Peran Roh Dusta Di Balik Ramalan Dan Nubuat Palsu

KASUS 1

            Seorang peramal atau paranormal dari lingkungan Kejawen (sebut saja: Peramal Y) tiba-tiba menjadi “terkenal” karena mengucapkan perkataan seperti ini tentang peristiwa besar yang akan terjadi di Indonesia tahun ini; di antaranya ia berkata: “Konflik dan kejahatan ataupun hal yang menyangkut penjarahan akan ada di 2021, penjarahan besar, ada politik memanas, dan ada bahasa-bahasa yang mungkin sifatnya secara politiknya mungkin pergantian presiden.  Sudah mulai tanda-tandanya, sudah mulai dari daerah dan ke atas mulai memanas semuanya.  Memang akan ada pergantian, tapi dimulai dengan adanya penjarahan, keributan.”  Intinya, ia meramalkan Joko Widodo akan turun (atau diturunkan) sebagai presiden seiring dengan memanasnya situasi politik yang ditandai dengan peristiwa penjarahan dan keributan.  Belakangan, karena diancam akan dilaporkan ke polisi, sang peramal kemudian mengklarifikasi sekaligus merevisi pernyataannya pada 15 Januari 2021: “Yang saya maksud di tahun mendatang pergantian presiden itu di 2024 akan ada pergantian presiden, bukan presiden sekarang.  Bukan 2021 tapi di saat nanti pergantian presiden nanti di 2024 akan ada ganti presiden.  Bukan 2021 ganti presiden” (https://hot.detik.com/celeb/d-5335856/klarifikasi-mbak-you-soal-ramalan-jokowi-lengser).  Biasa orang sini, suka ngeles: kalau 2024 mah semua orang juga tahu, Jokowi memang harus turun waktu itu karena sudah selesai masa jabatan kedua kepresidenannya.

            Yang menarik adalah urusan ini ditanggapi oleh seorang pendeta dari kalangan teologi sukses (kita sebut saja: Pendeta Z) pada 14 Januari 2021 melalui sosial media.  Sang pendeta terusik dengan ramalan Y tentang “adanya penjarahan serta jatuhnya kepemimpinan nasional.”  Menurutnya, ramalan negatif tersebut akan dipatahkan dalam nama Yesus.  Di antaranya ia berkata: “Saya sebagai hamba Tuhan . . . menantang Mbak You ini: untuk kita buktikan ramalanmu yang betul, atau Tuhan Yesus saya yang lebih hebat.  Dan saya pastikan di dalam nama Tuhan Yesus ramalan ini dibatalkan, dan saya pastikan di dalam nama Yesus ini tidak akan terjadi. . . .”  Bagi saya, perkataan Pendeta Z sebetulnya secara tidak langsung juga mengandung sejenis unsur ramalan, yaitu bahwa ramalan si mbak pasti dibatalkan dan pasti tidak akan terjadi.  Dari mana dia tahu dan memperoleh kepastian itu?  Bagaimana bila seandainya ramalan Paranormal Y benar-benar terjadi?

KASUS 2:

            Sebelum mengevaluasikan kedua pendapat diatas, saya ingin mengangkat sebuah situasi yang terjadi bulan Maret 2020 yang lalu.  Waktu itu ramai dibicarakan di mana-mana tentang perkataan nubuat dari seorang pendeta (kita sebut saja Pendeta A) yang barangkali memiliki concern supaya virus corona berhenti menginfeksi kesana-kemari.  Pendeta A yang berasal dari aliran teologi sukses ini tampil dalam sebuah video dan di antaranya berkata: “Tapi sekarang Tuhan Yesus menyuruh saya untuk melakukan seperti apa yang telah dilakukan Tuhan Yesus, yaitu dengan menghardik badai itu, dan berkata: ‘Diam, tenanglah.’  Karena itu sekarang saya memerintahkan kepada Covid-19, dan kepada krisis ekonomi, dan berkata: ‘Diam, tenanglah.’  Kita sekarang memasuki peperangan rohani yang dahsyat.  Mari, saya mengajak saudara untuk berdoa seperti itu; kita memerintahkan kepada Covid-19 dan kepada krisis ekonomi, dan berkata: ‘Diam, tenanglah.’

            Inti dari persoalan di sini adalah: Pendeta A meng-klaim ada di posisi Tuhan Yesus (yaitu posisi first person singular: ia memakai kata “saya”) menghardik virus Covid-19 yang diperintahkan supaya diam dan tenang (di mana virus tersebut sesungguhnya memang sudah “bekerja” dengan diam-diam dan penuh ketenangan menyerang kesana-kemari secara invisible pada semua orang secara universal).  Satu lagi yang dihardik adalah krisis ekonomi, maksudnya barangkali supaya berhenti krisisnya bersama dengan Covid-19 (dalam hal ini tampaknya krisis atau resesi ekonomi sebenarnya adalah akibat dari menyebarnya virus corona sehingga mendatangkan pengaruh berupa pelambatan atau mandeg-nya sebagian besar sendi bisnis dan perdagangan).  Namun tampaknya, baik Covid-19 maupun krisis ekonomi bukannya semakin berkurang atau menurun, malah di awal 2021 saat ini keduanya semakin menjadi-jadi.  Artinya, hardikan dalam bentuk perkataan nubuat tersebut gagal total dan tidak ada efektivitasnya sama sekali.

           Perkataan nubuat di atas tidak lama kemudian dikritik oleh pendeta lain (sebut saja: Pendeta B) dari kalangan injili ketika sedang berkhotbah (juga Maret 2020) dan sebagian tanggapannya adalah sebagai berikut: “Termasuk yang dua hari yang lalu saya denger pendeta yang besar di Indonesia yang berani mengatakan dia akan menghentikan corona virus seperti Yesus menghentikan angin tofan dan ombak yang besar.  Ini semua penghujatan; semua peniruan, peng-copy-an dari Anak Allah yang tidak boleh dan tidak ada copy-nya.”  Selanjutnya Pendeta B menantang Pendeta A yang bernubuat itu untuk membuat kebaktian kesembuhan: “. . . bikin kebaktian kesembuhan ilahi, suruh semua yang beriman dateng, yang corona virus telah menjalar di dalem tubuh mereka, sembuhkan mereka.  Saya akan melihat apakah kuasa Tuhan ada pada kamu.

           Jadi inti dari kritik Pendeta B adalah pada pengambilan (peng-copy-an) posisi Tuhan Yesus yang langsung diartikan sebagai penyimpangan dari seorang pendeta (atau nabi) palsu.  Setelah itu, Pendeta B menantang Pendeta A untuk menyelenggarakan kebaktian massal bagi para penderita yang terjangkit virus corona supaya disembuhkan; maksudnya, kalau benar-benar bisa sembuh, barulah perkataannya dapat dibuktikan kesaktiannya.  Artinya, inti persoalannya adalah Pendeta A menengking virus (di seluruh wilayah Indonesia) supaya berhenti dan kenyataannya tidak berhenti, dan poin ini dianggap oleh Pendeta B sebagai indikasi bahwa ia adalah pendeta palsu dan “harus mati” (entah maksudnya mati divonis rajam oleh massa layaknya di zaman PL, mati dihukum Tuhan, atau mati kapan-kapan saja secara natural).  Dengan demikian, yang satu mengharapkan apa yang dikatakannya terjadi, namun ternyata tidak terjadi, dan yang satu lagi melihat apa yang dikatakan sudah tidak terjadi, maka ia memberi kesempatan kepada pihak pertama untuk membuktikan kesaktiannya lewat praktik penyembuhan massal.

TINJAUAN DARI KRITERIA ULANGAN 18 DAN 13

            Kemiripan pada kedua kasus terletak pada butir ini: ada ramalan (mirip nubuat) tentang akan terjadinya sesuatu dan ada reaksi terhadap ramalan tersebut.  Dalam Kasus 1, ramalan paranormal Y (dari lingkaran bukan Kristen) langsung diladeni dan ditantang dengan munculnya pernyataan counter-ramalan (yang sebetulnya juga sejenis ramalan) dari Pendeta Z, yakni bahwa ramalan Y pasti batal dan tidak akan terjadi.  Pertanyaannya: bagaimana kalau ramalan Y betul-betul terjadi?  Dalam Kasus 2, nubuat Pendeta A langsung direspons oleh Pendeta B juga dengan sebuah tantangan supaya B mengadakan mass healing atau faith healing, yaitu semacam kebaktian kesembuhan khusus untuk pasien atau penderita yang terinfeksi virus corona untuk membuktikan keabsahan klaimnya.  Pertanyaannya juga sama: bagaimana kalau Pendeta A betul-betul mengadakan KKR kesembuhan dan pasien-pasien yang terinfeksi pada sembuh satu per satu?  Apakah setelah itu dengan serta merta dapat dikatakan itu pasti benar dan berasal dari Tuhan?

            Jadi, argumen Pendeta B pada dasarnya mau menekankan poin kira-kira seperti ini: karena tidak ada hasil atau result dari perkataan Pendeta A (yaitu perkataannya tidak ngefek, tidak terjadi apa-apa dan Covid-19 tidak berhenti), maka ia adalah nabi palsu berdasarkan Ulangan 18:22 (“apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya”).  Menurut saya, memakai Ulangan 18:22—khususnya hanya menekankan frasa “perkataannya itu tidak terjadi”—adalah argumen yang tidak lengkap dan bisa berbahaya.  Tidak lengkap, maksudnya harus ada kriteria pengujian tambahan dan bukan cuma satu frasa itu saja (setelah ini saya akan sebutkan kriteria tambahan itu); bisa berbahaya, maksudnya: bagaimana kalau perkataan Pendeta A benar-benar terjadi dan juga tantangan Pendeta B (supaya Pendeta A bikin kebaktian penyembuhan) benar-benar terwujud, yaitu Pendeta A mengadakan KKR penyembuhan dan eh, ternyata banyak orang disembuhkan dari Covid-19, apakah dengan serta merta harus disimpulkan ia pendeta benar (dan tidak palsu)?

           Hal yang sama berlaku pada Pendeta Z yang menantang Paranormal Y dengan jurus “terjadi atau tidak terjadi.”  Maksud saya, cara berpikir seperti itu sangat berbahaya—untuk tidak mengatakan, sebenarnya menyesatkan, sebab ada peramal, dukun, orang pintar, ahli nujum dari berbagai keyakinan dan agama di luar Kristen juga mampu melakukan keajaiban atau mukjizat.  Contohnya, banyak peramal di masa lalu (misalnya, Nostradamus, Baba Vagan), dan termasuk paranormal Y, yang ternyata sudah berkali-kali meramalkan peristiwa-peristiwa tertentu dan ternyata tokcer (“Pesawat Sriwijaya Air Jatuh, Ramalan Mbak You Tahun Lalu kembali Viral”; https://www.suara.com/entertainment/2021/01/10/104624/pesawat-sriwijaya-air-jatuh-ramalan-mba-you-tahun-lalu-kembali-viral).

            Ulangan 18:22 dalam terjemahan NRSV berbunyi begini: “If a prophet speaks in the name of the Lord but the thing does not take place or prove true, it is a word that the Lord has not spoken.  The prophet has spoken it presumptuously; do not be frightened by it.”  Di sini sebetulnya ada dua kriteria: “the thing [yaitu perkataannya] does not take place” dan “prove true” (terbukti benar).  Kriteria 1 adalah perkataan sang nabi (yang memang diutus oleh Tuhan); kriteria 2 adalah kebenaran firman Tuhan (yang disampaikan melalui nabi Tuhan).  Hal ini tampak jelas di ayat 19: “Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku [kriteria 2] yang akan diucapkan nabi itu [kriteria 1] demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.”  Kedua kriteria itu terlihat jelas diulangi lagi di ayat 20: “Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan [kriteria 1] demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan [kriteria 2] untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.”  Jadi, bisa saja ada nabi (atau pendeta di masa kini) yang berani-beranian melanggar kriteria 1 dalam perkataannya, dan mengatas-namakan Tuhan seolah-olah meneruskan firman Tuhan (kriteria 2), di mana Tuhan sendiri tidak berfirman atau memberi perintah kepadanya.

            Maka, Ulangan 18:22 harus dilihat secara lengkap dalam konteks Ulangan 13:1-3a yang berbunyi demikian: “Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu.”  Maksudnya, bila ada peramal atau nabi palsu yang memberikan prediksi ini-itu dan walaupun prediksinya didahului oleh tanda dan mukjizat yang benar-benar terjadi, tetapi karena ia bukan nabi Tuhan dan berniat membawa umat ke arah penyembahan ilah yang lain yang sifatnya sinkretistik, peramal atau nabi itu harus ditolak bersama dengan seluruh perkataan atau prediksinya (bahasa kasarnya: ga usah didengerin deh orang itu).  Artinya, peramal atau nabi palsu itu tidak lolos screening kriteria 1 dan kriteria 2 di atas, sekalipun secara spektakuler ada tanda ajaib dan praktik gaib yang dilakukannya.

            Jadi, dalam Kasus 1, seharusnya Pendeta Z tidak perlu meladeni, apalagi menantang Paranormal Y untuk membuktikan apakah perkataan Y yang terjadi atau perkataan Z yang terjadi.  Maksudnya, Y sudah jelas-jelas adalah peramal yang sejajar dengan nabi palsu, untuk apa ditantang untul “duel,” dengan menghadirkan “nubuat” baru yang sama ngawurnya.  Mirip dengan itu, dalam Kasus 2, Pendeta A sebetulnya sudah secara tidak langsung “memperlihatkan” bahwa ia telah menyampaikan sebuah nubuat palsu (yang akhirnya tidak terjadi, yaitu Covid-19 masih merajalela dan malah bertambah parah di seluruh dunia).  Maka, pertanyaannya adalah: untuk apa pula Pendeta B menantang dia untuk mengadakan faith healing di stadion, yang—bila itu benar-benar diladeni tantangan itu—mungkin saja sarat dengan trik, modifikasi, dan tampilan kesembuhan yang dibungkus dengan kepalsuan, sebab secara dunia roh esensinya sudah ada dalam kepalsuan, bukan dalam kebenaran.

TINJAUAN DARI KASUS NUBUAT PALSU DALAM 1 RAJA 22

            Saya rasa apa yang terjadi dalam dunia sekarang ini tidak dapat dilepaskan dari “drama” di balik dunia roh sebagaimana yang pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Israel, Ahab, dalam kisah di 1 Raja-raja 22.  Pada saat itu raja Israel sedang mempersiapkan peperangan melawan Ramot-Gilead dengan mengajak raja Yosafat dari kerajaan Yehuda sebagai mitra koalisinya.  Yosafat adalah raja yang lebih baik dan lebih rohani ketimbang Ahab yang jahat dan bengis (kemungkinan karena terpengaruh istrinya, Izebel, yang memang sangat luar biasa jahatnya; lih. 21:25).  Karena urusan perang adalah urusan yang penting sekali, Yosafat mengusulkan agar ditanyakan dahulu apa pesan dari firman Tuhan (ay. 5).  Kemudian Ahab langsung mengumpulkan 400 nabi palsu Asyera, di mana mereka semua secara aklamasi menjawab dengan positif yang mendorong raja untuk segera pergi berperang (ay. 6).

           Yosafat merasa ada yang kurang beres dengan jawaban dari paguyuban nabi-nabi yang sealiran tersebut; itu sebabnya ia bertanya lagi: “Tidak adakah lagi di sini seorang nabi TUHAN, supaya dengan perantaraannya kita dapat meminta petunjuk?” (ay. 7).  Setelah itu meluncurlah jawaban Ahab: “Masih ada seorang lagi yang dengan perantaraannya dapat diminta petunjuk TUHAN.  Tetapi aku membenci dia, sebab tidak pernah ia menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan malapetaka.  Orang itu ialah Mikha bin Yimla” (ay. 8).  Ternyata yang disukai oleh Ahab adalah: orang yang menyampaikan kata-kata atau nubuat baik dan menyejukkan yang sesuai dan cocok dengan kehendak dan suasana hatinya.

           Sebenarnya raja Ahab sangat mungkin tahu bahwa nabi-nabinya berkata dusta, dan tidak keliru bila dikatakan bahwa “ketua tim sukses” nabi-nabi palsu waktu itu, Zedekia, juga tahu bahwa Mikha adalah nabi benar yang selalu mengatakan kebenaran dan mereka semua adalah palsu.  Itulah sebabnya setelah Mikha mengungkapkan yang benar, Zedekia menampar nabi Mikha, sambil berkata: “Mana boleh Roh TUHAN pindah dari padaku untuk berbicara kepadamu?” (1Raj. 22:24).  Mengomentari perkataan itu, Esther J. Hamori membuat sebuah pengamatan yang bagus pada ayat ini: “Although Zedekiah intends this as an insult to Micaiah’s seemingly arrogant claim, he inadvertently speaks the truth from the author’s perspective: the spirit of Yhwh is not with Ahab and his prophets but with Micaiah” (“The Spirit of Falsehood,” Catholic Biblical Quarterly 72/1 [January 2010] 19).  Di bagian akhir tulisannya (h. 28), Hamori menyimpulkan bahwa “Ahab’s prophets are deceived.”  Sebagai tambahan dari saya: selain mereka ditipu oleh roh dusta, mereka sebenarnya sudah tahu pada kelompok koalisi mereka ada dalam kepalsuan, tetapi membiarkan diri mereka dibohongi sekaligus dibodohi oleh roh dusta.  Jadi, Zedekia secara ironis mengungkapkan sebuah kebenaran yang ia sudah tahu: Roh TUHAN memang ada pada Mikha, nabi benar itu, bukan pada mereka, nabi-nabi palsu (yang menyampaikan nubuat-nubuat palsu).

           Dalam konteks ini kita perlu memperhatikan sebuah interpretasi yang menarik yang dibuat oleh David J. Zucker ketika ia membandingkan Mikha, nabi benar itu, dengan 400 nabi-nabi palsu, dan terutama dengan ketua tim kampanyenya, Zedekia (“The Prophet Micaiah in Kings and Chronicles,” Jewish Bible Quarterly 41/3 [July-September 2013] 160).  Bagi Zucker, ketika Zedekia berkata: “Mana boleh Roh TUHAN pindah dari padaku untuk berbicara kepadamu?” (1Raj. 22:24), penekanan pada kata “Roh TUHAN” dijawab oleh Mikha dengan perkataan: “Jika benar-benar engkau pulang dengan selamat, tentulah TUHAN tidak berfirman dengan perantaraanku” (22:28; bdk. ay. 14, 19).  Lalu Zucker membuat sebuah perbandingan: “There is a clear contrast between the word of Y-H-V-H, the term for prophecy used by Micaiah, and the term used by Zedekiah, the spirit of Y-H-V-H.”  Kemudian sambil mengutip sebuah sumber ia melanjutkan: “(At) the heart of the matter (are): two views of prophecy, divination by ‘YHWH’s spirit’ and divination by ‘YHWH’s word’. . . true prophecy is rational and unaffected by the deceptive spell of the ‘spirit’” (h. 160).

           Maksudnya, Zedekia dan para nabi palsu suka memakai istilah “roh” untuk menyeret umat memasuki wilayah atau suasana yang emosional, irasional, dan menyesatkan, sebab wilayah roh adalah wilayah yang sangat subjektif dan sangat sulit dapat dideteksi.  Namun, sekalipun mereka “bermain” di wilayah yang subjektif dan sekaligus palsu itu, para nabi palsu itu jelas tidak akan berkata seperti ini: “Hai, yang mulia raja, yang kami akan sampaikan berikut ini adalah sebuah hoax yang isinya kepalsuan dan kebohongan!”  That is absolutely impossible.  Bila mereka melakukan itu, bukan cuma kebohongan yang kelihatan tetapi juga kebodohan yang ngetop.  Karena itu Geoffrey Miller menegaskan: “A savvy deceiver would never announce to his intended victim that he aims to deceive the person” (“The Wiles of the Lord: Divine Deception, Subtlety, and Mercy in I Reg 22,” Zeitschrift für die alttestamentliche Wissenschaft 126/1 [2014] 53).

           Sebaliknya, nabi benar Mikha justru menegakkan firman Tuhan sebagai kebenaran yang objektif, rasional, dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin (ru’ah, angin atau roh) pengajaran.  Pada zaman sekarangpun kita harus berhati-hati terhadap kalangan tertentu yang sedikit-dikit bicara tentang “roh” atau (mengaku dipimpin) “Roh Kudus,” lebih-lebih lagi kalau yang mengatakannya hidup dan pelayanannya tidak beres serta tidak konsisten dengan kebenaran dan kekudusan.  Karena itu, otoritas yang harus menjadi pegangan bagi umat adalah firman Tuhan yang objektif dan dapat diverifikasikan, bukan bentuk pengajaran yang ekstasis, irasional, gaib, dan deseptif.  Melalui komitmen seperti inilah firman Tuhan sungguh akan menjadi patokan atau ukuran satu-satunya dalam berteologi secara benar dan konsisten.

            Bila disimpulkan: di dalam 1 Raja-raja 22 Tuhan memang berniat menghukum raja Ahab atas dosa-dosanya, lalu Ia membiarkan Ahab memilih sendiri kecenderungan hatinya untuk lebih berkiblat pada dusta, dan satu lagi: Tuhan membiarkan tampilnya di balik layar “suatu roh” (ay. 21) yang secara “elegan” bertransformasi (entah caranya bagaimana) “menjadi roh dusta dalam mulut semua nabi [palsu]” (ay. 22) yang jumlahnya 400 orang!  Perhatikan: satu roh dusta bisa menyebarkan hoax melalui ratusan orang sekaligus dan itu terjadi di zaman primitif kira-kira tahun 850 B.C. di mana tidak ada teknologi penggandaan yang canggih seperti masa kini.  Tujuannya adalah supaya Ahab melakukan kesalahan dengan percaya pada ramalan atau nubuat hoax yang digandakan oleh nabi-nabi melalui kecanggihan karya satu roh, yaitu percaya pada message bahwa ia akan menang dalam pertempuran.  Kalau ada orang yang berpikir roh dusta seperti ini sudah “pensiun” di zaman modern sekarang ini, maka di dalam rasionalitasnya sebetulnya sudah menjamur yang namanya kebodohan yang mirip dengan Ahab, Zedekia, dan 400 nabi palsunya!

PENUTUP

           Di tengah kehidupan yang serba sulit di masa pandemi sekarang ini, saya rasa cukup banyak orang yang ingin mengetahui tentang masa depan, tentang akhir zaman, namun sayang sekali, berapa banyak yang sungguh-sungguh mencarinya lewat Alkitab yang adalah firman Tuhan?  Ada orang yang mencari pencerahan dari ramalan-ramalan, tetapi bukan firman Tuhan; ada orang yang mencari jalan keluar pada dukun, roh, atau medium lain, tetapi bukan firman Tuhan; ada orang yang mencari jawaban dan keyakinan pada pengalaman dari tokoh atau orang-orang pintar lainnya, dan mereka tidak menyelidiki firman Tuhan.  Kalaupun ada yang menyelidiki firman Tuhan untuk mencari tuntunan tentang masa depan atau akhir zaman, mereka menafsirkannya sedemikian rupa sehingga tafsiran yang dihasilkan adalah tafsiran yang tidak benar.

           Orang yang memiliki roh kebenaran harus memiliki suatu kesadaran bahwa mereka memiliki senjata firman Allah, mereka harus menguasai firman Allah, dan menjadikan firman Allah sebagai alat untuk mendeteksi ajaran-ajaran yang tidak benar atau menyesatkan.  Lebih dari itu, dari firman Allah, seorang percaya (apalagi seorang hamba Tuhan), harus memiliki suatu perasaan bahwa ada yang salah ketika berhadapan dengan roh yang menyesatkan.  Harus ada rasa “a sense of what is wrong” ketika berhadapan dengan pengajar-pengajar yang sesat.  Karena itu, apabila orang percaya dan hamba Tuhan ingin memiliki hidup yang penuh dengan kuasa dan hikmat, ia tidak boleh mencari pegangan di luar firman Allah, sebab firman Allah adalah satu-satunya otoritas tertinggi di mana Roh Kudus bekerja dan firman Allah adalah alat untuk mendeteksi segala kepalsuan, termasuk pekerjaan-pekerjaan pengajar atau pendeta palsu.

           Ajaran sesat atau teologi sumbang pernah ada dalam gereja dan semakin menjamur di akhir zaman ini.  Tuhan Yesus dan para rasul sudah berkali-kali mengingatkan mengenai hal ini jauh-jauh hari sebelumnya (Mat. 24:4-5, 23-25; Kis. 20:28-31; 2Tes. 2:1-12; 2Ptr. 3:3-7).  Intinya, pengajar atau pendeta palsu akan meng-klaim bahwa mereka berbicara mewakili Tuhan.  Tetapi klaim yang diucapkan saja tidak cukup, karena hal itu harus dibuktikan apakah mereka hidup dan melayani selaras dengan ajaran firman Allah.  Jikalau mereka mendistorsikan kebenaran tentang Kristus, tentang Roh Kudus, tentang keselamatan, karunia Roh, Alkitab, dan lain-lain, pengajaran mereka harus ditolak.  Karena itu, jangan terlalu cepat percaya begitu saja kepada seorang pengajar atau pendeta hanya dengan melihat kepandaian berbicaranya, karisma kepribadiannya, atau otoritas penguasaan materi yang disampaikannya.  Jangan mudah terkecoh apabila ada pendeta yang berpenampilan menarik, sopan, lembut, dan nampaknya sering dikit-dikit mengucapkan kalimat-kalimat yang sangat rohani.  Singkatnya, penampilan lahiriah bukan menjadi ukuran satu-satunya untuk menilai seseorang karena bisa saja orang yang bertujuan menipu menyamar seperti itu.  Periksalah dari kitab suci apakah ada yang bertentangan dengan firman Allah.  Telitilah apakah mereka meninggikan Kristus dan tunduk kepada firman-Nya.  Perhatikan apakah hidup mereka sehari-hari berselarasan dengan moralitas dan keluhuran firman Allah.  Dengan perkataan lain, firman Tuhan harus menjadi penuntun dan pedoman kita yang otoritatif ketika berhadapan dengan isu dan problema di zaman ini.