Melawan Godaan Untuk Berbicara Melampaui Batas-Batas Natur Seorang Manusia

Saya jadi ikut pusing satu minggu belakangan ini lantaran puluhan orang bercerita sambil mengeluh dan bertanya terus menerus kepada saya tentang isi khotbah seorang pendeta di Jakarta yang diviralkan lewat Youtube yang kontennya sangat kontroversial.  Intinya, di dalam pemberitaan firman hari minggu 29 November 2020 yang lalu, sang pendeta tiba-tiba bicara panjang lebar tentang politik (di mana sebenarnya saya setuju dengan pikiran bekas mentor saya, Wayne Grudem, yang menegaskan: boleh-boleh saja sekali-kali pendeta memilih topik ini; lih. “Permission for Pastors to Preach about Politics”; http://www.waynegrudem.com/permission-for-pastors-to-preach-about-politics).  Topik yang dibahas sang pendeta adalah tentang polemik pemilihan presiden di Amerika Serikat antara Joe Biden (yang sudah boleh dikata memenangkan pertarungan itu dan sudah disebut president-elect) dan Donald Trump (yang nyaris bisa disebut kalah, tetapi tidak terima dan menuduh ada kecurangan yang katanya terstruktur, masif, dan sistematis).  Tetapi yang menjadi persoalan dan yang paling mengejutkan banyak orang adalah dalam salah satu kalimat khotbahnya pak pendeta seperti sedang bernubuat bilang begini: “Di dalam satu bulan akan datang, engkau akan melihat seluruh Amerika akan terbalik; nanti Trump akan jadi presiden dan Biden mungkin di-sued [digugat] masuk penjara.”  Luar biasa sekali “nubuat” yang bernada bombastis ini!

            Tentunya sudah dapat diperkirakan pendeta tersebut adalah pendukung Trump, dan ia percaya—sebagaimana Trump dan para supporter-nya yakin—bahwa ada konspirasi yang curang, sehingga ia dikalahkan di beberapa negara bagian di sana.  Sudah bisa dipastikan juga pendeta yang bersangkutan hanya menerima info atau berita dari satu sisi saja, yaitu—setelah saya search dengan teliti—sumber berita dari Facebook tertanggal 28 November 2020 (jadi satu hari sebelum pak pendeta berkhotbah) yang mengutip CNN bahwa Trump akan menang, padahal tidak ada berita semacam itu di kanal CNN.  Hal ini menandakan yang dijadikan sumber oleh sang pendeta adalah sumber yang tidak dapat dipercaya alias fake news yang tidak sesuai dengan realitas yang ada (lih. https://www.politifact.com/factchecks/2020/nov/30/facebook-posts/no-cnn-isnt-saying-trump-will-win-presidential-ele/).  Lebih dari itu, apa yang disampaikan sang pendeta di mimbar kebaktian umum adalah sebuah prediksi yang terlalu berani dan sangat mungkin itu adalah “keterlepasan ngomong” dalam keadaan spaneng (tegang) dan emosional (sebuah kesalahan yang dapat dilakukan siapa saja, termasuk saudara dan saya).

            Sebenarnya apa yang terjadi di atas mirip dengan situasi ketika seorang pendeta dari kalangan teologi sukses yang bulan Maret 2020 tampil dalam sebuah video layaknya sedang bernubuat guna menengking COVID-19 yang disampaikan dengan kalimat-kalimat yang tidak kalah kontroversialnya (saya juga pada waktu itu menerima banyak pertanyaan jemaat, majelis, dan hamba Tuhan tentang hardikan sang pendeta).  Tujuan hardikan tersebut adalah supaya virus-virus—yang waktu itu baru merebak di Indonesia—menjadi tenang, dan menuruti perkataan pak pendeta untuk berhenti menginfeksi manusia.  Kenyataannya hardikan tersebut tidak mempan dan gerombolan virus malah semakin menjadi-jadi “berdemo” dan “memenggal nyawa” banyak orang di Indonesia dan seluruh dunia.  Selengkapnya pendeta tersebut berkata demikian: “Tapi sekarang Tuhan Yesus menyuruh saya untuk melakukan seperti apa yang telah dilakukan Tuhan Yesus, yaitu dengan menghardik badai itu, dan berkata: ‘Diam, tenanglah.’  Karena itu sekarang saya memerintahkan kepada COVID-19, dan kepada krisis ekonomi, dan berkata: ‘Diam, tenanglah.’  Kita sekarang memasuki peperangan rohani yang dahsyat.  Mari, saya mengajak saudara untuk berdoa seperti itu; kita memerintahkan kepada COVID-19 dan kepada krisis ekonomi, dan berkata: ‘Diam, tenanglah.’  Dalam melakukan peperangan rohani ini saudara harus banyak berbahasa roh.”

            Mohon jangan disalahmengerti: saya sebenarnya bukan sedang mengeritik pribadi atau pelayanan kedua pendeta; yang saya lakukan adalah mengevaluasi perkataan-perkataan kontroversial yang terucapkan di bawah terang firman Tuhan.  Jadi tidak dengan sukacita saya melakukan pembahasan ini, namun karena banyaknya pertanyaan dan keresahan jemaat, serta demi meluruskan pengertian pengajaran yang benar, saya menyuarakan pikiran ini.  Saya menghormati kedua pendeta dan tidak akan menyebut perkataan mereka sebagai nubuat palsu (atau, apalagi menyebut orangnya sebagai nabi atau pendeta palsu).  Maka, sewaktu menyoroti perkataan mereka dari sudut pandang teologi yang sehat, saya menyadari bahwa bukan hanya kedua pendeta yang dapat melakukan hal-hal yang tidak benar, melainkan saudara dan saya sangat mungkin berbuat yang sama dan terlalu terburu-buru melontarkan sesuatu yang ternyata keliru dan tidak terwujud di kemudian hari.

GODAAN UNTUK TRANSENDENTALISASI DIRI

            Saya hendak memulai dengan pertanyaan sebagai berikut: Kedua pendeta sebetulnya keterlepasan ngomong, yaitu drifting (melantur bicara) dan wander away from the subject of preaching (tidak fokus pada tujuan dasar dalam berkhotbah), atau sedang menyampaikan sebuah nubuat, yakni meramalkan apa yang akan terjadi pada masa unforeseenable future?  Sulit sekali untuk menetapkan salah satu atau kedua-duanya.  Namun, setelah memperhatikan kalimat demi kalimat dan konteks yang melatarbelakangi ungkapan kedua pendeta, saya rasa sebab utama yang memicu ucapan tersebut adalah gagalnya seorang hamba Tuhan mengatasi godaan atau pencobaan yang bermula dari sebuah “desire for transcendence” (hasrat untuk menjadi transenden).  Hasrat untuk mentransendentalisasikan diri adalah keinginan kuat dalam jiwa manusia (bisa pendeta, majelis, atau orang awam) untuk mengungkapkan, menceritakan, atau mengalami hal-hal yang melampaui keterbatasan kemanusiaannya.

            Sesungguhnya inilah pergumulan sekaligus godaan bagi manusia sejak Taman Eden dan berlangsung terus hingga sekarang, atau bahkan semakin menjadi-jadi di zaman akhir ini, yaitu manusia senantiasa berusaha memenuhi kebutuhan dirinya dalam hal melepaskan keterbatasan naturnya sebagai manusia (melalui cara membuang jauh-jauh limitasi yang ada pada naturnya) dan sekaligus “meloncat” memasuki sebuah dimensi natur yang menurutnya adalah natur yang ideal, atau dapat go beyond untuk memasuki suatu dimensi pengalaman yang lebih baru, lebih hebat, lebih sakti, lebih meyakinkan, dan lebih “tahu duluan” dari pada orang lain.  Sebagai contoh: misalkan di tengah masa yang sulit ketika COVID-19 merajalela dan banyak kesusahan plus kematian terjadi di mana-mana, bila tiba-tiba ada pendeta yang memaklumatkan berdasarkan nubuat bahwa pandemi akan berhenti tanggal 1 Januari 2021, itu akan menjadi berita yang hebat sekaligus menghebohkan, terutama bila apa yang dinubuatkannya itu betul-betul terjadi.  Sang pendeta akan disanjung sebagai pendeta luar biasa, pendeta sakti, pendeta tokcer, dan sederet pujian super lainnya.

            Dalam upaya transendentalisasi diri ini yang dikejar adalah terciptanya sebuah natur yang ideal sebagaimana yang dilukiskan di atas.  Sebaliknya, yang harus dijauhi adalah natur yang tidak ideal.  Pertanyaannya: natur yang tidak ideal itu apa?  Natur yang tidak ideal adalah natur yang penuh dengan kelemahan, ketidakberdayaan, ketidaktahuan, kekalahan, kekurangan, kemiskinan, kemandekan, sakit penyakit, penderitaan, penganiayaan, pergumulan, dan seterusnya.  Di lain pihak, natur yang ideal adalah natur yang selalu mengalami kemenangan, kesembuhan, kejayaan, kelancaran, jalan keluar, kekayaan, jago bernubuat, pandai melihat sesuatu yang jauh di sini atau di situ, bisa melihat setan atau arwah, bisa melihat adanya aura menjelang seseorang meninggal dunia, dapat berkunjung ke sorga atau neraka, dan seterusnya.

            Pendeknya, itulah natur yang diidamkan dan dirasakan mengena dan macho oleh banyak orang, dan sekali lagi, terutama oleh hamba Tuhan, khususnya dalam rangka mau menghadirkan natur yang ideal tersebut terus menerus dalam kehidupan dan pelayanannya.  Sebab apa?  Sebab kebutuhan untuk menjadi hebat, berhasil, terlihat saleh dan sakti, dan membuat banyak orang terpesona adalah kebutuhan yang menggoda setiap orang.  Namun demikian, bayarannya adalah kebutuhan ini akan mengubah posisi doktrinal seseorang, termasuk bisa juga, pudarnya reputasi yang telah dibangun puluhan tahun.  Saya tidak tahu apakah orang yang sudah memasuki fase idealis itu benar-benar sudah pernah berpikir mengenai harga yang harus dibayar ini, atau bisa juga soal harga yang harus dibayar ini diabaikan begitu saja, karena barangkali kebutuhan itu sudah sedemikian kuatnya sehingga ia tidak mampu lagi mempergunakan hikmat dan akal sehatnya.

            Sekali lagi, gejala sejenis ini bukan hanya dapat terjadi di kalangan pendeta yang sudah lulus pendidikan teologi atau yang sudah lama melayani (pendeta senior), tetapi dapat juga dijumpai pada penginjil rookie, majelis, aktivis, dan kalangan awam yang dianggap masih elementari teologinya.  Maka, saya tanyakan sekali lagi, khususnya kepada yang baru melayani atau yang sudah lama melayani, yang sangat perlu kita perhatikan adalah: Apakah di dalam hati yang terdalam kita bisa bersikap jujur di hadapan Allah yang maha tahu itu, sambil mengingat bahwa suatu hari nanti “ . . . kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidup ini, baik ataupun jahat” (2Kor. 5:10)?

GODAAN UNTUK TERLALU YAKIN “BENAR”

Ludwig J. J. Wittgenstein (1889-1951), seorang filsuf logika dan linguistik terkenal dari Inggris dan mengajar di Universitas Cambridge, pernah berkali-kali mengungkapkan secara jujur dan terbuka tentang kesulitan—bahkan nyaris ketidakmungkinan—bagi manusia untuk memeriksa dirinya sendiri, dan akhirnya yang lebih sering terjadi adalah manusia menipu dirinya sendiri (self-deception).  Itulah sebabnya ia pernah menuliskan perkataan seperti ini: Nothing is so difficult as not deceiving oneself (“Tidak ada yang lebih sulit ketimbang tidak menipu diri sendiri”).  Menurutnya, adalah sangat sulit bagi seseorang untuk meneropong dirinya dari sisi eksternal atau sisi internal, dan walaupun ia sudah sedikit banyak mulai menyadari siapa dirinya, termasuk menyadari kekurangan dan kelemahannya, ia tetap dapat dengan mudah sekali jatuh pada pola self-deception.

            Jadi, ada orang yang memalingkan wajahnya (dari sebuah realitas atau kebenaran) supaya tidak melihat (seperti buta terhadap) apa yang ternyata jelas terlihat oleh orang lain.  Esensinya adalah tidak mau melihat supaya tidak tahu.  Dalam self-deception seseorang tidak bersedia melihat atau menilai situasi di hadapannya, dan ini menandakan ia secara spontan menskors (menghentikan sementara) penggunaan akal.  Untuk orang seperti ini, diberikan bukti apa pun tidak “mempan,” sebab pikirannya sangat di-selektif-kan untuk aspek-aspek yang disukainya saja, dan ia sama sekali tidak mau meninjau aspek yang tidak disukainya.

            Kelihatannya di zaman Yakobus menuliskan suratnya sudah ada orang seperti itu: “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (1:22).  Dalam konteks ini, ada sebagian orang melakukan seleksi-pikiran terhadap firman Tuhan (misalnya, dengan mengatakan dalam hatinya: “Saya akan mendengarkan saja [firman yang diberitakan],” dan dengan preferensi suka-sukanya ia akan menutup matanya terhadap kewajiban atau dorongan untuk “melakukan firman itu.”  Jadi, menipu diri (self-deception) adalah seleksi-pikiran yang setengah hati (mendengarkan saja, tetapi tidak mau melakukan).

            Mirip dengan itu, bila ada seseorang yang tahu tentang kebenaran, tetapi dia sedang melakukan sesuatu yang salah, melalui seleksi-pikirannya ia akan mengabaikan yang benar dan tetap terdorong untuk melanjutkan perbuatan yang salah itu.  Orang seperti inilah yang melakukan self-deception (“But be doers of the word, and not merely hearers who deceive themselves”; NRSV; bdk. versi NLT yang menerjemahkan: fooling yourselves yang sebenarnya setara dengan lying to yourselves).  Akhirnya terjadilah inkoherensi atau ketidakkoherenan (secara logika tidak konsisten) antara perkataan dan perbuatan, antara pengakuan iman dan perilaku hidup sehari-hari.  Herannya, orang lain (atau anak kecil) bisa melihat ada yang tidak koheren, tetapi orang dewasa yang sedang fooling himself or herself seperti tidak merasakan dan tampaknya bisa selalu mengabaikannya.

            Proses “menipu diri sendiri” sebenarnya sama seperti pembahasan di atas: Manusia cenderung memalingkan wajahnya dari yang benar, kemudian ia sengaja membiarkan dirinya “diseret” atau “terpikat” untuk menyukai apa yang menurut pikirannya adalah benar.  Hal ini menandakan ia hanya “tertarik” pada keinginan yang sudah di-seleksi oleh akalnya sebagai hal yang disukainya, dan ia tidak mampu melihat (dengan mata tertutup pada) bukti atau realitas yang ternyata jelas terlihat oleh orang lain.  Artinya, ia sengaja tidak mau melihat supaya tidak tahu tentang apa yang benar, dan ia hanya ingin tahu tentang hal-hal yang (sebenarnya ia sudah tahu) tidak benar.  Jadi ketika seseorang “deceiving himself” ia sebenarnya tahu ia sedang “fooling himself” yang esensinya adalah “lying to himself” (boleh dikatakan: “The self deceives the self”; Diri sendiri menipu dirinya sendiri).  Dapat kita simpulkan bahwa pusat dari “self-deception” ini adalah upaya manusia untuk mengaburkan yang benar, kemudian mereka menukarnya dengan yang kelihatannya benar atau yang terlanjur dianggap sebagai “kebenaran.”

            Saya rasa “terlalu yakin benar” adalah temptation atau godaan yang menyebabkan kedua pendeta melakukan self-deception, dan akibatnya terciptalah sebuah produk pengajaran yang bukan hanya cukup kontroversial, namun juga tidak biblikal, dan bahkan bisa juga merugikan segenap universal church di segala abad dan tempat.  Maka, tidak ada jalan lain untuk remedy, selain pengakuan dan pernyataan yang tulus dari hati yang terdalam sambil berkata: “I was wrong.”

KESIMPULAN

            Siapa yang belajar sejarah dunia dan politik pasti akan dengan cepat mengenal orang yang bernama Niccolo di Bernardo dei Machiavelli (1469-1527).  Ia adalah seorang negarawan, diplomat, politikus, sejarawan, filsuf, humanis, penyair, pemain drama, penulis, dan patriot dari Florence, Italia.  Pada periode Renaissance ia dikagumi sebagai bapak politik dunia modern, sekaligus bisa juga disebut bapak hoaks, strategi berdusta, dan self-deception, sebab dengan kelihaiannya ia pernah mengajarkan hal-hal yang secara etika amat sangat buruk tetapi toh amat diminati banyak penguasa di mana-mana.  Misalnya, ia pernah menulis seperti ini: “It is better to be feared than loved, if you cannot be both” (Lebih baik ditakuti daripada dicintai, bila anda tidak dapat meraih keduanya).  Maksudnya, akan lebih aman bagi seorang pemimpin atau penguasa (atau barangkali juga: pendeta senior, ketua majelis, atau ketua sinode yang tidak mau turun dari jabatannya) untuk ditakuti ketimbang dicintai, karena pengikut atau bawahannya sangat mungkin tidak berani “mengkudeta” pemimpin yang ditakuti daripada menjatuhkan pemimpin yang dicintai.  Walaupun terdengar tidak etis dan isinya tidak benar, ungkapan ini sudah keburu disukai oleh para diktator, tiran, pimpinan organisasi, bos perusahaan, dan (herannya) juga oleh pendeta tertentu (khususnya yang sudah kelamaan duduk sebagai ketua sinode atau gembala dan tidak inget untuk lengser).

            Menurut Machiavelli, karena manusia di mana-mana kebanyakan rapuh, jahat, tidak dapat dipercaya, tidak suka berterima kasih, dan penuh kepalsuan, maka seorang pemimpin harus meninggalkan cara-cara lama dan membuang rumusan moralitas yang konvensional sewaktu berhadapan dengan orang banyak.  Singkatnya, karena manusia jahat dan penuh kepalsuan, pemimpin harus tahu bagaimana berbuat jahat dan tidak segan-segan untuk berdusta dan berkata tidak benar.  Pada poin inilah yang namanya moralitas tidak perlu digubris bila seorang penguasa mau tetap kuat dalam kedudukannya.  Bila para penguasa benar-benar mengikuti semua jurus Machiavelli, mereka akan benar-benar terbentuk menjadi pendusta yang ulung dan tetap berkuasa meskipun tampak sekali kata-kata yang tidak benar sering keluar dari mulutnya.

            Pengaruh pemikiran Machiavelli boleh dikatakan meresap dan menjelma ke dalam filsafat Friedrich Nietzsche (1844-1900) dari Jerman.  Selain ahli filsafat, Nietzsche juga adalah seorang ahli kebudayaan, komposer, penyair, ahli bahasa (khususnya Latin dan Gerika), di mana karya-karyanya memengaruhi banyak kalangan Barat dan terutama Eropa.  Ia pernah membuat pengakuan bahwa pikiran Machiavelli tentang politik, teristimewa bahwa penguasa harus mempertahankan kedudukan selama mungkin, adalah sebuah pemikiran yang cemerlang, sebab kebudayaan tidak dapat berkembang bila struktur kekuasaan tidak kokoh.  Dalam mempertahankan kekuasaan, menurut Nietzsche, penguasa harus berani mengungkapkan hal-hal yang tidak benar karena tindakan itu memiliki manfaat untuk menghindari depresi dan menyehatkan jiwa (komentar saya: pantesan ada presiden, calon presiden, politikus, atau bahkan pendeta yang tetap “kelihatan segar,” sekalipun sudah sering berkata dan berbuat yang tidak benar).

            Selama 35 tahun melayani, saya terlalu sering mendengar percakapan di antara majelis atau jemaat tentang pendeta yang menjadi batu sandungan bukan karena tidak atau kurang bisa memimpin atau berkhotbah, melainkan karena masalah kepribadian yang tidak bisa dibilangin, karakter yang buruk, tabiat yang korup, etika yang bengkok, ketamakan akan uang atau harta benda, haus akan kedudukan, jabatan, kekuasaan, dan mantap dalam berdusta atau berkata tidak benar.  Biasanya untuk urusan yang seperti ini banyak rekan kerja, penatua/majelis, atau anggota jemaat dari sang pendeta tidak atau kurang berani menegur atau mengingatkan, apalagi kalau jemaatnya adalah orang Tionghoa yang biasanya menghormati dan terlalu sungkan pada boksu yang dianggap “can do no wrong.”  Belum lagi kalau boksu-nya memiliki kemampuan berkelit atau bersilat lidah (untuk tidak mengatakan: suka ngomong yang tidak benar) dan karismanya sedemikian menonjol sehingga semua orang cenderung “menutup sebelah mata” atau “menutup kedua mata,” dan selalu “kalah ngomong.”  Tetapi, bila pikiran dan cara-cara Machiavelli sudah menurun pada Nietzsche, dan terus menurun pada banyak politikus dan agamawan yang bobrok dan korup dalam dunia masa kini, masakan kita berdiam diri saja bila hal itu sekarang menurun juga pada level pimpinan (pendeta, majelis, atau aktivis) dari gereja saudara dan saya?