Puncak Kemenangan Kristus Di Kayu Salib (Yohanes 19:30)

Awal April 1918, 20 orang pesumo (rikishi) mendarat di Taiwan (koloni Jepang waktu itu) untuk mengadakan eksibisi.  Setelah beberapa hari di sana, semua pegulat yang berbadan tambun dan sentosa itu menderita demam, bahkan sebagian dirawat di rumah sakit.  Lewat sekian hari, tiga pegulat meninggal dunia (dua lagi menyusul kemudian), termasuk pesumo terkenal dari Tokyo yang bernama Komusubi Masagoishi yang meninggal dalam perawatan di Taichung.  Gejala-gejala yang menyertai sakitnya para petarung berpenampilan subur itu adalah bronchitis, pneumonia, colitis (peradangan usus besar), dan satu lagi, influenza.  Lalu, penyakit itu—sempat pada awalnya disebut “Sumo Flu”—dengan cepat berjangkit dan menyebar ke mana-mana, termasuk ke Jepang.

            Benar dugaan anda: itu adalah bagian dari penyebaran pandemi Spanish Flu yang beredar ke seluruh dunia antara Maret 1918 sampai Agustus 1919.  Berbeda dengan COVID-19 yang menyebar sekarang ini (yang umumnya menyasar lansia atau 60 tahun ke atas), flu burung H1N1 waktu itu (selain sama-sama menyerang orang kaya-miskin, laki-perempuan, kulit putih-kulit berwarna) justru kebanyakan menginfeksi dan mematikan bagi orang dewasa usia produktif, yaitu yang berumur antara 20-50 tahun.  Hal itu berarti banyak anak kecil kehilangan ayah, ibu, atau keduanya.  Konon flu ini juga merenggut nyawa Frederick Trump (kakek dari Donald J. Trump, presiden yang lengser dengan non-legowo itu) yang meninggal 30 Mei 1918 di usia 49.

           Mereka yang terjangkit virus itu sekujur badannya menjadi biru kehitaman, kemudian mengalami demam 40-41 derajat Celcius.  Pada puncaknya penderita akan batuk tiada henti dan disertai sesak napas hingga paru-paru mereka tenggelam oleh cairan tubuh mereka sendiri.  Dengan kondisi seperti ini, dalam hitungan jam, kematian datang dengan cepat dan mengerikan.  Sepertiga populasi dunia atau 500 juta orang terinfeksi dan diperkirakan secara global 100 juta orang kehilangan nyawa, jauh lebih banyak dari yang mati secara gabungan pada Perang Dunia I dan II (lih. data dari Laura Spinney, Pale Rider: The Spanish Flu of 1918 and How It Changed the World [London: Jonathan Cape, 2017]).

            Situasi traumatis inilah—dengan kematian yang merambah dan merajalela di mana-mana—yang membuat banyak orang di seluruh dunia tidak mau membicarakan tentang pandemi ini pada tahun-tahun setelah daya jangkitnya berakhir.  Selain tidak ada monumen peringatan mengenai peristiwa dan korban, para dokter, perawat, majalah, surat kabar, dan penerbitan literatur, amat jarang berkisah atau memuat tulisan tentang wabah tersebut.  Maka dari itu, sebelum virus corona muncul sekarang ini, bila ada yang bertanya: Apa penyebab kematian manusia yang terbesar di abad 20, hampir tidak pernah ada yang menyebut Spanish Flu, padahal menurut Spinney: “It was the greatest tidal wave of death since the Black Death, perhaps in the whole of human history.”  Apa artinya?  Artinya, sejarah kelam satu abad yang lalu telah berubah dan diberi julukan “the forgotten flu,” dan karena itu, masih mengutip Spinney: “The Spanish flu is remembered personally, not collectively.  Not as a historical disaster, but as millions of discrete, private tragedies.”

            Inilah perbedaan yang amat mencolok antara peristiwa Spanish Flu (satu abad yang lalu) dengan peristiwa penyaliban Tuhan Yesus (20 abad yang lalu), sekalipun keduanya memiliki esensi yang sama topiknya, yaitu kematian.  Yang satu hendak dilupakan, yang satu lagi justru harus diingat dan menjadi hari peringatan yang paling penting dalam kalender gereja Kristen.  Yang satu telah berubah menjadi amnesia kolektif (pelupaan berjamaah atau beramai-ramai), yang satu lagi justru harus menjadi perenungan serius orang percaya.  Yang satu telah berusaha direpresi atau dibenamkan menjadi insiden ahistoris, yang satu lagi malah setiap tahun diperingati kisah monumental di mana Kristus sungguh-sungguh “menderita sengsara di bawah pemerintahan [figur historis] Pontius Pilatus.”

           Maka, pertanyaannya: Mengapa kematian Kristus perlu diingat dalam sebuah peringatan setiap tahun pada hari Jumat Agung?  Jawabnya adalah karena kematian di atas kayu salib senyatanya merupakan puncak kemenangan Kristus mengatasi dosa dan maut, serta menyediakan jalan pendamaian bagi Allah dan manusia.  Itulah sebabnya menjelang Ia mati di atas kayu salib, Ia berkata: “Sudah selesai” (Yoh. 19:30; TL: “Sudahlah genap”; NIV: “It is finished”).  Ketika Yesus mendeklarasikan “tetelestai” (satu kata dalam Yunani), sesungguhnya itu merupakan sebuah seruan kemenangan yang sarat dengan makna.  Charles H. Spurgeon pernah mencatat bahwa satu kata itu memiliki “an ocean of meaning” (lautan makna), sebab memang belum pernah dan tidak akan pernah ada manusia yang dapat mengutarakan satu kata yang begitu bermakna selain Kristus.  Selain itu, dibutuhkan banyak perkataan, penjelasan, dan eksposisi untuk mengungkapkan arti yang sebenarnya dari kata tersebut.  Jadi, apa sebetulnya makna dari satu kata tetelestai?

            Pertama, tetelestai berarti sudah tercapai atau tuntasnya karya penebusan Kristus satu kali untuk selamanya.  Latar belakang arti kata tetelestai harus dilihat dari penggunaan yang kerap kali beredar di kalangan kerajaan Romawi abad pertama Masehi.  Pada masa itu, bila dijumpai seorang warga negara Romawi divonis bersalah karena kejahatan tertentu dan ia akhirnya dijebloskan ke dalam penjara, di pintu penjara di mana orang itu ditahan akan dipakukan sebuah “certificate of debt” (akte utang).  Apabila tahanan tersebut suatu kali akan dibebaskan atau memperoleh pengampunan dari raja atau penguasa, maka hakim yang mengadili perkara di pengadilan akan menuliskan satu kata (yang dipakukan untuk menggantikan sertifikat sebelumnya), dan satu kata itu adalah tetelestaiPengertiannya adalah utang atau hukuman terhadap tahanan itu sudah dideklarasikan lunas (paid in full) atau dihapuskan, dan segala kesalahan dan celanya diampuni.

           Jadi, pada waktu Tuhan Yesus mengucapkan tetelestai, tersirat di dalam sebuah arti penting, yakni: karya penebusan Kristus sudah tercapai dan tuntas satu kali dan untuk selamanya, di mana orang berdosa di sepanjang zaman yang percaya dan memandang pada salib Kristus, utang dosanya dibayar penuh (paid in full) oleh darah Kristus.  Ketika rasul Paulus mencatat: “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar” (1Kor. 6:20), kalimat tersebut identik dengan deklarasi Tuhan Yesus kepada orang berdosa yang percaya dan bertobat: “Dosamu telah diampuni” (Luk. 7:48; bdk. Mrk. 2:5).  Bukankah posisi kita di masa lalu—sebagai seorang berdosa atau terpidana mati di hadirat Allah yang maha kudus—sebetulnya sama seperti itu, yaitu kita sebenarnya adalah tawanan dosa yang terbelenggu dan yang tidak mampu sampai kapan pun melunasi utang dosa kita?

            Disorot dari sudut tata bahasa Yunani, tetelestai ternyata berbentuk orang ketiga tunggal dalam struktur perfect passive indicative dari kata “teleō” (to complete; to accomplish; to fulfill; menyelesaikan; mencapai, memenuhi [sebuah tujuan/hasil]).  Struktur grammar perfect tense hendak menyingkapkan sebuah peristiwa yang sudah terjadi di masa lampau dengan gaung atau efek yang masih berlangsung pada masa kini, sehingga dengan pengertian tersebut tetelestai dapat diterjemahkan “It stands finished or done” ([karya salib itu] tetap genap/selesai), “It always will be finished” ([karya salib itu] akan selalu genap), atau lebih jelas lagi: “It was finished in the past, it is still finished in the present, and it will remain finished in the future” ([karya salib itu] telah genap di masa lampau, tetap genap di masa kini, dan akan tetap genap di masa mendatang).  Hal ini berarti karya penebusan Kristus yang satu kali itu akan berkhasiat terus menerus di sepanjang zaman.

            Maka perhatikan: sewaktu Tuhan Yesus mendeklarasikan kepada seorang berdosa: “Dosamu diampuni,” sebenarnya memang orang berdosa itu tidak dapat berdiri di hadirat Allah yang maha kudus.  Orang berdosa itu harus datang dan percaya pada karya Kristus yang sudah genap dan percaya bahwa hanya di dalam Kristus urusan dosa bisa diampuni dan orang itu dapat dibenarkan di hadapan Allah karena Kristus.  Dengan demikian, jelaslah bahwa proses seorang berdosa diampuni dan dibenarkan tidak dimulai, tidak diproduksi, dan tidak direkayasa dari dalam manusia, karena tidak ada seorang pun yang baik dan sanggup mengerjakannya.

           Kristus melakukan sesuatu lebih dahulu (yakni menyelesaikannya di atas kayu salib), lalu orang berdosa percaya pada apa yang Kristus lakukan, dan setelah itu pembenaran yang dilakukan Yesus itu dikenakan atau diperhitungkan kepada kita dan menjadi milik kita.  Camkan poin ini: Pembenaran ada di luar kita (pada Kristus), tetapi dosa ada di dalam kita (dan mengikat kita).  Setelah kita merespons dengan iman pada karya Kristus, terjadi pertukaran, yaitu apa yang menjadi utang dosa keluar dari dalam kita, dan pembenaran Kristus masuk dan diberlakukan dalam kita.  Jadi tidak ada sesuatu apa pun dari atau di dalam manusia berdosa yang dapat menghasilkan pembenaran atau jasa/usaha apa pun.  Bila realitas kemenangan Kristus terutama menuntun pada solus Christus (dan juga disertai sola gratia dan sola fide), sungguh keterlaluan bila ada orang (yang katanya) Kristen yang merasa bahwa keselamatan adalah usaha dirinya (karena dia yang mau percaya)?

           Harus saya katakan di sini: setelah melayani Tuhan 35 tahun lebih secara penuh waktu, dan setelah meneliti Alkitab dan mendalami rupa-rupa bentuk teologi kekinian yang beredar, saya benar-benar terkesan pada dua hal yang diungkapkan dan digambarkan di dalam Alkitab dengan gamblang: yang pertama adalah mengenai kebobrokan dan kedalaman dosa pada manusia di sepanjang masa; dan yang kedua adalah mengenai kasih karunia Tuhan Allah di dalam Kristus yang luar biasa, khususnya ketika Ia datang mencari kita yang tadinya adalah orang-orang terkutuk.  Masih adakah klaim di antara kita yang merasa bahwa keselamatan itu adalah usaha, kemauan, kebaikan, karya, jasa, peranan, kekuatan, atau pilihan dari kita yang tadinya adalah calon penghuni neraka kekal?  Sungguh kita harus mengintrospeksi diri, cara berpikir, dan sekaligus teologi kita di bawah terang salib Kristus yang sudah menang itu!

           Kedua, tetelestai berarti Kristus sudah menuntaskan misi-Nya dalam dunia ini.  Sebetulnya istilah “tetelestai” hanya dijumpai dua kali di dalam seluruh PB, dan keduanya ada di Yohanes 19, yaitu di ayat 30 (“sudah selesai”) dan 28 (“Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia—supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci—: ‘Aku haus!’”).  Ungkapan ini boleh dikata senada dengan doa keimam-besaran-Nya (High Priestly Prayer of Jesus), di mana Tuhan Yesus sendiri berkata: “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya” (Yoh. 17:4; “I glorified you on earth, having accomplished the work that you gave me to do”; ESV).

           Dengan demikian, pada saat Yesus berseru “tetelestai” (sudah genap) secara tersirat Ia maksudkan juga sebagai sebuah seruan “mission accomplished!” (misi sudah tercapai/tergenapi!), yakni apa yang Ia harus kerjakan selaku Hamba yang menderita telah Ia kerjakan dengan taat sesuai dengan kehendak Bapa.  Artinya, sang Mesias benar-benar jelas tentang misi-Nya dalam dunia ini, lalu Ia menjalani dengan sebuah fokus dan tujuan yang mantap untuk menggenapi dan menyelesaikan misi tersebut dengan tidak ada keraguan sedikit pun.  Sekarang, Hamba yang sudah menderita dan mati untuk menebus dosa itu juga mengamanatkan misi tersebut kepada gereja dan orang percaya.  Karena itu Ia mengutus semua murid-Nya dengan misi yang serupa: “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia” (Yoh. 17:18).  Kalimat yang senada diucapkan lagi setelah Ia bangkit dari kematian: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh. 20:21b).

           Jadi, setelah karya penebusan yang satu kali dan untuk selamanya itu telah digenapi oleh Kristus, misi untuk menjangkau dunia itu sekarang harus dimulai pada murid-murid Yesus pada waktu itu dan dilanjutkan pada setiap orang yang mengaku murid di zaman sekarang.  Singkatnya, hal ini menandakan kristologi yang benar akan menuntun orang percaya pada misiologi yang tepat dan dinamis.  Maka, bila kita benar-benar adalah murid Kristus, kita akan hidup dengan sebuah tujuan yang jelas (a purposeful life) seperti Tuhan Yesus, yaitu sebuah tujuan hidup yang senantiasa rindu menggenapkan misi yang kristologis.  Bahkan, seperti gereja mula-mula dan para murid Kristus, kita pun bersedia berbagian di dalam memberikan pengorbanan bagi pekerjaan Tuhan dan senantiasa bersikap peduli terhadap kepentingan kerajaan Allah.  Adakah pada kita sebuah tujuan hidup yang siap melaksanakan misi Kristus, bersikap peduli bagi jiwa-jiwa yang belum mendengar injil, dan sekaligus memiliki kesediaan dalam hati kita untuk berkorban bagi Dia?

           Tiffanie Wen, seorang kolumnis BBC (British Broadcasting Corporation), menulis sebuah artikel menarik tahun lalu (1 Juli 2020) dengan judul “What Makes People Stop Caring?” (https://www.bbc.com/future/article/20200630-what-makes-people-stop-caring).  Di dalamnya ia mempertanyakan satu fakta yang mengherankan di tengah banyaknya kematian di seluruh dunia akibat COVID-19, perang, musibah, dan bencana: “While most of us will see a single death as a tragedy, we can struggle to have the same response to large-scale loss of life.  Too often, the deaths of many simply become a statistic.”  Maksudnya, berita tentang meninggalnya satu orang (terutama, misalnya, orang dekat) bisa berdampak serius pada emosi kita, namun demikian bila jumlah yang mati ternyata banyak sekali (apalagi itu adalah orang lain), realitas itu hanya menjadi statistik yang tidak ngefek pada perasaan kita, dan yang timbul sebaliknya adalah emosi ketidakpedulian (indifference).  Akibatnya, dewasa ini cukup banyak orang mengalami situasi semacam ini: “the more people die, the less we care” (semakin banyak orang mati, semakin berkurang kepedulian kita).

           Bagaimana dengan tingkat kepedulian kita selaku pengikut Kristus di masa krisis virus corona sekarang ini: semakin menanjak, atau sebaliknya, semakin menurun?  Ingat saudara: Setiap krisis yang dijumpai atau dihadapi dalam hidup ini akan menyingkapkan karakter atau watak yang asli pada seseorang, termasuk orang Kristen.  Bila di tengah krisis ini kasih dan kepedulian kita kian bertambah seperti Tuhan Yesus, berbahagialah saudara.  Sebaliknya bila kasih kita makin mendingin dan skala kepedulian kita makin meredup, padahal kita sanggup dan mampu melakukan sesuatu kepada sesama, apa bedanya kita dengan mayoritas masyarakat dunia ini yang kebanyakan bersikap indifferent kepada sesamanya?

           Memang dalam masa pandemi saat ini, cukup banyak orang tampaknya mulai jenuh—untuk tidak mengatakan: bosan—dengan berita-berita tentang wabah dan kematian di mana-mana.  Lalu mereka melakukan isolasi mandiri: secara ekstrem berdiam diri di rumah, tidak bertemu atau menerima tamu, dan mengabaikan segala bentuk sosialisasi dengan siapa pun.  Tetapi isolasi mandiri yang baik ini (yaitu dengan tujuan guna meningkatkan survival rate seseorang), secara tidak langsung dan bisa juga tanpa disadari menumbuhkan yang namanya selfishness atau ketidakpedulian terhadap kebutuhan orang lain, apalagi kebutuhan dalam lingkup gereja, pelayanan, dan misi.  Padahal kita tahu dengan jelas Tuhan Yesus—setelah Ia berkata “sudah selesai”—Ia juga memberikan sebuah amanat berupa tugas melakukan misi yang menjangkau banyak orang, apa pun situasi dan zamannya: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19).  Tugas misi itu adalah panggilan mulia kepada setiap orang percaya untuk menggenapkan karya Kristus melalui sebuah paket berita injil kepada sesama.  Hal itu berarti harus ada kepedulian yang besar pada kita untuk menggenapkannya dalam sisa hidup kita.  Jangan biarkan misi yang belum tergenapi ini (the unfinished mission) menjadi betul-betul tak terselesaikan dalam hidup saudara dan saya!

            Bapa di sorga, sadarkanlah kami di hari Jumat Agung 2021 ini bahwa kami sudah kerapkali menyia-nyiakan waktu dan kesempatan untuk melakukan kehendak-Mu.  Arahkan kami pada karya salib Kristus, dan terutama untuk menggenapkan misi itu melalui hidup kami dengan kasih dan kepedulian.  Tolonglah kami menyelesaikannya dengan baik di sepanjang hidup kami dan terutama di masa krisis sekarang ini.  Demi nama Tuhan Yesus, kami berdoa.  Amin.”