Makna Kehidupan Dan Kematian Di Balik Salib Kristus (Matius 16:21-26)

Pada tanggal 31 Agustus 1997, Putri Diana atau Princess of Wales, mantan istri Pangeran Charles dari kerajaan Inggris, mengalami kecelakaan pukul 00.23 tengah malam.  Mobil rental Mercedes W140 S-Class yang ditumpangi bersama kekasihnya, Dodi Fayed, menabrak salah satu pillar dengan kecepatan 105 kilometer per jam di terowongan Pont de l’alma, Paris, Prancis.  Dodi dinyatakan meninggal seketika di lokasi kecelakaan, sedangkan Diana masih hidup sewaktu petugas paramedik tiba melakukan pertolongan pertama dan mereka membawanya ke rumah sakit.  Walaupun sudah diupayakan berbagai jenis pertolongan untuk menyelamatkan nyawanya, namun karena luka dan pendarahan internal yang terlalu ekstensif dan masif, Diana akhirnya dinyatakan meninggal dunia pukul 4 subuh.  Maka hebohlah seluruh dunia mendengar berita kecelakaan yang begitu tragis menimpa seorang putri yang begitu terkenal di jagat raya ini.

          Beberapa waktu setelah peristiwa itu berlalu, seorang penulis Kristen terkemuka kelahiran Atlanta, Amerika Serikat, Philip Yancey (yang buku-bukunya terjual 15 juta jilid), mendapat panggilan telpon dari seorang produser televisi untuk diwawancarai.  “Can you appear on our show?” demikian ia disapa.  Lalu sesudah Yancey menanyakan tentang tujuan acara tersebut, produser itu menjawab: We want you to explain how God could possibly allow such a terrible accident (“A Bad Week in Hell,” Christianity Today [October 27, 1997] 112).

          Heran sekali, ketika terjadi kecelakaan, musibah, atau bencana alam yang disertai penderitaan dan kematian, manusia di mana-mana cenderung mengambing-hitamkan atau menyalahkan Tuhan.  Bahkan, di dalam tulisan singkatnya di atas, Yancey memberi contoh kasus-kasus lain yang nyata-nyata adalah kesalahan manusia sendiri, seperti kehamilan di luar nikah, atau pembunuhan sadis yang dilakukan manusia, tetap saja aktor atau pelakunya mengventilasikannya pada Tuhan atau cenderung menyalahkan Tuhan untuk apa saja yang menimpa manusia dalam kehidupan ini, sambil mempertanyakan: “How could a loving God let this happen?”  Mengapa bisa seperti ini?  Mengapa seringkali mempersalahkan Tuhan?

          Jawabnya adalah: karena manusia hanya menginginkan Allah menurut kategori, ukuran, angan-angan, atau harapan dalam framework atau kerangka pikiran mereka sendiri.  Menurut struktur pemikiran manusia, Allah seharusnya melakukan ini dan itu, yaitu mencegah (bahaya atau musibah), menolong (kalau ada yang menderita atau hampir meninggal), memberi jalan keluar (bila misalnya ada yang usahanya macet atau nyaris bangkrut), melepaskan (misalnya kalau ada yang sedang sekarat, tiba-tiba dipulihkan kembali), melindungi (sepanjang hidup, atau minimal sepanjang perjalanan kesana-kemari), atau—dan ini yang ditunggu-tunggu semua orang—mengadakan mukjizat (khususnya dalam situasi mentok atau no way out).  Itulah sebabnya banyak orang, termasuk orang yang mengaku Kristen, sulit mengerti tentang jalan salib!

          Maka, di dalam perikop bacaan dari Matius 16:21-26, ketika Tuhan Yesus mulai menyampaikan kepada para murid-Nya “bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (ay. 21), Simon Petrus, murid-Nya yang terkemuka, bereaksi dan “menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: ‘Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal ituHal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau’” (ay. 22).  Apa yang dimaksud oleh Petrus dengan istilah “hal itu”?  Jelas yang dimaksud “hal itu” adalah penderitaan dan kematian Kristus.  Artinya, Petrus menolak jalan salib, dan Petrus mewakili kebanyakan manusia di mana-mana yang menolak jalan salib, jalan penderitaan dan kematian.  Justru di sinilah persoalannya: orang yang menolak jalan salib atau jalan penderitaan dan kematian sebenarnya “bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (ay. 23).  Jadi, apa pemikiran atau perspektif Tuhan Yesus tentang jalan salib?

          Pertama, Tuhan Yesus menegaskan bahwa jalan salib adalah melalui penderitaan dan kematian.  Inilah jalan pendamaian dan penebusan yang Tuhan sudah rencanakan guna mendamaikan dan menebus manusia yang berdosa melalui jalan salib (bdk. Roma 3:25 yang berkata: “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaiankarena iman, dalam darah-Nya”).  Jadi, apa yang dicetuskan Tuhan Yesus (ay. 21) isinya jelas, rinci, spesifik, dan pasti: Ia harus ke Yerusalem, menderita di bawah kaum agamawan, dibunuh, dan akan bangkit kembali di hari ketiga.  Saya rasa murid-murid-Nya terkejut, bingung, tidak menyangka, dan sekaligus tidak bisa menerima realita seperti itu.  Mengapa tidak bisa menerima?  Karena dalam benak mereka sudah terlanjur terpola semacam pemikiran “Jewish nationalistic future Messiah” yang tampil bagai pahlawan gagah perkasa, yang akan membebaskan bangsanya dari penjajahan Romawi, dan satu lagi, Mesias atau Kristus ini tidak dapat mati.  Itulah sebabnya Petrus kaget sekali dan secara berani-beranian menarik Yesus ke samping, dan melontarkan oposisinya terhadap perkataan Yesus.  Artinya, Petrus menolak penderitaan dan kematian, sama seperti saudara dan saya.

          Tetapi, ngomong-ngomong, siapa di antara kita yang suka penderitaan dan kematian?  Dengan jujur dan terus terang, saya termasuk orang yang sama seperti Petrus: tidak suka penderitaan dan kematian (saya tidak suka cari susah, apalagi cari mati).  Mudah-mudahan saudara juga jujur dan berterus terang mengaku: sesungguhnya kita semua adalah Petrus.  Memang cita-cita kita semua sejak bertobat mau menjadi serupa dengan Kristus, namun kenyataannya kita cuma “mendarat” di levelnya Petrus.  Maka, selain menolak ide Mesias yang menderita dan mati, bisa-bisa kita sama seperti dia: kita takut menghadapi penderitaan dan kematian.  Berita akhir-akhir ini mengenai anggota jemaat, famili, tetangga, atau sahabat dekat yang dijemput maut karena terpapar COVID-19 mengecutkan hati banyak orang.  Itu sebabnya ada orang yang tidak mau atau tidak berani melihat jenazah atau liang kubur di pemakaman (dalam situasi biasa saja ada yang tidak berani, apalagi dalam situasi seperti sekarang).  Bukankah kita semua sudah tahu dengan jelas bahwa maut tidak hanya memutuskan segenap relasi manusia, namun juga menghentikan segala proyek, cita-cita, program, atau visi seseorang?

          Berbeda dengan pemikiran Petrus dan kebanyakan orang, Yesus datang bukan sebagai Mesias sang Penakluk yang gagah dan tidak dapat mati; Ia hadir sebagai Mesias sang Pelayan yang menderita dan memberikan nyawa-Nya (Mrk. 10:45).  Di sinilah kekeliruan Petrus (dan bisa juga kita semua), ia sebenarnya sudah tahu bahwa Yesus adalah Mesias yang telah datang dan ia sendiri sempat mendeklarasikan: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat. 16:16).  Apa artinya?  Artinya, ia hanya mengenal the person of Christ (pribadi Kristus), tetapi tidak mengenal the work of Christ (karya Kristus).  Seharusnya kristologi yang benar dan lengkap adalah mengenal Kristus dalam satu paket yang utuh: The person and the work of Christ, yaitu mengenal pribadi Yesus sebagai Mesias dan mengenal bahwa Mesias ini berkarya dalam penyelamatan manusia dari dosa mereka.

          Dengan demikian, persoalan Petrus (dan banyak orang Kristen di mana-mana) adalah ia ingin menentukan Yesus seperti apa yang cocok buat dirinya.  Bahasa “rohani” to the point-nya (kalau mau jujur) diam-diam ada yang berkata dalam hatinya: “Bukan kehendak-Mu, ya Tuhan, melainkan kehendakku yang jadi.”  Ini adalah pikiran satanis yang tentunya tidak sejalan dengan “apa yang dipikirkan Allah,” tetapi sangat sejalan dengan “apa yang yang dipikirkan manusia.”  Kalau sudah seperti ini jalan pikirannya, baik Petrus maupun kebanyakan orang, seolah-olah ingin melakukan proteksi terhadap “agenda” atau kepentingan pribadi yang ada dalam benak mereka dan mereka menginginkan Tuhan ikut bergabung, turut berpartisipasi, atau berbagian dalam mendukung rencana dan kehendak manusia (“We want God to do it in our own way”).  Akhirnya, kristologi berhasil diterbalikkan menjadi amat sangat humanis dan “telah disesuaikan” mengikuti selera pikiran masing-masing orang, masing-masing pendeta, dan masing-masing denominasi.  Itulah sebabnya banyak persoalan, keributan, atau konflik dalam gereja, karena ada pemimpinnya yang melayani menurut pola “apa yang dipikirkan manusia.”  Maka pertanyaan bagi kita semua pada waktu memperingati Jumat Agung: Pola pikiran seperti apa yang terprogram atau tercetak dalam kerangka berpikir kita: pikiran yang sejalan dengan jalan salib, atau pikiran yang sejalan dengan cara berpikir manusia?

          Kedua, Tuhan Yesus menegaskan bahwa setiap orang percaya harus memiliki komitmen yang kuat untuk mengikut jalan salib itu.  Inilah jalan pemuridan yang berat: setiap orang percaya harus siap sedia untuk menempuh jalan salib: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (ay. 24).  Sebelumnya di ayat 21 dikatakan “Ia [Yesus] harus ke Yerusalem,” dan di sini untuk konteks murid-murid juga ditekankan kata “harus.”  Sebenarnya dalam grammar Yunani istilah tersebut adalah sejenis indicative mood yang mengarah pada verbs of obligation (kata-kata kerja yang mendorong adanya kewajiban untuk dikerjakan).  Jadi, ketika seseorang dipanggil untuk percaya kepada Kristus, menyangkal diri—memikul salib—mengikut Yesus adalah sebuah definite necessity, sebuah keharusan yang pasti bagi kehidupan selanjutnya dari orang tersebut, dan di sana tidak ada ruang untuk memikirkan yang lain (no room for alternative).

          Maksudnya, seseorang yang mengikut Yesus orientasi dan agenda kehidupan cuma mengarah pada satu tujuan (heading to one direction only): melayani Kristus, bukan melayani agenda, ambisi, program dari diri sendiri, apalagi sampai bikin gereja atau pelayanan misi hanya untuk mencari uang atau memperkaya diri.  Yang sungguh-sungguh melayani Kristus akan dapat membuktikannya sampai akhir kehidupannya di mana ia bersedia berkorban bagi Kristus dan kerajaan-Nya.  Maka benarlah perkataan teolog Jerman yang terkenal, Dietrich Bonhoeffer (1906-1945): When Christ calls a man, he bids him come and die” (Ketika Kristus memanggil seseorang, ia menyuruh orang itu datang [mengikut Dia] dan mati.”  Kata “mati” tidak berarti “mati secara badani,” apalagi “mati di kayu salib seperti Tuhan Yesus.”  Kata “mati” yang dimaksud Bonhoeffer adalah “mati terhadap tuntutan, hak, atau dorongan dari diri sendiri,” yaitu orang tersebut tidak lagi melayani ambisi atau program dari kepentingan dirinya, melainkan sejak hari pertama mengikut Yesus ia sadar bahwa hidupnya hanya menuju satu tujuan: melayani Kristus dan memuliakan Dia sampai pada akhirnya.

          Jadi, Tuhan Yesus “harus” ke Yerusalem menempuh jalan salib, dan orang percaya juga “harus” menyangkal diri—memikul salib—mengikut Yesus sebagai komitmen menempuh jalan salib, yakni kesediaan kita melayani Dia dan (hanya) kepentingan kerajaan Sorga, serta bersedia menghadapi setiap risiko, kesulitan, hambatan, bahkan kematian karena komitmen tersebut.  Bersediakah kita menempuh jalan salib dan melayani hanya bagi kepentingan kerajaan Tuhan?  Sekalipun berat, gereja mula-mula jelas terbukti mengikuti jalan salib itu, dan mereka sadar bahwa “ . . . kepada [mereka] dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Flp. 1:29).

         Dalam situasi dunia yang tidak menentu dan sedang dilanda wabah virus Corona, pengikut Kristus bisa saja berhadapan dengan kesulitan, kesesakan, sakit penyakit, bahkan kematian, tetapi karena orientasi dan tujuan hidup kita hanya satu, yaitu jalan salib, kita seharusnya tidak panik dan takut menghadapi ancaman kematian, karena sadar bahwa Tuhan sedang bekerja di dalam dan melalui kita guna mewujudkan rencana dan kepentingan kerajaan-Nya.  Semua orang yang ada dalam dunia ini memang akan mati pada satu titik dalam kehidupannya, tetapi jangan biarkan kematian kita berlalu begitu saja dan menjadi sia-sia.  Mulai Jumat Agung tahun 2020 ini, kerjakan sesuatu bagi Tuhan dan kerajaan-Nya, sambil terus menerus memandang pada salib-Nya, sebab dari sanalah terpancar kekuatan dan kemuliaan Allah melalui kehidupan dan kematian kita.