Persoalan Anggota Gereja (Bahkan Pendeta) Yang Tiba-Tiba Pindah Agama

PENDAHULUAN

Belakangan ini santer diberitakan cukup banyaknya celebrity atau artis yang pindah agama atau pindah keyakinan, khususnya sebagian besar pindah ke agama mayoritas (https://www.idntimes.com/hype/entertainment/hilda-t/pindah-keyakinan-artis-artis-ini-dapat-nama-baru-yang-lebih-agamis-c1c2/4).  Kesannya, kepindahan ke agama mayoritas selalu mendapatkan porsi pemberitaan besar dan menarik perhatian khalayak ramai (“Mengapa Kita Selalu Tertarik Dengan Kabar Orang yang Pindah Agama?”; https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-46684918).  Sangat mungkin kepindahan atau perubahan keyakinan ke arah agama mayoritas adalah sebuah kebanggaan dan mungkin juga sejenis “kemenangan” sehingga dirasakan perlu disebarluaskan dan “dirayakan.”

           Bagaimana kalau yang terjadi adalah kebalikannya, yaitu ada yang pindah keyakinan dari agama mayoritas ke agama minoritas, seperti misalnya yang terjadi di negara Iran di mana cukup banyak warga di sana yang masuk agama Kristen (https://www.economist.com/middle-east-and-africa/2021/01/21/disenchanted-iranians-are-turning-to-other-faiths)?  Memang jumlahnya ternyata jauh lebih sedikit (paling tidak, sedikit pemberitaannya), tetapi jumlah yang sebenarnya bisa saja cukup banyak (“Why More Muslims Are Turning to Jesus”; https://www.newsweek.com/christianity-islam-turning-jesus-1446327).  Realitasnya, di negara-negara tertentu, kepindahan semacam itu boro-boro dirayakan, di-ekspos saja umumnya tidak berani, sebab bisa-bisa bukan kebanggaan yang didapat, malah yang datang adalah ancaman dari masyarakat luas (http://www.asianews.it/news-en/A-Pakistani-family-converted-to-Christianity-is-hounded,-victim-of-death-threats-35623.html), atau bisa juga taruhannya adalah risiko kehilangan nyawa bagi pemeluknya maupun anggota keluarga dekat atau jauh (http://www.fides.org/en/news/62973-ASIA_PAKISTAN_A_woman_converts_from_Islam_to_Christianity_now_she_and_her_family_risk_their_lives).

           Bagaimana pula bila yang pindah agama itu adalah anggota gereja, aktivis, majelis/penatua, mahasiswa teologi, atau bahkan pendeta?  Nah, inilah kebingungan dan sekaligus pertanyaan yang berkali-kali disampaikan kepada saya akhir-akhir ini, yaitu adanya info santer pada beberapa kasus pendeta, guru injil, mahasiswa teologi, atau majelis/aktivis jemaat yang berubah keyakinannya.  Realitas ini bukan cuma membuat kalangan orang awam bertanya-tanya, tetapi juga mereka bingung dan sebagian lagi tawar hati (untuk tidak mengatakan: shocked), teristimewa bila kasus yang berubah agamanya adalah pendeta atau dosen di seminari yang sudah bertahun-tahun melayani secara fulltime (contoh dari luar negeri, misalnya, Paul Maxwell, seorang kontributor Desiring God dan bekas dosen filsafat fulltime di Moody Bible Institute, sebuah STT injili di Amerika Serikat, tiba-tiba berubah keyakinan dan secara mengejutkan mengumumkan dirinya bukan lagi orang Kristen; https://churchleaders.com/news/394316-former-desiring-god-writer-paul-maxwell-renounces-his-christian-faith.html).  Koq bisa ya jadi kayak gitu?—itulah kira-kira reaksi kaget sebagian kalangan jemaat atau orang Kristen.  Bukankah mereka umumnya adalah lulusan sekolah teologi yang rata-rata terbina dengan baik dan sebelum dipendetakan (atau diangkat jadi professor) sudah melalui pemeriksaan, pengujian, dan percakapan di tingkat jemaat, klasis, dan sinodenya?

           Memang semestinya tidak demikian, oleh karena idealnya adalah seorang pendeta yang dididik di sebuah teologi injili, ya seharusnya melayani dan mengajarkan teologi injili terus-menerus; seorang pendeta yang terbina dengan ketat dalam STT yang diem-diem atau terang-terangan mengajarkan teologi liberalisme atau neo-ortodoks, ya sampai seumur hidupnya konsisten menyuarakan keyakinannya; seorang pendeta yang tercetak dan “lulus dengan super cepat” (sebab kuliah seluruhnya cuma kira-kira tiga atau enam bulan saja) dalam STT yang beraliran teologi sukses, ya diharapkan tetap teologinya seperti itu sampai akhir zaman.

           Idealnya juga, bila ada seorang aktivis jemaat yang sudah ikut katekisasi, dibaptis/sidi, ikut persekutuan cell-group dan pembinaan dasar, bahkan sudah dipercaya sebagai ketua komisi/anggota majelis, seharusnya tetap setia beribadah dan melayani di gereja asalnya sampai tua.  Namun, dalam kenyataannya, yang terjadi sekarang ini tidak demikian: cukup banyak pendeta (juga guru injil, mahasiswa teologi, majelis, atau aktivis jemaat) yang berubah-ubah orientasi doktrinnya (karena sangat mungkin pikirannya “dibombardir” oleh rupa-rupa angin pengajaran yang bertubi-tubi dari konten media digital), lalu terdengar nyaring berita hebohnya: yang bersangkutan tiba-tiba pindah agama atau pindah keyakinan (misalnya, menjadi ateis, karena barangkali ia yakin ateisme lebih meneduhkan bagi hati nuraninya, atau bisa juga, ateisme sekarang sudah menjadi “agama” barunya).  Sekali lagi, info mengejutkan itu membuat orang awam atau jemaat kebanyakan merasa bingung, bertanya-tanya, atau lebih tepatnya, mempertanyakan kenapa bisa sekonyong-konyong seperti itu.

            Di dalam tulisan ini saya mencoba mengangkat dua kemungkinan yang menjadi penyebab seseorang dapat berpindah keyakinannya.  Saya memakai kata “kemungkinan” dengan pengertian walaupun ada banyak sebab yang dapat dianalisis, namun penyebab sebenarnya belum tentu persis salah satu saja yang menstimulir seseorang menjadi berubah atau pindah agama.  Ada kemungkinan beberapa sebab terjadi sekaligus, atau bisa juga ada sebab yang terselubung, yang tidak terucapkan, atau yang sulit dianalisis, kecuali orang yang mengalaminya secara jujur terbuka atau secara blak-blakan (telling all the facts) menulis buku, artikel tentang perpindahannya, atau paling sedikit menuturkan kisah atau kesaksian yang dapat didengar dengan gamblang.  Jadi, istilah “kemungkinan” tidak berarti saya ragu-ragu mengenai poin yang akan dibahas berikut ini, tetapi lebih kepada adanya macam-macam ragam kemungkinan yang tersirat, tersembunyi, dan tidak terungkapkan pada kasus tiap orang.

PINDAH AGAMA KARENA INGIN TERLEPAS DARI PERGUMULAN YANG TIDAK ADA JALAN KELUARNYA

            Mantan dosen saya di Trinity Evangelical Divinity School, Scot McKnight, pernah menulis sebuah artikel yang berjudul “From Wheaton to Rome: Why Evangelicals Become Roman Catholic?” (Journal of the Evangelical Theological Society 45/3 [September 2002] 451-472).  McKnight mengamati cukup banyaknya orang injili di Amerika Serikat waktu itu yang berubah pengakuan imannya dan pindah keyakinan menjadi penganut Katolik Roma.  Yang menarik adalah perubahan iman itu bukan hanya dialami oleh orang awam di gereja, tetapi juga ada beberapa orang yang disebut oleh McKnight sebagai lulusan teologi atau bahkan pelayan Tuhan atau pendeta dari sekolah teologi injili.  Di antaranya ada yang bernama Marcus Grodi dan Scott Hahn, keduanya adalah lulusan dari Gordon-Conwell Theological Seminary, sebuah seminari injili yang sangat baik ajarannya di South Hamilton, Massachusetts, Amerika Serikat.  Tiga orang lainnya, yang bernama David Palm, Richard White, dan Vaughn Treco, adalah bekas murid McKnight sendiri dan ketiganya pernah menempuh pendidikan teologi di Trinity Evangelical Divinity School, sekali lagi, ini adalah sebuah seminari injili yang sangat terkenal di Deerfield, Illinois, Amerika Serikat.

            Setelah meneliti kisah perpindahan keyakinan mereka dan konteks yang melatarbelakangi perubahan tersebut, McKnight kemudian membuat sebuah analisis mengenai sebab utama yang memicu perubahan tersebut.  Menurutnya, adanya sebuah “desire for transcendence” itulah yang menjadi sebab utamanya.  Yang ia maksudkan adalah adanya sebuah krisis yang dialami seseorang yang disebabkan oleh pelbagai pergumulan sehingga menuntun orang itu untuk melakukan “pencarian” yang arahnya menuju pada perubahan religius.  Tetapi, lebih dari itu, hasrat untuk mentransendentalisasikan diri itu adalah “a crisis about the limitations of the human condition and a desire to go beyond the human experience” (h. 460).

           Inilah kecenderungan manusia sejak Taman Eden (Kej. 3) hingga sekarang masih tetap sama, yaitu manusia berusaha mengatasi pergumulan yang ada di hadapannya melalui jalan keluar yang menurutnya paling menyenangkan dan meyakinkan.  Dengan kata lain, bila menjumpai kesulitan yang besar, manusia akan berupaya melepaskan dirinya dari keterbatasan naturnya sebagai manusia, melalui jalan keluar membuang jauh-jauh limitasi yang ada pada dirinya, lalu “meloncat” memasuki sebuah dimensi natur yang menurutnya adalah natur yang ideal.

           Inilah pergumulan yang akan dihadapi setiap orang, terutama bila ia sedang mengalami krisis iman (sehubungan dengan sakit yang tidak sembuh-sembuh, masalah ekonomi yang mandek, kekecewaan dalam pekerjaan, kepahitan dalam lingkup pelayanan, problem rumah tangga yang semakin kisruh, dan persoalan hidup lainnya).  Dalam situasi pergumulan semacam ini, godaan terbesar bagi setiap orang adalah ia ingin menemukan jalan keluar atau kelepasan, sekaligus ia ingin dapat go beyond untuk memasuki suatu dimensi pengalaman yang lebih baru, lebih menjanjikan, lebih hebat, lebih “bisa begini-bisa begitu,” lebih berotoritas, lebih sakti, dan lebih meyakinkan.  Kecenderungan mengalami transendentalisasi diri jenis ini adalah sebuah kebutuhan yang sedari Taman Eden sampai sekarang tidak akan pernah berhenti ada pada setiap manusia, apalagi kalau manusia itu (baca: anggota gereja atau pendeta itu) tidak terkenal atau kurang populer, dan ia tergoda ingin menjadi seseorang yang terkenal dan populer dengan lingkungan baru yang penuh kemenangan.

            Lalu, apa yang dimaksud dengan natur yang tidak ideal?  Natur yang tidak ideal adalah natur yang penuh dengan sakit-penyakit, kekalahan, penolakan, kebangkrutan, kemandekan, kekecewaan, kepahitan, konflik, kekurangan, paceklik, penderitaan, masalah perkawinan, dan pergumulan yang sulit dikatakan secara terus terang (misalnya, ia tergoda ingin cepat kaya; ia rindu berpoligami atau kawin lagi dengan perempuan yang lebih muda, dan keinginan-keinginan tersembunyi lainnya).  Sebaliknya, meskipun tidak diucapkan, cukup banyak orang (dan tentunya termasuk pendeta) rindu memiliki natur yang ideal, yang lancar, penuh kesuksesan, dan selalu jaya sentosa.  Sebab apa?  Sebab kebutuhan untuk menjadi hebat, berhasil, terlihat saleh dan sakti, dan membuat banyak orang terpesona adalah kebutuhan yang menggoda setiap orang, khususnya bagi mereka yang sedang jauh dari Tuhan dan yang semakin hari semakin tidak tunduk kepada otoritas firman-Nya.

            Penulis selalu merasa bahwa akar permasalahan yang menjadi sebab seseorang dapat berpindah keyakinannya adalah mulai mengendurnya atau tidak adanya penghargaan atau penundukan diri orang itu terhadap otoritas firman Tuhan.  Jangan salah mengerti: Yang saya maksudkan bukanlah sekadar membaca Alkitab di rumah atau seperti pendeta gereja Protestan membaca Alkitab di mimbar sebelum berkhotbah.  Yang lebih penting adalah penghargaan dan penundukan diri terhadap firman yang dihidupi dan berurat akar secara nyata dalam kehidupan sehari-hari dan pelayanan.  Letaknya Alkitab seharusnya ada pada posisi di atas orang itu, bukan sebaliknya ada di bawah orang itu.  Dengan demikian, otoritas Alkitab menjadi hidup dan memiliki efektivitas di atas kehidupan dan pelayanan orang itu.  Bagi mereka yang secara sadar atau tidak bersikap anti terhadap otoritas Alkitab, mereka secara perlahan-lahan sebetulnya sedang berusaha membangun otoritas diri sendiri untuk menuju pada taraf transendentalisasi diri yang keberadaannya dianggap infallible dan tidak dapat diganggugugat.  Apakah posisi semacam ini yang memang diinginkan oleh beberapa pendeta atau orang yang ingin mandiri tersebut?

            Karena itulah, apabila kita memperhatikan isi Alkitab secara seksama, berkali-kali di dalamnya dapat dijumpai peringatan mengenai bahaya ajaran sesat atau palsu.  Rasul Paulus misalnya pernah mengatakan “awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu” (“watch your life and doctrine closely”; 1Tim. 4:16a).  Hal ini berarti cara dan prinsip seseorang menjalani kehidupan ini adalah sama pentingnya dengan apa yang dipercayai dan dipegangnya sebagai ajaran yang sehat.  Jikalau benar bahwa inilah waktunya, yaitu di akhir zaman ini “ . . . orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat” (2Tim. 4:3) dan mereka berusaha membangun otoritas mereka sendiri yang pada dasarnya adalah bukan kebenaran, kita yang setia kepada Kristus dan firman-Nya haruslah lebih berhati-hati menjalani kehidupan ini sambil berjaga-jaga terhadap segala situasi kehidupan, kebutuhan, keinginan tersembunyi, dan terutama godaan untuk melampaui keterbatasan natur kita sebagai manusia yang sesungguhnya memang ada batasnya.

PINDAH AGAMA KARENA YANG BERSANGKUTAN TIDAK JELAS PERTOBATANNYA

           Ketika membahas mengenai pertobatan Zakeus dari Lukas 19, Wyndy Corbin Reuschling secara tidak langsung memberikan sebuah uraian yang baik tentang tema itu: “Conversion is a word that describes an experience of change, or a turnaround in belief, attitudes, and behavior.  It may involve the rejection of one set of religious beliefs and practices, or no belief, and the adoption of another.  It may entail a drastic reversal of direction in favor of a new way of life or something more gradual.  In Christian theology, conversion is a term used to describe various elements and aspects of a person’s encounter with Christ that result in an awareness of sin, an acceptance of Christ’s work on the cross, and a response of saving faith in Christ as fundamental aspects of being converted, or turning from one way of life and accepting the new life which Christ offers.  A person is therefore, converted, or changed in the past tense” (“Zaccheus’s Conversion: To Be or Not To Be a Tax Collector,” Ex Auditu 25 [2009] 78 [penegasan dengan huruf tegak dari saya]).

           Artinya, setiap orang percaya yang sudah bertobat di masa lalu kehidupannya, ia memiliki pengalaman perubahan yang drastis pada jalan hidupnya, yaitu menjalani hidup yang baru di dalam Kristus.  Tampak jelas bahwa pertobatan yang biblikal selalu berhubungan dengan adanya sebuah perubahan dalam hati manusia, yang berakibat pada perubahan kepercayaan dan juga perilaku serta jalan hidup seseorang.  Jadi perubahan tersebut bukan hanya sebuah perpalingan dari dosa atau dunia yang dikuasai si jahat, tetapi juga sebuah perpalingan kepada sebuah jalan hidup baru yang ditawarkan dan inisiatifnya dikerjakan oleh Kristus, bukan sebuah kemauan atau prakarsa yang datang dari manusia.

           Dengan demikian, pertobatan yang sungguh terjadi pada seseorang tidak bisa hanya berdasarkan ucapan saja: “Saya sudah bertobat” atau “Aku telah percaya kepada Kristus.”  Alkitab memberikan banyak contoh adanya pribadi atau tokoh yang memberikan pengakuan bernada pertobatan, tetapi tidak ada perubahan apa-apa pada kehidupan mereka secara luar-dalam.  Kita dapat melihat misalnya ada yang dapat mengucapkan: “Aku telah berdosa” atau “I have sinned,” seperti yang diucapkan oleh Firaun (Kel. 9:27), Bileam (Bil. 22:34), raja Saul (1Sam. 15:24), dan Yudas Iskariot (Mat. 27:4).  Setelah mengucapkan kalimat yang bernada pertobatan tersebut, Firaun tetap mengeraskan hati (Kel. 9:34), Bileam malah bercabang hatinya dan akhirnya mendorong umat Israel menyembah berhala (Bil. 31:16), raja Saul tetap saja tidak tulus hatinya karena pengakuan tersebut didasari perasaan “takut kepada rakyat,” bukan takut kepada Tuhan (1Sam. 15:24), dan Yudas sebenarnya hanya menyesal saja, bukan bertobat (Mat. 27:3).  Apakah arti semuanya ini?  Artinya, Alkitab dengan gamblang menceritakan bahwa ada orang yang dari luar kelihatannya saja bertobat, padahal dalam hatinya tidak terjadi perubahan apa-apa.

           Pada butir ini gereja harus sadar akan hal ini dan melakukan penyaringan yang ketat pada calon jemaat, apalagi pada calon pengerja (khususnya pada waktu hendak mengundang seorang calon pendeta atau penatua tugas khusus).  Penyaringan yang dimaksud adalah penelitian tentang iman dan pengalaman pertobatannya sebagai langkah awal ketika sang calon menjadi Kristen, lalu dilihat apakah ia (berdasarkan kesaksian/rekomendasi dari orang dekat atau rekannya di jemaat) memiliki pertumbuhan rohani yang stabil yang terlihat pada karakter atau tabiat yang semakin hari semakin serupa Kristus, dan terakhir, dilihat apakah ia adalah seorang yang memiliki ketaatan pada Tuhan dan firman-Nya.

           Unsur ketaatan (obedience) inilah yang ditekankan oleh David A. Croteau ketika ia meneliti mengenai konsep pertobatan pada saat membahas Yohanes 3:36: “Obedience is presented as a natural result of one who believes.  Therefore, the Evangelist’s portrayal of people’s belief can be known by their actions of obedience or disobedience to Jesus.  Part of a correct understanding of repentance relates to this: one aspect of repentance is the changing of one’s actions in order to line up with God’s Word.  This is very similar to obedience.  Therefore, while obedience and repentance are not synonyms, nor nearly synonymous, obedience in 3:36 is a result of belief, and it is also a result of repentance” (“Repentance Found?: The Concept of Repentance in the Fourth Gospel,” The Master’s Seminary Journal 24/1 [Spring 2013] 114).  Artinya, bila mau diperiksa apakah sebagai pelayan jemaat ia sungguh jelas mengenai pertobatannya, lihatlah kehidupan rohaninya pada aspek ketaatan pada Kristus dan firman-Nya, sebab sangat mungkin terdapat calon pendeta atau calon pemimpin yang cuma secara lahiriah saja kelihatannya bertobat, tetapi hatinya tidak berubah.

           Apalagi, di Indonesia atau luar negeri sama saja, yaitu sekarang ini cukup banyak STT yang berubah wujud menjadi universitas, STFT, atau paling sedikit, dikelola layaknya bagaikan universitas dengan penekanan kriteria akademik secara optimal, sambil pada saat yang bersamaan mulai mengabaikan (dan sebenarnya: tidak mementingkan) penyaringan soal kelahiran kembali atau pertobatan calon mahasiswanya.  Kalau STT yang noninjili sih, sudah tidak usah dikata lagi: memang dari zaman dahulu sudah seperti itu, yakni tidak ada penyaringan atau pemeriksaan soal pertobatan pribadi atau kesaksian kelahiran kembali.  Artinya, para calon pendeta yang dididik di sana untuk strata S1-S3 menjalani pendidikan teologinya tidak terlalu berbeda dengan perkuliahan sebagaimana profesi sekular lainnya di universitas negeri atau swasta.

           Tetapi saya sudah mendengar ada STT yang injili sudah ketepa mulai menomorduakan urusan latar belakang pertobatan dan kelahiran kembali calon mahasiswanya.  Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh fakta enrollment (pendaftaran calon mahasiswa) yang menurun atau karena target jumlah pelulusan yang telah dipatok dalam rencana strategis STT yang bersangkutan harus terpenuhi, sehingga urusan kualitas atau penyaringan yang biasanya ketat secara halus diubah menjadi lebih simpel, lebih cepat, dan lebih kurang ketat.  Misalnya, soal perubahan lifestyle (perilaku sehari-hari) seseorang pasca-pertobatan, dibuat sedemikian simpel: asal calon itu keliatan baik, penampilan alim/kalem, atau bahasanya santun, ia dianggap sudah lulus screening serta dinilai sudah cukup memadai untuk diterima sebagai mahasiswa, apalagi kalau yang mendaftar itu adalah anak pendeta, anak alumnus, atau anak pendukung utama.

           Padahal perubahan lifestyle seseorang setelah percaya dan bertobat adalah sangat penting dan esensial.  Jikalau betul seseorang sudah bertobat, hal itu paling sedikit harus terlihat pada lifestyle yang berubah, karena hal itu adalah unsur yang paling basic dari perpalingan seseorang pada Kristus.  David G. Kibble benar ketika ia berbicara tentang kriteria masuk kerajaan Allah dari Tuhan Yesus: “The message of Jesus, then, was that entering the kingdom involved a change in lifestyle; it necessitated not just some form of intellectual assent or emotional experience but a change in behaviour and lifestyle—repentance” (“On Preaching the Need for Repentance,” Currents in Theology and Mission 41/5 [October 2014] 344).

           Maka penyaringan mengenai perubahan behaviour dan lifestyle amat sangat penting, sebab pertobatan yang sungguh akan sangat berbeda dengan perasaan bertobat.  Sekali lagi, di dalam Alkitab ada kisah tentang orang-orang yang kelihatannya bertobat, namun sebenarnya bukan.  Ada orang menyangka dirinya telah bertobat oleh karena adanya rasa takut atau teror (seperti kasus raja Saul); ada orang hanya berusaha menyelesaikan dosa secara pribadi tanpa campur tangan Kristus dan menyangka dirinya telah bertobat (kasus Yudas); ada orang menyangka dirinya telah bertobat melalui cara meninggalkan satu atau dua kebiasaan buruknya yang berhubungan dengan dosa tetapi pada hakikatnya hatinya tidak bertobat (kasus Bileam).

           Sebaliknya, menurut Paul Barnett, setelah seseorang benar-benar mengalami pertobatan, yang pertama-tama harus terlihat adalah perubahan pada hatinya.  Contoh kasus pertobatan Saulus menjadi Paulus adalah contoh klasik karena di sana terlihat “Paul’s conversion was not denominational, but rather deeply personal, changing his very heart and his behaviour from the inside out” (“The Conversion of an Australian and Saul of Tarsus,” Crux 45/2 [Summer 2009] 28).  Setelah terjadi perubahan pada hati seseorang, wujud pertobatan yang terlihat secara lahiriah adalah kerendahan hati dan kerelaan yang bersangkutan untuk bersedia menerima pengajaran, sebagaimana yang dikatakan Barnett: “The indispensible pre-condition of conversion is teachability, [and] humility.  Unless you become like little children, said Jesus, you will never enter the kingdom of God” (h. 29).  Lebih dari itu, jika betul ia sudah berubah, orang yang bertobat itu akan terbuka untuk dikoreksi atau ditegur oleh firman Allah, dan terbuka untuk memeriksa diri bila ia ditegur oleh sesama saudara seiman.

           Sedangkan, jikalau seseorang tidak jelas iman atau pertobatannya, ia akan semakin kritikal dan anti kebenaran firman Tuhan dan, perlahan-lahan tetapi pasti, rasionya yang naturalistik akan secara radikal bertentangan dengan kebenaran Allah.  Kepada jemaat di Roma rasul Paulus mengingatkan adanya orang-orang seperti itu (1:30, “pembenci Allah”), dan yang tidak segan-segan “menindas kebenaran dengan kelaliman” (1:18).  Mereka yang tidak jelas pertobatannya akan diam-diam memusuhi Allah dalam hati dan pikiran (Kol. 1:21; bdk. Mzm. 2:1-3 yang melontarkan pertanyaan bernada sama seperti kelakuan manusia di atas).  Pendeknya, manusia berdosa selalu berprasangka buruk terhadap Allah.  Mereka meninggikan humanitas, meremehkan masalah kerohanian, menghimbau manusia untuk meninggalkan pola hidup yang teistis, dan anehnya, ada yang mengaku sudah Kristen, bahkan menjadi dosen atau pendeta, tetapi malah menyerang dan merendahkan iman Kristen melalui khotbah dan pengajarannya.  Ini adalah pertanda adanya kemungkinan orang itu belum mengalami pertobatan, sekalipun ia ada dalam pelayanan di gereja atau STT yang berteologi injili.

           Pada bagian ini ada baiknya kita menyimak secara ringkas perubahan yang terjadi pada seorang scholar PB yang bernama Eta Linnemann.  Selama bertahun-tahun mengajar dan berpegang pada metode historical biblical criticism yang anti terhadap Alkitab dan teologi injili, ia dari awalnya memang pernah belajar di bawah dan terpengaruh oleh tokoh PB yang berteologi neo-ortodoks, yaitu Rudolf Bultmann (1884-1976).  Menurut Luke L. Keefer, Linnemann mengalami sebuah perubahan radikal setelah mengalami pertobatan yang dramatis pada Kristus (“What is Conversion?,” Brethen in Christ History and Life 30 [April 2007] 72-73).  Setelah itu ia mulai mempertanyakan dan mengoreksi doktrin dan pengajaran Bultmannian yang menjadi andalannya selama bertahun-tahun (lih. Eta Linnemann, Historical Criticism of the Bible: Methodology or Ideology? [tr. Robert Yarbrough; repr. Grand Rapids: Kregel, 2001]).  Hal ini berarti pertobatannya mengarahkan hidupnya pada jalan yang lebih biblikal dan konservatif.

           Singkat cerita, sesudah mengalami yang pergumulan berat, ia akhirnya memutuskan meninggalkan doktrin yang dipelajarinya di masa lalu, serta sekaligus meninggalkan karir cemerlangnya di Jerman.  Keefer mencatat demikian: “This change in scholarship brought about a further vocational choice.  Could she continue to teach in an educational system that fostered doubt in those who were being trained for ministry?  She decided she could not and resigned from her teaching position.  Subsequently, she followed the leading of the Lord to a Bible school in Indonesia, where pastoral candidates were being trained to proclaim the gospel” (h. 73).  Jadi, setelah bertobat, Linnemann pindah karir mengajar ke sebuah “Bible school in Indonesia,” yaitu STT-I3 di kota Batu pada tahun 1983 pada usia 60.

           Saya rasa Scot McKnight benar, ketika sedang membahas secara panjang lebar kasus pertobatan rasul Paulus, ia memberikan sebuah butir yang bagus tentang orientasi kehidupan selanjutnya dari orang yang benar-benar mengalami pertobatan.  Menurutnya, pertobatan yang benar-benar terjadi harus ada unsur “From What to What (“Was Paul a Convert?,” Ex Auditu 25 [2009] 124).  Maksudnya, unsur from-what-to-what ini adalah sebuah orientasi ke arah yang positif, biblikal, dan restoratif.  Artinya, bila seseorang sebelum bertobat adalah ateis, mestinya setelah bertobat ia menjadi teis.  Dalam kasus rasul Paulus, ia yang sebelumnya adalah seorang yang berlatar belakang buruk dan negatif, yakni sebagai penganut radikalisme dalam Yudaisme dan bahkan penganiaya jemaat Tuhan (melakukan kekerasan dengan tujuan menghancurkan gereja Tuhan), sekarang setelah bertobat, unsur “from what to what”nya jelas, yaitu ia menjadi pengikut Kristus yang positif, dinamis, kreatif, dan yang melayani Kristus dengan sepenuh hati (h. 129-130).  Inilah yang disebut McKnight sebagai “institutional transition” (h. 131).  Pindah karir atau pindah institusi sejenis inilah yang dialami oleh Eta Linnemann.

           Kiranya pengalaman pertobatan, perubahan pengajaran ke arah doktrin injili, dan perpindahan karir Linnemann (yang tadinya mengajar di institusi yang anti-Alkitab dan kemudian pindah ke seminari yang injili), dialami juga oleh rekan-rekan pendeta dan dosen di Indonesia yang sekarang ini sedang melayani di jemaat atau STT yang menentang finalitas Kristus dan anti terhadap bibliologi yang sehat.  Kiranya rasio dan hati nurani mereka diubahkan untuk melayani Kristus secara positif, dinamis, dan benar secara biblikal.

PENUTUP

           “Appearance can be deceiving” (Penampilan dapat menipu/menyesatkan), demikian pepatah yang sering kita dengar.  Maka, apabila suatu kali kita mendengar berita yang heboh tentang seorang pendeta, majelis, mahasiswa teologi, atau aktivis gereja yang tiba-tiba berhenti menjadi pendeta atau bahkan berhenti sebagai orang Kristen, lalu yang bersangkutan pindah keyakinan (misalnya, menjadi ateis) atau pindah agama (merangkul salah satu agama lain yang dianggapnya lebih pragmatis atau cocok bagi dirinya), hal itu hanya memperlihatkan bahwa yang bersangkutan memutuskan jalannya sendiri di tengah krisis dan pergumulannya ke arah yang menurutnya lebih aman, menyenangkan, atau menjanjikan.  Selain itu, perpindahan tersebut hanya menunjukkan bahwa yang bersangkutan tidak pernah berakar atau beriman dengan benar kepada Kristus, dan bahwa dirinya sejatinya bukan real disciple of Jesus.

           Karena itu, gereja jangan hanya terfokus pada target penambahan anggota gereja, lalu mengabaikan kualitas penginjilan, kelahiran kembali, pemuridan, dan pembinaan dasar jemaat baru.  Gereja atau seminari jangan terlalu cepat percaya dan merekrut seorang lulusan STT, guru injil, pendeta, atau bahkan dosen teologi hanya dengan melihat penampilannya yang baik atau rupawan, kepandaian berbicaranya, karisma kepribadiannya, atau otoritas penguasaan materi yang disampaikannya.  Jangan mudah terkecoh apabila ada pendeta (atau pendeta-pedagang, yaitu pedagang yang merangkap sebagai pendeta; pendeta-celebrity, yaitu celebrity yang membungkus tampilan sebagai pendeta, sebagaimana yang banyak dapat juga kita jumpai di Indonesia atau luar negeri sekarang ini) yang pesonanya menarik, sopan, lembut, santun, dan tampaknya sering sedikit-dikit mengucapkan kalimat-kalimat yang sangat rohani.

           Singkatnya, penampilan lahiriah bukan ukuran untuk menilai seseorang karena orang yang bertujuan menipu akan sangat mungkin menyamar atau ber-acting seperti itu.  Periksalah dari kitab suci apakah ada yang bertentangan dengan firman Allah pada diri, karakter, perkataan, pengajaran, kehidupan, keluarga, dan pelayanan orang itu selama sejangka waktu.  Telitilah apakah mereka meninggikan Kristus dan tunduk kepada firman-Nya.  Perhatikan apakah hidup mereka sehari-hari berselarasan dengan moralitas dan keluhuran firman Allah.  Dengan perkataan lain, firman Tuhan harus menjadi penuntun dan pedoman kita yang otoritatif, bukan penampilan lahiriah, kepintaran retorika, apalagi jumlah followers atau subscribers di media digital!