Maraknya Dusta Dalam Dunia Post-Truth Yang “Kebanjiran” Fake News

PENDAHULUAN

Masih ingat peristiwa sujud syukur yang dilakukan Prabowo Subianto 17 April 2019 dalam rangka merayakan kemenangan pemilihan presiden di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan?  Malam hari itu capres nomor urut 02 (tanpa didampingi cawapres Sandiaga Uno) buru-buru mengklaim secara sepihak bahwa ia memenangkan pertarungan pilpres dan unggul 62 persen atas capres nomor urut 01 Joko Widodo (lih. “Klaim Menang Pilpres, Prabowo Sujud Syukur,” Kompas [17 April 2019]; https://nasional.kompas.com/read/2019/04/17/20532501/klaim-menang-pilpres-prabowo-sujud-syukur).  Angka 62 persen itu diperoleh dari hasil penghitungan sementara (quick count) yang dilakukan pihak internal Prabowo-Sandiaga, yang katanya didapat dari 320.000 TPS.  Ketika pada akhirnya pihak KPU sebagai wasit secara resmi mengumumkan hasil yang berbeda, dan menyampaikan keputusan bahwa ternyata Joko Widodo yang memenangkan pilpres, capres 02 tidak dapat menerima dan merasa dirinya dicurangi (“02 Dicurangi, Prabowo: Kita Alami Pemerkosaan Demokrasi!,” CNBC Indonesia [14 May 2019]; https://www.cnbcindonesia.com/news/20190514180825-4-72453/02-dicurangi-prabowo-kita-alami-pemerkosaan-demokrasi).

           Situasi yang mirip terjadi baru-baru ini di Amerika Serikat dalam pemilihan presiden 3 November 2020 yang lalu, yaitu pilpres antara Joe Biden dari Partai Demokrat dan Donald Trump dari Partai Republik, sampai-sampai ada media yang menyamakan capres dari Amerika Serikat dengan capres dari Indonesia pada segi ini, sehingga membuat negara kita semakin “terkenal” (Amy Chew, “‘Prabowo US Version’: Trump’s Early Victory Call Gives Indonesians Sense of Déjà vu,” South China Morning Post [5 November 2020]; https://www.scmp.com/week-asia/politics/article/3108581/prabowo-us-version-trumps-early-victory-call-gives-indonesians).  Maksudnya, baik Trump maupun Prabowo sebelum pilpres—berdasarkan hasil jajak pendapat lembaga survei pesanan masing-masing—sama-sama yakin akan menang, bahkan menang besar (https://www.wsj.com/articles/the-pollster-who-thinks-trump-will-win-11604011863; lih. juga https://news.detik.com/berita/d-4502171/prabowo-menang-di-survei-puskaptis-fadli-zon-prediksi-saya-59-63).

           Itulah sebabnya pada malam pemungutan suara ketika ballots masih dihitung, Trump buru-buru mengumumkan bahwa dirinya adalah pemenang dan bahkan menang dengan mudah.  Namun belakangan, pada saat mail-in ballots mulai dihitung besoknya dan hari-hari berikutnya (karena mayoritas pendukung Demokrat menyoblos lewat surat), Biden perlahan-lahan menyalip dan unggul sampai akhirnya dinyatakan sebagai pemenang.  Karuan saja Trump bereaksi tidak terima, berhubung tadinya ia sudah bersenang-senang siap merayakan kemenangan, tetapi malah sukacita itu lenyap seketika.  Ia bahkan menuduh ada kecurangan dalam penghitungan jumlah suara, sekalipun ia tidak dapat menyertakan bukti kecurangan yang dimaksudkannya (“‘I Easily Win!’: Trump Repeats Baseless Claim of Vote Fraud in White House Rant,” Euronews [6 November 2020]; https://www.euronews.com/2020/11/06/i-easily-win-trump-repeats-baseless-claim-of-vote-fraud-in-white-house-rant).  Hal ini memperlihatkan Trump sedikit banyak sudah “termakan” oleh prediksi pollsters dan fake news (berita bohong) di sekitarnya, sehingga ia menjadi yakin sekali akan menang, tetapi ternyata keyakinan tersebut menguap dengan cepat.

           Di pihak lain, sekalipun saat ini Joe Biden sudah memenangkan pertarungan kursi presiden, kita juga dapat memetik sebuah pelajaran menarik dari proses pemilu di negara terbesar ini, yaitu walau kalah, ternyata dukungan terhadap Trump masih cukup kuat, sebab Joe Biden unggul tidak sebesar yang diperkirakan sebelumnya oleh media utama, media sosial, pollsters atau para pelaksana jajak pendapat (https://www.economist.com/united-states/2020/11/04/why-the-polls-overestimated-support-for-joe-biden).  Jadi selama beberapa bulan sebelum pilpres 3 November, media utama (CNN, ABC, CBS, NBC, dan sejenisnya), media sosial, dan penyelenggara polling habis-habisan meracik berita bahwa Joe Biden akan menang besar, dan nyatanya tidak demikian (lih. John Podhoretz, “The Pollsters Were Wrong Again—And Why Do We Listen to Them,” New York Post [3 November 2020]; https://nypost.com/2020/11/03/the-pollsters-were-wrong-again-why-do-we-listen-to-them/; lih. juga Ben Riley-Smith, “How Pollsters Got It Wrong Again: Echoes of 2016 As Talk of a Landslide Quickly Proved Unfounded,” The Telegraph [5 November 2020]; https://www.telegraph.co.uk/news/2020/11/04/have-pollsters-got-wrong-trumps-florida-win-hints-repeat-2016/).  Dengan demikian simpang siur berita bohong atau fake news yang pernah terjadi di sana 2016, terulang kembali pada pilpres 2020 melalui semua media, terutama media sosial (Hunt Allcott dan Matthew Gentzkow, “Social Media and Fake News in the 2016 Election,” Journal of Economic Perspectives 31/2 [Spring 2017] 211-236).

           Seharusnya realitas ini menjadi pukulan yang mempermalukan media massa, media sosial, industri jajak pendapat, dan para pengamat politik yang memberikan survei yang menyesatkan melalui dominasi semburan dunia maya tentang suasana pemilu di Amerika Serikat (demikian juga yang terjadi di Indonesia, serta cukup banyak negara demokratis di seluruh dunia), karena dalam realitasnya para penyelenggara jajak pendapat melalui berbagai media dan metode melakukan kebohongan atau dusta tertentu dalam proses pendataannya (Elias Walsh, Sarah Dolfin and John DiNardo, “Lies, Damn Lies, and Pre-Election Polling,” The American Economic Review 99/2 [May 2009] 316-322).  Pada akhirnya yang namanya “kebenaran” semakin hari semakin terlihat elusive (menyesatkan) dan tricky (penuh tipu daya).

DUSTA DAN REDUPNYA KEBENARAN

           Sebenarnya baru empat tahun yang lalu (2016) Oxford Dictionaries menyebut kata majemuk post-truth (pasca-kebenaran) sebagai “word of the year.”  “Post-truth” dimaknai sebagai kata sifat yang “relating to or denoting circumstances in which objective facts are less influential in shaping public opinion than appeals to emotion and personal belief” (menunjuk situasi pembentukan opini publik di mana fakta-fakta objektif kurang berpengaruh ketimbang daya tarik emosi dan keyakinan pribadi; https://languages.oup.com/word-of-the-year/2016/).  Jadi istilah ini sangat menonjol dan disukai kalangan pejabat, pengusaha, (sebagian) agamawan, dan lebih-lebih lagi, politikus, di mana mereka cenderung mengabaikan fakta objektif untuk membentuk opini publik.  Metode yang dipakai adalah dengan mengucapkan kata-kata yang salah atau data yang palsu secara terus-menerus, ditambah dengan retorika yang mampu mengemas emosi yang sesuai dengan tensi pendengar, dengan mengabaikan sanggahan atau keterangan dari pihak yang benar.  Menurut Erica Goode: “People who tell small, self-serving lies are likely to progress to bigger falsehoods, and over time, the brain appears to adapt to the dishonesty” (“How Big Lies Can Grow from Telling Small Ones,” The New York Times International Edition [October 26, 2016] 15).  Bila otak dan pikiran sudah disetel (supaya secara otomatis memodifikasi dusta menjadi kebenaran), maka lama kelamaan ketidakjujuran secara mantap dianggap sebagai integritas (kejujuran).  Itulah sebabnya dalam lingkup dunia post-truth sekarang ini hoax atau fake news (berita bohong) berupa informasi palsu yang sengaja disebarkan melalui media sosial langsung menarik perhatian dan tanpa sadar menjadi konsumsi publik seakan-akan itu adalah kebenaran.

            Lebih parah lagi, dunia post-truth masa kini tidak bisa membedakan informasi yang masuk ke media sosial dan berita yang sah melalui media konvensional, seperti televisi, surat kabar, dan radio (walau perlu juga dicatat bahwa channel TV tertentu sering kali cenderung bersikap biased dan memihak ke partai atau calon pejabat tertentu yang sedang berkampanye).  Berita konvensional adalah informasi yang sudah disaring, diklarifikasi, atau dikonfirmasikan kepada sumber yang bisa dipercaya, baru kemudian dipublikasikan atau disiarkan; sedangkan informasi melalui media sosial lewat sarana internet, handphone, atau notebook, belum tentu diverifikasi oleh sidang redaksi (atau kantor berita) dan bisa berisi konten setengah kebenaran atau kebenaran yang ditambahi atau dibumbui dengan gosip, fitnah, dan kebohongan.  Ini berarti media sosial telah berubah menjadi semacam pedang bermata dua: di satu pihak ia bermanfaat guna menggerakkan massa untuk hal-hal yang positif (dan memang tidak semua konten media sosial buruk dan negatif; cukup banyak yang positif dan bermanfaat), tetapi di pihak lain juga dapat disalahgunakan oleh oknum tertentu demi menyebarkan hal-hal yang negatif dan destruktif.

           Runyamnya adalah: saat ini media berita resmi semakin berkurang (maksudnya, yang membaca koran dan menonton berita di televisi semakin sedikit), dan sebaliknya media sosial semakin marak dan sekaligus tidak terkendali.  Itulah sebabnya sebaran informasi apa saja, termasuk gosip, fitnah, prasangka rasialis, gerakan radikal, dewasa ini semakin merajalela, apalagi “penjahat” atau “teroris” media sosial sulit terlacak, lantaran banyak yang “pintar” memanfaatkan blog gelap, portal palsu, dan nama yang tidak jelas.  Apa yang dituliskan oleh Jennifer Egan (“Facts Still Exist,” TIME 192/27-28 [December 24-31, 2018] 104) patut disimak dengan cermat, berhubung fenomenanya juga ada di seluruh dunia, termasuk di Indonesia: “Online, lies and truth look the same.  This has been a boon for professional liars, who take advantage of the fact that two-thirds of Americans get their news from social media, and use these platforms to market falsehoods.”

            Dalam sejarah dunia, contoh professional liar yang paling ulung dan terkenal pada masa Perang Dunia II adalah Paul Joseph Goebbels (1897-1945).  Sewaktu Adolf Hitler masih belum berkuasa sebagai diktator dan belum kelihatan kebiadabannya, ia merekrut Goebbels sebagai ahli strategi dan pakar orasi, dan belakangan mengangkatnya sebagai menteri propaganda antara tahun 1933-1945.  Sekalipun penampilan tubuh Goebbels tidak baik (dikarenakan cacat atau pincang akibat penyakit polio sejak usia muda) dan posturnya kecil-pendek untuk ukuran orang Jerman (cuma 165 cm), tetapi jangan meremehkan kepandaian, kelihaian, serta kelicikannya, khususnya dalam hal mendesain dusta sekaligus menciptakan fanatisme yang buta pada kekuasaan.  Selanjutnya Goebbels-lah yang berhasil mengubah Hitler yang sebelumnya sering “demam panggung” (susah ngomong dan payah dalam berpidato) menjadi seorang orator ulung, sehingga Hitler disanjung oleh para pendukungnya bagaikan dewa, ilah, atau bahkan (secara keterlaluan dianggap sebagai jelmaan) Kristus.

           Menurut Mahmut Mert Aslan, “Hitler constructed a pragmatic Machiavelian rhetorical theory of five storey for propaganda: ‘Scapegoating,’ ‘lying,’ ‘black-and-white reasoning,’ ‘repetition,’ and ‘emotional appeal’ or in other words ‘passion over reason in public’ through the mass media.  This structure is the summary of his way of propaganda (“Hitler’s Way of Propaganda,” The Journal of Academic Social Science 5 [2017] 189).  Bila ditanyakan: siapa yang mengatur dan menjadi sutradara di belakang kemampuan Hitler yang begitu hebat dalam propaganda, jawabannya adalah: tentu saja Goebbels, sang evil genius.  Selain itu, Goebbels juga mendesain barisan pendukung yang mengabdi secara membuta dan mati-matian untuk sang diktator, serta merekayasa berbagai jenis manipulasi supaya rakyat Jerman memberikan penghormatan kepada Hitler dengan aklamasi tanpa oposisi sama sekali.

           Goebbels pernah dijuluki sebagai “Big Liar” oleh filsuf dan teolog Prancis, Jacques Ellul (1912-1994), dan Ellul mengamati dengan cermat metode propaganda Goebbels yang digemari dan diadopsi Hitler: “The most generally held concept of propaganda is that it is a series of tallstories, a tissue of lies, and that lies are necessary for effective propaganda.  Hitler himself apparently confirmed this point of view when he said that the bigger the lie, the more its chance of being believed” (Propaganda: The Formation of Men’s Attitudes [New York: Vintage, 1973] 52).  Yang dimaksud dengan tall stories adalah cerita-cerita palsu yang dikemas sedemikian rupa agar tampak sebagai “cerita-cerita benar.”  Artinya, semakin besar dustanya, semakin besar kesempatan bagi dusta itu untuk “terbaptiskan” jadi kebenaran yang dipercaya.  Bukankah yang begini-begini semakin marak pada masa kini, khususnya dalam dunia politik, di tengah maraknya radikalisme keagamaan, dan juga dalam aliran atau gereja ekstrem tertentu?

            Kemudian, laksana tokoh Haman di Kitab Ester, Goebbels secara licik merekayasa “musuh utama” bangsa Jerman dan ia menemukannya pada ras orang Yahudi.  Sejak itu ia menciptakan gerakan antisemitisme melalui upaya menyebarkan ratusan propaganda jahat dan menyesatkan yang dilakukan secara sistematis dan ekstensif lewat media massa yang ada waktu itu (yaitu radio, film, dan pamflet) yang intinya menyudutkan atau meng-kambing-hitam-kan Yahudi atas semua persoalan di Jerman dan Eropa.  Metode yang ia pakai adalah “membentuk kebenaran sendiri,” yakni apapun yang diusulkan untuk kebaikan Partai Nazi dan Hitler adalah “kebenaran,” termasuk “kebenaran” (atau lebih tepatnya, “pembenaran”) untuk genosida ras Yahudi.

           Dari sana ia berhasil membuat image bahwa partai Nazi dan Führer Hitler selalu benar dan tidak pernah melakukan kesalahan.  Kalimat atau motto Goebbels yang terkenal menyesatkan namun yang disukai banyak penguasa lalim adalah: The truth is as I say it is.”  Hal ini berarti truth atau kebenaran semacam ini sebenarnya dibangun di atas timbunan dusta atau kebohongan.  Walaupun demikian, ia mantap sekali dalam memproduksi dusta demi dusta, dan ia sering mengatakan: A lie repeated often enough becomes the truth (Dusta yang cukup sering diulang-ulang akan [berubah] menjadi kebenaran), atau mengucapkan kalimat ini: A hundred times repeated lie is the truth (Dusta yang diulangi seratus kali adalah kebenaran).  Perhatikan: satu orang saja yang memiliki kapasitas evil genius mampu memproduksi dusta dan kebohongan yang dapat membunuh 6 juta orang Yahudi dan menewaskan puluhan juta lainnya dalam Perang Dunia II.  Bukankah luar biasa sekali daya perusak dari sebuah entitas yang namanya dusta?

           Sekali lagi, bukankah cara-cara licik seperti ini juga sekarang dipakai dalam pilkada atau kampanye pilpres di Indonesia oleh kelompok tertentu dan juga di berbagai negara?  Rupanya yang sedang “ngetrend” saat ini adalah praktik “propaganda gaya Rusia,” yaitu cara propaganda “semprotan kepalsuan” (firehose of falsehood) yang pernah dipergunakan oleh Rusia ketika menyerbu ke Georgia tahun 2008.  Metodenya adalah menyebarkan dusta secara cepat, terus-menerus, dan berulang-ulang khususnya melalui media sosial yang sulit dilacak.  Konten yang dipropagandakan biasanya bersifat menyerang lawan dalam pemilihan presiden dengan data yang ngawur atau dusta untuk mengelabui orang banyak.  Sungguh sejarah (dari zaman Nazi) berulang kembali, dan celakanya, manusia tidak pernah mau belajar dari sejarah masa lampau dengan segala kebrutalan, dusta, dan korban yang begitu banyak!

           Tentu ini adalah situasi yang berbahaya sekali, apalagi di masa pandemi saat ini di mana penggunaan internet dan komunikasi lewat media sosial semakin intensif dan ekstensif sifatnya, sehingga bagi sebagian orang: kebenaran dan dusta berpenampilan sama di hadirat mereka.  Tambahan pula, bagi sebagian orang dusta terlihat lebih menarik dari pada muatan atau konten yang berisi kebenaran, terutama bila konten dusta itu disampaikan dengan retorika yang lihai dan pembawaan yang sensasional atau kontroversial.  Kalau di negara maju semacam Amerika Serikat saja bisa ada orang yang “termakan” informasi palsu atau dusta melalui media sosial, lebih-lebih lagi di negara berkembang seperti Indonesia.

DUSTA DAN LUNTURNYA AKAL SEHAT

           Setelah seseorang berhasil menyingkirkan kebenaran, tidak berarti manusia modern tidak membutuhkan sebuah “kebenaran” (tentu dengan tujuan supaya ia tetap terlihat baik, bersih, dan kudus).  Melalui cara tertentu ia kemudian menciptakan, mendefinisikan, dan menguraikan kebenaran dengan versi baru (yang sebenarnya isinya adalah ilusi kebenaran alias dusta).  Dengan kata lain, orang itu adalah pendusta atau pembohong yang sedang menyamar sebagai “pengabar kebenaran.”  Ekspresi yang keluar dan kelihatan telah “dikemas” sedemikian rupa supaya tampak sebagai “kebenaran” yang meyakinkan dan menarik.  Oleh sebab itu apa yang dikatakan oleh Paul Copan and Robertson McQuilkin adalah tepat, yaitu bahwa orang yang menyampaikan dusta sesungguhnya sudah melakukan “a violation of the truth that includes a conscious intent to deceive” (An Introduction to Biblical Ethics: Walking in the Way of Wisdom [3rd ed.; Downers Grove: InterVarsity, 2014] 502).  Maka menjadi jelaslah di sini bahwa mengekspresikan dusta bukan hanya menyampaikan sebuah konten yang tidak benar, melainkan juga menyampaikan sesuatu yang tidak benar yang disertai “kemasan” niat hendak menipu, merusak, menjatuhkan, atau lebih dari itu, membunuh.

           Lalu, kenapa dusta yang dikemas dalam konten tidak benar semacam itu tetap dipercayai oleh manusia modern masa kini?  Di sinilah kita dapat melihat saktinya media kekinian yang sebagian telah diramu dengan konten dusta yang irasional namun tetap dapat “membius” manusia untuk percayai isi message-nya.  Hal ini menandakan media sosial sebenarnya tidak pernah bersifat netral dan sengaja dibuat dengan misi tertentu, serta berisi muatan-muatan message tertentu yang tergantung pada “pesanan” pemilik yang mengatur pemberitaannya.

           Dalam konteks ini saya rasa kita perlu menyimak sebuah buku yang ditulis setengah abad lebih yang lalu oleh Marshall McLuhan dan Quentin Fiore yang berjudul The Medium Is the Massage: An Inventory of Effects (New York: Bantum, 1967).  Menurut mereka, masyarakat tidak menyadari adanya satu bahaya yang akan terjadi di mana “Societies have always been shaped more by the nature of media by which men communicate than by the content of the communication” (“Kehidupan masyarakat selalu lebih dibentuk oleh sifat media melalui mana manusia berkomunikasi ketimbang oleh isi komunikasinya”).  Maksudnya kira-kira begini: Dalam era informasi sekarang ini message sudah diramu sedemikian rupa sehingga “membius” manusia (baca: me-massage) ibarat pijatan dan mempengaruhi banyak orang secara halus dan tanpa disadari, sehingga mereka lebih terbentuk oleh natur medianya dan sama sekali tidak peduli tentang konten komunikasinya.

           McLuhan sendiri yakin bahwa media massa akan membuat manusia tidak sadar bahwa media itu sendiri adalah message-nya yang mempengaruhi atau mengendalikan kehidupan modern: “Our conventional response to all media, namely that it is how they are used that counts, is the numb stance of the technological idiot.  For the ‘content’ of a medium is like the juicy piece of meat carried by the burglar to distract the watchdog of the mind” (Understanding Media: The Extension of Man [Cambridge: Massachusetts Institute of Technology Press, 1994] 18).  Yang ia ingin tekankan adalah adanya “kekuasaan” dari media dalam menciptakan sejenis lingkungan yang secara pelahan namun pasti membentuk cara berpikir manusia tanpa disadarinya.  Maka, bila pikiran kita hanya terpaku pada sesuatu, bagaikan anjing pelacak terpaku pada “daging wangi” (yaitu terpaku pada kontennya), maling yang berniat mencuri dengan membawa daging wangi untuk pengalihan (jadi malingnya adalah mediumnya) sudah dapat beraksi dengan tenang.

           Dengan demikian, media massa atau media sosial “secara diam-diam” bekerja dengan cara “membius” manusia sehingga mereka lebih mementingkan sifat media (misalnya, sifatnya menarik karena menghibur dan memuaskan) dari pada mementingkan kontennya (yaitu entah isinya baik atau tidak baik, benar atau menyesatkan).  Bila konten dianggap kurang penting, maka topik tentang kebenaran (truth) juga cenderung diabaikan (baca: kurang laku).  Douglas Groothuis juga melihat kecenderungan ini khususnya di tengah membanjirnya “kekuasaan” media di Barat: “Yet American culture shows little sign of becoming more tough-minded or interested in truth-seeking in the midst of the panoply of brave, new media technologies of every sort.  The evidence of intellectual laziness, irrationalism, and outright anti-intellectualism is everywhere.  The idea of truth is often reduced to mere personal opinion (with no verification); simply put, relativism rots the critical mind” (“Cyberspace, Critical Thinking, and the Return to Eloquent Realities,” Inquiry: Critical Thinking Across the Disciplines 18/4 [Summer 1999] 6).  Implikasinya, dalam situasi “kebanjiran” informasi dewasa ini, manusia sudah terbawa dalam sebuah suasana kehilangan kedalaman, menjadi tidak kritis, dan menyukai segala sajian dangkal, sehingga manusia tidak lagi peduli akan mana yang mengandung truth dan mana yang tidak.  Kita dapat melihat situasi masyarakat kekinian yang begitu mudahnya menerima informasi bohong atau hoax, lalu menggandakannya atau meneruskannya ke mana-mana karena tanpa sadar menganggapnya sebagai truth.

           Dengan demikian, masyarakat post-truth sekarang berhadapan dengan suasana secorak ini: Informasi dan entertainment (musik, film, talkshow, dan sebagainya) dari media massa atau media sosial mana pun (lewat internet, blogs, spam, social networking, email, facebook, youtube, instagram, twitter) telah diramu sedemikian rupa supaya menarik hati sehingga banyak orang “terbawa” begitu saja oleh arus informasi yang diterima secara unreflective atau tanpa saringan yang kritis.  Artinya, manusia laksana “mengistirahatkan” akal sehat dan critical thinking-nya, sehingga informasi digital yang menarik atau kontroversial masuknya begitu deras dan begitu cepat membuat banyak orang kebingungan tetapi sekaligus tertawan oleh “membanjirnya” informasi yang sebagian besar isinya negatif, destruktif, dan manipulatif.  Itulah sebabnya boleh dikata zaman yang kebanjiran informasi saat ini adalah zaman yang kacau atau berantakan (mess age), yang tentunya ada juga pengaruhnya terhadap orang Kristen, gereja atau kekristenan.

KESIMPULAN

            Sebelum saya akhiri tulisan ini, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan yang simpel: Buku atau literatur berbobot apa yang sedang Saudara baca dengan tekun belakangan ini?  Atau, bila saya ganti pertanyaannya: Belakangan ini Saudara lebih banyak dan lebih suka melihat hiburan, talk-show, lawak, obrolan-obrolan gossip, video-video yang sifatnya entertainment, ataukah Saudara masih menyediakan waktu secara kritis membaca dan merenungkan materi yang berat dan kebenaran yang berbobot?  Misalnya, Saudara biasanya lebih memilih melihat ke Instagram, TikTok, atau Youtube (khususnya menonton video-video pendek 5 menitan yang ringan-ringan, yang lucu-lucu, yang menghibur, yang polemikal, yang kontroversial, dan yang bombastis) dari pada membaca artikel serius semacam tulisan saya ini (yang tadinya sudah hampir Saudara tutup karena mengantuk, atau, mohon maaf, ngaku saja: karena tidak kuat membaca tulisan yang agak berat)?  Jawaban atas pertanyaan tersebut akan mendarat pada kesimpulan di antara dua opsi ini: kita ini orang Kristen yang terbawa oleh arus zaman, ataukah kita adalah orang percaya yang menuntun zaman dan lingkungan sekitar kita pada kebenaran yang utuh itu?

            Teolog Prancis, Blaise Pascal (1623-1662), dengan persepsinya yang tajam ratusan tahun yang lalu seakan-akan sudah “melihat dan menubuatkan” situasi zaman modern saat ini dan ia telah mengingatkan pentingnya kebenaran (truth) dan kemungkinan masyarakat dunia akan mencampakkannya: “Truth is so obscured nowadays, and lies [are] so well established, that unless we love the truth we shall never recognize it” (“Kebenaran begitu kabur akhir-akhir ini, dan dusta-dusta terpancang begitu mapan, maka jikalau kita tidak mencintai kebenaran kita tidak akan pernah mengenalinya”; Pensées [ed. Alban Krailsheimer; New York: Penguin, 1966] 739/864).  Hal ini berarti bila kita tidak mencintai kebenaran, kita tidak akan mencarinya, dan bila kita tidak mencarinya, kita tidak akan menemukannya.  Bila kita tidak menemukannya, kita tidak akan mengenalinya, dan bila kita tidak mengenalinya, sia-sialah seluruh perjalanan hidup kita dalam dunia ini.

           Sekarang, mau tidak mau, siap atau tidak siap, kita sudah terdampar dalam dunia post-truth yang penuh dengan dusta, hoax, fake news, dan kepalsuan.  Sekalipun sulit menghadapinya, sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk tetap menjadi “anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (Flp. 2:15).  Maka, kita harus dengan serius memperhatikan apa saja yang menjadi bacaan, hiburan, serapan, dan komunikasi kita melalui media sosial, teristimewa di masa pandemi ini, di mana mayoritas masyarakat lebih banyak berdiam di rumah dan terpaku pada handphone dan notebook mereka masing-masing.  Pertanyaannya adalah: Apakah kita selaku orang percaya bisa memilah dan secara selektif memilih kebenaran, kekudusan, termasuk “semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji” (Flp. 4:9)?  Tentunya itu semua baru dapat terwujud bila kita menjalani hidup pada zaman ini dengan penuh kehati-hatian, sebab yang namanya dusta, penipuan, dan kepalsuan terselip di antara aktivitas kita sehari-hari di tengah situasi “kebanjiran” informasi yang melanda (baca: membombardir) benak kita dengan segala daya tarik dan jeratnya.