Jejak Kodok Rebus, Problem Dusta, Dan Tipuan Iblis/Roh Jahat

PENDAHULUAN

Dalam pelajaran kelas biologi SMP atau SMU, hampir selalu guru yang mengajar akan memperkenalkan kepada para murid sejenis binatang amfibius pemakan serangga yang hidup di air tawar atau di darat, berkulit licin, berwarna hijau, merah kecokelat-cokelatan, kaki belakang lebih panjang, pandai melompat, serta yang struktur dan keistimewaannya sangat menarik.  Binatang itu adalah kodok dengan nama Latinnya Anura.  Walaupun kecil dan ringkih, kodok dapat bergerak dengan cepat dan refleksnya luar biasa (karena itu tidak mudah mendekati binatang ini; ia akan segera kabur atau terjun ke dalam air).  Bila ada predator yang membahayakan menghampirinya, ia akan dengan cepat bereaksi untuk menyelamatkan diri.

            Ada satu lagi kelebihan hewan ini: ia disebut hewan poikilotherm, binatang berdarah dingin (a cold-blooded organism; https://www.merriam-webster.com/dictionary/poikilotherm).  Jangan terlalu cepat menduga kodok sering berperilaku bagaikan gembong mafia atau kelompok radikal keagamaan yang suka dengan kejam membantai, atau paling sedikit, mengancam akan memenggal kepala sesamanya.  Poikilotherm hanya menunjukkan bahwa ia adalah hewan yang tidak memiliki suhu tubuh sendiri.  Artinya, suhu badannya kira-kira sama dengan suhu sekitarnya, atau suhu tubuhnya akan beradaptasi dengan suhu udara atau air yang ada di lingkungannya.  Dengan demikian, suhu badannya akan berfluktuasi dan dipengaruhi oleh suasana yang ada di sekelilingnya: kalau panas, ia biasa saja ikut menyesuaikan diri; kalau dingin, ia tetap ngadem dan tidak menggigil.  Jadi, sang kodok tidak sama dengan manusia yang bisa kegerahan atau kedinginan (atau masuk angin menjadi panas-dingin).

            Namun demikian, bila perubahan suhu di sekitarnya berlangsung perlahan-lahan (jadi tidak mendadak), si kodok tidak dapat mendeteksi bahaya yang mengancamnya.  Maksudnya, bila secara tiba-tiba ia dipindahkan dari air dingin ke air panas, ia akan bereaksi dengan meloncat karena bisa mendeteksi panas, tetapi bila dimasukkan ke air dingin di sebuah panci, lalu panci itu dipanasi kompor di bawahnya secara perlahan-lahan, itu kodok akan santai dan anteng saja sampai akhirnya dengan penuh kedamaian ia akan menjadi almarhum sebagai kodok rebus tanpa sempat bereaksi, apalagi melarikan diri.

            Pertanyaannya: Apa yang membunuh sang kodok sebenarnya?  Kalau ada yang menjawab: “Udah jelas air panas itu yang membunuh tuh kodok!,” tidak salah bila anda menjawab seperti itu, namun jawaban tersebut belum terlalu lengkap.  Menurut seorang penulis: “. . . [W]hat killed the frog was his own inability to decide when to jump” (“Let’s Talk about ‘Boiling Frog Syndrome’”; https://exploringyourmind.com/lets-talk-boiling-frog-syndrome/).  Maka pelajaran yang dapat dipetik adalah tidak mampu bertindak atau terlambat bertindak dapat membawa implikasi atau akibat yang fatal.  Keasyikan menikmati sesuatu, memberikan toleransi yang kebablasan, atau pembiaran terhadap suatu suasana terlalu lama akan membawa kepada bencana atau situasi yang ekstrem, atau bahkan mematikan.

            Artinya, jikalau dunia sekitar kita sedang berubah, dan perubahan itu terjadinya sedikit-dikit dan berangsur-angsur, kebanyakan orang tidak menyadari konsekuensi dari perubahan-perubahan sampai terakumulasi selama sejangka waktu.  Sewaktu mereka mulai menyadarinya, segalanya ternyata sudah terlambat, sebab mereka sudah tidak memiliki kemampuan untuk mengubah situasi yang sudah terbentuk di mana kerusakan dan tragedinya sudah berlangsung dan tidak dapat direparasi.

            Kecenderungan untuk bersikap serupa kodok rebus dapat juga terlihat pada banyak orang, termasuk yang mengaku Kristen dan hamba Tuhan, khususnya ketika meneropong persoalan maraknya dusta dan kebohongan dalam dunia kekinian.  Banyak di antara mereka yang tahu bahwa ini adalah masalah yang serius, tetapi mereka tetap bersikap tenang dan santai saja, persis seumpama kodok yang anteng saja lantaran menganggap tubuhnya masih bisa beradaptasi dengan temperatur air yang semakin panas.  Barangkali sebagian besar manusia tidak sadar—dan sebagian lagi, tidak mau disadarkan—bahwa persoalan dusta dan kebohongan dalam dunia masa kini bukan masalah kedagingan manusia semata.  Problema ini ada kaitannya dengan tipuan yang dikerjakan oleh kuasa kegelapan, yaitu Iblis bersama dengan pasukan roh-roh jahat yang tidak berwujud.  Realitas ini sebenarnya sudah dikatakan dan dibahas di dalam Alkitab ribuan tahun yang lalu.  Maka dalam tulisan singkat ini saya mengajak kita menyimak apa yang dipaparkan dalam firman Tuhan tentang sumber dusta dan tipuan Iblis, serta melihat bagaimana proses menjamurnya dusta dan tipuan menginfeksi banyak orang, termasuk pada mereka yang mengaku sebagai pelayan-pelayan Tuhan dan terutama pada bidat atau sekte.

KARYA IBLIS MELAHIRKAN DUSTA SEJAK TAMAN EDEN

            Secara eksplisit dan implisit Alkitab telah berkali-kali mengungkapkan bahwa kuasa kegelapan, yaitu Iblis dan roh-roh jahat, memiliki kemampuan mencobai manusia dan mempraktikkan dusta dan kebohongan.  Hal ini menunjukkan sebenarnya ada kaitan atau relasi antara kuasa kegelapan yang tidak tampak konkret dengan dusta yang terlihat menonjol diperbuat manusia di sepanjang zaman.  Tuhan Yesus sendiri secara mengejutkan berkata kepada orang Farisi dengan ungkapan yang amat keras: “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu.  Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran.  Apabila ia berkata dusta [τὸ ψεῦδος], ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta [ψεύστης] dan bapa segala dusta” (Yoh. 8:44).  Itu adalah kalimat-kalimat yang keras sekali.

           Coba cermati: Ucapan Tuhan Yesus itu tidak sedang dialamatkan kepada para pemungut cukai, pelacur, perampok, atau orang-orang yang berbisnis secara curang dan licik (yang biasanya dianggap sebagai orang-orang yang lebih berat dosanya), tetapi kepada orang-orang Farisi yang selalu tampil religius dan tampak saleh.  Bayangkan: Kelompok Farisi sebagai pemimpin agama yang dominan waktu itu disebut berkiblat pada Iblis dan hidup dalam ketidakbenaran!  Tetapi, bukankah fenomena pemimpin agama atau tokoh politik yang membawa-bawa nama agama yang perilaku dan will-nya sebenarnya tertawan kuasa kegelapan ada secara universal di mana-mana?

           Perhatikan, Tuhan Yesus mempergunakan istilah “sejak semula,” yang tidak lain sebenarnya menunjuk pada peristiwa Taman Eden (Kej. 3), yaitu ketika Iblis menjatuhkan manusia pertama dengan dusta (τὸ ψεῦδος) yang licin dan mematikan, sebab memang ia adalah pencipta dusta (ψεύστης).  Motif dusta yang bertujuan menipu atau menyesatkan juga disebutkan dalam Wahyu 12:9: “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.”  Walaupun konteks ayat ini sebetulnya menggaungkan peristiwa Taman Eden yang sudah terjadi satu kali di masa lampau, namun terjemahan Alkitab New American Standard Bible memberikan makna yang cukup menarik untuk ayat tersebut, yakni dalam bentuk kekinian (present tense): “who deceives the whole world.”  Ini memberikan indikasi yang jelas bahwa karya Iblis yang berusaha mencobai manusia melalui tipuan kebohongan masih berlangsung terus menerus secara aktif di seluruh dunia sampai hari ini.

           Fakta di atas menunjukkan bahwa Iblis dan malaikat-malaikatnya (atau lebih tepat, “roh-roh jahatnya”) memiliki kemampuan untuk melakukan salah satu karya besarnya, yakni menyesatkan manusia.  New Revised Standard Version menerjemahkan istilah tersebut dengan “Satan, the deceiver of the whole world,” dan maknanya adalah: Iblis, sang penipu (deceiver) memiliki kemampuan besar untuk melakukan “deception” (tipuan) ke seluruh dunia dengan pengalaman selama beberapa milenium.  Istilah “deception” (tipuan) sebenarnya lebih dalam dan lebih licik dari dusta.  Bila dusta atau kebohongan bermakna menyampaikan sebuah informasi yang palsu (yang dianggap sebagai kebenaran), deception” mengandung arti ada sebuah perangkat atau cara (berupa strategi, taktik, atau jebakan) yang dipakai sang pelaku agar korbannya bukan hanya keliru dalam memahami konsep tertentu, tetapi juga terbawa dalam kepalsuan pelaku secara sadar atau tidak sadar.  Itulah sebabnya ada orang-orang tertentu yang terpikat atau terjebak dalam bidat atau pengajaran palsu, namun yang bersangkutan kurang menyadarinya.

           Hal ini terlihat dalam perkataan rasul Paulus di 2 Korintus 11:3, yang mengatakan: “Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya (NIV: Eve was deceived by the serpent’s cunning).”  Kata kerja “ἐξαπατάω” (deceive) memiliki makna “to cause someone to accept false ideas about something, deceive, cheat.”  Maka, bila direkonstruksikan sekilas, apa yang terjadi di Taman Eden adalah Hawa atau perempuan itu secara halus diperdayakan dan secara tidak sadar menerima pengaruh ide yang palsu, dan Hawa sendiri belakangan mengaku: “Ular itu yang memperdayakan [deceived] aku, maka kumakan” (Kej. 3:13).  Terlihatlah di sini dengan jelas bahwa Hawa berhasil tertipu (baca: “termakan” oleh dusta yang motifnya licik) dari si ular, sebab sosok yang ada di balik itu adalah professional liar yang dijuluki “bapa segala dusta.”

            Lalu, bagaimana caranya Hawa bisa termakan oleh tipuan dan dusta dari Iblis?  Menurut Robert B. Chisholm, sebenarnya dalam peristiwa itu terjadi yang namanya “pembalikan firman” (“This perversion of God’s word suggests the presence of an evil entity working through the snake”).  Hal ini berarti terjadi pembalikan firman Tuhan yang dikerjakan oleh sosok si jahat di belakang si ular.  Kata “perversion” mempunyai arti dibalikkan, didistorsikan, atau dipindahkannya sesuatu dari makna orisinal ke arah yang menyimpang dari tujuan atau makna mula-mula.

           Menurut bapa gereja Athanasius, Iblis atau Setan gemar melakukan akomodasi (baca: disesuaikan menurut seleranya dalam menafsirkan) firman Tuhan, lalu dibalikkan atau dibelokkan menjadi firmannya (firman Iblis).  Dalam konteks Kejadian 3, Setan mempergunakan cara: “not speaking his own, but artfully adopting the words of God, and perverting their meaning.”  Cara licinnya adalah: materi perkataan Tuhan diadopsi, didaur ulang sebegitu rupa, lalu diplintir maknanya.  Hasilnya akan menampakkan rumusan semacam ini: metodenya adalah inversi (pembalikan), tetapi motifnya adalah perversi (penyesatan makna).  Siapa lagi yang mampu dan terbiasa melakukan hal sejenis ini jika bukan si jahat?  Hal ini memperlihatkan bahwa, sejak Taman Eden—artinya, sudah sejak ribuan tahun yang lampau—Iblis melakukan pekerjaan deception (tipuan dengan dusta yang licin dan licik) secara terus menerus.  Masakan ia akan pensiun atau berhenti melakukan aksi tipuan dan dustanya di zaman ini?

KARYA IBLIS MENYELIPKAN DUSTA MELALUI PENGAJARAN SUMBANG

           Iblis memiliki kemampuan untuk menginspirasikan ide atau pengajaran sumbang melalui cara-cara yang sulit terdeteksi.  Terjemahan Alkitab The Message (MSG) untuk 1 Timotius 4:1 mengatakan bahwa orang-orang yang murtad itu “chase after demonic illusions put forth by professional liars.”  Sulit terdeteksi, berkat adanya “professional liars” (ada yang mahir berbohong atau jago bikin hoax), yang mempergunakan ide atau fantasi yang demonik sifatnya.  Konteks kitab Yudas 4 bisa sedikit menjelaskan apa yang saya maksudkan, sebab di sana dikatakan “ . . . ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu.”  Bagaimana caranya orang yang bermotif tidak baik bisa masuk menyelusup ke tengah-tengah jemaat tanpa terdeteksi adalah “seni” yang bersifat satanis.  Apa tujuan orang itu masuk menyelusup di tengah-tengah jemaat jikalau bukan untuk maksud menyesatkan atau menipu (sebaliknya, orang benar dan berniat baik akan bersikap terus terang dan terang terus, sehingga tidak perlu menyelusup)?  Karena itu orang Kristen di mana pun dan gereja denominasi apa pun harus berhati-hati terhadap orang-orang yang sudah terinspirasi oleh Iblis, oleh sebab orang-orang yang semacam ini akan melakukan kegiatan yang sulit terdeteksi dengan motif yang destruktif.

           Tentu saja penampakan atau penampilan sang penyusup tidak akan terang-terangan.  Penyusup yang berkolaborasi dengan “bapa segala dusta” akan bekerja dengan licin dan licik persis sebagaimana yang diuraikan rasul Paulus dalam 2 Korintus 11:14: “Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang”  (Beberapa ayat sebelumnya ia menulis: “Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya”; ay. 3; NIV: Eve was deceived by the serpent’s cunning).  Bila ditanyakan: Bagaimana cara Iblis memperdaya atau menipu manusia?  Menurut Paulus, Iblis memiliki kemampuan untuk “menyamar sebagai malaikat terang.”  Kata “menyamar” (mengubah wujud penampilan) menarik untuk diperhatikan, berhubung satu ayat sebelumnya, yakni pada 2 Korintus 11:13 sang rasul mengatakan, “Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus.”

           Jadi apabila pertanyaannya adalah bagaimana caranya Iblis melakukan dusta dan tipuan, jawabannya adalah melalui orang-orang yang menyamar seolah-olah mereka adalah rasul-rasul Kristus yang sebetulnya adalah rasul-rasul palsu.  Jikalau tugas utama seorang rasul adalah memberitakan firman Tuhan dan mengajar, hal itu berarti Iblis pun gemar memasuki dimensi penyesatan melalui pengajar atau pengkhotbah palsu yang menyampaikan pemberitaan dan pengajaran palsu yang dikemas sedemikian rupa supaya terlihat sebagai pemberita atau pengajar kebenaran.  Tujuan akhirnya adalah agar banyak orang—khususnya yang tidak sadar dan tidak berhati-hati—dapat teperdaya atau tertipu.  Khotbah atau pengajaran palsu dan satanis semacam ini sekarang marak sekali di-upload ke media sosial, misalnya: Youtube, Instagram, Facebook, dan sebagainya.

           Bila mengikuti cara berpikir Sissela Bok, tipuan (deception) pada umumnya dapat terjadi “when human beings purposely distort, withhold, or otherwise manipulate information reaching others so as to mislead them that we speak of deceit or intentional deception.”  Prosesnya akan berjalan laksana ini: Pihak A (yaitu Iblis) secara sengaja melalui rasul-rasul palsu mencoba mendistorsikan dan memanipulasi informasi yang akan disampaikan ke Pihak B (jemaat Korintus) dengan tujuan memengaruhi kepercayaan B (tentang suatu kepercayaan yang B sendiri tahu benar itu adalah palsu) agar B melaksanakan maksud dari A.  Sungguh licin, licik, dan jahat cara tipuan seperti ini!

            Tipuan dari pengajaran palsu yang diberikan Iblis melalui guru atau pengajar palsu yang terlatih sebagai professional liars yang masuk menyelusup akan lebih sulit lagi dideteksi sebagai palsu apabila pengajaran itu diberikan dengan disertai oleh perbuatan ajaib, tanda-tanda, mukjizat, nubuat dan penglihatan.  Mengapa sulit terdeteksi?  Jawabannya adalah karena sejak Taman Eden sampai sekarang adalah sama saja, yaitu manusia akan cenderung lebih mudah terpesona atau “tersihir” oleh segala fenomena yang labelnya perbuatan ajaib, tanda-tanda, mukjizat dan karunia-karunia spektakuler lainnya, sehingga di dalam keterpesonaannya itu orang menjadi “buta,” tidak kritis dan pikirannya menjadi kurang nalar untuk memperhatikan rumusan pengajaran yang diberikan bersamaan dengan hal-hal yang memesonakan itu.

           Dalam surat yang sudah saya kutip di atas, khususnya ayat 1-2 dari 1 Timotius 4, rasul Paulus mencatat: “ . . . di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat [NIV: deceiving spirits; roh-roh penipu] dan ajaran setan-setan [NIV: things taught by demons] oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.”  Dari pernyataan ini ada beberapa hal yang dapat disimpulkan: pertama, tipuan dan pengajaran adalah dua istilah yang dikaitkan dengan pekerjaan roh-roh jahat, dan salah satu aktivitas roh-roh jahat disalurkan melalui teachings atau doktrin tertentu untuk memengaruhi manusia.  Tentunya yang dimaksud dengan pengajaran di sini adalah pengajaran yang berbeda dengan pengajaran yang benar dan sehat, namun penampilan dan penyampaiannya dikemas dalam bentuk, sistematika, dan cara yang mirip dengan kebenaran yang sejati dengan tujuan supaya orang yang tidak berhati-hati dan tidak berjalan di dalam kebenaran akan tertipu atau teperdaya.  Kedua, lantaran disebut tentang adanya “orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan,” ini memberi petunjuk bahwa roh-roh jahat akan menyebarkan pengajaran dengan tipuan melalui medium manusia, baik yang mengaku sebagai orang yang mengikut Kristus, atau hamba Tuhan (ingat: Iblis mampu menyamar sebagai malaikat terang dan menciptakan rasul palsu sebagaimana yang dikatakan dalam 2Kor. 11:13-14).

           Apakah Iblis akan terang-terangan mengaku dari dirinya sendiri bahwa ia sedang mengajarkan pengajaran palsu dan sedang berusaha memengaruhi sebagian orang supaya mereka tertipu?  Tentu saja ia tidak akan sepolos atau senaif seperti itu.  Selama beberapa milenium menjalani aktivitas ini Iblis tahu strategi dan trik yang lihai dan licin untuk mengelabui manusia melalui aktivitas manusia lainnya yang telah menjadi alat atau agent-nya.  Oleh sebab itulah untuk mengenali pengajaran sesat saja sulit, apalagi mengenali the master mind di belakang pengajaran sumbang tersebut.  Namun demikian, melalui penelitian firman Tuhan dan sensitivitas terhadap pimpinan Roh Kudus, seorang yang beriman kepada Kristus akan dapat mengenali keduanya dengan pertolongan Tuhan.

KESIMPULAN

            Sebelum mengakhiri tulisan ini, coba saudara bayangkan situasi imaginer sebagai berikut: Negara Amerika Serikat tiba-tiba berperang melawan negara RRT di Laut China Selatan.  Ketika konflik mulai membara, barulah militer Amerika Serikat mulai membuat kontrak untuk merancang dan membangun kapal-kapal induk, pesawat-pesawat tempur, dan senjata-senjata canggih lainnya untuk dipakai di medan pertempuran tersebut.  “Lho, koq imaginasinya ngaco seperti itu; ngak mungkin terjadi situasi semacam itu; tidak mungkin Amerika kayak begitu?,” barangkali ada pembaca yang bereaksi ke arah sana.  Maaf, anda jangan sewot dulu, sebab yang membuat gambaran imaginer di atas adalah Michael T. Osterholm dan Mark Olshaker (“To Battle a Pandemic, Think Like the Military,” Fortune [May 2020] 24-25).  Kedua penulis itu bilang begini: “Well, the imagination needn’t run too far, because in essence, that is what has happened as we were sucked into our war against the coronavirus.”

            Maksudnya, secara realitas—jadi tidak perlu diimaginasikan—dalam hal berperang melawan COVID-19 yang melanda negeri Paman Sam di tahun 2020 ini, Amerika Serikat jelas sekali terlihat tidak siap, terlambat mengantisipasi, gagap dalam penanganan, dan saat ini sedang menuai akibatnya, yakni dengan banyaknya yang terinfeksi dan berjubelnya kematian demi kematian yang terjadi di sana.  Ini negara superpower, tetapi tidak bersiaga mengantisipasi perubahan dan ancaman dari virus!  Mereka panik di awal pandemi ketika kekurangan masker N95, tidak cukup ventilator (sehingga harus buru-buru diimpor dari negeri yang sedang dimusuhinya, yaitu China), atau tidak memadainya jumlah APD yang dibutuhkan.  Jadi, kenapa negeri adidaya ini mempersiapkan begitu banyak persenjataan lengkap untuk berperang secara beneran melawan manusia atau negara lain, tetapi cuma menyiapkan sedikit sekali supply “senjata” guna melawan musuh patogenis dari virus yang ternyata mampu membunuh jutaan orang di mana-mana?  Sungguh, apa yang terjadi di Amerika Serikat mirip sekali dengan fenomena si kodok rebus!

            Jikalau sebuah negara besar macam Amerika Serikat dapat keliru bersikap, tidak mengantipasi dunia sekitarnya yang sedang berubah, termasuk tidak menyadari konsekuensi dari perubahan-perubahan sampai terakumulasi selama sejangka waktu, apalagi manusia kebanyakan pada umumnya.  Mungkinkah gereja dan orang Kristen juga dapat melakukan kesalahan sejenis itu?  Jawabnya adalah: sangat mungkin.  Walaupun Alkitab beberapa kali mengingatkan gereja dan orang percaya untuk berjaga-jaga dan berwaspada, serta memberikan perintah supaya kita mengenakan “seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya [kita] dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” (Ef. 6:11), tetap saja dewasa ini dalam hal berhadapan dengan fenomena maraknya dusta, cukup banyak orang percaya yang mengabaikan atau tidak mampu melihat dan bereaksi terhadap aktivitas Iblis, roh-roh jahat, atau kuasa kegelapan di balik itu semua.  Padahal firman Tuhan juga menegaskan bahwa dusta dan tipuan dari kuasa kegelapan dapat diimplementasikan melalui pengajaran yang sumbang yang dilakukan oleh bidat atau sekte yang sedang getol beroperasi di mana-mana, bahkan boleh dikata semua dusta dan tipuan dalam lingkup religius (yaitu terutama melalui pengajaran sesat) dapat dilacak jejaknya pada pekerjaan dan pengaruh kuasa kegelapan.

            Maka, saya rasa perkataan Tuhan Yesus dalam Yohanes 8:44 sungguh amat gamblang dan menohok.  Supaya lebih jelas maknanya, saya kutip kembali ayat itu dari salah satu versi bahasa Inggris: “You are from your father the devil, and you choose to do your father’s desires.  He was a murderer from the beginning and does not stand in the truth, because there is no truth in him.  When he lies, he speaks according to his own nature, for he is a liar and the father of lies” (NRSV).  Maksudnya sudah terang benderang di sini: Bila ada orang yang mengaku beragama, termasuk agama Kristen, dan apalagi pemimpin agama, termasuk pendeta atau guru injil, namun tutur kata dan perbuatannya penuh dengan dusta dan tipuan, orang itu patut diduga berasosiasi atau terpapar pengaruh kuasa kegelapan.  Sebab di dalam lingkup dunia roh, tidak ada wilayah netral: bila ada pemimpin agama yang demikian, ia sesungguhnya sedang berkolaborasi dengan si Iblis, bapa segala dusta (“You are from your father the devil”), berhubung memang sudah sifat asalnya demikian (“he speaks according to his own nature”).  Jadi, walaupun pemimpin sekte atau bidat itu sering mengucapkan kata-kata dan kalimat-kalimat yang rohani (misalnya, sedikit-dikit ngomong “Puji Tuhan” atau “Haleluya”an melulu), sebenarnya ia ada, hidup, dan melayani di wilayah kegelapan, sebab “there is no truth in him.

            Di masa akhir zaman ini, dusta dan tipuan dari kuasa kegelapan melalui pengajaran agama-agama palsu dan pemimpin-pemimpin agama palsu akan semakin bereskalasi dan ekstensif.  Masihkah kita yang menjadi anak-anak Tuhan cenderung terbenam dalam keasyikan menikmati segala sesuatu dalam dunia ini, sambil memberikan toleransi dan penerimaan tanpa saringan untuk segala pengajaran yang beredar di sekitar kita?  Ingat: sikap kita yang terlalu lama membiarkan dan menerima saja segala pengajaran yang tidak alkitabiah akan membawa kepada bencana, atau bahkan kebinasaan.  Hal ini berarti, bila rambu peringatan dari firman Tuhan cenderung diabaikan, kebanyakan orang baru mulai menyadari keadaannya yang malang ketika segalanya ternyata sudah terlambat, dan akhirnya satu per satu dari mereka mengikuti jejak sang kodok yang terebus, menuju kepada akhir yang tragis.  Mosok saudara dan saya mau diasosiasikan atau disamakan dengan hewan amfibius yang matanya belo itu?