Melihat Penderitaan Dari Sudut Fideis (Belajar Beriman Dari Filipi 1:29)

Minggu siang 28 Mei 2006, pemimpin Gereja Katolik waktu itu, Paus Benedict XVI, melangkahkan kaki secara perlahan dan dalam keheningan melewati gerbang samping bekas Kamp Konsentrasi yang luasnya 175 hektar di Oswiecim atau Auschwitz-Birkenau, di sebelah selatan negara Polandia.  Di atas gerbang itu ada tulisan yang diukir dengan besi melengkung dalam bahasa Jerman, Arbeit Macht Frei (Work Sets You Free; Kerja [Akan] Membebaskanmu).  Tulisan itu seakan menyisakan sebuah bukti sejarah bahwa di kompleks itulah terpancar kejahatan manusia dan penderitaan tak terkatakan dari kematian yang dialami 1,1 juta orang Yahudi yang dibunuh secara sistematis dengan cara di-kamar-gas-kan selama periode 1940-1942.

           Jadi, boro-boro bebas atau dibebaskan setelah bekerja, setiap hari 20.000 orang dipaksa masuk ke ruangan tertutup rapat dan mau tidak mau menghirup gas Zyklon-B yang amat sangat beracun.  Setelah itu jasad mereka dikremasikan secara massal di krematorium atau di lapangan terbuka (khususnya pada waktu krematoriumnya overload), sampai-sampai semua tawanan lain yang masih “menunggu giliran” dapat melihat asap berwarna putih kekuningan keluar dari lapangan atau cerobong krematorium tanpa henti.  Asap itu melambangkan penderitaan dan kematian yang mengerikan dari manusia, yang ternyata adalah betul-betul serigala buat sesamanya.

            Coba bayangkan bila saudara atau saya adalah Joseph Aloisius Ratzinger, seorang warganegara Jerman yang menyebut dirinya “son of the German people” dan lahir di kota kecil Marktl, daerah Bavaria, sebelah timur Munchen (dan pada tahun 2005 baru diangkat sebagai Paus dengan nama Benedict XVI).  Bagaimana perasaan kita karena menyadari bahwa pelaku tunggal Holocaust, yaitu genosida 6 juta warga Yahudi (dua per tiga populasi Yahudi di Eropa waktu itu) dalam Perang Dunia II adalah pemerintahan Nazi Jerman, sesama warga kita sendiri?  Dengan perasaan yang campur aduk itulah Paus Benedict XVI (a.k.a. Joseph A. Ratzinger) memasuki Kamp Konsentrasi Auschwitz dengan tangan terlipat dan dengan senyap tidak mengutarakan sepatah kata pun.  Ketika tiba waktunya ia memberikan pengantar dan doa, di bagian awal sambutannya (yang diucapkan dengan bahasa Italia, bukan Jerman—demi menjaga perasaan sebagian keluarga korban yang hadir), ia berkata dengan nada bergetar: “Why, Lord, did you remain silent?  How could you tolerate all this?” (“Mengapa, Tuhan, engkau [pada waktu itu] berdiam diri?  Bagaimana mungkin engkau membiarkan semua ini?”).

            Bukankah itu juga yang menjadi pertanyaan banyak orang ketika menghadapi musibah, kejahatan, penderitaan, dan (apalagi) kematian di sepanjang zaman?  Bahkan di tengah kesusahan pandemi sekarang ini, ketika di mana-mana tak terhitung dijumpai orang yang sakit dan keluarga yang mengalami kehilangan orang yang dikasihi, sangat mungkin mengantar sebagian orang pada pertanyaan dasar seperti di atas: Di manakah Tuhan di kala seluruh dunia dilanda virus mematikan dan membuat jutaan orang menderita?  Mengapa Tuhan berdiam diri seakan tidak peduli?  Pertanyaan yang dialamatkan kepada Tuhan juga sangat mungkin tercetus dari orang Kristen yang sedang mengalami guncangan iman menghadapi penderitaan sehubungan dengan infeksi virus corona yang bukan main ganasnya.

            Memang ketika segala sesuatu berjalan dengan baik, langit selalu biru cerah, matahari selalu bersinar semarak, dan kehidupan berlangsung dengan lancar, aman, damai, dan sentosa, biasanya mayoritas manusia—termasuk orang Kristen—tidak mengingat Tuhan, atau ketika ingat Tuhan, syukur sangat mudah terucap dari bibirnya.  Sekali lagi, kalau segalanya lancar dan baik-baik saja, bersyukur itu amat sangat mudah.  Seandainya saja hidup mengalir aman sentosa seperti itu dan setiap kita tidak berhadapan dengan kesukaran yang berarti.  Tetapi itu jarang dan langka, bung!  Dengan cepat dan tanpa permisi, kesukaran dan bahkan penderitaan bisa datang melanda—seperti biasa—dengan tiba-tiba.

           Wujud penderitaan itu bervariasi sekali dari yang paling ringan (seperti sakit “kebudayaan”: migraine, encok, rematik, atau lutut oblak), sampai yang paling berat (berupa sakit penyakit yang mematikan, masalah keluarga yang tidak terpecahkan, problem kebangkrutan dalam ekonomi, ditinggalkan orang yang dikasihi, dan untuk konteks sekarang—yang sedapat mungkin berusaha dijauhi banyak orang—terindikasi positif atau terinfeksi COVID-19).  Yang terakhir tadi barangkali adalah penderitaan paling kolosal yang menghantui cukup beragam kalangan sehingga mereka memilih “hibernate” (“bersemedi”) di rumah masing-masing.  Dalam situasi semacam ini, tidakkah kita bertanya kepada Tuhan?  Mencari jawabankah kita dari firman Tuhan?  Rasul Paulus melalui Filipi 1:29 menuntun semua orang percaya untuk meneropong kesulitan dan penderitaan apa pun dalam hidup ini dari perspektif yang positif dan biblikal, dan prinsip yang hendak ditekankan di sana adalah: Meskipun berhadapan dengan penderitaan yang besar, setiap anak Tuhan dapat mentransformasikan keadaannya menjadi kesaksian yang baik dan memuliakan nama Tuhan.

PENDERITAAN ADALAH BAGIAN DARI IMAN

            Ketika seorang Kristen sedang bergumul dengan penderitaan yang riil, sangat mungkin poin ini akan sulit dimengerti, terutama pada ayat ini rasul Paulus berkata dengan penuh keyakinan: “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Flp. 1:29).  Jangan salah mengerti: kata “kamu” bukan hanya menunjuk pada top leadership saja, yaitu “para penilik jemaat atau diaken” (Flp. 1:1).  Yang benar adalah Paulus sedang menyapa seluruh jemaat atau orang percaya yang ada di kota Filipi.  Hal ini berarti semua orang percaya dipanggil untuk siap sedia menderita bagi Kristus, apalagi Paulus mempergunakan istilah “dikaruniakan” (granted, given the privilege; diberikan hak istimewa), yang akar katanya adalah charis (grace, anugerah).  Maksudnya, bila dilihat secara positif, selain Tuhan memberikan anugerah berupa saving faith pada waktu seseorang menjadi percaya, Tuhan juga memberikan anugerah (kembaran dengan saving faith) berupa pengalaman penderitaan bagi Kristus.  Jadi, mengalami penderitaan selaku orang Kristen adalah sebuah anugerah, sebuah privilege, keistimewaan yang Tuhan izinkan terjadi dan merupakan bagian dari iman kepada Kristus.

            Tentu saja sewaktu seorang Kristen mengalami penderitaan apa pun wujudnya, pada tahap permulaan sekali ia akan merasa terkejut, karena—sama seperti mayoritas manusia di bumi ini—ia menyangka jalan hidupnya akan selalu lancar dan sentosa tanpa kesusahan dan persoalan yang besar.  Pada tahap berikutnya, di dalam doanya ia akan mulai bertanya, atau, lebih tepatnya, mempertanyakannya kepada Tuhan (misalnya: “Mengapa saya mengalami ini, Tuhan?” atau “Kenapa suami saya kena COVID, Tuhan?”).  Pada titik inilah, sebagai pengikut Kristus yang sejati, sekalipun sulit, ia harus pada tahap selanjutnya menyikapi penderitaan dengan hati yang lapang dan menerimanya sebagai sebuah kehormatan, sebagaimana rasul Petrus pernah mencatat: “Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya” (1Ptr. 4:13).

           Dalam konteks zaman yang sulit dan penuh dengan penganiayaan di abad pertama, Paulus sebetulnya juga pernah mengutarakan kalimat ini: “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (2Tim. 3:12).  Perhatikan: baik Petrus maupun Paulus bukan hanya menulis atau bicara saja tentang kesiapan untuk menderita, mereka benar-benar mengalami dan menyikapi dengan tepat: “Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus” (Kis. 5:41; bdk. 2Tim. 1:12; Rm. 5:3: “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita”; “we rejoice in our sufferings”; ESV).

            Sebetulnya konteks surat Filipi memperlihatkan situasi yang bukan main berat bagi Paulus, sebab ia menulis dari dalam penjara di Roma pada tahun 62 Masehi.  Penderitaannya sebagai tawanan pemerintah Romawi bisa saja berujung pada kematian (“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”; 1:21).  Dapat dipahami ia sedang bergumul di antara hidup (yang belum jelas masa depannya) dan mati (yang ada kemungkinan arahnya ke sana): “Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus [artinya, mati]—itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini [melanjutkan hidup] karena kamu” (1:23-24).

            Bagi seseorang yang sedang mengalami penderitaan dalam ketidakberdayaan (misalnya, sedang sakit parah, apalagi dengan ventilator yang terpasang dan dalam keadaan setengah koma), suasana antara hidup (yang belum tahu prospeknya bisa sampai kapan) dan pada saat yang bersamaan berhadapan dengan ancaman menuju kematian (yang bisa datang anytime atau segera) adalah suasana yang menggelisahkan dan mungkin saja dapat menyurutkan iman seseorang kepada Tuhan.  Pada poin inilah firman Tuhan seakan mengajak semua orang percaya untuk belajar beriman ketika mengalami penderitaan melalui rumusan sederhana ini: Menghadapi penderitaan, tetapi dengan sikap tidak menderita.  Tidak menderita, artinya: penderitaan tidak dianggap atau tidak dilihat dari perspektif yang negatif, apalagi dengan keluhan atau omelan yang tidak habis-habisnya.  Penderitaan harus dipandang dari perspektif iman (fideis; dari istilah Latin fides, iman atau kepercayaan), supaya siapa pun orang Kristen yang mengalaminya akan menerimanya dengan sukacita, karena itu adalah bagian dari pengenalan kita kepada Kristus (“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya”; Flp. 3:10).

            Tentu saja “menerima dengan sukacita” bukan perkara semudah mengatakan (atau menuliskannya), namun pada waktu orang percaya melangkah dengan perspektif fideis dan tahu dengan jelas bahwa Kristus sudah terlebih dahulu mengalami penderitaan dan kematian, keserupaan ini akan mendatangkan pertambahan dan kekuatan beriman di tengah penderitaan.  Itulah sebabnya Paulus dapat dengan sukacita menerima dan mengalami penderitaan di medan pelayanan yang berat: “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat” (Kol. 1:24).

           Frasa “apa yang kurang pada penderitaan Kristus” sama sekali tidak berarti bahwa karya keselamatan Kristus masih kurang sempurna sampai-sampai perlu ditambahkan penderitaan manusia untuk menggenapkannya.  Jelas apa yang dimaksudkan Paulus bukan demikian.  Yang benar adalah Paulus merasa—setelah sekian tahun melayani Tuhan dengan tanpa pamrih—semua pengorbanan dan penderitaan yang melanda dan terjadi di dalam kehidupan dan pelayanannya ia rasakan masih kurang banyak dan tidak sebesar penderitaan dan pengorbanan Tuhan Yesus.  Tekanan dan istilah yang mirip dengan itu Paulus gunakan ketika ia bersaksi tentang jerih lelah dan penderitaan rekan sepelayanannya, Epafroditus (“Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku”; Flp. 2:30).

            Sekarang, yang dibutuhkan dari saudara dan saya dalam lingkungan dunia yang semakin tidak menentu hari-hari belakangan ini adalah sebuah kesediaan dan sekaligus keberanian untuk mengakui keserupaan kita dengan Kristus, khususnya pada aspek berani menanggung penderitaan dan berani menghadapi kematian, sebab kita tahu dengan jelas itu adalah sebuah anugerah dan bahkan sebuah privilege.  Bila ini yang menjadi sikap dan ketetapan iman kita, apa pun yang akan kita hadapi di masa kini dan masa mendatang semuanya akan terasa lebih ringan dan dapat teratasi, sebab meskipun mengalami penderitaan, tetapi kita tidak (terlalu merasa) menderita!

PENDERITAAN ADALAH KESEMPATAN UNTUK MENGINJIL

            Filipi 1:29 dalam terjemahan ESV (English Standard Version) berbunyi demikian: “For it has been granted to you that for the sake of Christ you should not only believe in him but also suffer for his sake.”  Apa makna dari istilah “suffer for his sake” (Yun. hyper autou paschein; bisa jugasuffer in behalf of him; “menderita atas nama Dia”)?  Apa sebetulnya yang dapat dilakukan orang percaya ketika mereka dipanggil untuk menderita atas nama Kristus?  Pada saat Paulus dijebloskan ke dalam penjara di Roma, tentu saja ia sedang berhadapan dengan kesulitan yang besar (untuk tidak mengatakan, itu adalah penderitaan besar).  Tetapi apa yang terjadi padanya?  Ia mempergunakan waktu pemenjaraannya menjadi sebuah kesempatan yang besar untuk bersaksi dan memberitakan injil (“Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil”; Flp. 1:12).  Hal ini berarti penderitaan “for his sake” adalah penderitaan yang dapat diubah atau ditransformasikan untuk menginjil dan bersaksi seperti yang telah dicontohkan oleh Paulus.  Upaya ini ternyata kemudian juga “menular” pada orang Kristen lain untuk melakukan hal yang sama (“Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut”; Flp. 1:14).

            Jadi, menanggung penderitaan atas nama Kristus harus dianggap sebagai kesempatan untuk bersaksi atau melakukan pemberitaan injil selama kita masih diberi kesempatan hidup dalam dunia ini: “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini” (2Kor. 4:11).  Inilah pelayan Tuhan yang tidak pernah “sepi” akan penderitaan: sering dipenjara, didera, disesah, dilempari batu, mengalami karam kapal, dan berjumpa dengan aneka bahaya (2Kor. 11:23-27).  Saking seringnya berhadapan dengan liku-liku penderitaan, lama kelamaan hal itu menjadi biasa baginya: “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami” (2Kor.4:17).

            Kuncinya adalah: ia dapat mengubah situasi yang bagi kebanyakan orang dianggap buruk menjadi sebuah keadaan atau kesempatan yang baik (turning a bad situation into a good one).  Misalnya, ketika ditawan dalam penjara di Filipi, ia mengambil kesempatan itu untuk menginjil tentang Tuhan Yesus (Kis. 16:30-34).  Sewaktu kapal yang ditumpanginya kandas (Kis. 27), ia tetap mencari kesempatan untuk bersaksi (ay. 22-25; bdk. 28:23, 30-31).  Bahkan, sangat mungkin ketika ditahan di Roma, ia berkesempatan menginjili kalangan tertentu di istana kaisar (Flp. 4:22).  Singkatnya, selama mengalami penderitaan yang bertubi-tubi tersebut, ia benar-benar tidak merasa “malu, melainkan [ia justru] memuliakan Allah dalam nama Kristus itu” (1Ptr. 4:16).

            Menurut Joseph B. Lightfoot (1828-1889), seorang teolog dan penulis ternama dari Inggris, selama Paulus ditahan di penjara Roma: “. . . he was bound by the hand to the soldier who guarded him, and was never left alone day or night.  As the soldiers would relieve guard in constant succession, the praetorians one by one were brought into communication with the ‘prisoner of Jesus Christ,’ and thus he was able to affirm that his bonds had borne witness to the Gospel ‘throughout the imperial regiments.’”  Artinya, tangan Paulus selalu terborgol dengan seorang prajurit setiap 6 jam (berarti sehari 4 orang prajurit akan bergantian menjaga dia).  Bayangkan, itu adalah kesempatan yang amat sangat besar bagi Paulus untuk berbicara tentang Kristus kepada para petugas yang menjaganya.  Tidak heran cukup banyak prajurit Romawi yang mengenal injil sampai ke kalangan istana kaisar!

            Sekarang, kita yang hidup di abad 21 memiliki pergumulan dan jenis penderitaan yang berbeda dengan rasul Paulus dan jemaat mula-mula (yang mengalami berbagai penganiayaan dan ancaman pemenjaraan).  Selain masalah ekonomi, konflik keluarga/gereja, kehilangan pekerjaan, kedukaan, saat ini seluruh dunia—tidak terkecuali orang Kristen dan gereja—berhadapan dengan kesukaran dan penderitaan yang besar di masa pandemi ini.  Apa yang diajarkan oleh firman Tuhan di atas prinsipnya tidak berubah sepanjang masa, yaitu: bagaimana kita bereaksi terhadap situasi yang ada, akan mencerminkan apa sebetulnya iman percaya kita.  Biarlah kita dimampukan melihat penderitaan dalam hidup kita saat ini dengan kacamata iman sebagai bagian yang harus kita pikul, dan bersamaan dengan itu, mampu meneropong konteks zaman ini sebagai kesempatan bagi kita dan gereja untuk melaksanakan misi dan penginjilan.  Pikiran dan komitmen yang biblikal seperti ini tentu tidak akan sia-sia, sampai kita buktikan suatu hari nanti waktu kita berdiri dengan kebahagiaan dan sukacita penuh di hadapan Raja di atas segala raja itu!