Ibadah Ngawur Di Masa Lampau Dan Semakin Ngawur Di Masa Kini (Merenungkan Hakim-Hakim 17:1-13)

Tanggal 14 April 2021 yang lalu Bernie Madoff meninggal dunia di usia 82, ketika masih berstatus sebagai terpidana di penjara.  Siapa Madoff?  Ia adalah terpidana yang telah divonis dengan hukuman 150 tahun penjara di Amerika Serikat pada 14 Juli 2009, karena terbukti telah berhasil menipu 38 ribu orang atau lembaga/perusahaan kaya.  (Jangan tanya saya: kenapa banyak bener orang yang ketipu?  Apa mereka ngak mikir atau curiga?)  Para investor itu mau mempercayakan uang mereka dititipkan padanya karena dijanjikan imbal hasil atau returns yang cepat, mudah, dan (katanya) tidak berisiko.

           Sistem imbal hasil itu nama keren-nya adalah Ponzi Scheme, yaitu program pengaturan simpan uang dengan struktur piramid, di mana sang operator yang berada di pucuk paling atas mengatur sekelompok kecil investor (Grup 1) yang “dipancing” dengan imbal hasil yang gede, cepat, mudah, dan risk-free, yang sebenarnya diambil dari kelompok investor lain (Grup 2).  Nantinya sebagian dana yang berhasil diraup dari Grup 3 dipakai untuk membayar Grup 2; demikian seterusnya turun ke bagian piramid paling bawah (bagian paling lebar), sehingga pada level ini yang dapat imbal hasil jumlahnya semakin sedikit dan returns sebagaimana yang dijanjikan semakin fiksional, dan kalau pun ada bentuknya berupa tetesan atau secuil saja.

            Madoff sebagai operator yang ada di posisi paling enak di pucuk (bisa mengutip sebagian dana investasi terus menerus), terbukti di pengadilan berhasil meraup uang hampir 65 milyar dollar.  (Belakangan total uang investor yang bisa dikembalikan hanya $ 19 milyar.  Heran sekali, ke mana hilangnya sisa dana sebesar itu?).  Hal ini berarti selama beberapa tahun beroperasi dengan sistem gali lubang tutup lubang ini, ia sukses menipu para selebriti Hollywood seperti Steven Spielberg, Kevin Bacon, dan John Malkovich, dan juga banyak orang kaya lainnya (dari Amerika, Eropa, Asia, Amerika Latin, dan Timur Tengah), serta lembaga besar milik kalangan Yahudi serta Kristen (misalnya, institusi Metodis dan Universitas Princeton masing-masing konon kena tilep lebih dari $ 100 juta).  Tidak ada kejahatan kerah putih di seluruh dunia yang dapat menandingi kelihaian Madoff dalam hal lingkup luasnya, lama daya tahannya (17 tahun baru ambruk), serta jumlah dana hasil penipuan yang sedemikian besar.

            Pertanyaannya: koq bisa ya satu orang ini menipu sebegitu canggih dan gigih?  Jawabnya adalah karena selain pintar dan rajin, Madoff dikenal sebagai “a man with a good idea who was also a terrific salesman.”  Salah satu orang dekatnya berkata: “He appeared to believe in family, loyalty and honesty,” oleh sebab itulah “Never in your wildest imagination would you think he was a fraudster” (Julie Creswell & Landon Thomas Jr., “The Talented Madoff”; January 24, 2009; https://www.nytimes.com/2009/01/25/business/25bernie.html).  Hal ini berarti secara tampilan luar Madoff tampak sebagai financier yang baik, handal, kreatif, pandai menjual ide, jujur, dan—sekali lagi, dari pengamatan sepintas—jauh dari segala kelicikan dan kepalsuan.  Tidak disangka cukup banyak penipu ulung hampir selalu berhasil menjalankan misinya dengan tampilan “kosmetik” yang kelihatan lugu, jujur, pintar, taktis, komunikatif, dan memiliki pesona.

            Maka tidak mengherankan, Elie Wiesel—pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 1986 dan sama-sama keturunan Yahudi dengan Madoff—yang lembaganya juga kehilangan dana sebesar $ 15,2 juta, pernah bilang begini: “We thought he was God, we trusted everything in his hands” (“Kami mengira dia adalah Allah, [sehingga] kami mempercayakan semuanya ke dalam tangannya”; dikutip dari Financial Times Online; edisi 14 April 2021; https://www.ft.com/content/e88fdde2-440a-4a77-8a20-d2116309d84a).  Pernyataan tersebut mirip dengan perkataan salah satu bekas staf Madoff, yang mendeskripsikannya sebagai sesosok “higher being, like God” (“Makhluk tingkat dewa, mirip Allah”; https://www.theatlantic.com/business/archive/2017/05/madoff-hbo-wizard-of-lies-abc/527343/).  Sayang sekali, kebanyakan investor yang terlanjur menyangka Madoff adalah Allah atau sejenis juruselamat, baru tahu dia tidak sedikit pun mirip dengan Allah atau savior, yaitu ketika Madoff ditahan dan dipenjara (serta uang mereka sebagian besar ambles).  Madoff ternyata pada hakikatnya hanyalah seorang maling atau thief (Michael Berkowitz, “The Madoff Paradox: American Jewish Sage, Savior, and Thief,” Journal of American Studies 46/1 [February 2012] 189-202), sedangkan Tuhan Allah tidak pernah menipu dan tentu saja tidak mata duitan seperti itu!

IBADAH DISELENGGARAKAN MENURUT SELERA MANUSIA

            Bila dalam lingkup sekular dan financial saja ada orang yang bisa dianggap (oleh orang lain) sebagai Tuhan dan ternyata akhir ceritanya adalah maling, bukankah dalam lingkup religius atau dunia keagamaan juga bisa terjadi seperti itu?  Mari kita belajar tentang topik ini dari sejarah masa lampau, yaitu sejarah yang sudah berusia kira-kira 3100 tahun dari kitab Hakim-hakim, di mana kitab yang memiliki 21 pasal ini terbagi dua: Bagian 1 (pasal 1-16) dan Bagian 2 (pasal 17-21).  Konteks kitab ini sebetulnya memperlihatkan ada ungkapan yang disebut berulang-ulang di Bagian 1 (bunyinya: “Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal”; 2:11; 3:7), dan Bagian 2 (“Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri”; 17:6; 21:25; “In those days there was no king in Israel.  Everyone did what was right in his own eyes”; ESV).

            Perhatikan perbedaan atau kontras yang dibuat penulis kitab itu: “yang jahat menurut pandangan mata TUHAN,” yaitu perbuatan moral yang menyimpang justru sengaja dilakukan orang Israel, sebaliknya ada aspek “yang benar menurut pandangan mata manusia,” yaitu perbuatan moral yang sebetulnya menyimpang dan tidak benar, malah dengan senang hati dilakukan orang Israel karena dianggap benar oleh mereka.  Situasi ini mirip sekali dengan yang dilukiskan di Roma 1, yaitu pada satu pihak, manusia membenci Allah, namun pada pihak lain, manusia justru sebaliknya mencintai kegelapan, kemunafikan, dusta, dan mencintai apa yang paling dibenci Allah, yaitu penyembahan berhala (Rm. 1:25: “Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dustadan memuja dan menyembah makhlukdengan melupakan Penciptanya yang harus dipujiselama-lamanya, amin”).  Manusia dalam keberdosaannya tetap memiliki pikiran yang jernih tetapi sekaligus korup, dan secara akal-akalan ia berusaha menekan kebenaran yang nyata dalam batinnya dan sekaligus berusaha menjadi pencipta (“menyembah makhluk” identik dengan menciptakan berhala) untuk menggantikan eksistensi Allah sebagai Pencipta.  Betapa lihainya dan sekaligus bobroknya manusia yang berdosa itu!

           Jadi, perbuatan moral menyimpang yang dipandang jahat di mata TUHAN dari kitab Hakim-hakim adalah penyembahan berhala (idolatry).  Konteks dekat (Hak. 2:11: “beribadah kepada para Baal”; 2:13: “beribadah kepada Baal dan para Asytoret”) memperlihatkan bahwa orang Israel benar-benar jatuh dalam penyembahan berhala atau penyimpangan dalam ibadah.  Penjelasan yang paling detail ada di pasal 10:6: “Orang Israel itu melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; mereka beribadah kepada para Baal dan para Asytoret, kepada para allah orang Aram, para allah orang Sidon, para allah orang Moab, para allah bani Amon dan para allah orang Filistin, tetapi TUHAN ditinggalkan mereka dan kepada Dia mereka tidak beribadah.”  Jadi, gile bener Israel waktu itu: mereka mengoleksi, menyembah, dan menyelenggarakan worship kepada ilah/allah dari pelbagai bangsa yang hidup di sekitar mereka!

            Ketika bangsa Israel (atau bisa juga manusia modern sekarang ini) mencintai dan menyembah sesuatu yang ada dalam alam (bisa barang, ciptaan, manusia, atau salah satu dosa, misalnya keserakahan; bdk. Kol. 3:5) yang intinya bukan Tuhan, manusia jatuh dalam penyembahan berhala.  Tetapi herannya, setelah manusia melupakan dan meninggalkan Tuhan (Hak. 2:12), mereka ternyata tetap membutuhkan adanya “Tuhan,” dan mereka secara perlahan namun mantap menjadikan diri mereka sendiri sebagai “Tuhan” (seperti Bernie Madoff, yang dianggap Tuhan!).  Kemudian mereka memutar gambar Allah pada manusia sampai posisinya menjadi terbalik (meminjam istilah Richard Lints: “Turning the Imago Dei Upside Down”; Identity and Idolatry: The Image of God and Its Inversion [Downers Grove: InterVarsity, 2015] Ch. 5).

           Setelah itu, sekali lagi, heran bukan main, manusia menetapkan sejenis ibadah harus tetap ada, yakni ibadah yang dibuat mirip sekali dengan ibadah yang benar (supaya kelihatan tetap religius).  Namun tentu saja ibadah karbitan itu dirancang bukan menurut cara atau kehendak Tuhan yang berdaulat, tetapi ibadah yang direkonstruksi menurut kehendak dan selera manusia.  Artinya, bila di dalam Alkitab dikatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, maka dalam worship ala selera manusia ini, manusia berusaha menciptakan “Allah” menurut gambar dan rupa manusia.  Sebetulnya semua proses penyembahan berhala dan terbentuknya ibadah yang palsu jalurnya seperti itu, yaitu selera manusia yang diam-diam atau terang-terangan ditampilkan.

            Maka, ketika kita membaca Hakim 17-18 (khususnya 17:1-13), di sana terdapat sebuah kisah yang berkaitan dengan pembalikan worship menurut selera manusia.  Akibatnya, terciptalah semacam ibadah suka-sukanya manusia yang disertai dengan prinsip yang keliru tentang penyembahan kepada Tuhan.  Singkat cerita, dinarasikan ada seorang yang bernama Mikha (tokoh utama: mewakili tipe pedagang-pendeta masa kini yang suka chuo gereja alias bikin gereja untuk dibisniskan), yang berniat membuka sebuah “gereja” dan pas ia menjumpai seorang Lewi (tokoh agama: mewakili tipe pendeta-pebisnis serabutan masa kini yang bersedia melayani di mana saja asal bayarannya gede) yang sedang menganggur dan yang mau digaji dengan murah untuk diangkat ke dalam sejenis jabatan (kita sebut saja) Pdm atau pendeta muda guna melayani di sebuah kuil (jadi gereja sudah “dibaptis” menjadi temple) dan kuil itu sudah komplit dengan patung sembahan (Hak. 17:4-5, 11).  Coba lihat: dari sini saja dapat tampak jelas betapa terpuruk dan menyimpangnya zaman itu!

            Resapkan baik-baik penjelasan yang diberikan David Z. Moster tentang tokoh agama (yang di-Pdm-kan) dari kalangan Lewi yang disebut dalam Hakim-hakim 17-18: “By means of close textual analysis, the Levite is shown to be a complex and somewhat contradictory figure, being passive but ambitious, meek but confident, a thief as well as a servant of YHWH, and a ‘father’ with no sense of familial obligation.  He is a type figure who still has a number of well-developed traits.  For example, he is a wanderer with no destination, speaks when spoken to, and is a sojourner who is recognizably out of place.  He is valued for his priestly capabilities but is nevertheless subservient to the men who seek his services.  He is persuadable, self-serving, and ultimately disloyal” (“The Levites of Judges 17-18,” Journal of Biblical Literature 133/4 [2014] 729).  Sungguh sebuah zaman yang kacau sekali waktu itu, yaitu ada orang yang disebut pelayan Yahweh, tetapi juga maling atau pencuri!  Saya sudah lihat pada zaman sekarang cukup banyak yang seperti itu, yaitu pelayan Tuhan yang begitu cepat di-Pdm-kan atau diangkat sebagai boksu, namun moralitasnya dalam pelayanan ternyata dipertanyakan, dan sebagian bahkan menjadi skandal yang dibiarkan tanpa disiplin gerejawi!

            Apalagi orang Lewi itu berasal dari wilayah yang baik dan konservatif: Betlehem-Yehuda (Hak. 17:7-8).  Maksud saya, seharusnya ia menolak tawaran jabatan sebagai imam (priest) karena lingkungan pelayanan ibadah yang disodorkan Mikha sudah terpapar penyembahan gaya orang Kanaan dengan patung sembahan.  Sebagai seorang Lewi yang terdidik dalam Taurat Tuhan dan ibadah yang benar, ia seharusnya menolak tawaran tersebut berdasarkan ortodoksi yang pernah diterimanya.  Dari sinilah terjadi “infeksi” ibadah yang menyimpang, yaitu dari worship yang menyembah Allah (teosentris) ke arah ibadah yang berpusatkan pada pengaturan manusia (anthroposentris), dan semua itu dimulai dari satu orang yang konservatif yang terpengaruh dan terseret oleh arus dunia sekitarnya.

            Sekarang perhatikan baik-baik tokoh utamanya, yakni Mikha.  Ia adalah seorang yang hidupnya sudah ngawur (17:1-3), dan ia sebenarnya juga seorang maling (yang mencuri barang ibunya).  Demikian pula pengajarannya sudah menyimpang dari penyembahan pada Yahweh kepada patung sembahan.  Bila ada pembaca yang bertanya: koq bisa ya, penyembahan kepada Yahweh dicampur-aduk dengan patung sembahan?, sebaiknya ia menyimak perkataan Michael K. Wilson: “Evil as idolatry may be—as it is in Yahweh’s eyes!—the strength of idolatry consists in the psychological fact that the Israelites sincerely believed it to be a legitimate and appropriate concomitant of the worship of Yahweh” (“‘As You Like It’: The Idolatry of Micah and the Danites [Judges 17-18],” The Reformed Theological Review 54/2 [May-August 1995] 73).  Aneh sekali, bukan?  Orang Israel bisa “sincerely believed” (dengan tulus percaya) bahwa penyembahan berhala adalah sah dan OK-OK saja, berbarengan dengan penyembahan Yahweh.  Kalau dulu umat Tuhan bisa “sincerely believed” dan berani mempraktikkan penyembahan campuran (blended) sebagai sebuah “cara beribadah” yang sah dan boleh-boleh saja, masakan di zaman pascamodern ini tidak ada yang percaya dengan “tulus” seperti itu?

           Sangat mungkin terjadi pada masa kini sama dengan situasi yang pernah terjadi di kitab Hakim-hakim 2:10-13, yaitu setelah generasi pemimpin yang baik dan saleh (generasi Musa-Yosua-Kaleb) berlalu, “bangkitlah . . . angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel” (ay. 10).  Yang menarik adalah ayat 11 mencatat: “Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal.”  Tentunya kata “lalu” di sini pengertiannya tidak berarti: hari ini Yosua mati, besoknya atau minggu depannya orang Israel berpindah ibadah dari Yahweh ke Baal.

           Artinya, mereka, yaitu generasi yang baru muncul (millenials atau Gen-Z-nya waktu itu), sudah pasti tidak langsung bilang: “TUHAN atau Yahweh bukanlah Allah” pada tahun Yosua meninggal dunia.  Lebih mungkin yang terjadi adalah: setelah lewat beberapa tahun atau satu generasi (kira-kira 25-30 tahun), barulah ada yang mulai berpikiran “pascamodernis” dan inklusif sambil berkata: “Kita jangan berpikiran sempit; kita harus penuh tenggang rasa dan merangkul kepercayaan-kepercayaan lain.”  Sebab itu mereka mulai bersikap toleran, inklusif, dan akhirnya pluralis, dan mulai berkata: “TUHAN itu Allah, tetapi demi toleransi, ilah-ilah bangsa-bangsa lain juga Allah.”  Akhirnya sesudah muncul generasi yang baru, mereka benar-benar tidak menyembah Yahweh dan sudah beralih kepada ilah-ilah lain (makanya di pasal 10:6 disebutkan koleksi ilah mereka benar-benar melimpah ruah).

           Mirip dengan di atas, dewasa ini cukup banyak pendeta, dosen teologi, ketua sinode, ketua yayasan, bahkan mahasiswa teologi, yang berpikiran demikian: “Generasi sebelum kita yang berpegang pada ineransi dan otoritas Alkitab adalah generasi yang kolot, konservatif, sempit pikirannya, eksklusif dan picik.”  Saya pernah dengar dengan telinga sendiri ada dosen yang juga pendeta pernah dengan tegas berpendapat: “Saya tidak percaya Tuhan dibatasi hanya oleh Alkitab ini saja.”  Menurutnya, iman Kristen tidak bisa dibatasi oleh Alkitab saja, dan ia sebetulnya sedang menolak otoritas Alkitab.  Posisi semacam ini mulai dapat dijumpai di berbagai gereja dan STT pemimpin atau pendeta yang anti mukjizat, anti keilahian Kristus, anti penebusan, dan anti kebangkitan.  Sekarang pun di Youtube ada bidat dari China yang sedang popular secara berani-beranian dan terang-terangan menolak Alkitab lewat pujian yang “indah” namun menyesatkan (link-nya tidak saya berikan/share di sini, supaya jangan sampe ada oom-oom, enci-enci, atau ade-ade remaja yang masih polos dan culun malah kena pelet atau kepincut pada video atau penyanyinya, sebagaimana orang Israel atau raja Salomo pernah terpikat pada perempuan-perempuan Moab; Bil. 25:1; 1Raj. 11:1).

           Bisa saja perubahan pengajaran (dari yang biblikal kepada yang anti-biblikal atau ekstrem) pada beberapa pendeta, dosen, majelis, atau jemaat terjadi tidak dengan disengaja, bahkan tidak terbayangkan sebelumnya oleh pengurus yayasan, pendeta atau dosennya, apalagi berlangsungnya secara perlahan-lahan selama beberapa tahun dan melalui beberapa kali pergantian pengurus, pimpinan, hamba Tuhan atau dosen.  Belum lagi kalau orang-orang generasi berikutnya adalah orang-orang pintar, terdidik, tetapi kemudian perlahan-lahan berubah menjadi arogan, pragmatis dan tidak jelas pertobatannya.  Lalu mereka diangkat ke dalam jabatan tinggi di gereja, sinode, atau STT tertentu, tetapi lama kelamaan mereka bersikap tidak setia terhadap pengajaran mula-mula yang ortodoks karena dianggap sudah ketinggalan zaman.  Oleh sebab itulah, mencari seorang pemimpin, pendeta atau pengajar adalah persoalan yang krusial bagi gereja, yayasan, institusi Kristen, atau seminari.

           Selain itu, para majelis, pengurus yayasan, atau pengurus harian, dan staf, semuanya ikut menentukan hari depan pengajaran sebuah lembaga atau gereja.  Bila pengurus lebih mementingkan kompromi, kedamaian, tenggang rasa dan keharmonisan, keterbukaan, pertumbuhan (dengan kualitas seadanya), dan apalagi lebih mengutamakan pembangunan fisik/gedung semata, sambil membiarkan terjadinya perubahan pengajaran pada pendeta, dosen, atau pengurus institusinya, mereka akan ikut bertoleransi terhadap gejala tersebut dan membiarkan saja institusi yang mereka layani bergerak jauh dari visi semula yang benar.  Untuk orang-orang seperti itu, dengan berat hati saya ingin mereka mendengar perkataan William Ralph Inge: “Whoever marries the spirit of this age will find himself a widower in the next” (“Barangsiapa menikah dengan roh zaman ini akan menemukan dirinya sebagai duda di zaman berikutnya”; dikutip dari Anna Case-Winters, “A New Relationship Between Theology and Science?: One Theologian’s Reflections” dalam Spiritual Information: 100 Perspectives on Science and Religion [ed. Charles L. Harper Jr.; Philadelphia: Templeton Foundation, 2005] 491).

IBADAH MENJADI LAHAN MENCARI KEUNTUNGAN

            Masih tentang Mikha: Setelah berhasil menemukan seorang Lewi yang juga ternyata seorang maling, Mikha menyelenggarakan semacam “ibadah penahbisan” untuk mengangkat orang Lewi itu menjadi imam (priest).  Sebenarnya ibadah penahbisan itu adalah sebuah keputusan atau tindakan yang tidak bisa seenaknya dilakukan seperti itu, tetapi Mikha cuek saja.  Pasca-penahbisan ia dengan penuh keyakinan berkata: “Sekarang tahulah aku, bahwa TUHAN akan berbuat baik kepadaku, karena ada seorang Lewi menjadi imamku” (Hak. 17:13; terjemahan NRSV untuk ayat ini ada kata “prosper” di dalamnya: “Now I know that the Lord will prosper me, because the Levite has become my priest”).  Cara berpikirnya berjalan sebagai berikut: Karena ada satu orang Lewi (keturunan pelayan Tuhan yang spiritual), pastilah urusan penyembahan—mau pakai patung atau apa pun tidak jadi soal—menjadi benar; dan karena sudah benar demikian, pasti berkat Tuhan atau kemakmuran dari Tuhan akan datang dengan sendirinya.  Simple sekali jalan pikiran Mikha, tetapi sesat!

           Ngomong-ngomong, bukankah jalan pikiran yang seperti itu marak di zaman now dan juga menjangkiti kalangan gereja yang berlatar belakang teologi sukses (dan juga sudah mulai memeleti sebagian gereja injili yang terobsesi pada growth dan membership increases)?  Mengapa demikian?  Jawabnya adalah: karena baik di zaman Mikha (dan sepanjang zaman kitab Hakim-hakim selama 336 tahun) maupun situasi pelayanan abad 21 sekarang: “all the people did what was right in their own eyes” (17:6, NRSV).  Jadi, ukuran benar atau tidaknya adalah manusia yang menjadi patokan dan yang menentukannya!

           Hal ini berarti ada orang yang sudah benar-benar salah ajarannya (pakai patung sembahan, jelas salah, bukan?), namun karena sudah berhasil menahbiskan seorang Pdm atau boksu yang sakti, pinter, dan piawai bersilat lidah, ia tetap melanjutkan ibadah seperti biasanya, dengan disertai sebuah kepercayaan baru, yaitu ibadahnya kepada “Tuhan”—yang sebetulnya adalah ilah Baal atau sejenisnya—akan bermetamorfosis menjadi sebentuk sarana, tempat, atau lahan untuk memperoleh keuntungan (bahasa “sopan”-nya: memperoleh berkat).  Artinya, sebuah ibadah yang palsu akan tetap memakai (baca: meniru atau menduplikasi) struktur, organisasi, dan cara-cara penyembahan dari worship yang benar, dengan satu tujuan atau motif: untuk mencari keuntungan atau berkat.  Karena itulah saya setuju bila ada yang berpendapat bahwa teologi kemakmuran yang ada sekarang ini sejatinya memang menerapkan sejenis Ponzi scheme, khususnya untuk memperkaya pendeta dan top leadership-nya (lih. tulisan Nicholas McDonald, “Why the Prosperity Gospel Is the Worst Pyramid Scheme Ever”; https://www.thegospelcoalition.org/article/why-the-prosperity-gospel-is-the-worst-pyramid-scheme-ever/).

            Sewaktu Eugene H. Peterson (1932-2018) mengamati trend ibadah atau worship kekinian, secara mengejutkan ia mengaitkan gejala yang terjadi di gereja-gereja masa kini dengan munculnya kembali penyembahan Baal atau Baal worship (yang ada di masa Israel dahulu dan sekarang bangkit kembali di masa kini).  Maksudnya, Baalisme yang dikira sudah mati dan tidak ada lagi, ternyata hidup lagi pada zaman sekarang setelah “terkubur” tiga ribu tahun.  Peterson menulis demikian: “The emphasis of Baalism was on psychophysical relatedness and subjective experience.  The gulf between man and God was leveled out of existence by means of participatory rites. . . .  The transcendence of the deity was overcome in the ecstasy of feeling. . . .  Sensory participation was featured.  Images were necessary—the bolder, the more colorful, the more sensational, the better.  Music and dance became the means for drawing persons out of their private diversities and merging them into a mass response” (“Baalism and Yahwism Updated,” Theology Today 29/2 [1972] 139).

            Menurut Peterson, tekanan Baal worship adalah pada pengalaman subjektif manusia, sehingga “jarak” antara Allah yang mahakudus di Gunung Sinai dengan manusia menjadi hampir tidak ada, karena dalam ibadah yang di-setting demikian rupa dengan musik, gerakan/tarian dan dominasi para worshippers menumpahkan perasaan ekstatik mereka.  Jadi dalam Baalisme orang-orang yang beribadah menempatkan sejenis experiential theology sehingga sebenarnya Allah yang berfirman dan kehendak Tuhan yang dinyatakan menjadi secara subjektif semakin kabur dan tidak jelas sama sekali.

            Lebih dari itu, bagi Frank E. Eakin Jr., Baalisme memiliki keunggulan tertentu di atas penyembahan pada Yahweh: “It is apparent, however, that Baal definitely had an advantage over Yahweh in this confrontation: Baal was the indigenous deity of the Canaanites who exercised control over the realm of nature, always an area of primary concern in an agrarian culture; and Baal had the additional attraction of being worshiped with sensual ritualism.  In short, Baal would more likely have been victorious in this gradual amalgamation than Yahweh” (“Yahwism and Baalism Before the Exile,” Journal of Biblical Literature 84/4 [1965] 413).

           Artinya, percaya pada Baal lebih meyakinkan, sebab ada unsur advantage (keuntungan) yang lebih dari pada Yahweh: Baal mengontrol alam kehidupan (baca: ekonomi), memberikan kesuburan pada lahan agraria, serta boleh didekati dengan ibadah atau ritual yang sensual, termasuk pembiaran kalau ada penyimpangan seksual atau pelacuran bakti di antara umat.  Hal ini menunjukkan bahwa daya tarik Baalisme sangat dekat dengan human interest dan human need, sesuatu yang sangat dicari oleh manusia zaman sekarang juga, yaitu adanya keuntungan yang sifatnya atraktif dan sarana pemuasan kedagingan buat orang yang beribadah.  Saya rasa Eugene Peterson benar ketika ia merangkaikan perkembangan gereja kekinian (termasuk gereja-gereja yang kiblatnya ke arah teologi sukses) pada praktik ibadah Baalisme.  Gereja-gereja yang menekankan kemakmuran (prosperity), keuntungan, kesembuhan, kelancaran, dan kesaktian (manusia) dapat dikatakan merupakan penjelmaan atau kebangkitan kembali dari Baalisme (Baalism redivivus).

           Inilah berhala zaman modern yang sudah melakukan penetrasi ke dalam gereja, yaitu berhala dalam wujud bukan patung (seperti zaman dulu), melainkan berhala dorongan atau hasrat keinginan hati manusia (Your desire becomes the new god) untuk memuaskan human interest dan human need yang tidak habis-habisnya.  Artinya, setelah manusia berhasil menindas kebenaran (dengan tujuan meninggalkan Tuhan), mereka menciptakan ibadah “penyembahan makhluk” (Rm. 1:25) dengan sasaran utama mencari keuntungan lewat ibadah dan memuaskan hidup kedagingan lewat worship yang sensual dan hedonis.  Coba perhatikan: itulah sebabnya banyak kasus penyimpangan keuangan dan skandal seksual (itupun yang ketahuan atau terbongkar) di kalangan gereja-gereja tertentu cenderung ditutupi, dibiarkan, dimaafkan, atau “dikubur” begitu saja tanpa ada tindakan berupa church disciplines, lalu pelakunya tetap melayani dan berkhotbah as if nothing happens.

           Jadi, sekarang ini cukup banyak pendeta atau gereja melayani dengan pola pendekatan membangkitkan kembali berhala Neo-Baalisme dalam bentuk keuntungan dan berkat, serta pemuasan syawat dan kedagingan.  Hal ini menandakan mereka mengerti psikologi dari human interest dan human need dari kebanyakan orang yang namanya calon jemaat (seekers), sehingga gereja-gereja mereka dipromosikan dengan jurus-jurus marketing the church.  Salah satu trik yang dipergunakan dengan metode banting harga adalah dengan menawarkan segala macam hadiah (bolpoin, handuk, kalender, atau sovenir lain), barang undian (handphone, rice cooker, microwave, kompor gas, dan barang lain), minyak urapan, piknik, pekerjaan, jalan keluar dari problem, dan privilese lainnya, dengan syarat orang-orang itu mau menjadi anggota di gereja mereka.  Artinya, dalam rangka obsesi church growth untuk memperoleh jemaat sebanyak-banyaknya, cukup banyak gereja yang “do whatever it takes” asal anggota bertambah.

           Sebab itulah kita dapat saksikan terlalu banyak gereja (dan sedihnya, juga ada seminari/STT) yang secara innocent mengadopsi musik-musik dunia sekular atau tarian/gerakan yang “dibaptis” ke dalam ranah spiritual menjadi sacred dance.  Mereka membawa masuk dunia entertainment ke dalam panggung/mimbar gereja, dengan asumsi dasar bahwa worship tradisional tidak menarik dan sudah ketinggalan zaman.  Maka ibadah kontemporer sedapat mungkin dibuat sama iramanya dengan suasana hati orang modern.  Lalu segmen pemberitaan firman diminimalkan atau digantikan dengan drama atau kesaksian-kesaksian, dengan anggapan utama bahwa manusia modern perlu terhibur dan dihangatkan oleh musik, sacred dance, drama, kesaksian (lebih seru dengerin kesaksian bekas dukun, artis, pedagang kaya, atau topik kontroversial lainnya), dan bukan firman Tuhan.

           Melalui kemasan ibadah yang diakomodasikan sesuai dengan suasana hati dan keinginan manusia modern, gereja-gereja dengan latar belakang (atau yang tidak sadar terpengaruh) teologi sukses memang cukup “kebanjiran” anggota yang banyak.  Anggota yang kualitasnya seperti apa?  Jawabnya adalah: anggota yang selalu mengharapkan pemberian “lima roti dua ikan.”  Anggota seperti ini tidak suka yang namanya discipleship, pengorbanan, atau jalan salib.  “Apa yang bisa kami peroleh dari gereja?” itulah yang menjadi pikiran mereka dan mereka sama sekali kurang peduli dan tidak bertanya: “Apa yang dapat kami lakukan bagi Tuhan atau gereja?”  Penegasan Tim Keller berikut ini sangat tepat: “Religion’s true purpose is to get God to serve you; gospel faith’s purpose is to get your heart to serve him” (“Maksud yang sebenarnya dari agama adalah memberdayakan Tuhan untuk melayani kamu; [sedangkan] maksud dari iman menurut injil adalah memberdayakan hatimu untuk melayani Dia”: Timothy Keller, Judges for You [Epsom: The Good Book, 2013] 174).

           Jadi bahaya dari cara berpikir seperti Mikha tiga milenium yang lalu adalah mereka seakan-akan yakin sekali bahwa jumlah atau kuantitas yang mayoritas selalu menjamin penyertaan Tuhan.  Padahal mayoritas atau banyaknya pengikut belum tentu adalah jaminan sebuah gereja berjalan dalam kebenaran dan sedang diberkati Tuhan, karena bidat atau aliran sumbang, bahkan agama-agama lain, memiliki banyak pengikutnya dan terus menerus bertambah anggotanya.  Saya rasa penyimpangan teologi seperti ini tentu harus dipertanggungjawabkan di hadirat Tuhan di akhir zaman nanti.

AKHIR KATA

            Bertahun-tahun sebelum Socrates (470-399 BC), Plato (427-347 BC), dan Aristoteles (384-322 BC) berjaya, seorang filsuf dan ahli retorika dari golongan Sofis yang bernama Protagoras (481-411 BC) pernah mengucapkan dua kata yang bergema sampai sekarang: “Homo Mensura” (Man the Measure) yang terjemahan bebasnya berarti: “Man is the measure of all things” (“Manusia adalah patokan/ukuran dari segala sesuatu”).  Perkataan atau diktum semacam itu terbukti amat sangat disukai oleh banyak orang di sepanjang zaman dan berbagai tempat, termasuk tentu saja di masa kini.

            Tetapi sebetulnya berabad-abad sebelum Protagoras, ada sebuah ungkapan kalimat yang lebih menyihir, lebih “naik pangkat,” dan tentunya lebih sesuai dengan selera manusia di zaman ini: “ . . . you will be like God . . .” (“. . . kamu akan menjadi seperti Allah . . .”; Kej. 3:5).  Kalau Protagoras cuma menyanjung dan meninggikan humanisme, maka sosok di balik sang ular di Taman Eden hendak melakukan proses deifikasi, yaitu memutarbalikkan esensi manusia sehingga “naik pangkat” menjadi Allah.  Tetapi itu semua hanya trik pemutarbalikan yang isinya ilusi dan bohong besar.

            Mikha juga seorang genius dalam urusan pemutarbalikan agar esensi manusia bisa “naik peringkat” menjadi nyaris ilahi.  Ngomong-ngomong, nama Mikha itu sendiri ia putarbalikkan: “Micahyahu,” itulah nama aslinya dalam ungkapan Ibrani, dan diterjemahkan “who is like Yah” atau “who is like the Lord” (siapa yang [sama] seperti TUHAN).  Kalau seseorang bertanya dengan kalimat itu (Siapakah yang sama seperti TUHAN?), maka jawaban yang wajar dan seharusnya adalah: Tidak ada (yaitu, tidak ada yang sama seperti TUHAN), sebab Ia melampaui ciptaan, dari kekal sampai kekal, terang yang tak terhampiri, memiliki hidup dari diri-Nya sendiri, dan jelas Ia tidak dapat disejajarkan dengan manusia, atau ilah atau allah yang disembah bangsa-bangsa yang politeistik.  Tetapi, Mikha justru menyamakan TUHAN dengan semua ilah tersebut!  Sungguh keterlaluan orang ini.

            Dari satu orang yang bernama Mikha inilah (dengan dosa individualnya): menyeret satu orang Lewi yang seharusnya mengerti Taurat namun kemudian membentuk ibadah yang ngawur; dari sana membelit satu suku Israel (dosa satu suku Dan), lalu merembet ke mayoritas suku (dosa kelompok) yang masuk kesesatan dan kejahatan.  Selanjutnya penyimpangan worship itu menularkan “infeksinya” pada seluruh bangsa dan raja Israel (kerajaan Utara) dan Yehuda (kerajaan Selatan), yang terus menerus bolak-balik jatuh dalam penyembahan berhala dan ibadah yang menyimpang, yang akhirnya hanya mendatangkan murka Tuhan dengan menjatuhkan hukuman terhadap kerajaan Utara berupa Pembuangan ke Asyur dan terhadap kerajaan Selatan berupa Pembuangan ke Babel.  Semua penyimpangan, dosa, dan kejahatan itu sejatinya dimulai dari satu orang.

            Di awal tulisan ini, saya juga menyebut tentang satu orang saja: Bernie Madoff yang pada akhirnya mendatangkan kerusakan dan kerugian yang sedemikian kolosal pada 38 ribu investor, dan sekaligus menguncang financial markets di belahan dunia Barat dengan Ponzi scheme-nya.  Sebelum divonis penjara 150 tahun, Madoff pada 29 Juni 2009 membuat pernyataan di depan para saksi mata, wartawan, dan korban kepalsuannya: “I am responsible for a great deal of suffering and pain, I understand that. . . .  I live in a tormented state now, knowing of all the pain and suffering that I have created.  I have left a legacy of shame, as some of my victims have pointed out, to my family and my grandchildren.”  Tokoh yang dulunya terkenal sebagai “financial hero” dan bahkan “financial God,” akhirnya mengaku bahwa ia hanya meninggalkan sebuah “legacy of shame” (warisan aib).  Masih mending dia mau mengaku salah dan malu!

            Bagaimana dengan kita yang hidup di zaman yang semakin ngawur ini?  Saya rasa seharusnya kita semua—yang menjadi pendeta, dosen, majelis, atau orang awam—mengaku salah dan malu bila selama ini kita terlalu meninggikan kemanusiaan kita (apalagi sebagian lagi nyaris merasa dirinya setara dengan God).  Maka kita harus berpikir seribu kali: Apakah kita sebagai satu individu mau meninggalkan sebuah warisan aib semacam itu bagi kekristenan, bagi generasi mendatang, bagi keluarga kita, gereja kita, atau Tuhan kita?