranis, dan Ia telah memberlakukan terlalu banyak peraturan.  Cara lihai yang terjadi adalah: materi perkataan Tuhan diambil, didaur ulang sebegitu rupa, lalu diplintir maknanya.  Hasilnya, muncullah sebuah rumusan seperti ini: metodenya adalah inversi (pembalikan), tetapi motifnya adalah perversi (penyesatan makna).  Betapa licin dan liciknya jebakan yang menuju pada legalisme ini!

           Jadi, selain menolak firman dan otoritas Allah, si ular berusaha memperkenalkan konsep Allah yang legalistik, dan itulah sebabnya ia berkata kepada Hawa: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kej. 3:4-5).  Hal itu sama saja dengan mengatakan: “Allah boleh bilang Ia baik, namun sesungguhnya Ia tidak benar-benar baik.  Allah membatasi hidupmu dengan macam-macam larangan, sebab Ia khawatir kamu akan menjadi sama dengan Dia.”  Dari situ terbentuklah seberkas pikiran legalistik pada Hawa, sehingga legalisme pada dasarnya adalah penolakan manusia terhadap hukum Allah dan sekaligus penolakan terhadap kebaikan dan karya anugerah Allah (dalam kata-kata Ferguson: “Legalism is simply separating the law of God from the person of God”; h. 83).

           Dengan demikian, sejak Taman Eden dan kejatuhan dalam dosa, semua manusia adalah legalis pada naturnya dan manusia memilih jalan keselamatan di luar jalan yang Tuhan sediakan.  A. R. G. Deasley meringkaskan pengertian legalisme semacam ini melalui ciri “works done to commend the doer to God” dan “holds out the hope of salvation on the basis of human effort” (“Legalism” dalam Evangelical Dictionary of Biblical Theology [ed. Walter Elwell; Grand Rapids: Baker, 1996] 479).  Hal ini berarti ada karya atau perbuatan manusia yang hendak disodorkan kepada Tuhan dengan harapan itu dapat diperhitungkan sebagai kontribusi manusia guna menunjang “proyek bersama” antara Allah dan manusia.  Padahal teologi yang sehat justru menegaskan bahwa semua perbuatan, jasa, atau amal manusia seharusnya bersifat nihil dalam kerangka karya keselamatan Allah, sebab jikalau tidak demikian makna anugerah Allah di dalam Kristus menjadi sia-sia dan tidak bernilai sama sekali.

            Di dalam Kisah Para Rasul, ketika injil keselamatan diberitakan oleh rasul Paulus, banyak jiwa dimenangkan bagi Kristus (Kis. 13).  Maka didirikanlah gereja-gereja di berbagai wilayah, termasuk di Galatia.  Setelah lewat sejangka waktu, mulailah gereja-gereja di sana berubah dan terpengaruh paham legalisme, yang intinya mengajarkan formula “injil plus perbuatan.”  Sewaktu Paulus mendengar mengenai hal itu ia terkejut dan menulis demikian: “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil.  Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus” (Gal. 1:6-7).

            Perhatikan kata-kata “berbalik” dan “memutarbalikkan” yang sejatinya mirip dengan peristiwa yang sudah terjadi di Taman Eden.  Intinya, ketika legalisme sudah mulai menyusup ke dalam gereja, yang terjadi adalah injil keselamatan yang asli diputarbalikkan, didaur ulang, diplintir, dan dibuat kemasan baru yang sebenarnya bukan injil.  Saya cenderung memakai istilah “bukan injil,” sebab legalisme tidak dapat disebut “injil lain” karena pada dasarnya itu bukan injil.  Itulah alasannya mengapa Paulus memakai istilah “heteron euanggelion,” dengan pengertian itu adalah “injil” yang hakikatnya beda jenis dengan injil yang asli.

           Jikalau di masa pelayanan para rasul saja legalisme bisa merebak dalam gereja yang dibangun rasul (sampai-sampai Paulus murka dan mengutuk dengan keras; Gal. 1:8-9, dua kali “terkutuklah dia”), saya rasa lebih-lebih lagi gereja-gereja di zaman sekarang.  Legalisme sebetulnya dapat dengan subur bertumbuh dan berkembang melalui pemimpin, pendeta, pengajar, atau pelayan palsu yang secara diam-diam meminimalkan doktrin tentang dosa, Kristus, dan anugerah Allah.  Cara yang paling klasik adalah mereka menempatkan diri mereka sebagai pengantara (mediator) di antara Allah dan manusia.

           Sebetulnya ini adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi, sebab secara soteriologis Pengantara atau Mediator kita hanya satu, yaitu Yesus Kristus, dan pendeta atau hamba Tuhan hanyalah hamba, agent, atau alat untuk membawa orang kepada Kristus melalui pemberitaan dan pengajarannya.  Tetapi, lihatlah, pengajar atau pelayan palsu di zaman PL, PB, dan masa kini berani menempatkan diri mereka sebagai mediator.  Untuk apa?  Untuk menyelesaikan (baca: menutupi) dosa, untuk memberikan hati nurani yang tenang (meneduh-neduhkan diri setelah berdosa), dan seolah-olah keselamatan itu mengalir dari atau lewat diri mereka sendiri.  Hal-hal seperti inilah yang patut diperhatikan dan dicurigai pada pelayanan atau kiprah dari pemberita-pemberita palsu.  Jadi, batu ujiannya adalah: apakah orang yang mengaku pelayan Tuhan itu memberitakan karya Kristus yang menebus manusia, atau ia memberitakan injil yang lain jenisnya (injil heteros), yaitu injil yang tidak sesuai dengan denyut Alkitab secara keseluruhan.

           Hal ini adalah sesuatu yang penting karena tujuan firman Allah atau inti sari dari berita Injil adalah penebusan di dalam Kristus, bukan yang lain-lain (coba periksa di Youtube, Instagram, TikTok: belakangan ini marak sekali message tentang kemakmuran, berita kesembuhan, berita tentang ekonomi, dunia gaib, dan topik kontroversial-sensasional sebagainya).  Sebaliknya, hamba-hamba Tuhan, pemberita-pemberita Tuhan yang benar akan memberikan prioritas yang tinggi terhadap keselamatan atau penebusan Allah di dalam Kristus, dalam segala pelayanan dan kesaksiannya.  Pribadi dan karya Kristus akan menjadi fokus dari berita Roh Kudus dan juga berita hamba Tuhan yang benar.

           Maka pengujian yang perlu dilakukan oleh gereja dan setiap orang Kristen adalah: Apakah hamba Tuhan yang memproduksi khotbah atau konten video lainnya memberikan prioritas utama dalam pemberitaan pada karya Kristus atau tidak?  Atau, dengan kalimat lain, apakah orang-orang yang mendengarkannya terbawa pada iman kepada Kristus dan pertobatan yang dikerjakan oleh Roh Kudus atau tidak?  Jikalau fokus dan frekuensi pemberitaan seseorang adalah melulu kelancaran-kesuksesan, pemberdayaan diri, tampil sebagai pelawak, pengamat masalah politik, ekonomi, bisnis, sosial, bahkan mengedepankan kesaksian diri terus menerus atau penglihatan/mimpi aneh-aneh, saya rasa majelis atau orang Kristen harus menaruh sangsi dan mengecek dengan teliti, karena kemungkinan besar teologi orang tersebut mengarah pada legalisme di mana para pendengar atau audience-nya sangat mungkin tidak menyadarinya.

PENYIMPANGAN LEGALISME: MANUSIA MENINGGIKAN PRESTASI DAN KESALEHAN DI LUAR ANUGERAH

            Coba perhatikan perumpamaan yang dikisahkan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 18:9-14.  Di sana ada seorang Farisi yang legalis, yang selain memaparkan kualitas dirinya secara negasi (“tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini”; ay. 11), ia juga membeberkan prestasi atau aktivitas kesalehannya (“aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku”; ay. 12).  Artinya, merujuk pada peri kelakuan atau konduite yang mengesankan itu, ia merasa yakin betul Tuhan akan membenarkan dirinya berdasarkan apa yang ada pada diri dan karyanya (padahal anugerah Allah pada kita orang berdosa bukan berdasarkan “who we are” [siapa diri atau prestasi kita], melainkan “despite who we are” [sekalipun kita adalah orang berdosa]).

           Tetapi ia keliru: Tuhan Yesus justru membenci yang beginian, dan Ia pernah mengatakannya dengan tegas: “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu.  Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah” (Luk. 16:15).  Jadi, orang Farisi di atas malah mengerjakan sesuatu yang seharusnya menjadi bagian dari karya Tuhan sendiri; ia meninggikan sesuatu yang di dalam anugerah tidak boleh dilakukan siapa pun.  Apa yang dapat kita pelajari dari peristiwa itu?  Jawabnya: orang yang bersikap legalis tidak akan diperkenan Tuhan karena legalisme bertentangan dengan konsep anugerah.  Intinya, kita harus mengaku bahwa keselamatan atau apa yang ada pada kita bukan berasal dari dalam kita sendiri, tetapi dari Tuhan Yesus.  Bersamaan dengan itu kita harus melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kesombongan atau kepongahan, yaitu mengembalikan segala puji dan syukur kepada Dia karena anugerah-Nya yang tak terkatakan itu.

            Kisah ini memperlihatkan bahwa orang beragama yang sudah terpapar legalisme akan mengembangkan sikap meninggikan diri lewat standar prestasi yang ia bisa capai dan lewat standar yang orang lain tidak bisa raih .  Standar atau patokan yang ia buat sendiri itu berisi ketentuan-ketentuan yang ia pilih dan ia rasakan dapat dilakukannya, sambil pada saat yang bersamaan ia mengabaikan bagian perintah firman Tuhan yang ia rasa—tentu ia tidak akan bilang kepada orang lain—tidak dapat dikerjakannya.

            Bagian yang mau ia kerjakan biasanya bersifat eksternal, yaitu perbuatan-perbuatan yang baik dan yang terlihat secara lahiriah (misalnya, ibadah, berdoa, berpuasa, kasi sumbangan ke gereja).  Pendeknya, semuanya bersifat externalism atau melulu yang diurusi adalah hal-hal atau tampilan luar yang bersifat kosmetik dan ujung-ujungnya munafik.  Tidak sulit bagi kita yang hidup di Indonesia untuk menyaksikan begitu maraknya negeri ini menekankan tentang aspek-aspek lahiriah keagamaan, namun produknya adalah sebagian besar orang-orang religius itu sangat mabuk agama, bersikap intoleran, dan muncullah korupsi/dekadensi beserta dengan segala kemunafikan lainnya.  Begitukah yang namanya “kesalehan”?

            Gejala-gejala tabiat ke-Farisi-an itu oleh Ferguson disebut sebagai “a self-righteous temper” (“tabiat yang suka membenarkan diri sendiri” [supaya diperkenan Allah]; The Whole Christ 123).  Celakanya adalah bukan hanya agama sebelah yang terjangkit spirit ke-Farisi-an ini, tetapi juga kekristenan!  Hal ini menunjukkan bahwa di dalam gereja zaman modern sekarang dapat dijumpai peri kelakuan Farisi, dan parahnya ada pelayan di gereja yang lebih mirip tokoh Farisi ketimbang si pemungut cukai!  Ya ampun.  Mengapa bisa seperti itu?

           Ketika ada pimpinan gereja yang meninggikan diri dengan kepandaian dan kepiawaiannya beretorika, termasuk meninggikan diri dengan karunia-karunia spektakuler, atau menyombongkan diri dengan prestasi kemegahan bangunan gereja dan proyek-proyek mercusuar miliknya, itu sebenarnya adalah penampakan spirit ke-Farisi-an, dan bukan prinsip anugerah Tuhan.  Menurut Ferguson, yang seharusnya tampak adalah: “Grace therefore eliminates boasting; it suffocates boasting; it silences any and all negotiations about our contribution before they can even begin” (“Anugerah dengan demikian akan mengenyahkan kepongahan; anugerah mematikan kepongahan; anugerah akan mendiamkan segala upaya untuk mengedepankan kontribusi kita bahkan sebelum upaya-upaya itu mulai muncul”; The Whole Christ 110).

           Dengan perkataan lain, hadirnya anugerah Allah akan berlawanan dengan ketinggian hati manusia.  Artinya, begitu seseorang mengenal anugerah Allah di dalam Kristus, yang akan hadir dalam dirinya bukan kepongahan atau ketinggian hati, melainkan kerendahan hati.  Karena itulah, bila ada orang yang mengaku sudah Kristen, bahkan menjadi ketua sinode, rektor, dosen, pendeta, atau majelis, namun yang menonjol adalah kesombongannya baik secara eksplisit atau implisit, orang itu patut diragukan pengenalannya akan anugerah Tuhan yang sesungguhnya.  Ingat, orang Farisi (yang ada di zaman sewaktu Tuhan Yesus melayani) bukan orang jahat atau pelaku kriminal; mereka adalah orang-orang yang religius dan saleh dalam arti tertib dan rajin beribadah (dengan segala pernak-pernik ritual, aturan sunat, ketentuan makanan kosher, kalender upacara, dan seterusnya), tetapi mereka adalah orang-orang legalis yang dengan arogansinya membuat anugerah Tuhan dan karya Kristus di atas kayu salib seakan tidak efektif dan tidak berarti.

PENUTUP

           Michael Horton, dosen teologi sistematika di Westminster Seminary California, benar, ketika ia mencatat begini: “Christianity may be undermined by assimilating the law to the gospel (antinomianism) or the gospel to the law (legalism)” (“Kekristenan bisa saja dilemahkan lewat perembesan taurat ke dalam injil [sehingga menjadi antinomianisme] atau lewat perembesan injil ke dalam taurat [sehingga terciptalah legalisme]”; https://modernreformation.org/resource-library/articles/redeeming-justice/).  Dengan susah hati saya mau katakan: kedua jenis kecenderungan itu sudah ada dan sudah menyerap ke dalam gereja, seminari, dan institusi Kristen masa kini.  Jika demikian, apa yang harus kita lakukan?

           Yang harus gereja dan orang Kristen lakukan sekarang ini adalah bercermin pada dan mendengarkan apa nasihat dari firman Tuhan yang diperhatikan dengan benar.  Rasul Paulus, sewaktu mengetahui gereja di Galatia terasimilasi kembali pada pengajaran yang menjurus ke legalisme, menulis demikian: “Adakah kamu sebodoh itu?  Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?” (Gal. 3:3).  Terjemahan bebas J. B. Phillips membahasakan begini: “Surely you can’t be so idiotic as to think that a man begins his spiritual life in the Spirit and then completes it by reverting to outward observances?”  Hal ini menandakan, bila ada orang yang—katanya—sudah percaya kepada Kristus (“mulai dengan Roh”), mohon maaf: sungguh bego bin idiot kalau ia menjalani dan mengakhiri hidup kekristenannya tercerai dari Kristus, serta berbuat semaunya sendiri dalam kedagingan. Di awal tulisan ini, saya mengisahkan tentang tiga orang ini: Nyonya Wang San, mama mertuanya, dan hakim yang hidup di abad 7 Masehi, yang secara sekilas melihat pantulan atau refleksi diri mereka sendiri pada sebuah cermin, namun mereka tidak berhasil mengenali bahwa pantulan itu sebenarnya adalah diri mereka sendiri.  Beberapa abad sebelum itu, rasul Yakobus jauh-jauh hari sudah bilang seperti ini: “Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.  Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya” (Yak. 1:23-24).  Artinya, kalau kita yang hidup di zaman modern ini tidak kembali ke firman Tuhan dan melakukan isinya dengan rendah hati, bisa-bisa keadaan kita sama dengan orang-orang di Galatia, atau lebih parah lagi, lebih terbelakang dari orang-orang di abad 7.  Bukankah persoalannya kita sudah memiliki cerminnya dan sering memakainya setiap hari?