Prinsip Dan Sikap Pastoral Martin Luther

Bagaimana menghadapi realita kematian 25 juta orang dalam kurun waktu dua tahun?  Sungguh mengerikan, bukan?  Itulah kenyataan yang sudah pernah terjadi di benua Eropa antara 1348 dan 1350—di mana 30 persen penduduk Eropa pada waktu itu lenyap oleh wabah ganas yang disebut Bubonic Plague atau Black Death, sebuah pandemi yang dimulai abad 14 dan terus masih berlanjut hingga pertengahan abad 17 (di mana secara keseluruhan korban yang meninggal di Eropa diperkirakan berjumlah 200 juta).  Ketika kota Florence (Italia) mulai terjangkit wabah, seorang penulis dan penyair zaman Renaissance yang bernama Giovanni Boccaccio (1313-1375) melaporkan suasana muram dan parahnya kota itu dalam catatatnya yang berjudul Decameron: “Banyak orang menghembuskan nafas terakhirnya di jalan-jalan, dan sebagian lain meninggal di rumah mereka … sampai seluruh kota penuh mayat. …  Mereka yang meninggal tidak ada yang meratapi dan tidak ada lilin atau kereta jenazah untuk mengangkut mereka.”  Bila seandainya saudara dan saya berada di Florence pada permulaan merebaknya sampar itu, tidakkah kita akan mengatakan bahwa neraka sudah hadir di sana?

          Di tengah periode Black Death itulah sang reformator gereja, Martin Luther (1483-1546), yang waktu itu berada di kota kecil Wittenberg (Jerman), harus berhadapan dengan realita merebaknya wabah yang muncul tanggal 2 Agustus 1527.  Dalam suasana kebingungan dan ketakutan, seorang rekan hamba Tuhan yang bernama Johann Hess, mewakili beberapa pengerja lain dari kota Silesia, menulis sepucuk surat kepada Luther yang tujuan utamanya meminta nasihat melalui sebuah pertanyaan: “Apakah dalam situasi wabah melanda seorang Kristen dibenarkan untuk menghindar dengan melarikan diri dari sampar yang mematikan?”  Jawaban Luther meluncur pada November 1527 dalam bentuk sebuah tulisan singkat yang diberi judul Whether One May Flee from the Deadly Plague (Luther’s Works, Vol. 43: Devotional Writings II [ed. Jaroslav Jan Pelikan, Hilton C. Oswald, dan Helmut T. Lehmann; Philadelphia: Fortress, 1999] 119–138).  Walaupun tentu saja suasana mencekam Bubonic Plague itu berbeda dengan situasi berjangkitnya Coronavirus di tahun 2020 ini, apa yang ditulisnya cukup relevan dan dapat menjadi prinsip pegangan bagi setiap orang Kristen dan pelayan Tuhan di zaman ini.

          Inti jawaban Luther adalah begini: bila ada orang Kristen yang teguh imannya memilih tinggal di tempatnya masing-masing biarlah ia melakukannya, namun bila ada yang lemah imannya ingin menghindar dari bahaya dengan cara melarikan diri silakan ia melakukannyaLuther sendiri memilih stay di rumahnya sendiri, dan menolak untuk pindah ke tempat lain, khususnya ketika ia dan rekan-rekannya dihimbau untuk pergi ke kota Jena yang berdekatan dengan Wittenberg.  Tetapi ia juga dengan cepat menegaskan bahwa mereka yang menghindar dari bahaya dengan cara melarikan diri tidak melakukan dosa apa pun: “Examples in Holy Scripture abundantly prove that to flee from death is not wrong in itself.”  Setelah itu ia memang memberikan beberapa contoh dari tokoh dalam Alkitab yang melarikan diri ketika menghadapi bahaya (seperti misalnya: Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Daud, dan Elia).  Jadi, ia sama sekali tidak menyalahkan apalagi mengutuk orang Kristen yang menghindar atau lari dari bahaya sampar.

          Namun demikian Luther sendiri tidak menganjurkan atau mendorong orang Kristen atau apalagi pelayan Tuhan untuk menghindar atau melalaikan tanggung jawabnya, sebab ia menegaskan bahwa setiap orang Kristen harus siap untuk menghadapi kematian: “ … since death is God’s punishment, which he sends upon us for our sins, we must submit to God and with a true and firm faith patiently await our punishment.”  Tetapi di bagian lain ia juga mengungkapkan bahwa kematian tidak hanya berhubungan dengan hukuman (punishment) semata: “ … we can be sure that God’s punishment has come upon us, not only to chastise us for our sins but also to test our faith and love—our faith in that we may see and experience how we should act toward God; our love in that we may recognize how we should act toward our neighbor.”  Artinya, sebelum orang percaya meninggal dunia, ia harus tahu satu hal: bisa saja Tuhan sedang menguji iman dan kasihnya.

          Maka, sehubungan dengan kasih kepada Tuhan dan sesama, Luther berpegang pada sebuah prinsip yang jelas, yaitu tetap berdiam di tempat di mana ia melayani dan melanjutkan komitmen pastoral.  “Godliness is nothing else but service to God.  Service to God is indeed service to our neighbor,” demikian tandasnya.  Karena itu berdasarkan Yohanes 10:11 (“Akulah gembala yang baik.  Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya”), ia mendorong para pendeta, pengajar, pengkhotbah (termasuk semua pejabat kota, pemimpin gereja, kepala keluarga Kristen yang melayani) untuk tetap tinggal melakukan tugas dan tanggung jawab mereka, yaitu untuk memberikan spiritual care buat sesamanya yang terdampak oleh sampar tersebut.  (Catatan: Karena kurangnya tenaga medis seperti dokter dan perawat pada waktu itu, Luther dan istrinya, Katharina von Bora, turun tangan merawat jemaat yang jatuh sakit di dalam rumahnya sendiri.  Kita tidak tahu seberapa ganasnya bakteri yang merebak pada masa itu, namun demikian tentu tindakan ini adalah sebuah keputusan “berani mati” dan yang sangat berisiko, serta perlu dipikirkan dengan mendalam bila ada hamba Tuhan yang mau melakukannya pada masa kini di tengah merebaknya virus Corona.  Pada zaman sekarang, khususnya di kota besar, telah tersedia rumah sakit dengan dokter dan perawat yang ahli dan mampu merawat pasien dengan baik; saya rasa hamba Tuhan tidak perlu menggantikan tugas dan tanggung jawab mereka.  Luther sendiri akhirnya jatuh sakit, meskipun tidak sampai fatal atau mematikan.  Artinya, ada risiko yang riil dan berbahaya yang harus dihadapi.)

          Masih menurut Luther, pada saat seorang gembala memberikan spiritual care bagi jemaatnya, ia harus secara berhati-hati menjaga dirinya sambil memohonkan proteksi dari Tuhan.  Ia harus melakukan disinfektan atau membersihkan rumah, halaman, dan jalanan, memurnikan aliran udara dalam ruang, dan juga memakan obat.  Dalam konteks ini rasanya perlu diperhatikan bahwa Luther justru mengecam orang-orang di lingkungan gereja yang antiobat atau antipengobatan.  Menurutnya pendirian seperti itu sama saja dengan mencobai Tuhan: “They disdain the use of medicines; they do not avoid places and persons infected by the plague, but lightheartedly make sport of it and wish to prove how independent they are.  They say that it is God’s punishment; if he wants to protect them he can do so without medicines or our carefulness.  This is not trusting God but tempting him.  God has created medicines and provided us with intelligence to guard and take good care of the body so that we can live in good health.”

          Bagi Luther, walaupun beriman, orang Kristen juga harus menjauhkan diri dari tempat-tempat tertentu yang berbahaya, serta tidak mengadakan kontak dengan pihak lain supaya tidak terinfeksi atau menyebabkan orang lain terinfeksi sampai meninggal karena kecerobohan dirinya.  Jadi konteksnya adalah menolong jemaat sambil tetap berjaga-jaga agar tidak terinfeksi atau menjadi sumber infeksi bagi orang lain.  Dengan demikian, hal ini sangat berbeda jauh dengan keputusan nekat sebagian gereja atau pendeta di Indonesia yang tetap mengadakan ibadah umum, kebaktian penyembuhan, atau menyentuh jemaat dengan minyak urapan yang pada akhirnya menularkan virus Corona kemana-mana, bahkan ada pendeta yang meninggal dunia di berbagai kota akibat terjangkit COVID-19.  Artinya, ibadah dapat ditunda, namun menolong orang harus segera dilakukan (sekalipun ada risiko yang besar).

          Kesalahan fatal di atas mirip dengan kasus penyebaran virus Corona yang terjadi di gereja Shincheonji di kota Daegu (Korea Selatan) yang bermula hanya dari satu orang, yaitu dari seorang emak-emak yang menunjukkan gejala COVID-19, tetapi ketika diminta memeriksakan diri ke dokter ia malah bersikap membandel dan tetap beribadah ke gereja.  Si emak yang mengaku Kristen inilah yang menginfeksi 6000 orang lebih dan menyebarkan wabah yang luas di negara K-Pop tersebut.

          Maka di tengah situasi merebaknya wabah, Luther dengan tegas menulis: “[A]ct like a man who wants to help put out the burning city.  What else is the epidemic but a fire which instead of consuming wood and straw devours life and body?”  Sejurus kemudian ia melanjutkan mengenai kesiapannya untuk berkorban: “If God should wish to take me, he will surely find me and I have done what he has expected of me, and so I am not responsible for either my own death or the death of others.  If my neighbor needs me, however, I shall not avoid place or person but will go freely. . . .  See, this is such a God-fearing faith because it is neither brash nor foolhardy and does not tempt God.”  Artinya, pengorbanan dalam rangka menolong jemaat atau orang yang mengalami kesusahan adalah perbuatan berdasarkan iman, bukan berdasarkan arogansi, kebodohan, merasa diri kuat, atau upaya mencobai Tuhan.  Pada akhirnya ia menutup tulisannya dengan sebuah doa berkat buat pembacanya: “May Christ our Lord and Savior preserve us all in pure faith and fervent love, unspotted and pure until his day.  Amen.  Pray for me, a poor sinner.”  Luther minta didoakan, karena ia tahu dirinya lemah dan (tadinya) hanyalah seorang yang berdosa di hadapan Tuhan.

          Coba bayangkan, tulisan 16 halaman ini adalah perkataan mendalam yang diucapkan oleh seorang yang melayani hampir 500 tahun lalu di sebuah zaman yang tidak melek teknologi sama sekali (yaitu zaman di mana belum ada pengetahuan tentang bakteri dan belum majunya dunia kedokteran), namun yang mengerti tentang cara-cara bersikap dan melayani sesama dengan benar.  Kita semua harus dengan rendah hati belajar tentang pelayanan dan pengorbanan dari tokoh besar ini, sebab pada masa melewati hari-hari yang sulit itu, Luther masih sempat mengarang sebuah pujian rohani (PPK 219) yang dipakai dan dinyanyikan oleh gereja-gereja di sepanjang zaman sampai hari ini.  Himne tersebut dituliskan berdasarkan keyakinannya pada Allah di dalam Kristus, serta pengalamannya yang nyata tetapi berat: “Allah Jadi Benteng Kukuh” (A Mighty Fortress Is Our God).

Allah jadi benteng kukuh, perlindunganku yang teguh
Meski banyak susah sukar, pertolongan-Nya bri gemar
Meski musuh sigap, senjatanya lengkap
Menyusahkan kita, dengan tipu daya
Tapi Kristus slalu jaga

Jika sandar kuat diri, pasti kita akan kalah
Barisan kita dipimpin, hulubalang dari Allah
Bertanyakah engkau, siapakah Dia
Yesuslah namaNya, dan tetap adanya
Ialah Pemimpin kita