Janji Dan Berkat Tuhan Di Tengah Situasi “Abnormal Uncertainty”

“… maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit…. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firmanKu

─Kejadian 22:17-18

New normal adalah istilah yang dipakai beberapa tahun yang lalu (2008) untuk menyampaikan makna bahwa ada sesuatu yang sedang berubah dalam kerutinan kita atau bahwa kehidupan umat manusia akan memasuki suasana yang baru (khususnya secara ekonomi) yang mengubah dan membentuk mereka, suka atau tidak suka.  Sekarang ini (mulai awal 2020) seluruh dunia secara latah kembali mempergunakan istilah “new normal” bersama-sama untuk menandakan bahwa masa kehidupan di dalam dan di tengah pandemi COVID-19 semua orang mau tidak mau harus menjalaninya dengan menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan situasi atau suasana baru itu.

           Tetapi bagi saya, istilah “new normal perlu dikaji ulang secara kritis, sebab istilah itu mengandung unsur eufemisme (berusaha memperhalus kata; sama seperti misalnya: “orang berusia tua” disebut “senior citizen” atau “menaikkan harga BBM” disebut “harga BBM disesuaikan”) yang sifatnya kontradiktori atau bertentangan dengan realitas yang sesungguhnya.  Coba periksa di kamus mana saja: Istilah “normal” biasanya menunjuk pada keadaan yang baik, bebas dari penyakit, sehat, pulih secara mental, serta kondisi yang diharapkan terjadi.  Namun demikian, dalam situasi pandemi virus corona yang terjadi sekarang ini, apanya yang normal?  Maksud saya, apakah kita dalam segala kewarasan akan mengatakan: ini adalah keadaan yang kita harapkan?  Apakah saat ini kita yakin semuanya akan baik-baik saja, warga dunia akan tambah sehat (walaupun belum ada vaksin)?  Jangan-jangan, ketika banyak orang “menelan” begitu saja istilah “new normal” sebenarnya mereka sedang secara tidak realistis melakukan penyangkalan (denial) terhadap keadaan dan kondisi yang sesungguhnya sedang melanda kehidupan ini.

           Jadi hal ini berarti “new normal” sebenarnya adalah situasi yang “abnormal” atau bahkan “abnormal uncertainty” (ketidakpastian yang jauh dari yang diharapkan), sebab realitas yang ada di depan kita adalah “awan gelap” yang sedang melanda peradaban umat manusia.  Peter Schwartz, seorang yang pernah bekerja di perusahaan minyak raksasa, Royal Dutch Shell, dan sekarang sebagai senior vice president for strategic planning di Salesforce.com, berkata demikian mengomentari keadaan krisis ekonomi akibat Coronavirus: “This is the greatest level of uncertainty I’ve seen—ever.  I’ve been through the oil crises of the 1970s, several financial crises, the attack of 9/11, and two different Iraq wars.  It all pales next to this.  So, you know, if people are uncertain, it is thoroughly appropriate.  It’s not like somehow you could figure it out and get the answer.  You can’t” (“Facing the Unavoidable Risk,” Fortune [June-July 2020] 12).  Maksud Schwartz, selama 50 tahun berkarir di bidang ekonomi, ia belum pernah melihat skenario risiko yang begitu “unpredictable and confusing” seperti pandemi yang terjadi saat ini.  Artinya, situasi saat ini secara realistis jauh dari yang namanya “normal” dan baik; suasana kehidupan dunia dewasa ini mengkhawatirkan, bisa-bisa tidak terkendali, dan masa depan serba tidak menentu.

           Kira-kira situasi yang sama dihadapi Abraham secara pribadi dalam konteks perikop Kejadian 22, yaitu tampaknya ia tidak memiliki apa yang disebut sebagai masa depan pada waktu itu.  Sebelumnya, ketika telah menjadi tua usianya, ia tidak memiliki keturunan dan istrinya Sara secara natural tidak lagi mungkin melahirkan (Kej. 18:11).  Namun, setelah Ishak lahir (22:10), ia malah diperintahkan untuk mempersembahkan anak satu-satunya itu, yang berarti ia harus mengorbankan harapan masa depan satu-satunya.  Dalam keadaan “extreme uncertainty” itulah Tuhan memberikan janji tentang berkat, bukan hanya bagi Abraham pribadi, tetapi juga bagi banyak orang, dan bahkan bagi banyak bangsa di seluruh dunia.

           Pertama, Tuhan memberitahukan masa depan yang masih jauh kepada Abraham.  Bukankah yang namanya masa depan atau apa yang akan terjadi di masa depan, baik yang berkenaan dengan pribadi, sekelompok manusia atau bahkan sebuah bangsa dan dunia ini, adalah sesuatu yang sangat menarik dan dicari-cari oleh banyak orang, sehingga dukun atau juru ramal di sepanjang zaman selalu laku keras?  Tetapi pada perikop Alkitab di sini Tuhan sendiri yang berinisiatif menyampaikan kepada Abraham tentang masa depannya yang masih jauh, dan sama sekali bukan Abraham pribadi yang mencari-cari pengetahuan mengenai hal itu.  Padahal, jikalau diperhatikan bagian sebelumnya, kelihatannya Abraham boleh dikata tidak memiliki apa yang disebut sebagai masa depan.  Ia telah menjadi uzur, tidak memiliki keturunan, dan istrinya telah mati haid dalam arti tidak lagi dapat melahirkan (Ibrani 11:12 bahkan mencatat: “Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar”; “Her husband Abraham was almost dead, but he became the ancestor of many people”; CEV).  Namun, sesudah anaknya lahir, ia malah disuruh mempersembahkan anak semata wayang itu yang sama saja dengan menghilangkan satu-satunya masa depan keturunannya.  Bagi orang Timur, bukankah salah satu bagian utama dari masa depan kita adalah keturunan langsung yang akan meneruskan nama dan keberadaan seseorang?

           Pelajaran apa yang dapat kita petik dari pengalaman Abraham tersebut?  Pelajaran yang indah itu adalah: Ketika orang percaya berhadapan dengan keadaan yang kelihatannya tidak memiliki masa depan, atau paling sedikit masa depannya tidak menentu, justru melalui berkat yang Tuhan curahkan memperoleh masa depan yang pasti dan penuh harapan.  Tuhan berjanji bahwa keturunan Abraham akan sedemikian banyaknya “seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut.”  Bukan itu saja; melalui mereka (yaitu keturunannya), “semua bangsa di bumi akan mendapat berkat.”  Saya yakin Abraham terkejut sambil mengucap syukur ketika mendengar janji Tuhan tersebut.  Saya juga percaya Saudara dan saya akan bersyukur tidak habis-habisnya karena janji Tuhan itu juga berlaku bagi kita yang mengasihi Dia dan yang menjalankan kehendak-Nya.

           Dalam konteks sejarah suci, janji Tuhan tersebut juga berlaku bagi gereja, seminari, atau lembaga Kristen yang melayani dengan benar dan dengan komitmen tinggi.  Gereja dipanggil bukan untuk bersekutu saja, atau melayani anggota-anggotanya saja; gereja dipanggil untuk menjangkau dunia yang lebih luas dan menjadi berkat bagi banyak orang dalam lingkup dunia yang luas.  Seminari, yang menjadi mitra bagi gereja, juga harus menjangkau dunia yang lebih global dan melayani segala bangsa.  Itulah sebabnya pendiri SAAT (Seminari Alkitab Asia Tenggara) memakai nama “Asia Tenggara.”  Pendeta Andrew Gih (1901-1985) tidak memakai nama, misalnya, “STT Malang” atau “STT Indonesia,” tetapi (nama dahulu) “Madrasah Alkitab Asia Tenggara” (MAAT), tentunya ada visi yang bukan hanya mencakup kota Malang atau negeri Indonesia, melainkan lebih luas menjangkau wilayah Asia Tenggara, Asia Pasifik, dan bahkan sangat mungkin ke seluruh dunia.  Tambahan pula, beliau berasal dari China, yang sekarang penduduknya sudah seperlima populasi dunia.  Padahal, dahulu—hampir 70 tahun yang lalu—perjalanan atau travelling untuk pelayanan ke mana-mana bukanlah sesuatu yang mudah, namun pendiri seminari ini sudah memiliki visi yang mirip dengan Abraham, yaitu berusaha sekuat tenaga untuk menjangkau wilayah yang lebih luas dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.  Jangan sampai kita yang hidup dalam suasana “abnormal uncertainty” sekarang ini melupakan tentang relasi sejarah suci dengan sejarah pelayanan kita saat ini!

           Kedua, Tuhan menjamin masa depan Abraham berdasarkan ketaatan kepada firman-Nya.  Inilah yang seringkali dilupakan banyak orang.  Banyak orang menginginkan berkat dan jaminan akan masa depannya dari Tuhan, tetapi berapa banyak orang yang melakukan persis seperti yang telah dilakukan Abraham, yaitu taat kepada firman-Nya?  Jangan kita lupa bahwa konteks ayat-ayat di atas adalah setelah Abraham hampir mengurbankan Ishak (22:1-14).  Kata “hampir” semakin mempertegas unsur ketaatan yang sifatnya absolute surrender dari Abraham ketika ia berhadapan dengan suasana “extreme uncertainty.”  Padahal pada perikop sebelumnya kita melihat dari segi waktu ia telah menunggu perwujudan janji dari perkataan Tuhan itu lama sekali, sebab Tuhan telah menyatakannya di pasal 15:5 (“Lalu TUHAN . . . berfirman: ‘Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang. . . .  Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu’”).  Berapa lama ia harus menantikan realisasi janji itu?  Melalui perhitungan kronologi kemungkinan besar ada kurang lebih dua puluh tahun Abraham harus menunggu!  Bayangkan, menunggu penggenapan janji begitu lama, bukankah itu akan melemahkan iman banyak orang?  Tetapi ternyata tidak demikian bagi Abraham; ia sabar, tetap beriman dan percaya sepenuhnya akan firman dan janji berkat Tuhan untuk masa depan kehidupannya.

           Kita yang hidup di abad 21 ini, masa depan yang seperti apa yang akan kita lalui bersama di Indonesia maupun secara global?  Pada saat saya menuliskan renungan singkat ini keadaan di Indonesia dan dunia tampaknya sedang mengalami “abnormal uncertainty,” apalagi wabah corona mulai memasuki fase second wave di beberapa negara, serta secara ekonomi dunia sedang mengalami global downturn, sehingga risiko resesi—atau mungkin saja depresi—ekonomi sedang membayang di depan.  Belum lagi di mana-mana kita menyaksikan meroketnya angka kemiskinan dan pengangguran pada banyak negara.  Hal ini berarti situasi dunia dan Indonesia akan berkembang ke arah yang kurang menggembirakan baik dari segi ekonomi, sosial, politik, dan keamanan.  Kondisi ini nampaknya akan terus berlanjut entah sampai kapan dan kita mungkin akan menghadapi masa-masa yang lebih buruk di masa mendatang.

           Namun demikian, di tengah susasana yang tidak menentu dan seakan pesimis belaka bagi sebuah masa depan yang baik, kita dapat bersama-sama belajar dari Abraham yang taat kepada firman Tuhan dan seratus persen bersandar pada janji Tuhan yang meskipun dari segi waktu lama terwujudnya tetapi nyata dan benar.  Lebih dari itu, kita bukan hanya melihat kepada Abraham tetapi kepada Tuhannya Abraham yang memegang masa depan kita dan yang mencurahkan berkat bagi semua orang beriman untuk menjalani hari-hari kehidupan yang tidak menentu ini, sambil kita semua bertekad mau menjadi alat dan berkat bagi banyak orang, termasuk di tengah kondisi yang paling sulit sekalipun.

           Saya menutup perenungan ini dengan sebuah kutipan kalimat dari Majalah Reader’s Digest edisi Juni 2011.  Di halaman 69 tercantum kata-kata yang menarik sebagai berikut: The best time to plant an oak tree was 25 years ago.  The second best time is today (Waktu terbaik menanam sebuah pohon ek [sejenis pohon besar seperti jati] adalah 25 tahun yang lalu.  Waktu terbaik kedua [untuk menanam pohon tersebut] adalah hari ini).  Apabila dahulu, di masa lampau, atau 25 tahun yang lalu, Saudara dan saya sudah melewatkan (baca: membuang) kesempatan untuk melakukan kebaikan dan melayani Tuhan, maka hari ini di tengah suasana “abnormal uncertainty” dan masa depan dunia yang tidak menentu, marilah kita “menanam” atau meng-investasi-kan sesuatu yang berarti, yang bermanfaat, dan terutama, yang mendatangkan berkat bagi generasi masa depan, bagi gereja, bagi lingkungan sekitar kita, dan bagi dunia ini.  “The second best time” bisa juga akan berlalu begitu saja khususnya bila kita berdiam diri di rumah (sambil duduk terus menerus menonton film atau main game yang tidak habis-habisnya) dan sama sekali tidak berbuat apa-apa bagi Tuhan dan kepentingan kerajaan Sorga.  Masakan saudara dan saya mau menjadi orang yang membuang kesempatan pertama dan kedua dalam hidup ini?