Serangan Kuasa Kegelapan Dalam Tubuh Kekristenan

Pada tahun 2003, seorang wanita berusia 55 tahun bersama beberapa teman-teman sebayanya berjalan kaki minggu siang di sebuah taman di daerah Wong Lung Hang Country Trail, Lantau, Hongkong.  Setelah ber-hiking kira-kira satu jam lebih dalam cuaca terik, sang wanita berteduh di bawah pepohonan.  Ketika melihat tidak jauh dari sana ada sebuah sungai kecil dengan air jerih yang mengalir, karena kepanasan, wanita itu langsung mengambil air jernih tersebut dengan kedua telapak tangan, lalu air segar itu diciprat-cipratkan ke wajahnya dengan tujuan untuk mengurangi panas yang menyengat siang itu.  Beberapa temannya juga melakukan hal yang sama.

            Lewat dua minggu kemudian, perempuan itu merasa tidak enak badan, hidungnya berdarah, dan agak sesak napas, lalu beberapa hari selanjutnya gejala tersebut bertambah parah dengan disertai demam.  Setelah pergi ke dokter umum dan mendapatkan pengobatan, kondisinya justru semakin memburuk beberapa hari sesudahnya.  Akhirnya di minggu ke empat, ia terpaksa diopname ke rumah sakit dan diperiksa secara lebih menyeluruh dan teliti di emergency room.  Dokter yang memeriksanya terkejut bukan main, sebab dari hasil scan ditemukan di belakang hidung dan dekat dengan tenggorokan perempuan itu terdapat sebuah massa atau benda yang ukurannya sebesar jempol tangan, dan massa itu hampir menutupi lubang hidung sebelah kiri.

            Setelah diteliti lebih seksama, baru ketahuan benda berwarna kecoklatan yang bergerak itu ternyata adalah seekor lintah yang masih hidup, yang diperkirakan sudah “hang out” di belakang hidung wanita itu kira-kira satu bulan dan ukurannya kian membesar karena terus menerus mengisap darah ibu itu (https://www.scmp.com/article/495751/leech-stuck-hikers-nose-gives-doctors-runaround).  Dibutuhkan tiga orang dokter dan lima perawat untuk menolong dan menangani wanita itu mengeluarkan “sang penyusup” yang panjangnya 2 inci atau 5 sentimeter dari tubuhnya, apalagi terjadi pendarahan serta sang lintah bersikap “membandel” berusaha menghindar dengan menarik diri ke rongga lebih dalam.  (Belakangan semua teman sebayanya yang ber-hiking bersama wanita itu juga diperiksa, dan ditemukan juga lintah pada saluran sinus pada seorang pria; https://www.cbsnews.com/news/live-leech-hid-in-womans-sinus/).

           Tentu saja sewaktu ibu itu menciprat-cipratkan air jernih ke wajahnya sebulan sebelumnya, sang lintah (yang “mengambil kesempatan” masuk dan menempel di rongga hidung) waktu itu ukurannya masih sangat kecil, tidak jelas terlihat, dan belum memperlihatkan daya perusaknya.  Tetapi secara perlahan namun pasti, sang lintah mulai “berkiprah” dengan mengisap darah, menyebabkan sesak napas, dan mengganggu kesehatan wanita itu.  Para dokter yang menolong pemulihan perempuan itu berkata, bila penanganan lintah tersebut tertunda beberapa hari atau satu minggu, sangat mungkin “predator kecil” tersebut dapat “menjelajah” bagai cacing (worm; dalam bentuk kata kerja) memasuki wilayah otak, atau paling sedikit menutupi larynx (voice box; saluran berbicara, bernapas, menelan) dengan akibat asphyxia atau suffocation (tersumbatnya saluran napas), dan akhirnya korbannya akan koma atau koit (meninggal dunia).  Perhatikan: sejak awal proses masuknya lintah itu sampai mendatangkan sakit, pendarahan, hingga diopname di rumah sakit, perempuan itu dikatakan oleh sebuah media “tidak menyadari bahwa dirinya menjadi penjamu atau tempat persinggahan makhluk tersebut” (“[u]naware she was playing host to the creature”; lih. “Leech Worms Way into Hiker’s Nose”; https://www.nbcnews.com/id/wbna7426103).

Kuasa Kegelapan Dapat Menyusup Pada Orang Yang Penyerahannya Tidak Mantap Dalam Kristus

            Kira-kira mirip seperti itulah daya kerja Iblis dalam beberapa kasus sebagaimana yang dipaparkan dalam Alkitab.  Sebagai contoh, ketika Iblis menguasai Yudas Iskariot secara perlahan, tanpa disadari Yudas menjadi “host” bagi kuasa kegelapan, dan pada puncaknya ia menuai tragedi di penghujung hidupnya.  Pada prosesnya firman Tuhan melukiskan daya kerja kuasa kegelapan lewat kalimat yang isinya paling sulit dimengerti dan sekaligus mengerikan dalam Lukas 22:3: “Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang bernama Iskariot, seorang dari kedua belas murid itu”  Sulit dimengerti, karena bagaimana mungkin salah seorang dari 12 murid Yesus disusupi oleh Iblis?  Lalu bagaimana sebetulnya cara Iblis bisa melakukan intervensi ke dalam diri Yudas dan mengontrol sikap dan tindak tanduknya?  Sekalipun sulit dimengerti, namun Yohanes 13:27a cukup mengungkapkan apa yang sebetulnya terjadi: “Dan sesudah Yudas menerima roti itu, [Yudas] kerasukan Iblis.”  Jadi, Yudas secara tak terduga berada di bawah kendali dan penguasaan kuasa kegelapan oleh karena intervensi dan dominasi dari Iblis yang beroperasi secara gaib atau tidak kasatmata.

            Barangkali pertanyaan yang muncul setelah ini adalah: koq bisa ya murid Yesus kemasukan atau kerasukan Iblis?  Saya rasa jawaban yang paling dekat adalah: Sebenarnya Yudas Iskariot sejak semula tidak percaya kepada Kristus, dan Yesus tahu tentang hal ini: “Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia.  Karena itu Ia berkata: ‘Tidak semua kamu bersih’” (Yoh. 13:11).  Jadi, kata “tidak bersih” yang ditujukan pada Yudas memiliki makna spiritual, yakni di hadirat Tuhan Yesus Yudas tidak pernah sungguh-sungguh mengikut Kristus dan penyerahan diri Yudas tidak pernah memperlihatkan kemantapan sedikit pun (bdk. Yoh. 6:64: “Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia”).  Dengan kata lain, murid-murid yang lain “sudah bersih,” dalam arti: mereka sudah sungguh-sungguh percaya dan memiliki keselamatan di hadirat Tuhan, kecuali Yudas.  Apalagi Yesus sebelumnya sudah menyatakan bahwa Yudas sangat problematik dalam kaitan dengan asosiasinya dengan kuasa kegelapan: “‘Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini?  Namun seorang di antaramu adalah Iblis’” (Yoh. 6:70).  Keras sekali perkataan Yesus tentang Yudas!

            Lalu, mengapa tadi kasus Yudas kerasukan Iblis saya sebut mengerikan?  Jawabnya adalah karena apa yang terjadi pada Yudas sangat tersembunyi, sangat mendalam, dan hanya Tuhan Yesus yang tahu, sedangkan semua murid tidak tahu menahu (bdk. Yoh. 13:28-29).  Maka, hanya Yesus yang dapat mengungkapkan aspek “behind the scene” secara transparan mengenai kondisi yang sesungguhnya dari Yudas, dan sekarang kita dapat mengetahuinya dari firman Tuhan di mana Yesus berkata (dalam high priestly prayer-nya): “Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa” (Yoh. 17:12b).  Artinya, Yudas sesungguhnya tidak pernah menjadi real disciple of Jesus dan ia tidak pernah mengalami real salvation in Christ.

            Perhatikan: Setelah Iblis memasuki dan merasuk dirinya, Yudas tetap melanjutkan acting-nya seperti manusia biasa yang normal.  Contohnya, ketika Yesus mengucapkan kalimat yang keras di Upper Room sesaat sebelum Ia diserahkan (“Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan.  Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan”; Mat. 26:24), Yudas tetap meneruskan sandiwaranya dengan berpura-pura berlagak pilon dan tidak mau mengaku sambil berkata: “Bukan aku, ya Rabi?”  Setelah itu Yesus menjawab dengan tegas: “Engkau telah mengatakannya” (Mat. 26:25).  Terjemahan bebasnya: “Yes, it is you” (ERV).  Maksud saya, bila Yudas benar sudah percaya, lalu ditegor dengan keras, dan nyatanya sudah terpojok seperti itu, harusnya ngaku dong dan jangan berkelit atau berbelit-belit lagi di hadirat Tuhan yang tahu segala sesuatu.  Sayang sekali, Yudas sudah mantap di dalam kesesatannya dan juga mantap dengan sandiwaranya!

           Selain itu, sesudah kuasa kegelapan mengontrol dirinya, kita melihat fakta bahwa Lukas 22:4 mencatat: Yudas malah “pergi . . . dan berunding” dengan imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah dengan topik utama tentang bagaimana ia dapat menyerahkan Yesus kepada mereka.  Kata “berunding” bisa diterjemahkan “berbicara, berdiskusi, bertukar pikiran” sebagaimana biasa manusia normal melakukannya.  Maksud saya, Yudas yang kerasukan Iblis itu tidak berperilaku aneh, garang, mata melotot, bersuara keras melengking, atau melakukan hal-hal abnormal lainnya, seperti yang biasa terjadi pada orang-orang yang kerasukan setan.  Sekali lagi saya tegaskan: Setelah kerasukan Iblis, Yudas tetap berperilaku sebagaimana manusia normal lainnya, sehingga orang-orang lain (yang berjumpa dan berdiskusi dengannya) tidak melihat atau merasakan ada yang berubah atau ada yang tidak biasa atau menyeramkan (bizzare) atau muncul perilaku yang aneh-aneh (weird) pada penampilan dan kepribadiannya.

            Apa artinya?  Artinya, dari sini kita dapat melihat fakta bahwa kerasukan setan belum tentu mengubah wujud dan penampilan seseorang!  Orang yang kerasukan itu bisa tetap ber-sinetron atau bersandiwara as if nothing happened, dan orang-orang di sekitarnya tidak merasakan dan tidak dapat mendeteksi ada yang salah pada keberadaannya.  Inilah jenis kerasukan setan yang hampir tidak pernah dibahas dalam literatur demonologi mana pun, yaitu ada jenis kerasukan yang tersamar dan orang yang “terpapar” kuasa kegelapan itu tampak sebagai orang baik, kalem, “saleh,” dan tetap dapat melanjutkan kiprahnya tanpa dicurigai apa-apa oleh orang-orang di sekitarnya.  Betapa berbahayanya strategi dan cara kerja Iblis melalui orang semacam ini!

            Saya setuju dengan R. C. Sproul yang pernah mencatat bahwa Iblis gemar bekerja dan menampakkan diri secara sub species bonum (under the auspices of the good), yang artinya Iblis suka beroperasi secara metamorfik (berubah rupa penampilan), di belakang layar, bersembunyi di balik “sesuatu yang kelihatannya baik,” serta—dalam kata-kata Sproul—berperan sebagai “the quintessential con artist working his scams via camouflaged” (“penipu ulung yang memasang jerat-jeratnya lewat trik penyamaran; lih. bagian “Foreword” dalam buku Erwin W. Lutzer, God’s Devil [Chicago; Moody, 2015] 10).

           Dengan demikian, kebiasaan Iblis adalah “bermain” lewat sarana manusia yang tampak baik dan religius.  Sebagai contoh, Yudas sendiri pernah berkata dengan nada yang tampak memiliki kepedulian terhadap orang miskin: “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” (Yoh. 12:5).  Kalau benar-benar seperti itu hati Yudas terhadap orang miskin, sungguh mulia jiwanya.  Tetapi itu semua termasuk dalam skenario acting!  Rasul Yohanes 60 tahun setelah peristiwa itu mengungkapkan sandiwara yang tidak lucu dan ironis dari Yudas: “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya” (Yoh. 12:6).

            Camkan dengan seksama: Yudas sejatinya bukan real disciple of Jesus, tetapi bisa berada, berkiprah layaknya “secretary of the treasury” (bendahara) dan melayani di tengah-tengah real disciples of Jesus yang lain (dan ini sama seperti ada pendeta palsu di zaman now, tetapi bisa “nyelinep” ikut melayani bersama-sama pendeta yang benar di gereja).  Hebat, bukan, acting dan sandiwara yang diperagakan oleh Yudas!  Kalau aktor/artis sinetron biasanya hanya ber-acting beberapa jam atau beberapa hari sekaligus, Yudas bisa melakukannya tiga tahun secara maraton, sebab ada Aktor pengendali dari lingkup kegelapan yang membantu ia melakoninya “dengan konsisten” selama jangka waktu yang panjang itu.

Kuasa Kegelapan Dapat Menyusup Lewat (Orang-Orang Yang Menyebarkan) Pengajaran Sesat

            Bagaimana dengan situasi karya kuasa kegelapan untuk abad 21 ini?  Saya berpendapat situasi zaman sekarang bisa-bisa lebih parah dan lebih masif serangan dari si jahat ketimbang apa yang secara tidak langsung disampaikan oleh rasul Paulus di 2 Korintus 11:13: “Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus.”  Satu ayat setelah itu ia mencatat: “Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang.”  Jadi, korelasinya adalah sebagai berikut: Iblis mau melakukan penipuan (deception), namun ia tidak mau mengerjakannya sendiri secara terang-terangan atau secara lone ranger/lone wolf.  Iblis membutuhkan agent atau perantara orang yang licik tapi juga pintar (kalau bisa yang IQ-nya mentok supaya tidak gampang ketangkep).  Lalu di berbagai zaman dan tempat ia menemukannya pada tipe orang seperti Yudas, Bileam, raja Saul, Ahitofel, Himeneus, Alexander, dan masih banyak lagi, yang ternyata piawai sekali bersandiwara dan menyamar seolah-olah mereka adalah orang-orang saleh tetapi sebetulnya adalah pengikut palsu.

           Dalam konteks 2 Korintus 11:13-14, muncul rasul-rasul palsu yang satanis menyamar sebagai rasul-rasul beneran dengan agenda utama hendak menyesatkan jemaat.  Maka, bila tugas utama seorang rasul adalah memberitakan firman Tuhan dan memberikan pengajaran doktrinal, maka para rasul palsu itu “memasang jerat penipuan” juga melalui dimensi pemberitaan dan pengajaran.  Tentu saja “jerat penipuan” yang dipasang akan bersifat metamorfik (diubah bentuk penampilan dan penyajiannya), dan kepalsuannya diletakkan di belakang layar sehingga tersembunyi dan yang terlihat adalah hal-hal yang tampaknya OK, baik, menarik, keliatannya benar, dan meyakinkan.  Intinya, pengajar palsu yang satanis akan mampu bersandiwara sedemikian rupa, sampai-sampai orang-orang yang awam dan polos (yang cenderung terima saja apa kata pengkhotbah) dalam pengajaran doktrinal yang ketat tidak akan merasakan ada yang salah dan mereka sulit mendeteksi ada yang menyimpang pada guru-guru palsu itu.  Sampai di sini saya bertanya kepada kita semua: Siapa di antara kita yang berani mengatakan bahwa pelayanan mimbar yang berbobot dan pengajaran doktrinal yang ketat tidak penting?  Coba pikir!

            Pada perikop yang lain dari Alkitab, rasul Paulus juga menulis: “ . . . di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat [NRSV: deceitful spirits]dan ajaran setan-setan [NRSV: teachings of demons]oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka” (1Tim. 4:1-2).  J. B. Phillips menerjemahkan ayat 1 dengan penekanan bahwa orang-orang murtad itu “abandon the true faith and allow themselves to be spiritually seduced by teachings of the devil” (meninggalkan iman yang benar dan membiarkan diri mereka tersihir secara spiritual oleh pengajaran-pengajaran setan).  Terjemahan Alkitab The Message (MSG) untuk ayat 1 menyatakan bahwa orang-orang yang murtad itu “chase after demonic illusions put forth by professional liars.”  Dengan demikian, segala kesesatan dan kepalsuan orang-orang itu akan semakin sulit terdeteksi, sebab mereka adalah “professional liars” (yang mahir atau jago berbohong), dan di balik semua penyamaran itu sebenarnya ada agenda dari kuasa kegelapan yang ikut menerapkan dan menyelipkan sejenis doktrin-doktrin versi satanis dan demonis.

           Hal ini menandakan kesesatan dan pengajaran adalah dua istilah yang seharusnya bertentangan, namun heran ternyata bisa disatupadukan oleh pekerjaan roh-roh jahat.  Penyatuan itu disalurkan melalui teachings atau rumusan-rumusan pengajaran untuk memengaruhi manusia (jadi, kuasa kegelapan juga menguasai doktrin-doktrin dasar atau sejenis teologi sistematika).  Itulah sebabnya, ketika orang yang awam atau yang pikirannya sederhana diingatkan atau dikasi tahu bahwa itu adalah ajaran sesat, orang awam itu akan bereaksi: “Lho, pak . . . pendeta itu [yang berteologi sumbang] khotbahnya bagus, menarik, dan ajarannya sama seperti ajaran gereja kita.”  Ada lagi yang bilang begini: “Pak, saya pernah satu kali menghadiri kebaktian di gereja yang dikatakan sesat itu, saya tidak menemukan ada yang aneh sekali, kecuali orang-orang yang maju ke depan pada tumbang berjatuhan.”  Oh, my.  Susahnya adalah cukup banyak orang awam, aktivis, majelis, pendeta, dosen, bahkan pengurus sinode/yayasan, berpikiran lugu, naif, innocent, sekaligus gullible (gampang dibohongin)!

           Hal ini berarti cukup banyak orang yang pikirannya bersahaja tidak dapat melihat kamuflase atau penyamaran dari karya Iblis lewat pengajar atau pengajaran palsu.  Tentunya yang dimaksud dengan pengajar atau pengajaran sesat di sini adalah pengajaran yang berbeda dengan pengajaran yang benar dan sehat, namun penampilan dan penyampaiannya dikemas dalam bentuk, sistematika, dan cara yang mirip dengan kebenaran yang sejati (atau supaya terlihat sama dengan yang benar) dengan tujuan supaya orang yang tidak berhati-hati dan tidak berjalan di dalam kebenaran akan tertipu atau teperdaya.  Selain itu, karena disebut mengenai adanya “orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan,” hal ini berarti roh-roh jahat akan menyebarkan pengajaran sesat melalui medium manusia, baik yang mengaku sebagai anggota/aktivis gereja, atau pendeta yang katanya lulusan dari STT tertentu dan sedang melayani secara fulltime.

           Apakah Iblis dan roh-roh jahat akan secara jujur, terbuka, dan blak-blakan mengakui bahwa mereka sedang menyampaikan pengajaran palsu dan sedang berusaha memengaruhi sebagian orang supaya menjadi sesat?  Hell no!  Saya kira Iblis dan gerombolan roh jahat tidaklah se-bloon dan se-culun itu.  Karena memanfaatkan agent berupa orang (bisa dosen, pendeta, majelis, aktivis palsu), mereka akan beroperasi secara clandestine (tersembunyi dan rahasia) sebagaimana yang disingkapkan oleh kitab Yudas 4: “ . . . ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu” (“ . . . some ungodly people have wormed their way into your churches”; NLT).  Masih ingat kata “worm” di awal tulisan ini ketika membahas tentang lintah?  Ternyata kata itu ada konotasinya dengan cacing, sehingga maknanya bisa berarti merayap secara licin, mengendap secara rahasia, dan menerobos dengan senyap seperti cacing atau seperti lintah (bdk. NASB: “For certain people have crept in unnoticed”; “Beberapa orang telah menyelinap masuk tanpa terdeteksi”).  Jadi, manusia yang terpengaruh agenda demonik malah berperilaku bagaikan makhluk predator pengisap darah itu!  Ngeri bukan?

           Sebagai perbandingan: orang yang benar atau hidup dalam kebenaran tidak pernah sembunyi-sembunyi atau menutupi jati dirinya ketika masuk ke lembaga Kristen mana saja, dan orang benar tidak perlu masuk dengan metode menyelusup atau menyamarkan diri, sebab ia selalu terus terang dan terang terus.  Sebaliknya, orang yang tidak benar atau yang memiliki motif yang tidak baik akan menutupi atau menyembunyikan kepalsuan atau secret identity-nya.  Orang-orang semacam inilah yang akan masuk menyelusup secara diam-diam, rahasia, senyap, dan tidak terpantau ke tengah gereja atau lembaga tertentu, dengan maksud dan motif satanis berusaha memengaruhi untuk menyesatkan atau menipu.  Bagaimana caranya orang sejenis ini bisa masuk menyelusup ke tengah jemaat tanpa terdeteksi itulah “seni” yang bermuatan satanis, dan rupanya trik-trik busuk seperti ini banyak dan kerap kali dipraktikkan oleh bidat-bidat dan kalangan teologi ngawur, melalui cara mendatangi rumah/orang yang sudah Kristen, tentunya dengan motif mau “memuridkan” orang itu supaya mengikuti dan terpikat pada ajaran mereka.

           Jadi, agent atau orang yang menyamar itu biasanya menerapkan pola penyelusupan yang mirip cacing atau lintah: secara licin, misterius, merayap secara rahasia ke dalam tubuh kekristenan (gereja, STT, sekolah, yayasan, sinode, atau lembaga lainnya).  Mula-mula penyusup itu akan masuk ke sebuah institusi Kristen dengan sikap baik-baik, doktrin yang keliatannya OK, retorika yang memikat, dan penampilan yang meyakinkan.  Sebagian lagi tiba-tiba hadir sebagai orang kaya yang menyumbang secara generous dan gede-gedean sampai-sampai majelis gereja atau pengurus STT akan melotot dan matanya tiba-tiba berwarna “hijau” (kebetulan duit sumbangannya dollar atau greenbacks).  Lalu, tidak lama kemudian orang itu diberi kesempatan bersaksi, ikut kepanitiaan ini-itu (maksudnya, supaya dia nyumbang lagi), dan belum setahun sudah diangkat sebagai majelis atau minimal diaken.  Kelanjutan ceritanya kita sudah tahu ujung-ujungnya.

           Pendeta A. W. Tozer pernah menegaskan: “Throughout the whole world error and truth travel the same highways, work in the same fields and factories, attend the same churches, fly the same planes and shop in the same stores.  So skilled is error at imitating truth, that the two are constantly being mistaken for each another.  It takes a sharp eye these days to know which brother is Cain and which is Abel” (“God Would Save Us from Spiritual Delusion”; Evenings with Tozer: Daily Devotional Readings [Chicago: Moody, 1981] September 23).  Maksudnya, yang namanya kesesatan dan kebenaran akan berjalan bersamaan, dan keduanya tampak mirip sekali.  Yang sesat akan berusaha semaksimal mungkin melakukan imitasi (peniruan) terhadap yang benar sampai-sampai orang sederhana yang kurang teliti mata dan pikirannya akan sulit membedakan mana sosok Kain (yang melambangkan kepalsuan) dan mana Habel (yang melambangkan kebenaran).

           Pertanyaannya adalah: apakah kita sebagai orang Kristen, atau apalagi pimpinan gereja/seminari dapat mengenali yang palsu dan membedakannya dengan yang benar?  Perbedaan ini memang sulit untuk dideteksi, terutama bila hanya melalui satu peristiwa/perjumpaan atau satu kebaktian saja.  Tetapi lambat laun akan terdeteksi, karena yang palsu hanya dapat meniru sesaat atau sejangka waktu (kecuali yang betul-betul lihai dan licik seperti Yudas), danmereka tidak akan selamanya memberitakan Kristus, dan mereka akan tergoda untuk memberitakan yang lain.  Mungkin mereka sementara atau satu-dua kali akan memberitakan atau seolah-olah memberitakan Kristus, namun ujung-ujungnya mereka tidak memuliakan Allah dan tidak bersandar firman Allah, karena mereka meninggikan diri sendiri dan juga kuasa kegelapan yang ada di belakangnya.

           Apa yang pernah diceritakan oleh C. S. Lewis berikut ini patut disimak dengan baik.  Dalam salah satu karyanya ia mengisahkan adanya sesosok roh yang lebih senior, yang bernama Screwtape, menulis surat kepada sesosok roh yang lebih junior, yang bernama Wormwood.  Tema yang dipercakapkan adalah mengenai bagaimana menguasai pikiran manusia.  Sambil mengoreksi cara kuno yang dipakai Wormwood yang dikatakannya sebagai “naif,” Screwtape memberikan usul yang lebih “bijak” tentang cara memengaruhi jalan pikiran manusia: “Your man has been accustomed, ever since he was a boy, to have a dozen incompatible philosophies dancing about together inside his head.  He doesn’t think of doctrines as primarily “true” or “false,” but as “academic” or “practical,” “outworn” or “contemporary,” “conventional” or “ruthless.”  Jargon, not argument, is your best ally in keeping him from the Church.  Don’t waste time trying to make him think that materialism is true!  Make him think it is strong, or stark, or courageous—that it is the philosophy of the future.  That’s the sort of thing he cares about” (The Screwtape Letters [New York: Macmillan, 1961] 8).

           Itulah cara berpikir manusia natural di luar anugerah Tuhan: Selain terpengaruh segala macam filsafat zamannya, mereka tidak menyukai kebenaran, tetapi suka pada yang sifatnya memuaskan telinga mereka.  Mereka senang pada segala jenis jargon, yaitu segala macam istilah atau terminologi yang membingungkan dan tidak dimengerti tetapi pas dengan “frekuensi” telinga manusia sekarang.  Situasi ini dimanfaatkan benar oleh para pengajar palsu, televangelis palsu, dan pendeta Youtubers atau Instagrammers pengejar viewers/subscribers/followers (yang ujung-ujungnya mengejar popularitas, atau—yang ini sulit diakui—mengejar pemasukan).  Jadi, manusia modern atau jemaat gereja yang terobsesi dan suka pada yang rame-rame (sensasionalisme), yang ribut-ribut (kontroversialisme), yang tegang-tegang (polemikisme), yang heboh-heboh (trendisme), dan yang seru-seru (popularisme), akan tersihir dan terpikat oleh ajaran atau doktrin yang keliatan menarik yang disuguhkan oleh pengajar-pengajar palsu, yang jangan-jangan influencer di baliknya adalah roh Screwtape.

           Kita dapat melihat pada cukup banyak denominasi atau lembaga Kristen, pendeta atau pemimpin yang pintar ngomong, piawai berkomunikasi, lihai bersilat lidah, pandai memakai jargon, dan cekatan memanfaatkan isu atau situasi yang kontroversial dan sensasional; orang-orang itulah yang naik pangkat menjadi pimpinan, tanpa diperiksa doktrin, cara berpikir, dan kesetiaannya pada firman Tuhan.  Karena itu, ada gereja yang membiarkan saja orang-orang seperti itu memasuki jabatan dalam pelayanan, padahal ada ketidakkudusan dalam kehidupannya, terjadi perselingkuhan, keretakan dalam rumah tangga, tamak akan uang, terpuruk integritasnya, dan mulai memudar kehormatan dan nama baiknya.  Kalau sudah seperti ini pilihan gereja masa kini, bagaimana dengan masa depan kekristenan di Indonesia di tahun-tahun mendatang?

Penutup

            George Orwell (1903-1950), seorang novelis dan kritikus terkenal dari Inggris, pernah menulis begini: “The more society drifts from the truth, the more it will hate those that speak it” (“Semakin jauh masyarakat menyimpang dari kebenaran, semakin bertambah masyarakat yang akan membenci mereka yang membicarakannya” ; https://www.biography.com/people/george-orwell-9429833).  Menurut saya perkataan itu benar adanya.  Dengan demikian, apa yang yang saya tuliskan dalam artikel ini sangat mungkin kurang disukai di hadirat pihak-pihak tertentu, teristimewa oleh mereka yang entah sadar atau tidak sadar sudah menyimpang dari kebenaran.

            Tetapi coba periksa Alkitab Perjanjian Baru: tidak ada satu pun kitab di dalamnya (kecuali kitab Filemon) yang tidak berbicara atau tidak memberi peringatan tentang pengajaran sesat!  Kenapa bisa seperti itu?  Jawabnya adalah karena di setiap zaman atau tempat yang namanya kebenaran selalu akan diikuti atau disaingi oleh kesesatan atau kepalsuan (lihat saja: Mana ada barang bagus atau yang bermerek yang tidak dipalsukan?  Herannya, ada barang/merek yang jelas-jelas palsu justru laku keras dan disukai banyak orang, meskipun yang beli sudah tahu itu adalah barang/merek palsu).

           Hal ini berarti berbicara atau menyampaikan kebenaran sudah hampir pasti akan senantiasa diimitasi oleh manusia atau kuasa kegelapan.  Demikian pula hamba Tuhan yang membawa pemikiran yang benar akan berusaha disaingi oleh pemikiran yang kontennya kepalsuan dan kesesatan.  Periksalah apa yang terjadi di Taman Eden (Kej. 3): Iblis (yang mengendalikan ular itu) datang dan mencobai manusia pertama dengan pemikiran (yang menyesatkan); sama seperti itu Iblis yang mencobai Tuhan Yesus di padang belantara (Mat. 4) juga muncul dan berargumen dengan pemikiran (yang salah sama sekali).  Maka dari itu Paulus memberikan warning: “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya [yang tentunya harus pakai pemikiran, bukan?] yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus” (Kol. 2:8).

            Jadi, mengenai realitas dan fakta munculnya banyak pengajaran sesat sekarang ini, kita seharusnya tidak usah heran, sebab Tuhan Yesus pernah berkata: “Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya” (Mat. 18:7).  Kita juga tidak perlu heran bila di akhir zaman ini cukup banyak orang (atau bahkan pendeta) yang menjadi murtad, sesat, dan berbalik menyerang kekristenan (termasuk yang belakangan ini terjadi pada beberapa pengerja dan jemaat gereja).  Hal itu hanya membuktikan orang-orang itu tidak hidup dalam kebenaran, tidak pernah percaya kepada Kristus, atau tidak mantap penyerahannya pada Kristus.  Perkataan rasul Yohanes berikut patut disimak dengan baik: “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita.  Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita” (1Yoh. 2:19).

            Situasi ini juga merupakan kesempatan bagi gereja untuk lebih dimurnikan, bersedia dikoreksi, dan para pimpinan tubuh kekristenan perlu melakukan introspeksi dan pemeriksaan diri, apalagi kalau selama ini gereja kita hanya mementingkan hal-hal yang kurang esensial, mengabaikan pembinaan dasar-dasar iman, dan tidak ketat dalam penerimaan calon pengerja, terutama calon jemaat.  Sudah terlalu banyak gereja yang hanya terobsesi pada jumlah atau kuantitas pertambahan anggota gereja tanpa mempedulikan soal mutu atau kualitas iman jemaatnya.

           Maksud saya, beberapa tahun belakangan ini terlalu banyak gereja yang cenderung—mohon maaf—banting harga, secara kurang etis merebut domba jemaat lain, atau asal menerima anggota baru tanpa penyaringan yang ketat atau tanpa proses discipleship yang biblikal.  Lalu ada gejala ini juga dalam tubuh kekristenan: Hampir setiap denominasi membuka STT/seminari dengan kualitas yang ala kadarnya dan asal terima murid/mahasiswa dari mana-mana dengan kualifikasi sederhana (untuk tidak mengatakan: seadanya).  Bagi saya, gereja dan STT saat ini sedang menuai “perfect storm” akibat serangan kuasa kegelapan dengan konsekuensi akan semakin banyak kasus kandas iman atau perpindahan keyakinan/agama dalam pelbagai denominasi di tahun-tahun mendatang.  Heran sekali, kalau kita tidak dapat melihat tanda-tanda zaman ini!