Misi Compassion Ketika Dunia Mengalami Disruption: Sebuah Dorongan Dari Matius 9:35-38

Saya sungguh kagum kepada para jurnalis atau wartawan yang kebanyakan tidak pernah menolak ditugaskan di tempat-tempat yang berbahaya, seperti daerah peperangan atau lokasi bencana alam.  International Federation of Journalists melaporkan bahwa sepanjang tahun 2018 sebanyak 94 jurnalis atau pekerja media massa (misalnya, cameraman dan teknisi lainnya) terbunuh atau menjadi korban ledakan bom ketika melaksanakan tugas peliputan berita di seluruh dunia.  Angka tersebut mengalami kenaikan sedikit dari data 2017 di mana 82 awak media tewas di berbagai belahan dunia.  Bukankah mereka sudah tahu dengan jelas bahwa bahaya telah menunggu mereka di tempat-tempat maut seperti Afghanistan atau Irak?  Mengapa mereka tetap mau memikul risiko yang begitu besar dengan hilangnya nyawa sebagai taruhannya?

          Tetapi sekarang, saya sungguh kagum dan sekaligus terharu pada para dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya yang bekerja siang malam menolong begitu banyak pasien penderita Coronavirus di mana-mana.  Misalnya, pada waktu kota Wuhan di China di-lockdown dan begitu banyak penderita yang sakit, ada sekitar 1700 dokter dan perawat (3300 di seluruh China) yang terkena paparan virus (infected) di mana 12 dokter dan puluhan perawat meninggal dunia.  Demikian pula di Indonesia, sampai hari ini sudah 32 orang dokter di berbagai kota menjadi korban keganasan virus tersebut, dan tentunya daftar jumlah dokter dan perawat yang meninggal akan sangat banyak secara totalnya di seluruh dunia.  Sekali lagi, saya sungguh salut dan terharu begitu banyak dokter dan perawat di Indonesia dan mancanegara bekerja mati-matian melayani pasien-pasien di tengah kurangnya alat kesehatan dan alat perlindungan.  Bukankah mereka sudah tahu bahwa anytime mereka bisa saja terinfeksi dan kemudian bisa menjadi korban?  Mengapa mereka tetap mau memikul risiko yang begitu besar dengan bayarannya adalah nyawa melayang?

          Tidak sulit menjawab pertanyaan di atas: saya rasa cukup banyak jurnalis maupun dokter/perawat bekerja berdasarkan panggilan, bukan kewajiban semata.  Kewajiban terkadang membuat seseorang melakukan tugas dengan terpaksa (apalagi karena sudah diaturkan atau diagendakan demikian oleh atasannya), sedangkan panggilan membuat seseorang fokus pada sebuah misi tugas yang mulia dan bekerja dengan sepenuh hati dan jiwa melaksanakan misi tersebut, tanpa memikirkan imbalan atau pujian, bahkan tanpa memikirkan keamanan dan keselamatan diri sendiri.  Bila jurnalis dan dokter bisa bekerja berdasarkan panggilan dan tanpa pamrih sampai berani benar-benar berkorban, khususnya di tengah krisis wabah virus, bagaimana dengan kita yang dipanggil melayani di gereja atau institusi Kristen lainnya?

          Di tengah situasi disruption (persoalan yang membuat semua aktivitas terganggu) yang akhirnya membawa kebingungan dan kekacauan (confusion) sekarang ini, marilah kita melihat situasi yang membawa krisis ini sebagai sebuah tantangan dan sekaligus peluang.  Marilah kita belajar melihat situasi dan dunia ini dari cara Tuhan Yesus melihat, teristimewa dari perikop Matius 9:35-38 di mana pertama-tama Ia mulai dengan memberikan sebuah tantangan bagi kita dan gereja: “Tuaian memang banyak,” demikian penegasan-Nya pada ayat 37.  Ada semakin banyak orang yang harus dijangkau, ada banyak masalah yang terjadi, namun itu berarti sebenarnya ada banyak pekerjaan yang harus dilaksanakan.  Perhatikan: Tuhan Yesus melihat tantangan sebagai peluang!  Ia juga ingin kita mampu melihatnya dan tidak terpaku melihat situasi yang buruk atau sulit sehingga kita menjadi apatis, stress, dan frustrasi, melainkan supaya kita melihat bahwa di tengah zaman yang gelap selalu ada tantangan dan peluang bagi pelayan Tuhan untuk berkarya secara positif dan kreatif.  Jadi Tuhan Yesus ingin kita memiliki sebuah pikiran yang transformatif, yaitu Ia menghendaki agar saudara dan saya melihat dari perspektif Dia yang empunya pelayanan ini.  la ingin membangunkan kita supaya kita sadar akan urgensinya potensi yang bisa dihasilkan apabila orang percaya dapat melihat dengan jernih konteks kehidupannya masing-masing.  Sekaranglah masa untuk bekerja dengan lebih sungguh dan realistis.

          Kedua, Tuhan Yesus juga menyadari adanya suatu problema yang riil: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (ay. 37).  Maka persoalan di setiap zaman bukanlah pada konteksnya, tetapi pada kontributornya.  Mengapa pekerja sedikit?  Jawabnya ada dua: pertama, karena ini berkaitan dengan pekerjaan atau pelayanan yang belum tentu banyak orang yang bersedia melakukannya; harus ada pengorbanan waktu, tenaga, dana, dan talenta.  Itulah sebabnya pekerja sedikit.  Kedua, karena banyak orang tidak mampu melihat dengan perspektif kristosentris dan transformatif.  Semua orang memiliki kesibukan, kegiatan, pekerjaan, kepentingan masing-masing, khususnya untuk mencari nafkah, kekayaan, karier dan kedudukan.  Kebanyakan orang sulit melihat dari kacamata Kristus, karena itulah pekerja di ladang Tuhan memang sedikit.

          Lalu apakah kita harus menjadi pesimis dan apatis karena hal ini?  Marilah kita menyimak apa yang Tuhan Yesus ajarkan pada kita, karena, ketiga, Ia memberi teladan kepada kita mengenai bagaimana menyikapi keadaan di sekeliling-Nya: “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka” (ay. 36a).  Istilah “tergeraklah hati [Yesus] oleh belas kasihan” dalam bahasa Yunani sebenarnya cuma satu kata saja: splanchnizomai, yang dipergunakan 12 kali dan kebanyakan berkenaan dengan sikap hati Tuhan Yesus.  Istilah ini secara harfiah berhubungan dengan “isi perut seseorang” dan dapat berarti “tergerak pada sanubari yang terdalam.”  Hal ini sudah sesuai dengan konsep Greco-Romawi pada waktu itu yang secara metafora menganggap bahwa pusat emosi atau perasaan manusia letaknya di wilayah perut, di mana gerakan dari wilayah emosi atau perasaan ini akan dengan sendiri membuat hati seseorang “membara” atau terdorong untuk memikirkan dan melakukan suatu perbuatan baik.  Jadi, emosi dan hati Tuhan Yesus membara dan tergerak untuk bertindak bagi kebaikan banyak orang; itulah belas kasihan (compassion).

          Artinya, Tuhan Yesus bukan hanya melihat kesulitan yang dialami orang banyak; Ia seperti ikut merasakan penderitaan atau kesusahan mereka.  Ini adalah kunci driving force yang ada pada-Nya dan yang seharusnya ada pada kita.  Hati-Nya terdorong oleh compassion sehingga Ia senantiasa mampu melihat bukan cuma orangnya, tetapi kebutuhan banyak orang.  Barangkali inilah satu-satunya kunci pelayanan yang harus saudara dan saya miliki: Kemampuan menerapkan compassion serta kepekaan meneladani Tuhan kita terhadap konteks kehidupan kita sekarang ini.  Begitu banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita, tetapi ironisnya, begitu sedikit orang yang terpanggil untuk bersikap peduli terhadap problema atau disruption yang terjadi sekarang ini.

          Jadi, kita tidak boleh berpangku tangan dan berdiam diri saja, sebab, keempat, Tuhan Yesus mengundang kita menjadi partner di ladang-Nya: “Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (ay. 38).  Tanda yang menggembirakan di sini adalah Ia mengajak orang percaya menjadi partner dalam misi-Nya.  Ini adalah sebuah hak istimewa sekaligus sebuah tanggung jawab, yaitu tanggung jawab untuk bekerjasama dengan Allah dan pelayan Tuhan lainnya.  Artinya, kita harus menyadari bahwa kita tidak dapat bekerja sendirian; ada Tuhan dan rekan kerja lain dalam sebuah tim kerja, sama seperti yang Paulus katakan: “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan” (l Kor. 3:6).  Yang mengejutkan adalah Ia berkata: “mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (“So pray to the Lord who is in charge of the harvest; ask him to send more workers into his fields”).  Mengapa harus berdoa terlebih dahulu dan tidak langsung bekerja atau melakukan aksi tertentu?  Jawaban yang mengena diberikan oleh Warren Wiersbe yang menulis demikian: When we pray as He commanded, we will see what He saw, feel what He felt, and do what He did.  God will multiply our lives as we share in the great harvest that is already ripe.”  Artinya, sebelum bertindak atau pun berbuat compassion, kita harus berdoa terlebih dahulu supaya kita mampu melihat seperti yang dilihat oleh Tuhan Yesus, merasakan yang Ia rasakan, dan melakukan seperti yang Ia lakukan.

          Di tengah situasi wabah virus Corona saat ini, kita semua tidak dapat menggantikan peranan dan pengabdian para dokter dan perawat yang sejatinya adalah pahlawan-pahlawan yang mempertaruhkan nyawa mereka di tengah panggilan untuk merawat dan menolong begitu banyak pasien di berbagai klinik dan rumah sakit.  Tetapi Tuhan Yesus juga memanggil gereja dan orang percaya untuk: berbagi, memberikan donasi (berapa pun kontribusinya tidak masalah), dan yang memiliki kelebihan harta benda (serta mempunyai channel lewat lembaga atau pelayanan misi tertentu) dapat menyediakan makanan dan minuman, menyumbangkan masker, hand-sanitizer, thermometer shot guns, rapid test kit, ventilator, APD (alat pelindung diri), obat-obatan yang dibutuhkan, dan keperluan lainnya.  Sekalipun hari-hari belakangan ini situasi dan kondisi di Indonesia khususnya dan dunia umumnya semakin hari semakin sulit dan kacau, dan dunia seakan sedang menuju titik omega dan manusia sepertinya sedang menuju pada kepanikan dan ketidakpastian, kita dapat memulai dengan “pray to the Lord who is in charge, dan setelah itu kita sungguh-sungguh tergerak untuk berbagian dalam misi Tuhan untuk melakukan compassion.  Kalau bukan sekarang, kapan lagi kita akan melakukannya?