Mereposisi Kehadiran Dan Tanggung Jawab Gereja Di Masa Yang Sulit

Peristiwanya terjadi di abad 17, dan berlangsung jauh sekali di Eropa Utara, persisnya di kota pelabuhan Skeppsgarden, 216 kilometer selatan Stockholm, Swedia.  Di sanalah pada tahun 1626 atas perintah raja Gustav II Adolf mulai dibangun sebuah kapal perang besar yang diberi nama Vasa Royal Warship.  Disebut besar, karena kapal itu panjangnya 69 meter, lebar 12 meter, tinggi 52,5 meter, dengan 10 tiang layar, dan dilengkapi dengan 64 buah meriam (cannon), serta dapat menampung 445 orang prajurit.  (Sebagai perbandingan: kapal Titanic yang tenggelam 1912 panjangnya 269 meter dan kapal induk Amerika Serikat yang bernama USS Nimitz panjangnya 333 meter.  Jadi sebenarnya—untuk ukuran abad 17—kapal perang Vasa boleh dibilang sudah sangat besar bentuk rancangannya.)

            Dua tahun pekerjaan pembangunan kapal perang yang berbobot 1210 ton itu rampung, dan menelan biaya 200,000 rex dollar atau kira-kira 5 persen lebih dari GNP (Gross National Product) kerajaan Swedia waktu itu.  Sangat mahal untuk pengeluaran saat itu, sebab ternyata kapal itu didekorasi dengan amat mewah dan megah pada tampilan eksteriornya.  Tetapi dalam pelayaran perdana tanggal 10 Agustus 1628, kapal besar itu kandas dan tidak lama kemudian terbalik lalu tenggelam kurang dari satu mil setelah bergerak 120 meter dari galangan pelabuhan.  Jadi, cape-cape dikerjakan dua tahun tapi cuma bisa berlayar 1130 meter saja.  Yang naas adalah 50 orang prajurit ikut tewas bersama dengan kapal yang menjadi kebanggaan negeri Swedia yang dibiayai 1/20 GNP uang kerajaan ke laut yang dalamnya 32 meter.  Tragis sekali, bukan?

            Apa yang salah dengan kapal itu?  Mengapa begitu cepat tenggelam dengan sia-sia?  Jawabnya adalah: karena muatan interiornya terlalu berat dan bagian dalam lambung kapal itu ternyata keropos.  Artinya, konsep pembangunan kapal tersebut lebih memprioritaskan (baca: lebih mementingkan) bagian eksterior atau tampilan luar (sehingga dibuat begitu mewah dan megah), padahal aspek yang lebih penting dan esensial, yaitu dimensi internal yang tidak kelihatan dan hakiki justru kurang dipentingkan atau malah diabaikan.

            Bukankah gereja seringkali dilambangkan atau diberi simbol sebagai sebuah kapal atau bahtera (lihat lampiran di bagian akhir: NKB 111 “Gereja Bagai Bahtera”; perhatikan Bait 4: “Gereja bagai bahtera, muatannya penuh”)?  Maka sebaiknya kita merenungkan poin ini: Bila gereja diandaikan seumpama sebuah bahtera, apa yang selama ini dipentingkan pada diri kita selaku orang percaya dan pada gereja kita masing-masing: tampilan luar atau bagian dalamnya?  Atau, dengan kalimat lain, selama ini, kita yang menjadi pemimpin, penatua, majelis, pengurus komisi lebih “mendandani” atau memperhatikan dimensi eksterior, seperti penambahan jumlah anggota, pembangunan fisik, program-program, acara-acara, aktivitas-aktivitas komisi/seksi, ataukah kita menomorsatukan kualitas interior, seperti pembinaan iman, pertumbuhan kerohanian jemaat, gerakan doa, dan misi/penginjilan?

            Sekarang, di masa pandemi yang luar biasa parah, semua gereja yang sedang “berlayar” sedang diuji eksistensi kekuatan “bahtera”nya, sebab kita sedang berada pada keadaan yang sulit bukan main dan seluruh dunia sedang mengalami perubahan yang besar.  Berkualitaskah aspek internal gereja kita dan iman kekristenan kita?  Kokohkah struktur dan “lambung” bahtera gereja kita?  Mampukah gereja kita mereposisi kehadiran dan tanggung jawabnya di masa yang tidak menentu ini?

           Sewaktu memikirkan tema “Mereposisi Kehadiran dan Tanggung Jawab Gereja Di Masa yang Sulit,” mari kita menyimak 1 Petrus 2:9, sebab di sana firman Tuhan mengajarkan sebuah konsep tentang gereja yang sesuai dengan rancangan dan kualitas yang Tuhan kehendaki.  1 Petrus 2:9 berbunyi: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.”  Melalui ayat ini paling sedikit dapat dipetik dua butir prinsip yang penting:

           Pertama, firman Tuhan mengajarkan bahwa konsep tentang gereja yang paling penting adalah aspek internal gereja, yaitu orang-orang kudus, orang-orang percaya, orang-orang yang sudah ditebus, yaitu orang-orang yang sudah dipanggil keluar dari kegelapan dunia menuju pada terang dari Tuhan di dalam Kristus.

            Kata kunci ayat ini ada pada istilah ek kalesantos (having called out), yaitu “[Allah] sudah memanggil [kamu] keluar.”  Maksudnya, orang percaya adalah orang yang telah dipanggil keluar dari dunia yang gelap untuk menjadi insan yang berbeda dengan sistem dunia yang berlawanan dengan Tuhan.  Petunjuk identitas orang Kristen itu sangat jelas: “kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan” (ay. 10), yaitu orang-orang itu harus berbeda orientasi dan cara hidupnya setelah percaya, dan tidak hidup sebagai orang-orang yang kembali ke masa lalunya yang gelap dan korup (bandingkan ay. 25: “Sebab dahulu kamu sesat seperti domba”).

            Maka yang dinamakan gereja pada dasarnya adalah himpunan sekelompok orang yang secara eksklusif dipilih dan dipanggil Allah di dalam Kristus lewat kemurahan-Nya guna menampakkan karakter kekudusan, kebenaran, dan kasih Allah melalui hidup mereka.  Inilah yang disebut invisible church, yakni gereja sejati yang menampilkan kualitas internal yang meskipun tidak kelihatan namun amat sangat penting dan esensial.  Wayne Grudem mendefinisikannya dari perspektif yang teosentris: “The invisible church is the church as God sees it”; “Gereja yang tidak kelihatan adalah gereja sebagaimana Allah mengenalinya” (Systematic Theology 855).  Tekanannya adalah pada orang-orang percaya yang secara internal sudah ditebus dan dikenali oleh Tuhan.  Hal ini memberikan indikasi bahwa gereja bukan hanya yang kelihatan saja (visible church), yakni soal anggota gereja hasil baptisan saja, bukan gedung atau organisasi saja, dan bukan soal ibadah, program, aktivitas saja, tetapi gereja, yang paling penting adalah: orang-orang yang sudah percaya kepada Tuhan di dalam Kristus, sebab “Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya” (2Tim. 2:19).  Dengan demikian, mereka yang sudah ditebus, orang-orang inilah secara internal, merupakan orang-orang yang tahan uji di tengah segala kesulitan.

            Ketika Surat 1 Petrus ditulis gereja sedang mengalami kesulitan yang besar, yaitu penganiayaan, dan rasul Petrus berkata di pasal 4 ayat 16: “Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.”  Secara tidak langsung Petrus menyampaikan sebuah ajakan tetapi sekaligus sebuah penegasan bahwa orang Kristen akan tahan uji di tengah penderitaan dan penganiayaan, bahkan mereka akan mampu memuliakan Tuhan.  Dimensi gereja yang invisible ini saya percaya tidak akan hilang, tidak akan merosot atau luntur, dan malah akan terus melekat pada identitas insan Kristen sejati.

           Mungkinkah di masa sulit pandemi hari-hari belakangan ini Tuhan sesungguhnya sedang melakukan proses pemurnian gereja?  Bukankah firman Tuhan sudah memberi indikasi ini jauh-jauh hari: “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi.  Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?” (1Ptr. 4:17)?  Jadi, ujian untuk memurnikan iman orang percaya akan terjadi bagaikan emas yang dimurnikan oleh api (1Ptr. 1:7) di masa sulit mewabahnya virus corona saat ini.  Hanya orang-orang yang sungguh-sungguh sudah percaya dan hanya orang-orang yang sudah dipanggil keluar dari kegelapan masuk dalam terang Tuhan yang akan tahan uji.  Merekalah orang-orang percaya yang ada di dalam gereja yang sejati dan merekalah yang secara internal memiliki iman yang kokoh di tengah perubahan dan kesukaran zaman ini.

            Yang mengherankan adalah: di masa sulit dewasa ini masih saja ada gereja yang terobsesi pada penambahan memberships sebanyak-banyaknya.  Sebagian gereja dengan segala perangkat teknologi modern—entah sadar atau tidak—sudah menempuh cara-cara “whatever it takes” melalui trik-trik yang menghalalkan segala sarana demi untuk target pertumbuhan yang setinggi-tingginya.  Mereka mulai mengabaikan doktrin yang tepat dan sesuai dengan firman Tuhan untuk pertumbuhan gereja yang biblikal dan mulai terobsesi pada hasil, metodologi, atau jurus-jurus marketing the church dengan diktum: “we are trying to attract as many people as possible” melalui media sosial.  Pertanyaannya adalah: untuk apa meraup memberships seabreg-abreg guna meraih target keberhasilan eksternal, namun mengabaikan dimensi internal di mana keduanya sedang dimurnikan oleh Tuhan?  Gereja yang hanya terfokus pada jumlah memberships seperti ini akan kandas dan tenggelam dalam perubahan zaman.

            Kedua, gereja menurut konsep 1 Petrus 2:9 adalah gereja yang mengerti dan melaksanakan misi dan penginjilan (“supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia”).  Sudah terang benderang dalam ayat ini bahwa orang percaya yang telah memperoleh identitas yang baru (new identity) itu dipanggil untuk melakukan misi Tuhan (new mission).  Justru ketika gereja waktu itu berhadapan dengan kesukaran yang besar, yaitu penganiayaan, gereja dipanggil untuk memikul tanggung jawab melaksanakan new mission dari Tuhan di tengah situasi yang tidak menentu.  Tentu saja motif mereka melaksanakan misi dan penginjilan bukan semata-mata untuk penambahan memberships sebagaimana yang terjadi di zaman modern ini.

            Coba bayangkan: Gereja pada waktu itu tidak memiliki asset yang banyak dan melimpah seperti gereja masa kini, dan mereka tidak beribadah di gedung yang besar dan megah.  Mereka bahkan tidak berkumpul di gedung yang official, tetapi kebanyakan beribadah di tempat sederhana, di rumah-rumah, atau bahkan dalam ruang-ruang sempit di bawah tanah.  Istilah yang dipakai gereja di bawah tanah itu adalah katakombe; itu adalah ruang di bawah tanah yang masih ada sampai hari ini, misalnya di kota Roma; ada ruang di bawah tanah yang pengap, dingin, bau, di mana sinar matahari tidak bisa masuk ke sana.  Di sanalah gereja mula-mula beribadah, tetapi karena mereka adalah orang-orang Kristen yang sejati yang sudah ditebus oleh Kristus mereka tahu tugas mereka, yaitu mengerjakan misi yang baru, sehingga mereka tetap memberitakan Kristus kemana pun mereka pergi.

           Apa yang dapat kita pelajari dari jemaat mula-mula ini?  Yang paling menonjol adalah: Mereka berani membayar harga dengan sungguh-sungguh memberikan sacrifice, yaitu pengorbanan di tengah keminiman, kemiskinan, dan ketiadaan.  Lebih dari itu, jemaat mula-mula bersedia mati bagi injil, sebab mereka tetap dengan berani mengabarkan injil di tengah situasi yang mengancam jiwa raga mereka.

            Bertanyalah kepada diri kita dan gereja kita masing-masing: saat ini di tengah pandemi yang melanda seluruh dunia; ketika banyak orang hanya berdiam diri saja di rumah, apakah kita sebagai orang percaya dan gereja kita memikirkan dan melaksanakan misi Tuhan?  Apakah kita dan gereja kita melakukan penginjilan?  Ataukah gereja kita hanya memikirkan survival, yaitu terpenuhinya financial security, terpenuhinya uang kolekte yang terkumpul, atau terselenggaranya webinar/program kosmetik dan asesoris yang sifatnya sekunder?  Apakah cuma dimensi eksternal dan keberlangsungan organisasi saja yang kita pentingkan?

           Saya merasa sedih hati mendengar ada gereja di tengah pandemi sekarang ini justru malah terfokus pada urusan organisatoris yang semakin jauh dari memuliakan Tuhan, sibuk bertengkar tentang persoalan-persoalan sepele yang berkaitan dengan pemilihan majelis, upaya menggeser hamba Tuhan, mengejar target pertambahan memberships, persoalan klasik pencurian domba, atau terpenuhinya financial securitySeharusnya di masa yang sulit hari-hari belakangan ini gereja fokus dan hanya terfokus melakukan satu hal saja, yaitu mereposisi kehadiran, panggilan, dan tanggung jawabnya untuk memberikan sacrifice bagi Tuhan dan bagi dunia ini.  Gereja yang hanya memikirkan urusan rutinitas dan survival saja—padahal semakin hari semakin banyak penderitaan dan kematian—akan tergilas oleh perubahan zaman.  Akan tetapi kalau kita dan gereja kita memikirkan: gereja dan orang percaya harus melakukan sacrifice, memberikan pengorbanan di tengah masa sulit ini, gereja kita akan memiliki significance, yaitu memiliki makna penting bagi dunia ini, seperti gereja mula-mula.

            Gereja mula-mula minim dalam segala sesuatu: mereka tidak punya dana yang besar; mereka tidak punya resources; kebanyakan mereka orang-orang sederhana; mereka bukan orang-orang kaya, tetapi gereja mula-mula menjadi gereja yang signifikan, karena mereka memberikan sacrifice di tengah kesulitan yang besar.  Gereja di abad 21 ini, di tengah kesulitan pandemi yang melanda seluruh dunia dan juga Indonesia, banyak orang sedang hidup dalam kekhawatiran, banyak orang hidup dalam ketakutan, dan banyak orang tidak tahu mengenai hari depan.  Kalau orang percaya dan gereja fokus memberitakan Kristus dan menjalankan misi Tuhan: memberitakan perbuatan-perbuatan besar dari Allah yang telah memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib itu, gereja kita akan menciptakan significance dan memuliakan Tuhan, karena kita rela dan dengan keberanian kita memberikan pengorbanan bagi Kristus dan bagi kerajaan Sorga!

NKB 111—GEREJA BAGAI BAHTERA

1. Gereja bagai bahtera di laut yang seram
mengarahkan haluannya ke pantai seberang.
Mengamuklah samudera dan badai menderu;
gelombang zaman menghempas, yang sulit ditempuh.
Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih:
Betapa jauh, dimanakah labuhan abadi?

Reff

Tuhan, tolonglah! Tuhan, tolonglah!
Tanpa Dikau semua binasa kelak.
Ya Tuhan tolonglah!

2. Gereja bagai bahtera pun suka berhenti,
tak menempuh samudera, tak ingin berjerih
dan hanya masa jayanya selalu dikenang,
tak ingat akan dunia yang hampir tenggelam!
Gereja yang tak bertekun di dalam tugasnya,
tentunya oleh Tuhan pun tak diberi berkah.

Reff

Tuhan, tolonglah! Tuhan, tolonglah!
Tanpa Dikau semua binasa kelak.
Ya Tuhan tolonglah!

3. Gereja bagai bahtera diatur awaknya,
setiap orang bekerja menurut tugasnya.
Semua satu padulah, setia bertekun,
demi tujuan tunggalnya yang harus ditempuh.
Roh Allah yang menyatukan, membina, membentuk
di dalam kasih dan iman dan harap yang teguh.

Reff

Tuhan, tolonglah! Tuhan, tolonglah!
Tanpa Dikau semua binasa kelak.
Ya Tuhan tolonglah!

4. Gereja bagai bahtera muatannya penuh,
beraneka manusia yang suka mengeluh,
yang hanya ikut maunya, mengritik dan sok tahu
sehingga bandar tujuan menjadi makin jauh.
Tetapi bila umatNya sedia mendengar,
tentulah Tuhan memberi petunjuk yang benar.

Reff

Tuhan, tolonglah! Tuhan, tolonglah!
Tanpa Dikau semua binasa kelak.
Ya Tuhan tolonglah!

5. Gereja bagai bahtera di laut yang seram,
mengarahkan haluannya ke pantai seberang.
Hai ‘kau yang takut dan resah, ‘kau tak sendirian;
teman sejalan banyaklah dan Tuhan di depan!
Bersama-sama majulah, bertahan berteguh;
tujuan akhir adalah labuhan Tuhanmu!

Reff

Tuhan, tolonglah! Tuhan, tolonglah!
Tanpa Dikau semua binasa kelak.
Ya Tuhan tolonglah!