Mendalami Kepastian Kebangkitan Orang Mati Di Tengah Kepastian “Death And Taxes”

Benjamin Franklin (1706-1790), salah seorang bapak pendiri negara Amerika Serikat, pernah menulis sepucuk surat satu tahun sebelum ia meninggal dunia pada tahun 1789.  Salah satu bagian dari surat yang ditujukan kepada para penyelenggara negara waktu itu berbunyi demikian: “Our new Constitution is now established, and has an appearance that promises permanency; but in this world nothing can be said to be certain, except death and taxes” (“Konstitusi baru kita sekarang sudah terbentuk, dan tampaknya hal ini membuat segalanya menjadi pasti; tetapi tidak ada yang dapat dikatakan pasti dalam dunia ini, kecuali kematian dan pajak-pajak”).  Apakah pernyataan Franklin itu sepenuhnya atau seratus persen benar?  Pernyataannya betul berkenaan dengan kematian, apalagi ia benar-benar “membuktikan” kepastiannya satu tahun kemudian ketika ia meninggal dunia.  Lalu bagaimana dengan pajak-pajak: Apakah betul pajak-pajak di seluruh negara selalu adalah sesuatu yang pasti?  Bukankah di mana-mana di seluruh dunia ada saja pengusaha, bintang film, tokoh politik, konglomerat, atau orang kaya yang dengan “keterampilan” dan kepintarannya mampu menggelapkan atau menghindari pajak, termasuk juga di Amerika Serikat?

          Jikalau pajak bisa dan pernah dapat dihindari dengan kelihaian manusia, bagaimana dengan kematian?  Bukankah tidak ada manusia di belahan bumi manapun, zaman lampau maupun zaman sekarang, yang telah berhasil cheat death atau menghindari/menipu kematian?  Sekalipun kaisar-kaisar di Tiongkok di dalam kerajaan masa lalu selalu disambut oleh panglima, perwira, dan para bangsawan dengan seruan yang diulangi berkali-kali “wan sui, wan sui, wan wan sui” (wan sui adalah 10.000 tahun), dengan pengharapan kiranya kaisar berumur panjang hingga 10.000 tahun, namun pengharapan itu tidak pernah terjadi dalam sejarah.  Tidak ada catatan bahwa ada kaisar yang (walaupun sudah menerima terapi akupuntur atau totok urat, dan sudah minum segala ramuan jamu pahit, jamur dari gunung tinggi, akar dari pohon langka, bandrek ginseng, royal jelly, dan sejenisnya) berusia 1.000 tahun atau mendekati umur Metusalah (Kej. 5:27; rekor umurnya 969 tahun agaknya belum pernah terpecahkan hingga sekarang).

          Itulah sebabnya Yohanes Calvin pernah ketika menafsirkan Mazmur 90:3-8 secara ironi menyindir dan mengatakan bahwa adalah sebuah kebodohan besar (istilah yang ia pakai: “stupidity of men,” “men are so dull”), bila manusia menyangka bahwa mereka akan hidup secara panjang umur sampai dua ribu tahun: “Whence proceeds the great stupidity of men, who, bound fast to the present state of existence, proceed in the affairs of life as if they were to live two thousand years, but because they do not elevate their conceptions above visible objects?  Each man, when he compares himself with others, flatters himself that he will live to a great age.  In short, men are so dull as to think that thirty years, or even a smaller number, are, as it were, an eternity; nor are they impressed with the brevity of their life so long as this world keeps possession of their thoughts.

          Kenyataannya sindiran Calvin di atas sungguh tepat: tidak ada orang yang dapat mengatasi usia tua atau penuaan (ageing) dan kematian, sekalipun pada masa kini teknologi dan riset kedokteran (misalnya, dengan stem-cell treatment) sudah sedemikian canggih, manusia tetap belum berhasil “menipu” maut (cheat death).  Apalagi di dalam hati setiap orang sebenarnya mereka sadar bila hari kematian datang, mereka akan kehilangan kekuasaan atas hidup ini, sehingga kematian bukan hanya perpisahan manusia dari sesamanya, melainkan juga hilangnya kekuasaan dan genggaman manusia pada ciptaan dan dunia material.  Perkataan pemazmur sejak satu milenium sebelum Masehi hingga kini tetap sama aplikasinya pada semua orang di mana-mana: “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap” (Mzm. 90:10).

          Lalu, apa yang terjadi pascakematian?  Kurang lebih empat milenium yang lampau tokoh Ayub melontarkan sebuah pertanyaan yang patut direnungkan: “Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi?” (14:14).  Sepanjang perjalanan umat manusia, pertanyaan ini sudah coba dijawab oleh berbagai kalangan.  Misalnya, kalangan ateis yang kebanyakan berpikir dengan dialektika materialisme, menjawabnya “tidak.”  Orang agnostik menyampaikan posisi skeptik: “tidak tahu.”  Kepercayaan lain berpendapat: “Manusia akan be-reinkarnasi (menjelma lagi sebagai makhluk yang lebih tinggi atau lebih rendah tergantung dari karmanya di dunia).”  Jadi, adakah kehidupan atau kebangkitan setelah hadirnya maut?  Artikel singkat ini secara khusus mengajak pembaca meneliti kesaksian Alkitab tentang kebangkitan, istilah atau terminologi apa yang dipakai, serta bagaimana keadaan orang-orang yang akan dibangkitkan tersebut.  Yang tidak dibahas di dalam artikel ini adalah mengenai: apakah kebangkitan orang percaya serta orang yang tidak percaya akan terjadi secara bersama-sama atau serentak; kapan kebangkitan orang mati akan terjadi; bagaimana pandangan teologi premillennialis, pascamillennialis, dan amillennialis tentang kebangkitan; serta masalah immortalitas.

UNGKAPAN ALKITAB TENTANG KEBANGKITAN ORANG MATI

          Agar menjadi jelas, perlu kiranya kita meneliti terlebih dahulu istilah-istilah yang dipakai di dalam Alkitab untuk menggambarkan tentang “kebangkitan.”  Beberapa kata benda (“kebangkitan”) dipakai di dalam PB.  Yang pertama adalah istilah anastasis, yang dipergunakan sebanyak 42 kali dan selalu berarti “kebangkitan orang mati” atau “kebangkitan dari kematian.”  Sering kali istilah tersebut dipakai untuk menunjuk pada kebangkitan orang percaya (Mat. 22:31-32; Luk. 14:14; 1Kor. 15:12-13, 21) dan kebangkitan Kristus (Kis. 26:23; Rm. 1:4), namun sering pula dipakai untuk menunjuk pada kebangkitan universal atau kebangkitan orang banyak (Kis. 17:32; 24:15, 21; Yoh. 5:28-29).  Istilah lain exanastasis (Flp. 3:11) hanyalah merupakan varian dari anastasis.  Imbuhan ek (out from among [the dead]) mengindikasikan adanya tekanan tentang benar-benarnya orang yang telah mati itu ke luar atau berpisah dengan kematian.

          Beberapa kata kerja juga sering dipakai dalam PB, seperti anhistēmi (“membangkitkan” atau “bangkit”) yang dipergunakan sebanyak 107 kali merupakan ekuivalennya anastasis.  Sebanyak 15 kali disebut berhubungan dengan kebangkitan Kristus dan 26 kali kebangkitan orang mati.  (Perlu pula diketahui bahwa 66 kali kata ini tidak berhubungan dengan kebangkitan orang mati.)  Kata egeirō, seperti juga anhistēmi, menandakan dibangkitkannya orang yang telah mati menjadi hidup lagi (mis. Mrk. 5:41; Luk. 7:14), atau dapat pula menunjuk pada kebangkitan tubuh rohaniah di akhir zaman (1Kor. 15:42-44, 52).

          Dari terminologi Alkitab tersebut dapat disimpulkan beberapa hal.  Pertama, kebangkitan menunjuk pada restorasi hidup seseorang sesudah adanya interval atau sejangka waktu di mana ia ada dalam lingkup kematian.  Kebangkitan merupakan peristiwa yang menuntun kepada perubahan status, sebagaimana Kristus bangkit dari kematian, demikian pula semua orang percaya yang telah mati “akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan [mereka] semua akan diubah” (1Kor. 15:52).  Kedua, kebangkitan berarti adanya lagi kehidupan atau adanya lagi keberadaan tubuh kebangkitan di mana tubuh fisikal yang sebelumnya telah ditelan oleh kematian.  Jadi, tekanannya adalah pada realita adanya perubahan atau transformasi yang menuntun kepada immortalitas (atau hidup yang tidak dapat binasa).  Ketiga, kebangkitan orang percaya bukan hanya adanya kehidupan lagi serta mengalami transformasi saja, kebangkitan itu sendiri akan menuntun kepada titik pemuliaan, di mana orang percaya itu menikmati sepenuhnya kemenangan atas kematian.  Pada saat itulah janji pemenuhan kehidupan yang permanen di hadapan Allah menjadi realita yang sempurna adanya.

          Mengenai keadaan atau sifat kebangkitan orang percaya, Alkitab agaknya memberi tekanan yang utama agar orang Kristen melihat pada sifat kebangkitan Kristus.  Intinya, kebangkitan Kristus sudah merupakan jaminan kebangkitan orang percaya di kemudian hari.  Menurut rasul Yohanes: “… kita [yaitu orang-orang percaya] akan menjadi sama seperti Dia” (1Yoh. 3:2); dan Paulus mencatat bahwa tubuh orang percaya yang hina akan diubah sehingga menjadi “serupa dengan tubuh-Nya [Kristus] yang mulia” (Flp. 3:21).  Dikatakan “serupa” dengan tubuh kebangkitan Kristus, karena Paulus ingin memperlihatkan bahwa tubuh kebangkitan Kristus dan orang percaya merupakan tubuh yang tidak dapat binasa, penuh dengan kemuliaan serta riil.  Paulus sendiri juga mengajarkan hal yang sama kepada jemaat di Korintus (1Kor. 15:42-44).  Memang menurut kesaksian Alkitab ketika Kristus bangkit kadang Ia sepertinya segera dikenal oleh murid-murid-Nya (Mat. 28:9; Yoh. 20:19-20), tetapi juga kadang tidak langsung dikenal (Luk. 24:16; Yoh. 21:4).  Ia dapat muncul tiba-tiba di tengah-tengah murid-murid-Nya sekalipun pintu terkunci (Yoh. 20:19) ataupun lenyap dengan tiba-tiba (Luk. 24:31).  Ia sendiri mengindikasikan bahwa tubuh kebangkitan-Nya itu masih berdaging dan bertulang (Luk. 24:39).  Ia pun menerima makanan dan memakannya (Luk. 24:41-43).  Pendeknya, melalui yang terakhir tadi Ia memperlihatkan bahwa tubuh kebangkitan-Nya dapat saja mengikuti limitasi hidup jasmaniah atau tidak, menurut kehendak-Nya.  Ini memberikan indikasi kepada kita bahwa orang percaya yang dibangkitkan juga memiliki keadaan yang serupa.

          Catatan rasul Paulus dalam 1 Korintus 15:20 perlu diperhatikan (“Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal”).  Kata “yang sulung” (first-fruit; Yun. aparchē) berarti “bagian pertama dari suatu panen” yang menjamin adanya suatu tuaian yang tuntas atau menyeluruh.  Jadi, maksudnya adalah: kebangkitan Kristus merupakan bukti atau jaminan bagi orang yang percaya kepada-Nya bahwa mereka akan dibangkitkan dari kematian sama seperti Kristus dibangkitkan.  Kolose 1:18 juga mengajarkan hal yang sama: Kristus adalah “yang sulung [Yun. archē], yang pertama [first-born, Yun. prōtotokos] bangkit dari antara orang mati.”  Maksudnya, Kristuslah yang pertama-tama sekali dibangkitkan Allah supaya Ia menjadi yang utama di dalam segala sesuatu, dan orang yang percaya kepada-Nya akan dibangkitkan dengan cara atau keadaan yang sama dengan Dia.

          Segala uraian di atas belum menjawab pertanyaan: Apakah kebangkitan tubuh merupakan kebangkitan yang sifatnya material atau fisikal?  Apakah tubuh kebangkitan itu akan sama dengan tubuh manusia pada waktu hidup di bumi?  Paulus, seakan-akan sudah mengantisipasi pertanyaan itu, menjawabnya demikian: bahwa tubuh orang percaya itu mempunyai signifikansi spiritual (1Kor. 6:12-20).  Tubuh itu kudus dan merupakan anggota Kristus (ay. 15), bahkan bait Roh Kudus (ay. 19).  “Tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan” (ay. 13).  Oleh karena itu Paulus meneruskan, “Allah, yang membangkitkan Tuhan [maksudnya: Kristus], akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya” (ay. 14).  Lalu, bagaimana caranya kebangkitan itu akan terjadi?

          Melalui 1 Korintus 15:36-38, yakni melalui ilustrasi tanaman dan biji, ia menjelaskan bahwa biji yang ditaburkan “Tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu.  Yang [manusia] taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain.  Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri.”  Yang dimaksud oleh Paulus bukanlah bahwa di dalam tubuh manusia itu mengandung sejenis bibit atau biji dari tubuh kebangkitan itu, yang kemudian melaluinya tubuh yang mati itu didirikan kembali.  Sebaliknya, yang hendak ia beberkan adalah: apabila Allah dapat secara ajaib memberi pertumbuhan kepada biji yang toh akan mati namun yang kemudian menjadi tanaman yang baru yang muncul dari tanah sebagai sebatang “tubuh,” apakah Ia tidak dapat melakukan hal yang sama terhadap tubuh manusia?

          Hal ini dipertegas di dalam Roma 8:11 yang mengajarkan bahwa Allah melalui Roh Kudus-Nya akan menghidupkan tubuh manusia yang fana ini, karena Kristus juga telah dibangkitkan secara tubuh.  Tubuh manusia itu, yang semula dapat mati atau binasa, menjadi tubuh kebangkitan yang tidak dapat binasa (1Kor. 15:42).  Memang komposisi tubuh kebangkitan ini agaknya berbeda dengan tubuh manusia sebelum mati, oleh karena Paulus sendiri menegaskan bahwa “daging dan darah tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa” (1Kor. 15:50).  Implikasi serupa juga pernah Yesus ucapkan ketika ia menjawab orang Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan.  Menurut-Nya, “Pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga” (Mat. 22:30).

          Namun sekalipun komposisi tubuh kebangkitan itu berbeda dengan tubuh manusia sebelum mati, tidaklah tepat apabila ditarik kesimpulan bahwa tubuh kebangkitan itu sebenarnya merupakan tubuh yang non-fisikal berdasarkan 1 Korintus 15:44 yang membedakan antara “tubuh rohaniah” (spiritual body, Yun. sōma pneumatikon) dan “tubuh alamiah” (natural body, Yun. sōma psychikon).  Alasannya.  Paulus juga memakai kedua istilah tersebut di pasal 2:14:15 (“manusia duniawi,” psychikos, dan “manusia rohani,” pneumatikos) tanpa indikasi bahwa yang ia maksudkan dengan “manusia rohani” adalah manusia yang non-fisikal.  Konteks menunjukkan bahwa yang dimaksudkannya dengan “manusia rohani” adalah manusia yang dituntun oleh Roh Kudus.  Dengan demikian, sama dengan indikasi di atas, “tubuh rohaniah” di dalam 1 Korintus 15:44 bukanlah tubuh yang non-fisikal, melainkan tubuh kebangkitan yang akan sepenuhnya dikuasai oleh Roh Kudus.

          Dari semua yang dipaparkan di atas bolehlah disimpulkan demikian: tubuh kebangkitan nanti akan identik dengan tubuh manusia sebelum mati.  Allah tidak akan menciptakan lagi suatu tubuh yang baru untuk setiap orang, melainkan Ia akan secara ajaib membangkitkan tubuh manusia yang telah tertanam di tanah (atau yang telah dikremasi).  Singkat kata, Allah akan mengadakan utilisasi (pemanfaatan) tubuh yang manusia asli dengan suatu proses transformasi atau metamorfosis (perubahan bentuk), sehingga menjadi tubuh kebangkitan yang baru.  Bagaimana cara Tuhan Allah melakukan transformasi itu kita tidak dapat mengetahuinya, namun yang pasti adalah Ia sudah memberikan sebuah garansi yang tidak diberikan oleh dunia ini, yaitu new citizenship di dalam kerajaan-Nya yang mulia: “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya” (Flp. 3:20-21).

PENUTUP

          Ketika pandemi COVID-19 semakin merajalela di seluruh dunia hari-hari belakangan ini, setiap insan di bumi ini seperti merasakan begitu rawan dan rapuhnya hidup manusia, serta begitu dekat dan pastinya sang maut di sekitar kehidupan modern ini.  Tetapi rasul Paulus menegaskan sebuah kepastian yang lain dalam 1 Korintus 15:21 ketika ia berkata: “Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.”  Jadi, setelah kepastian negatif yang sudah benar-benar terjadi melalui manusia pertama, yaitu dengan hadirnya dosa dan maut, sekarang muncul kepastian positif dalam bentuk sebuah jaminan berupa kebangkitan tubuh bagi orang percaya yang secara potensial sudah dijanjikan dan akan direalisasikan di masa eskatologi nanti.

          Jadi kematian jasmani pasti akan berakhir pada waktu kebangkitan tubuh di masa eskatologi nanti dan kebangkitan tubuh juga merupakan sebuah kepastian yang positif (Ayb. 19:25; 1Kor. 15:52).  Hal inilah yang diuraikan secara panjang lebar oleh Paulus tentang kebangkitan tubuh yang dihubungkan dengan realitas maut atau kematian, dan pada saat yang bersamaan ia juga mengoreksi pandangan yang keliru tentang kebangkitan tubuh.  Sebetulnya pada bagian lebih awal Paulus sudah memulai dengan memberikan argumen mengenai hal ini: “Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?” (1Kor. 15:12).  Yang ia koreksi bukanlah konsep kalangan tertentu yang tidak percaya tentang kehidupan setelah kematian (post-mortem existence), melainkan konsep yang keliru tentang wujud atau bentuk kehidupan setelah kematian, yaitu adanya orang-orang yang tidak percaya pada bodily resurrection (kebangkitan ragawi).

          N. T. Wright juga mencatat poin yang sama bahwa di antara jemaat Korintus ada orang-orang tertentu yang terpengaruh ajaran kebangkitan tubuh setelah kematian “on the standard pagan grounds . . . that everybody knew dead people didn’t and couldn’t come back to bodily life.”  Yang mereka yakini (berdasarkan pengaruh pikiran paganistik di sekitar mereka waktu itu) adalah sejenis kehidupan setelah kematian di mana jiwa-jiwa bereksistensi, namun tidak ada kebangkitan dengan tubuh yang baru.  Paulus menentang pandangan ini dengan argumen bahwa Kristus sudah bangkit dengan tubuh kebangkitan dan kebangkitan Kristus yang seperti itu menjamin adanya kebangkitan tubuh orang percaya dalam masa eskaton nanti.

          Bagi rasul Paulus, jikalau orang mati tidak dibangkitkan, lebih baik kita mengadopsi saja motto “Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati” (1Kor. 15:32).  Tetapi yang benar adalah bahwa “Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (1Kor. 15:20).  Karena itu, semua orang percaya yang telah meninggal akan “dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (ay. 22).  Inilah kepastian positif yang sudah ditegaskan oleh Tuhan Yesus sendiri ketika Ia berkata: “Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub?  Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup” (Mat. 22:31-32).  Jadi Abraham, Ishak dan Yakub adalah orang hidup walaupun mereka sudah lama meninggal dunia.  Dengan demikian, status setiap orang percaya yang telah meninggal saat ini adalah orang hidup, sebab Allah di dalam Kristus bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.  Biarlah kita yang masih hidup di dalam dunia yang serba tidak pasti dan tidak menentu ini berpegang pada keyakinan iman yang memiliki kepastian di dalam kebangkitan Kristus!